
"Ya ampun, Yuyum! Aku sampai pangling." Mesha menerima pelukan dari calon adik iparnya penuh dengan kelegaan dan kegembiraan.
"Iya, orang bilang kalau di acara pernikahan, nganten-nya yang manglingi ini calon manten entah kapan, juga manglingi," timpal Zafia.
Setelah Yumna menyalami kedua perempuan tadi, ia duduk di tepi ranjang bersama Mesha.
"Tadi mendadak mobil kita mogok, Mbak. Jadi, semua turun dari mobil. Aneh, padahal biasanya juga gak apa-apa."
"Terus gimana? Tadi juga ditelepon gak ada yang angkat, Yum."
"Kita panik, Mbak. Karena sebelum mogok, kayak ada suara ledakan. Jadi, pada berhamburan keluar."
"Ah, ya ampun! Tapi gak kenapa-kenapa kan?" Zafia mulai penasaran.
"Untungnya gak ada apa-apa, Mbak Fia. Cuma memang, kata montir ada masalah sama mesin atau apanya gitu."
"Ah, baguslah."
Suara ijab-kabul dari mempelai pria, sudah terdengar dari pengeras suara. Seketika, ketiga perempuan itu terdiam. Rongga dada Mesha bergemuruh. Entah bahagia atau khawatir, kedua kalinya ia menikah. Kemudian mengucap syukur saat momen sakral itu selesai.
Gending Kebogiro terdengar bertalu-talu. Seseorang meminta Mesha keluar untuk bersanding di pelaminan. Zafia dan Yumna menggandeng lengan pengantin wanita tersebut. Berjalan perlahan seperti mengikuti irama Gending. Di belakang mereka, berbaris pengiring pengantin.
Sakha tidak berkedip saat memandang Mesha. Entah kenapa, di matanya, saat ini, perempuan itu terlihat makin cantik. Senyum terbit dari bibir laki-laki tersebut.
Mesha berjalan begitu anggun saat menuju pelaminan. Ia menjalani prosesi jejer, di mana kedua mempelai dipertemukan, lalu duduk bersama di pelaminan. Setelah itu, disambung dengan prosesi adat yang pada umumnya. Namun, tiba-tiba cuaca menjadi buruk. Mendung, angin kencang hampir saja merobohkan tarup. Para tamu kocar-kacir, berlarian ke sana ke mari. Beberapa warga lainnya, menenangkan orang yang ketakutan.
Dengan terpaksa, rangkaian acara syukuran pernikahan tersebut dipercepat. Beberapa tamu bersalaman dan berpamitan dengan kedua mempelai saat hujan angin tersebut reda. Mesha menyamarkan kekhawatirannya di balik riasan pengantin dan senyumnnya. Seperti mengetahui gelagat istrinya, laki-laki itu menggenggam salah satu tangan perempuan itu. Mencoba menenangkan.
Mesha menoleh saat tangan Sakha menggenggam tangannya. Laki-laki itu tersenyum.
“Gak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja,” hibur Sakha dengan suara lirih.
__ADS_1
Perempuan itu mengangguk.
Seorang gadis berjalan menuju pelaminan. Kedua pengantin, mengenalinya sebagai orang yang membuat masalah untuk mereka di kantor dulu.
“Selamat untuk Mbak dan Mas. Semoga langgeng.”
“Terima kasih, Mbak Marisa.” Sakha dan Mesha menjawab hampir bersamaan.
Setelah acara selesai di sore hari, beberapa warga tersisa membantu keluarga Bagas membersihkan sisa-sisa pesta. Sementara di dalam rumah, keluarga besan masih belum beranjak. Keluarga Wiryawan sudah pulang setelah menyalami kedua pengantin dan mendoakan mereka.
Yumna tidak henti-hentinya menggoda sang kakak. Mereka berdua saling berbalas argumen. Membuat suasana kedua keluarga menghangat. Mesha sangat suka melihat kedekatan kedua kakak-beradik. Namun, sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, ia sangat khawatir. Tangan perempuan itu mengusap-usap gelang manik di balik lengan kebayanya.
Langit telah berwarna jingga saat rombongan keluarga besan berpamitan pulang. Mesha meminta Yumna untuk menginap, tetapi gadis itu menolak, dengan alasan besok dia akan kembali ke kampusnya.
Sakha seperti tidak mau melepaskan istrinya. Terus-menerus menggandeng Mesha. Ia tidak peduli dengan ledekan warga atau keluarga yang masih tinggal di sana. Termasuk beberapa teman laki-laki Sakha.
"Ceileh ... mentang-mentang udah gak jomlo menahun, gandengan terus, kayak truk gandeng." Tawa meledak di ruang tamu karena ulah Radit.
Saat sore beranjak malam, Mesha merasa sangat lelah. Ia berpamitan kepada suaminya untuk masuk ke kamar terlebih dahulu. Sakha tidak merasa keberatan. Ia berkata akan menyusulnya segera.
Mesha duduk di depan meja riasnya. Memandangi pantulan wajahnya yang masih berbalut make up. Ia menghela napas lega. Sampai saat ini, semua berjalan normal tidak ada hal buruk yang terjadi, selain hujan badai tadi.
Cukup lama, Mesha memandangi dirinya sendiri lewat cermin. Hingga ia merasakan sebuah keanehan. Seperti ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Perempuan itu terus menoleh. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Ia bermaksud melepaskan sundhuk mentul, aksesoris logam berbentuk bunga yang menancap di kondenya. Tiba-tiba seseorang memegangi tangannya.
"Biar aku bantu, Dek."
Mesha lega, bahwa tangan itu adalah tangan suaminya.
Sakha melihat gelang yang melingkar di pergelangan istrinya. Entah kenapa ia merasa terganggu dengan benda tersebut. Kemudian, ia teringat dengan cerita Zafia. Hal itu membuatnya sedikit gusar.
"Dek, aku gak suka lihat gelang itu. Bukankah itu gelang dari laki-laki masa lalumu? Kalau tidak keberatan, maukah kamu melepaskan benda itu?"
__ADS_1
Mesha tercekat. Senyum di wajahnya pudar. Ia merasa berat untuk melepaskan benda itu. Namun, ia teringat dengan perkataan sendiri, siang tadi. Dengan wajah kesal, ia melepas dan meletakkan gelang itu di meja rias di hadapannya.
Sakha sempat menangkap ekspresi ketidak sukaan istrinya. Ia memutar tubuh perempuan itu, hingga menghadapnya.
"Maafkan aku, jika permintaanku membuatmu risih, Dek. Tetapi, saat ini, aku suamimu. Aku tidak mau jika istriku memikirkan laki-laki lain. Ayo, senyum! Jangan cemberut gitu."
Mesha merasakan panas menyengat di bahunya. Ia berpikir ada sesuatu yang salah. Tanpa mengindahkan perkataan sang suami, ia malah melepas kedua tangan yang memegangi kedua lengannya.
"Mas, Mas Sakha. Pergi, pergilah. Aku merasakan sesuatu yang buruk, tolong pergi dulu, menghindar untuk saat ini!"
Sakha tidak mengerti dengan sikap Mesha saat ini, ia malah memeluk perempuan itu.
"Aku hanya meminta hal kecil, Dek. Kenapa kamu semarah ini? Tolong maafkan aku. Aku hanya ...."
Mesha meronta-ronta, ia semakin histeris. Sakha tidak tahu apa penyebabnya, tetapi istrinya terus berteriak, seperti mengusir seseorang.
"Pergi! Pergi kamu! Jangan ganggu dia! Langkahi dulu mayatku sebelum kau mencelakainya! Pergi!" Mesha berteriak, menunjuk-nunjuk laki-laki berpakaian serba hitam yang tersenyum lebar padanya.
Namun, di mata Sakha, ia melihat Mesha mengacungkan jarinya ke udara kosong. Saat laki-laki itu berusaha menenangkan perempuan itu, ia malah terlempar, menabrak tembok dengan suara berdebum keras.
Mesha berlari mendekati suaminya yang tergeletak kesakitan di lantai. Menghalangi laki-laki berwajah pucat tadi yang menyeringai. Namun, tiba-tiba tubuh Sakha melayang, seperti tercekik, ia kesulitan bernapas.
"Turunkan dia! Aku mohon! Turunkan!" Teriak Mesha.
Terlambat, Sakha sudah kehabisan napasnya. Pintu berhasil didobrak dari luar. Semua mata tertuju pada Sakha yang melayang di udara. Kemudian tubuh itu kembali jatuh ke lantai dengan keras.
Mesha berteriak frustasi, ia merasa gagal lagi, menyelamatkan laki-laki yang menikahinya. Tanpa memedulikan apa pun, perempuan itu berlari menerobos kerumunan orang-orang di depan kamarnya. Beberapa orang yang berusaha menangkapnya, ia lawan.
Mesha berlari dan terus berlari. Kebaya pengantin dan segala aksesoris yang tersisa, masih melekat di dirinya. Ia bahkan menaikkan kain jariknya agar leluasa berlari.
Sekian menit Mesha berlari, ia baru sadar bahwa ia telah berlari menjauh. Ia melihat sebuah warung di pinggir jalan yang sudah gelap. Bersembunyi di sudutnya, memeluk lutut, menangis keras. Meluapkan segala emosinya.
__ADS_1
Bersambung ....