
"Pak Zul bisa ikut saya sebentar?"
Zayan mengangguk dan memandang laki-laki paruh baya di depannya, memohon.
"Ke mana, Mas?"
"Ikut saya, Pak."
Zulkifli meletakkan lap di tangannya, lalu mengikuti pria muda berkemeja lengan panjang itu, berjalan menuju sebuah tempat. Merasa sungkan, saat berjalan di depan orang yang lebih tua, Zayan menyejajarkan diri. Menempuk pundak dengan lembut, sampai di sebuah ruangan.
"Mushola? Ada apa Mas Zay?" tanya Zulkifli saat ia dipersilakan duduk di hadapan Zayan.
Zayan menceritakan kemampuan yang ia miliki. Sementara itu, Zulkifli menganggukkan kepala saat menyimak kisah pria muda di hadapannya.
"Saya memilih tempat ini, karena tempat ini sering dipergunakan ibadah, Pak. Jadi, saya mengajak Pak Zul ke sini."
"Maksudnya?"
"Agar makhluk-makhluk yang berniat jahat dengan saya, gak bisa ke sini, Pak."
"Oh, begitu. Lalu, apa hubungan kisah sampean sama saya, Mas?"
Zayan tersenyum, ia sedikit memajukan wajahnya dan mulai berbicara dengan menurunkan volume suaranya.
"Beberapa hari ini, Mbak Lastri mengikuti saya, Pak."
Zulkifli terkejut, ketika mendengar Zayan menyebutkan nama almarhumah anaknya. Itu artinya, laki-laki muda itu, tidak mengada-ada tentang kemampuannya.
"Tadinya, saya kira, Mbak Lastri adalah pegawai kantor ini. Saya menyapa saat ia duduk di dapur."
Kedua mata Zulkifli berkaca-kaca. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Laki-laki tua itu memegang dadanya, menahan tangis. Menundukkan kepala.
"Apa dia baik-baik saja, Mas? Apa dia butuh sesuatu? Dimana dia sekarang, Mas? Duh Gusti, malang sekali nasibmu, Nduk."
Zayan mengulurkan tangannya, ia mengusap lembut pundak Zulkifli. Menujukkan simpati dan empatinya. Ia menunggu laki-laki di hadapannya itu, berhenti menitikkan air mata.
"Begini, Pak. Mbak Lastri meminta pertolongan saya. Beliau ingin berbicara pada Pak Zul. Apa Pak Zul mau menemui beliau?"
Zulkifli mendongakkan kepala, menatap Zayan dengan ekspresi ketidakpercayaan. Namun ia merasa tertarik dengan hal tersebut. Berharap bahwa apa yang baru terlontar dari mulut Zayan, bukan isapan jempol belaka.
"Jika Pak Zul bersedia, temui saya di dapur setelah jam pulang kantor ya, Pak."
"Mana mungkin saya melewatkan kesempatan itu Mas Zay?"
"Baik, Pak. Saya tunggu, ya. Sampai jumpa nanti."
Zulkifli mulai terisak lagi, beberapa menit setelah Zayan pergi dari ruangan tadi. Laki-laki tua itu benar-benar tidak pernah menyangka akan mendapatkan sebuah kesempatan ini.
__ADS_1
Di sisi lain, Sri memandangi Mesha yang terlihat tidak seperti biasa. Meski senyum menghiasi bibir perempuan muda itu, tetapi itu terlihat seperti bukan dari hatinya. Ia benar-benar khawatir.
Mesha tersentak, lalu cepat-cepat berdiri saat merasakan sebuah tepukan pelan di pundaknya. Kemudian ia menoleh.
"Eh, Ibu. Ada apa?"
"Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja, Nduk?"
"Iya, Bu."
"Aku lihat kamu seperti sedang banyak pikiran. Berceritalah, kalau itu bisa melegakanmu, Nduk."
Mesha menggeleng, lalu berkata, "Beneran, kok, Bu. Gak ada apa-apa."
Tiba-tiba Sri menyentuh dahi Mesha dengan punggung tangannya.
"Syukurlah, ndak panas juga."
"Kan, saya udah bilang, Bu. Saya baik-baik saja."
Mesha tersenyum tulus, kali ini. Sentuhan tangan Sri membuat hatinya sedikit lega.
Mesha mengambil lap, lalu ia mulai membersihkan meja dan kursi. Sebentar lagi, warung akan ramai dipenuhi orang. Jam makan siang tinggal beberapa menit lagi.
"Kalau capek, istirahat saja, Nduk."
Beberapa orang mulai berdatangan, Mesha dengan cekatan, melayani mereka. Senyum yang dipaksakan, masih ia lakukan.
Seperti biasa, warung benar-benar ramai saat jam makan siang. Mesha bergerak ke sana ke mari, mengantarkan makanan yang dipesan. Tiba-tiba, tangannya terasa seperti licin. Gelas es teh, meluncur jatuh dari tangannya. Membuat semua orang di dalam warung, menoleh ke arahnya.
"Ma-maafkan kecerobohan saya!" ucap Mesha. Kemudian, ia mulai memberesi pecahan gelas yang berserakan di lantai. Ia lega, cipratan airnya tidak mengenai siapa pun, tetapi pesanan seseorang jadi tertunda.
Mesha menghela napas. Ia berjalan ke belakang warung, membuatkan es teh lagi. Sri yang mengamatinya, segera menyusul.
"Biar aku saja. Kamu duduk di sini saja, Nduk." Perempuan itu menarik bangku plastik dan mendekatkannya pada Mesha.
"Tapi, Bu ...."
"Sudah, sudah! Duduk saja. Tanganmu ndak kena pecahan kaca kan, Nduk?"
Mesha mengangguk.
Mesha terisak, menutupi wajahnya, lalu menangis seperlunya. Rasanya tidak nyanan dan sesak. Sri menatap perempuan itu dengan rasa iba. Ia ingin memeluk, tetapi urung. Hanya memandangi dan berharap semua baik-baik saja. Helaan napas, terdengar dari bibirnya.
Suasana kantor Bentala Swarga Group, di sore hari, begitu sunyi. Zayan sudah duduk melipat tangan di dapur. Ia menunggu Zulkifli menyelesaikan pekerjaannya di lantai atas. Gadis berwajah pucat sudah duduk di hadapannya. Memainkan jari-jemari, menundukkan kepala.
Seorang kakek berpakaian putih, dengan rambut dan jenggot yang berwarna hampir sama, muncul begitu saja di dapur itu.
__ADS_1
"Kakek siapa?" tanya Lastri.
Nirwasita tersenyum, menganggukkan kepala.
"Beliau yang akan menolong kita untuk berbicara dengan bapakmu."
"Oh, begitu."
Nirwasita berbicara pada Zayan, "Aku sudah membuat kubah pelindung di area ini. Makhluk lain ndak akan menembusnya, Le. Begitu laki-laki itu datang. Aku akan segera 'melakukannya'."
Beberapa menit kemudian, Zulkifli datang dengan ember dan pengepel lantai di tangannya. Zayan berdiri menyambut laki-laki itu dan membantunya merapikan alat-alat kebersihan di lemari pojok ruangan tersebut.
Lastri terisak melihat sang bapak yang kelelahan tersebut. Zayan merasa terenyuh. Ia menoleh ke arah Nirwasita, tetapi pria berambut perak itu hanya tersenyum dan mengangguk.
"Pak Zul duduk dulu, Pak." Zayan menyeret kursi di sebelahnya, mempersilakan duduk.
Nirwasita menyentuh lembut pergelangan Zayan, lalu memegangnya.
"Sebelumnya, aku mohon maaf." Di saat bersamaan, ia juga memegang tangan Lastri, di atas meja. Kemudia, Zayan menyentuh punggung tangan Zulkifli.
"Sekarang, panggil bapakmu, Nduk!" perintah Nirwasita.
Zulkifli terisak saat mendengar suara Lastri memanggilnya. Sejenak, ia tidak percaya saat ia melihat wajah putrinya kembali. Meski kali ini begitu pucat.
"Nduk Lastri ... putriku."
Zulkifli ingin menyentuh gadis itu, tetapi hanya udara kosong yang terasa di tangannya. Laki-laki itu memegang dadanya, menahan sesak karena rasa rindunya.
"Bapak, maafkan Lastri, Pak. Sampai detik-detik terakhir pun, Lastri ndak bisa membahagiakan ibu dan bapak. Malah membuat ibu dan bapak semakin menderita."
"Jangan bilang begitu, Nduk. Ibumu pasti akan sangat bahagia bisa melihatmu lagi. Aku sangat berterima kasih kepada Mas Zay, untuk ini. Apa kamu merepotkannya beberapa hari ini?"
Lastri tersenyum.
"Lastri ndak berniat menakut-nakuti Mas Zay, kok, Pak. Hanya, beberapa kali Lastri memang meminta tolong padanya.
Zulkifli mengangguk.
"Disini juga ada kakek Nirwasita. Mungkin Bapak ndak bisa melihat, tetapi beliau yang menyebabkan kita bisa berbicara seperti ini, Pak."
Nirwasita tersenyum kepada Lastri.
"Iya, Nduk. Bapak berterima kasih juga ..."
"Waktu Lastri ndak banyak, Pak. Lastri ingin mengatakan sesuatu pada Bapak ...."
Bersambung ....
__ADS_1