
"Mbahkung, mau kopi?"
"Ndak usah, Le. Kamu istirahat saja, besok kan kamu juga masih berangkat kerja to?"
Laki-laki dengan perawakan atletis itu mengangguk setelah mendengar ucapan sang kakek.
Jam di dinding menunjukkan pukul delapan. Zayan dan Arsyanendra, baru saja sampai rumah. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan menggunakan bus antarkota. Udara malam itu begitu dingin. Jalanan terlihat basah, hujan baru saja reda.
Arsyanendra duduk menyandarkan tubuhnya yang renta di kursi favoritnya setelah selesai bersih-bersih dan menjalankan kewajibannya. Lagi-lagi, ia melihat sosok laki-laki pucat dengan pakaian serba hitam seperti tempo hari. Ekspresi wajah pria itu terlihat seperti tidak suka saat tatapan matanya bertemu dengan dirinya.
Sementara itu, di kamar, Zayan sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam meski tidak tidur. Namun, pada akhirnya, laki-laki itu pun sudah terlelap. Masuk ke alam mimpi. Di dalamnya, ia melihat gadis cantik yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.
Seorang gadis, terikat di sebuah pohon. Akar-akar tebal menjerat tubuhnya. Matanya terpejam. Kemudian terbuka saat Zayan mendekatinya. Bibir gadis tersebut bergerak, seperti mengucapkan sebuah kalimat. Namun, ia tidak dapat mendengar.
Zayan berjalan mendekati pohon tadi. Mencoba menyelamatkan gadis yang terlihat tidak berdaya di hadapannya. Baru saja ia berjalan satu langkah, sebuah akar besar mengayun ke arahnya, memukulnya mundur. Tubuhnya terjerembap. Tawa nyaring terdengar, menggema.
"Siapa pun tidak boleh mengambil mempelaiku! Termasuk kau!" Laki-laki berparas pucat, berpakaian serba hitam, menyeringai pada Zayan.
"Siapa kamu? Kenapa kamu perlakukan Indy seperti itu?"
"Kalau kau ingin hidup, jauhi dia! Tidak perlu banyak bertanya! Semakin sedikit yang kau tahu. Itu lebih baik."
Zayan tidak mengerti maksud dari perkataan laki-laki di hadapannya. Ia tidak peduli. Lari menerjang ke depan. Tidak tega membiarkan gadis yang terikat di pohon tadi.
"Kau pikir, kau siapa?"
Sebuah kilatan cahaya menghantam Zayan. Laki-laki itu terpental jauh, berteriak. Tubuhnya terus berguling hingga ke tepi jurang. Beruntung, tangannya sempat menggapai akar yang menonjol. Namun tiba-tiba, benda itu bergerak. Malah menjatuhkannya ke dasar jurang.
"Le! Bangun, Le! Istighfar!"
Suara yang dikenal Zayan, terdengar. Laki-laki itu pun perlahan membuka matanya.
"Mbahkung?" Kemudian, ia memandang sekeliling. Mimpinya tadi betul-betul seperti nyata.
"Mimpi buruk?" tanya Arsyanendra.
Zayan mengangguk, lalu mengusap wajahnya keras-keras.
"Mbahkung, Zay tadi mimpi bertemu dengan seorang gadis yang terikat di sebuah pohon tua. Ia meminta tolong, tetapi Zay gak bisa menyelematkannya."
__ADS_1
Arsyanendra mengerling pada jam di dinding. Pukul dua lewar beberapa menit. Dini hari. Pada waktu tersebut, konon, merupakan mimpi yang membawa sebuah isyarat. Percaya tidak percaya. Laki-laki berusia senja itu mulai berpikir.
"Apa kamu lihat siapa yang mengikat gadis itu di pohon, Le?"
Zayan memejamkan mata, berusaha mengingat kronologi mimpinya tadi.
"Mimpi terkadang hanya bunga tidur, Le. Tetapi, bisa jadi, ada pertanda di dalamnya." Arsyanendra mengulurkan segelas air yang dibawanya tadi.
Setelah meneguk air di tangannya, Zayan menunduk. Ia ingat betul wajah gadis yang terikat tadi. Gadis yang ia kenal dengan nama Indy. Kemudian ia teringat pria pucat yang berusaha menyerangnya.
"Ada laki-laki yang berpakaian serba hitam, Mbahkung. Dalam mimpi Zay, laki-laki itu berusaha menghalang-halangi Zay untuk menyelamatkan seorang gadis."
Arsyanendra terhenyak. Mendengar cucunya berkisah tentang laki-laki berpakaian serba hitam.
"Kamu yakin, Le? Kamu harus berhati-hati mulai saat ini. Meski aku yakin, ia ndak akan bisa apa-apa terhadapmu."
Zayan mengerutkan dahi. Baru kali ini ia mendengar perkataan aneh kakeknya. Diucapkan dengan nada kekhawatiran.
"Siapa memangnya laki-laki itu, Mbahkung?"
"Entah, aku kurang yakin ... sudah, beristirahatlah lagi. Aku kembali ke kamar."
Setelah Arsyanendra keluar dari kamar, Zayan malah beringsut bangun dari ranjang. Ia tidak mau melewatkan waktu sepertiga malam akhir tersebut.
Di sisi lain, Mesha terbangun dengan air mata yang membasahi pipinya. Malam ini ia juga bermimpi tidak menyenangkan. Tangannya berlumuran darah dalam mimpi. Di mimpi tersebut, ia menikam seorang laki-laki, yang ia kenali. Zayan.
Laki-laki itu malah tersenyum saat belati bersimbol ular di tangan Mesha menghunjam dalam di dada.
Mesha duduk di ranjangnya, masih tersedu-sedan. Perempuan itu terus memandangi kedua telapak tangannya sendiri. Walaupun, tidak ada apa-apa di sana.
"Gusti Allah ... apa tangan ini yang kelak akan menghabisi laki-laki yang selama ini aku cari?" gumamnya disela isak tangis.
Setelah matahari terbit, Mesha merogoh tas kecilnya. Mukena masih menempel di tubuhnya. Ia tertidur setelah subuh. Setelah menggenggam benda kotak di tangannya, ia segera menekan sebuah nomor.
"Za? Kapan kamu pulang ke rumah?" tanya Mesha setelah seseorang di seberang menjawab panggilannya.
Mesha berangkat ke warung milik Sri setelah mandi. Ia melewatkan sarapan di rumah. Meskipun ibunya sudah menyuruhnya. Ia tidak sabar ingin memastikan sesuatu.
Tepat seperti dugaannya, seorang laki-laki masuk ke warung makan setelah ia sampai. Sebelumnya, Mesha meminta maaf atas keterlambatannya kepada Sri.
__ADS_1
"Lho? Sarapan di sini?"
"Dibungkus saja, Bu. Dua."
Mesha menautkan kedua alisnya. Keheranan. Ia yakin rumah laki-laki itu jauh dari warung tempatnya bekerja, tetapi kenapa Zayan memilih untuk membeli sarapan sejauh ini.
Zayan memandang sekeliling, ia mencari-cari sosok gadis yang semalam hadir di mimpinya. Namun, nihil. Ia tidak dapat menemukannya. Langsung berpamitan saat Sri mengulurkan dua bungkusan makanan yang ia pesan.
Sri merasa heran dengan kedua sikap yang ia lihat dari anak angkatnya dan laki-laki muda yang baru saja keluar dari warungnya. Perempuan paruh baya itu berjalan mendekati Mesha yang tengah sibuk menata gorengan di nampan.
"Nduk, aku kok seperti aneh melihat kalian berdua?"
Tangan Mesha terhenti. Ia menoleh.
"'Kalian berdua'? Siapa, Bu?"
"Ya kamu, sama cah enom tadi. Kalian terlihat saling mencari, tetapi juga saling sembunyi. Apa ini cuma kebetulan?"
Mesha tersenyum. "Kebetulan mungkin, Bu."
Hari makin siang, beberapa pelanggan mulai berdatangan. Bertambah banyak saat makan siang. Setelah melayani beberapa pelanggan di warung. Seperti biasa, Mesha mengantarkan pesanan makan siang ke kantor Bentala Swarga Group.
Mesha berjalan melewati ruangan di mana tempat Zayan bekerja. Namun, di sana kosong. Kemudian ia terus berjalan sampai ke dapur untuk meletakkan bungkusan makanan. Matanya terbelalak, saat melihat laki-laki yang berdiri di dapur. Secara reflek, gadis itu berlari menghindar.
Mesha merasa bingung, ia masih belum siap menemui Zayan. Ia takut, khawatir. Ia berlari. Berlari secepatnya, sebisanya. Hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Aduh!" Seruan kesakitan terdengar dari mulut seorang gadis.
"Ma-maafkan saya. Sungguh!" Mesha mengangguk dalam, memejamkan mata.
"Mbak Mesha?"
Mesha mengangkat wajah, melihat gadis di hadapannya.
"Grisa? Maafkan aku, Grisa. Aku sedang terburu-buru."
Mesha kembali berjalan cepat tanpa mendengarkan kalimat lain dari mulut Grisa.
Sementara itu, seorang laki-laki berdiri menatap adegan tadi dengan keingin tahuannya.
__ADS_1
Bersambung ....