Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Perjuangan Dimulai


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu jati yang tua dengan furnitur berisi buku-buku berbahasa Arab yang tersusun rapi, duduklah dua orang laki-laki.


"Kamu yakin?"


"Ya, Bah. Dia akan datang."


Laki-laki berwajah teduh dan penuh kasih tadi, memandangi putranya dengan senyuman lembut.


Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki dengan jaket trucker-nya, masuk ke ruangan tadi. Berjalan dengan menggunakan lututnya. Menyalami kedua laki-laki yang duduk bersebelahan tadi. Mengecup punggung tangan mereka dengan takdzim.


"Gimana kabarmu, Le, Zay? Sehat?"


"Alhamdulillah, Abah."


"Panjang umur kamu, tadi aku lagi bicarain kamu sama anakku."


"Kehormatan yang besar buat saya, jadi bahan pembicaraan panjenengan berdua."


Zayan menunduk, ia mulai ragu, apakah ia harus membicarakan ini dengan guru mengaji sekaligus guru spiritualnya itu.


"Jadi, ini masalah dengan alam gaib?" Laki-laki yang usianya hanya berjarak lima tahun dengan Zayan tadi, mulai angkat bicara.


"Ya, Gus."


"Kamu belum berubah, Zay."


Zayan menceritakan semua peristiwa yang dialami Mesha kepada kedua orang alim tadi. Meminta saran untuk apa yang harus dilakukannya tentang perempuan yang dicintainya.


"Jadi, kamu ingin menikahi dan mencoba melawan yang kata orang itu sebuah kutukan?"


"Ya, Abah Kyai. Saya sudah bertekad."


"Kamu yakin dengan segala konsekuensinya?"


Zayan mengangguk mantap.


Salim tertawa mendengar perkataan mantap dari murid ayahnya tadi. Kemudian, ia menunduk, memejamkan mata. Membuka mata, lalu memandang tajam kepada Zayan.


"Kamu sebenarnya punya bantuan dari alam sana juga. Jadi, aku berharap, semuanya akan berakhir dengan baik. Ada beberapa bacaan dzikir dan ayat yang bisa membantumu juga. Amalkan itu, lalu serahkan semua kepada Gusti Allah."


"Nggih, Gus."


Setelah kepergian Zayan, Salim tersenyum. Abahnya, mengamati wajah sang putra.


"Kamu yakin dia akan berhasil, Le?"


"Wallahu a'lam, Bah. Tergantung niat dan usahanya."


Di tempat lain, Mesha sedang duduk mengamati liar jendela dari tempatnya duduk. Masih pagi, pelanggan belum datang.


Mesha terkejut saat melihat seorang perempuan yang ia kenali beberapa hari yang lalu, turun dari mobil. Ia berdiri menyambutnya.


Sri yang membaca gerak-gerik Mesha, ikut berdiri, berjalan mendekati perempuan itu.

__ADS_1


"Aku mau bicara sama kamu, empat mata!"


"Saya, Bu?"


"Iya, kamu!"


Kartika menunjuk meja dan kursi di sudut warung. Dengan patuh, Mesha datang ke sana. Sri yang merasa tidak terlihat, mundur dan melihat kedua perempuan tadi dari kejauhan.


"Sudah, ndak perlu basa-basi. Aku cuma mau memperingatkanmu, jauhi anakku! Sebesar apa pun cintamu pada anakku."


Mesha terkejut dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Kemudian ia menunduk.


"Anakku, Zay. Berhak mendapatkan perempuan yang lebih daripada kamu. Jadi, aku minta pengertianmu saja."


Dengan menahan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya, Mesha mengangkat kepalanya.


"Ya, Bu. Saya paham, saya mengerti. Dan saya akan melakukan apa yang ibu mau."


"Baguslah! Kalo begitu, saya pergi."


Kartika mengangguk saat melihat Sri, lalu keluar dari warung.


Isak tangis Mesha yang tertahan, didengar oleh Sri. Perempuan itu ikut merasakan sesak di dada saat mendengar lamat-lamat perkataan Kartika tadi. Ia menepuk lembut pundak putri angkat kesayangannya itu.


"Saya harus bagaimana, Bu?" tanya Mesha dengan nada suara lirih, di sela isak tangis.


Sri terdiam, ia tidak bisa berkata apa pun. Hanya pelukan yang bisa ia berikan saat ini.


Malam harinya, Zayan berbicara dengan sang kakek.


"Mbahkung, Zay sudah sowan ke abah Kyai. Kemudian menceritakan semua yang dialami Echa."


"Lalu?"


"Gus Salim yang waskita tentang alam lelembut, memberikan amalan dzikir untuk menangkis makhluk yang membayangi hidup Echa."


"Apalagi? Amalkan saja. Tapi ingat, ada konsekuensi saat kita bersinggungan dengan alam itu."


"Ya, Mbahkung."


Nirwasita datang tepat saat kedua laki-laki tadi masih berdiskusi. Ia menyimak kalimat kedua manusia tersebut. Hingga Zayan menyadari kehadirannya.


"Kakek? Kenapa hanya menyimak?"


"Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, Le! Tapi sebelumnya, lihat ini dulu."


Nirwasita meminta Zayan untuk mengulurkan tangannya. Kemudian menyentuh tangan itu, dan membagi ingatan masa lalunya tentang Caraka.


"Jadi, Kakek Nirwasita kenal makhluk itu?"


"Ya. Aku sudah pernah bilang, aku menciptakan gelang berpasangan itu, bukan tanpa tujuan. Jika kedua gelang itu disatukan. Ada energiku yang tersimpan di sana, energi yang sama dimiliki oleh Caraka."


"Jadi, itu kenapa makhluk itu tidak bisa mendekatiku, Kek?"

__ADS_1


"Ya, tapi apa pun itu, semua sudah diatur dan atas kehendak Yang Maha Kuasa. Kita makhluk-Nya. Hanya bisa berusaha."


Zayan memutuskan untuk menemui Mesha, secepatnya. Ia ingin menanyakan keberadaan gelang pasangan yang disimpan perempuan itu. Karena, ia tidak pernah melihat gelang itu melingkar di pergelangan tangan sang kekasih.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Zayan sudah memarkirkan motor di warung milik Zulkifli. Laki-laki pemilik warung itu, tersenyum saat melihat kedatangannya.


"Ada apa ini, Mas? Datang pagi-pagi sekali ke sini? Saya belum buka."


"Itu, Pak. Echa ... eh, Indi apa sudah datang?"


"Oh, dia. Biasanya jam tujuh baru datang, Mas."


"Oh, begitu. Ya sudah, saya ke kantor saja dulu, Pak. Mari!"


Sampai jam makan siang, Zayan kembali ke warung Zulkifli. Namun, ia tidak menemukan perempuan yang dicarinya. Bahkan ia terkejut saat Sri bercerita tentang kedatangan ibunya, Kartika, kemarin.


Tanpa berpikir panjang, Zayan memacu motornya ke rumah Mesha. Ia mengetuk pintu rumah tersebut.


"Cari siapa, Mas?"


"Echa ada, Bu?"


Mayang terkejut dengan sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya. Ia yakin, pasti laki-laki itu teman masa kecil putrinya, karena ia tahu panggilan itu.


"Masnya siapa?"


"Saya ...."


Zayan terkejut saat mendengar cerita Mayang. Ternyata, Mesha sudah pergi kemarin sore. Ke kota di mana sahabatnya menuntut ilmu. Perempuan itu ingin mencari pekerjaan di sana.


"Aku udah ngelarang anak itu, tetapi ia bersikukuh, Mas. Tapi dia janji kalo akhir minggu bakal pulang, sih."


"Apa boleh saya tahu alamatnya, Bu?"


"Waduh, aku kurang tahu, Mas. Cuma tahunya ke kontrakan Zafia di kota K. Gitu."


"Oh, ya sudah, terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya pamit."


Zayan mencium punggung tangan Mayang dengan hormat saat dia keluar rumah. Kemudian ia memakai helm dan menyalakan mesin motor.


"Eh, Mas. Tapi, sebenernya, Mas ini siapa?"


Zayan tersenyum, dengan percaya diri, ia berkata, "Calon menantu ibu."


Mayang terkejut. Namun, motor Zayan sudah menjauh.


"Apa aku ndak salah dengar?" gumam Mayang.


Sesampainya di kantor Bental Swarga, Zayan duduk termenung. Tadi, di rumah Mesha, ia melihat sosok yang sama yang dilihatnya beberapa hari lalu. Sosok yang sama dengan apa yang dilihatnya dalam ingatan Nirwasita. Caraka. Laki-laki itu menatapnya dengan tajam kepadanya. Menantang.


"Ke mana aku harus mencarimu, Cha?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2