Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 35 : Gundah Gulana.


__ADS_3

Matahari sudah mulai terbenam di balik garis cakrawala. Sinar jingganya yang lembut, menerpa dedaunan yang melambai ditiup angin. Kursi dan meja sisa-sisa pesta baru saja selesai dirapihkan.


Sementara itu, di sebuah kamar minimalis dengan cat tembok berwarna pastel, duduk seorang gadis dengan tatapan mata kosong. Sesekali, gadis itu menghela napas lalu mengembuskan dengan keras.


Mesha masih ragu, apakah keputusannya menerima pinangan Sakha itu sudah benar. Setelah kejadian yang menimpa mendiang suami pertamanya, ia semakin menjauhkan diri dari hal semacam itu. Namun, ia mengalah dengan pikiran konyolnya saat itu. Rasa tidak enak hati pada laki-laki yang sudah melindungi kehormatannya dan keluarganya.


Bisa dibilang, hati Mesha masih belum berdetak kencang saat berhadapan dengan Sakha. Bahkan saat acara lamaran tadi siang.


Tanpa disadari, sepasang mata mengamati Mesha dari kejauhan. Tatapan yang penuh kasih dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu.


Mesha menengokkan kepalanya saat merasa ada seseorang duduk di sampingnya. Perempuan yang selalu mendukung segala keputusan gadis itu.


"Kalau kamu ragu, kamu bisa batalkan saja, Cha. Sebelum terlambat."


Gadis dengan mata indah tersebut menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum getir.


"Echa gak enak sama keluarga mereka, Bu. Gak ada salahnya juga mencoba lagi."


"Kamu yakin, Nduk?"


Mesha memainkan gelang manik-manik di pergelangan tangannya.


"Kalo kamu punya laki-laki lain yang kamu sukai, bilang saja ke ibu, Nduk."


"Gak ada, Bu." Jawaban bernada penuh keraguan muncul dari bibir merah jambu tersebut.


Mayang menyerah, ia tidak mau lagi menambah kebimbangan putrinya. Perempuan itu menepuk pundak anak gadisnya dengan lembut.


"Ya sudah. Ibu menghargai semua keputusanmu. Apa pun itu, kalau ada keraguan. Mundur saja, ndak apa-apa."


Setelah menyelesaikan kalimat akhirnya, Mayang beranjak pergi dari kamar Mesha.


"Zay ... aku harus gimana?" gumam Mesha sambil terus memainkan gelang manik-manik di tangannya.


***


"Marisa? Kenapa kamu di sini?"


Sakha terkejut saat melihat sosok perempuan yang pernah ia kenal. Gadis dengan setelan kasual itu tertunduk malu. Kemudian, ia mencuri pandang sejenak lalu menunduk lagi.


"Aku mau pamitan sama teman-teman, Mas. Mau pindah."


"Oh ...."

__ADS_1


"Selamat ya, Mas. Semoga pernikahannya langgeng."


"Aku baru lamaran."


"Ya, aku tahu, Mas."


Marisa berjalan mendekati Sakha. Meski hatinya hancur, ia beranikan diri menatap laki-laki yang ia cintai itu.


"Aku pernah dengar hal buruk tentang calon Mas Sakha. Dia ...."


"Sebaiknya kamu gak perlu bahas keburukan orang lain yang tidak ada hubungannya denganmu!"


Marisa mengangguk dan menunduk semakin dalam.


"Baiklah, Mas. Aku berharap semoga Mas Sakha baik-baik saja. Tetap hidup sampai Nenek dan Kakek bersama dia."


Kemudian perempuan muda itu berlalu meninggalkan Sakha.


Sakha mengerutkan dahi saat mendengar kalimat terakhir Marisa.


"Apa maksud dia berkata seperti itu?" gumamnya. Berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi, Sakha kembali ke meja kerjanya.


Saat jam makan siang, Sakha masih duduk di balik meja kerjanya. Sementara teman sekantornya sudah keluar untuk makan siang. Laki-laki itu menarik keluar ponsel dari dalam saku celananya. Ia menelepon seseorang.


"Dah makan siang, Dek?"


"Kenapa gitu? Aku gak mau kalau pas harinya, kamu terlihat lebih kurus!"


Suara tawa ringan seorang gadis terdengar dari seberang.


Setelah membujuk Mesha makan, Sakha pergi ke warung makan langganannya untuk mengisi perutnya. Tanpa sengaja, ia mendengar pembicaraan seseorang di dalam warung.


"Calonnya mas Sakha, perempuan yang itu? Ealah ... itu saya pernah denger desas-desus aneh. Katanya bulek saya, yang tetangganya, suami gadis itu meninggal saat malam pernikahannya. Misterius pokoknya." Pemilik warung terdengar ikut berkomentar saat beberapa orang membicarakan hal tersebut.


Sakha mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam warung. Ia berdiri mematung, mendengarkan orang-orang membicarakan tentang calon istrinya. Tangannya terkepal saat mendengar seseorang mengungkit masa lalu gadis yang ia cintai.


"Lho, Kha? Gak masuk?" Radit baru saja keluar dari warung setelah menghabiskan makanannya. Sontak seisi warung melihat ke arah yang sama. Tiba-tiba semua terdiam, suasana menjadi senyap.


"Jangan pikirin omongan mereka, Kha. Kamu fokus aja dengan persiapan nikahmu." Pria itu menepuk bahu Sakha dengan lembut. Sementara itu, Sakha tersenyum kecut. Ia pun membalikkan badan untuk mencari warung makan lainnya.


Obrolan-obrolan orang di warung tadi, lama-lama mengusik pikiran Sakha. Selama ini, ia memang belum terlalu mengenal Mesha. Yang ia tahu, hatinya telah dicuri gadis tersebut sejak pandangan pertama. Sambil menikmati makanannya, pria itu masih terus berpikir.


"Ah, ya! Bukankah Zafia itu teman dekat Mesha, kenapa aku gak tanya dia aja?" Sakha berbicara dengan mangkok di hadapannya. Setelah pulang kerja, laki-laki itu bermaksud untuk menelepon sepupunya tersebut.

__ADS_1


***


"Mau kita bicarakan sekarang lewat telepon atau nunggu aku pulang besok, Mas?"


"Kalau gak ngerepotin, kita ketemu aja gak apa-apa, Fi."


"Halah! Gak kok, Mas. Kan setiap weekend, aku memang pulang ke rumah. Nanti aku mampir dulu ke rumah. Gak apa-apa, aku juga kangen masakan Bulek."


"Oke, ditunggu!"


Sakha tersenyum lega saat menghubungi sepupunya setelah jam kerja usai. Ia menoleh ke tempat di mana meja kerja Mesha dulu berada. Laki-laki itu tersenyum kembali. Meski ada sedikit mengganjal, ia masih tidak sabar untuk menunggu hari bahagia itu.


Setelah membereskan beberapa berkas, Sakha keluar dari ruang kantor. Ia mengangguk sopan saat berpapasan dengan Paijo, tukang kebun yang bekerja di kantornya.


Keesokan harinya, di rumah Sakha, seorang gadis sudah duduk mengobrol dengan Ningsih. Sakha baru saja selesai mandi, lalu menghampiri perempuan muda itu.


"Kamu yang suruh Zafia ke sini, Le?" tanya Ningsih.


"Ya, Bu."


"Ada apa?"


Sakha terdiam, ia mengambil tempat duduk di hadapan ibunya.


"Ada beberapa hal yang mengganjal di hati Sakha, Bu. Kebetulan, Zafia ini teman Dek Mesha."


"Oalah ... gitu, to?"


Zafia mengangguk, menyetujui pernyataan sepupunya.


"Tapi apa gak apa-apa, Bulek dengerin juga, Mas?"


"Ya ... gak apa-apa, to? Kan kelak, ibu juga bakal jadi ibunya Dek Mesha juga."


"Ini ada apa sih, Le? Kok ketoknya serius banget?"


"Gak ada apa-apa, Bu. Kan Sakha sudah bilang tadi."


"Oh, yowes. Ibu nyimak saja."


Sakha mulai menceritakan kronologi kenapa ia penasaran dengan sesuatu. Khususnya tentang masa lalu Mesha. Dengan hati-hati, ia mulai bertanya pada Zafia. Hal apa yang membuat citra calon istrinya menjadi jelek di mata orang lain.


Ningsih mengelus dada saat mendengar penuturan Zafia. Sebagai seorang ibu, ia mulai khawatir.

__ADS_1


"Kamu masih yakin dengan pilihanmu, Le?"


Bersambung ....


__ADS_2