
Sri kebingungan saat melihat Mesha yang kembali dengan wajah kuyu dan mata sembap. Perempuan itu mendekati perempuan muda yang duduk dengan tangan menutupi wajah.
"Kalau kamu ngrasa ndak nyaman, kamu pulang aja, gak apa-apa, Nduk."
Mesha menurunkan tangannya, mengusap wajahnya cepat-cepat.
"Gak, Bu. Saya gak apa-apa. Cuma agak emosional."
"Semua baik-baik saja, to?"
Mesha mengangguk dalam.
Sri menghela napas, saat melihat Mesha berlalu. Khawatir dengan keadaan hati putri angkatnya tersebut. Namun, ia merasa tidak bisa berbuat banyak.
Di rumahnya, Arsyanendra kedatangan Nirwasita. Dua sekawan beda dunia itu berbicara dengan santai.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah ndak apa-apa. Lumut liar ndak akan bisa membuatku sakit parah." Arsyanendra tertawa.
Nirwasita menghela napas keras.
"Anak itu berkeliaran lagi di dunia manusia."
"Siapa?"
"Caraka. Aku khawatir dia akan melakukan hal buruk lagi. Membunuh manusia tak berdosa karena keinginannya."
"Aku yakin, kamu bisa mengatasi itu, Nirwasita."
"Aku harap. Aku tak sekuat dulu. Apa aku harus membekali Zayan? Untuk berjaga-jaga."
Arsyanendra terdiam. Laki-laki itu berpikir keras. Ia tidak bisa begitu saja mempertaruhkan nyawa cucu satu-satunya itu. Namun, ia paham, takdir cucunya terikat dengan hal tersebut sejak awal.
"Aku ndak bisa seenaknya. Kita ndak tahu apa yang diinginkan anak itu. Ada baiknya kau bertanya langsung pada Zayan."
"Baiklah. Perlu diingat, aku membuat gelang kembar itu bukan tanpa tujuan."
"Ya, aku ingat. Benda itu juga akan menjadi pendukungnya."
"Ya. Kalau begitu, istirahatlah. Aku ingin bersemedi sebentar di alamku. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku."
Arsyanendra tertawa kecil.
"Baiklah, baiklah."
Setelah Nirwasita pergi, Arsyanendra terdiam. Berpikir. Ia ingin tahu perkembangan cucunya. Apa Zayan sudah berhasil menemukan gadis yang menjadi takdirnya itu.
Keesokan harinya, sebelum berangkat bekerja, Zayan menggosok paving di halaman rumah sang kakek. Beberapa warga yang melintas di jalan depan rumah, menyapanya. Arsyanendra berniat membantu, tetapi Zayan menolaknya, menyuruh laki-laki berusia senja itu duduk saja di teras.
Setelah pekerjaan membersihkan halaman selesai, Zayan duduk di lantai teras. Secangkir kopi di tangannya diseruputnya.
"Jadi, gimana, Le?"
"Gimana apanya Mbahkung?"
"Gadis kecil yang ...."
__ADS_1
Zayan menghela napas keras.
"Zay sudah menemukannya, Mbahkung."
Arsyanendra terkejut.
"Benarkah?"
"Ya, Mbahkung. Zay sempat gak mengenalinya karena dia gak pakai gelang itu. Echa menolakku, Mbahkung.
Arsyanendra menggigit bibirnya menahan tawa. Baru kali ini, ia melihat ekspresi aneh cucunya.
"Wah! Terus bagaimana? Mau nyerah begitu saja?"
"Siapa bilang, Mbahkung? Zay sudah mencarinya bertahun-tahun, masa nyerah?"
"Baguslah! Tapi, apa dia cantik?"
"Tentu saja, Mbahkung! Jangan remehkan selera Zay!"
Arsyanendra tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Baiklah, baiklah! Ini sudah siang, kamu ndak ke kantor, Le?"
"Ya, Mbahkung. Zay siap-siap dulu."
Di tempat lain, Mesha malah duduk di jok motornya. Melamun. Ia bimbang, apa harus berangkat ke warung atau tidak. Kejadian kemarin, membuatnya khawatir bahwa Zayan akan nekat lagi.
Mesha menggelengkan kepala keras.
"Tapi kalau aku gak berangkat, kasian Bu Sri. Pasti kerepotan. Mau bagaimana lagi?"
"Iya, Bu. Ini mau berangkat."
"Wajahmu keliatan pucat, kamu sakit, Nduk?"
"Gak, kok, Bu. Kalau gitu, Echa berangkat dulu."
Sesampainya di warung, Mesha bekerja seperti biasanya. Melayani pesanan dan mengantarkan makanan dengan senyum. Seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Namun, tiba saat makan siang. Tubuhnya bergetar, Zayan masuk ke dalam warung dan duduk. Kemudian memesan makanan.
Mesha kalut, tentu saja. Ia menoleh, mencari-cari Sri. Perempuan itu juga sedang sibuk melayani pelanggan.
"Duh! Bagaimana ini?"
Dengan terpaksa, Mesha berjalan mendekati meja di mana Zayan berada. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam dan berusaha seprofesional mungkin. Namun, di luar dugaan. Benda sekepalan tangan di dalam rongga dadanya berdegup makin kencang saat laki-laki muda tadi, tersenyum.
"Mau pesan apa?" tanya Mesha, datar, tanpa ekspresi.
"Gak mau pesan apa-apa. Cuma mau melihatmu, Cha."
"Kalau gak mau pesan apa-apa, jangan ke sini!"
Zayan tersenyum lebar.
"Tahu gak? Kamu tambah manis kalau jutek begitu."
"Jangan macam-macam! Cepet pesan! Aku juga mau melayani pelanggan lain."
__ADS_1
"Iya, iya. Aku pesan seperti biasa aja. Kalau bisa sih ... ditambah senyuman manismu."
Mesha melebarkan matanya, melotot, berusaha terlihat menyebalkan di depan Zayan.
"Terserah!" pungkasnya.
Beberapa menit kemudian, Mesha mengantarkan pesanan Zayan.
"Gak mau menemaniku makan, Cha?"
"Maaf ya, Tuan pelanggan yang terhormat. Pekerjaan saya mencatat pesanan, mengantarkan makanan. Tidak ada tuh menemani pelanggan makan!"
Zayan tertawa.
"Galak amat!"
Sri tersenyum melihat kedua anak muda tersebut dari kejauhan. Sikap Mesha terbaca olehnya. Meski judes dan melontarkan kalimat menyebalkan, ia yakin, itu berbanding terbalik dengan isi hati putrinya. Zulkifli yang baru saja datang untuk mengambil pesanan pegawai Swarga Bentala, berjalan mendekati istrinya.
"Napa senyum-senyum gitu, Bu?"
"Tuh, lihat, Pak!" Sri menggerakkan kepalanya, berisyarat.
Hari-hari berikutnya, Zayan terus-terusan datang. Bahkan laki-laki itu tidak segan untuk membantu membawakan pesanan saat ramai pelanggan di jam makan siang. Mesha masih bersikap keras, meski Zayan terus berusaha mengambil hatinya.
Grisa datang ke kantor Swarga Bentala, berniat mengajak Zayan makan siang di luar. Namun, gadis itu tidak dapat menemukan orang yang dicarinya. Kebetulan, ia berpapasan dengan Zulkifli dan bertanya di mana Zayan berada.
"Oh, Mas Zay di warung makan tadi, Mbak. Tempat langganannya."
"Oh, begitu. Terima kasih, Pak."
Grisa bergegas menyusul Zayan di warung makan. Langkah gadis cantik itu terhenti di pintu, saat melihat laki-laki yang dicarinya, memakai celemek, lengan baju tergulung dan nampan berisi makanan di kedua tangannya. Laki-laki itu pun tersenyum saat melihat Mesha. Terkadang ia tertawa mendengar perkataan perempuan itu.
Ada perasaan nyeri di dada Grisa saat melihat pemandangan itu. Ia membalikkan badan, untuk pergi, tetapi Zayan memanggilnya.
"Grisa!"
Mau tidak mau, gadis itu urung melangkah pergi. Dengan senyum canggung, ia masuk ke dalam warung.
"Mau makan siang?" tanya Zayan.
"Lho, kalian saling mengenal?" Mesha mendekat saat mendengar Zayan menyebutkan nama seseorang.
"Itu ... ya, Mbak Mesha."
"Duduk, Gris. Mau pesan apa?" tanya Mesha.
"Seperti biasanya, Mbak."
Grisa memandangi Zayan yang dengan senang hati melayani pelanggan. Hingga laki-laki itu duduk di hadapannya membawa pesanannya.
"Mas Zay ngapain kayak gini?"
"Oh, ini? Aku hanya mau membantu. Kamu tahu? Aku sudah menemukan perempuan yang selama ini kucari, Gris."
Zayan memandang Mesha dengan tatapan penuh harapan. Ekspresinya tertangkap oleh mata Grisa. Gadis itu merasa terbakar. Panas membakar hatinya. Selama makan, ia menahan semuanya. Namun, saat Zayan berpamitan untuk kembali bekerja. Grisa memanggil Mesha.
"Mbak Mesha, aku pengen ngomong!"
__ADS_1
Bersambung ....