Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 60 : Pertemuan Lainnya


__ADS_3

"Ada apa, Mbahkung?" tanya Zayan saat melihat kakeknya memandang lurus ke depan dalam diam.


Pagi itu, matahari masih belum bersinar terang, kabut di kota kecil itu masih tebal. Kedua laki-laki berbeda generasi itu sudah duduk menunggu bus yang akan mengangkut mereka, di sebuah agen perjalanan.


"Ndak apa-apa, Le." Arsyanendra yakin benar bahwa tadi ia melihat sebuah sosok yang familiar. Laki-laki berkulit pucat dengan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah. Namun ia menyembunyikan apa yang baru dialami kepada cucunya.


Beberapa menit kemudian, bus antarkota yang mereka reservasi, sudah datang. Kebetulan, mereka berdua dapat kursi tepat di belakang supir. Zayan mengangkat koper kecil yang ia bawa dan menaruhnya di bagasi. Tepat di atas tempat duduk mereka.


Arsyanendra melihat ke arah gelang yang dipakai Zayan. Ia teringat sesuatu.


"Apa kamu sudah menemukan gadis pemilik gelang yang sama denganmu, Le?" tanya Arsyanendra tepat saat Zayan duduk di sebelahnya.


"Belum, Mbahkung."


"Ya sudah, kalau sudah jodoh, pasti ndak akan ke mana-mana."


"Tapi Mbahkung ...." Zayan urung mengatakan apa yang ia pikirkan selama ini, menghentikan kalimatnya.


"Tapi kenapa?"


"Gak, Mbahkung. Gak jadi. Oh, iya. Mbahkung istirahat aja. Nanti kalau sudah sampai, Zay beri tahu."


Zayan memandang ke arah luar jendela bus. Tepat saat melewati warung milik Zulkifli. Gadis yang membuatnya gundah, terlihat sedang berdiri di depan bangunan tersebut. Baru saja melepas helm. Membetulkan kuncirannya.


Zayan memejamkan mata, beristighfar. Takut matanya melihat yang tidak-tidak. Menyukai seseorang itu tidak berdosa, tetapi membiarkan mata dan pikirannya melayang ke mana-mana, itu salah.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan. Bus yang ditumpangi Zayan dan Kakeknya, berhenti di sebuah terminal. Kota besar di mana orang tuanya tinggal. Saat keluar dari terminal, laki-laki itu melihat sebuah mobil yang ia kenali. Menggandeng Arsyanendra. Mendekati laki-laki dengan kaos polo berwarna abu-abu yang melambaikan tangan.


Setelah saling bersalaman, ketiga laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, kendaraan hasil kerja sama Indonesia dan Jepang di masa lalu itu, sudah meluncur perlahan di jalanan.


Sepanjang perjalanan, Zayan hanya terdiam. Kakek dan Ayahnya yang sering mengobrol.


Zayan segera turun dari mobil untuk menuntun kakeknya. Menurunkan barang, lalu masuk paling terakhir. Aroma khas makanan kesukaanya, Nasi goreng, menyeruak, menggelitik lubang hidung.


Benar saja, begitu melewati ruang makan, Zayan melihat banyak makanan tersaji. Ia menghampiri sang ibu, menyalami dan mengecup punggung tangan perempuan itu.


"Ganti baju dulu, Le."


"Ini banyak banget makanan, Bu. Ada apa?"


"Ada kamu pulang, to? Sudah sana, bebersih dulu!"


Setelah mengganti pakaian, Zayan mengajak Mbahkung-nya ke ruang makan. Hening, saat keluarga itu menyantap hidangan.

__ADS_1


Saat malam tiba, ibunya meminta Zayan untuk keluar menemui tamu mereka. Laki-laki muda itu terkejut saat melihat siapa tamunya. Sepasang suami-istri paruh baya dan anak gadis mereka yang dikenalnya.


"Lho, dia ini anakmu, to?" Wiryawan terkejut saat melihat Zayan.


"Sudah kenal ternyata?"


"Tole kan kakak tingkatnya Grisa di kampus, Kang. Ya, to, Nduk?"


Grisa dan Zayan memutuskan untuk mengobrol terpisah dari para orang tua.


"Kok, bisa sampai sini?"


"Itu ... Bapak sama ibu habis menghadiri teman yang mantu, Mas. Aku cuma disuruh ikut. Gak tahu kalau mau mampir ke sini."


"Oh, gitu."


Ada kecanggungan menyusup di antara keduanya. Bagi Zayan, itu hal lumrah. Karena memang ia tidak begitu mengenal dekat gadis tersebut. Namun, bagi Grisa, berdekatan dengan laki-laki itu, membuat sebuah sensasi di rongga dadanya. Seperti ribuan laron yang berterbangan dan sayap-sayap kecil mereka menggelitik.


Di sudut lain rumah, Wiryawan tersenyum saat melihat gelagat sang putri.


"Jadi, apa kita akan menjodohkan putra-putri kita, Kang?" sela Wiryawan.


"Mereka sudah besar, biarkan mereka memilih dengan siapa mereka bersama. Jaman sudah berubah, jangan samakan jaman mereka dengan jaman kita dulu." Arsyanendra muncul, menyela pembicaraan kedua orang tadi.


Wiryawan sedikit merasa terganggu dengan kehadiran Arsyanendra. Namun laki-laki berusia senja itu tidak peduli, ia malah ikut duduk di sana.


"Oh, mertuanya."


Arsyanendra menatap tajam pada Wiryawan. Menangkap tatapan ketidaksukaan laki-laki tersebut. Kemudian tersenyum.


"Aku hanya khawatir. Ndak mau cucuku hidup dengan seorang istri karena paksaan. Apa-apa yang dipaksakan itu, pada kenyataannya, ndak baik. Betul, to?" Arsyanendra menekankan suaranya pada kalimat terakhir.


Mulai merasa tidak nyaman, Wiryawan mengirimkan isyarat pada istri dan anaknya, untuk pamit undur diri.


Setelah keluarga itu pergi, Arsyanendra tersenyum.


"Bapak kenapa, to? Apa ndak pengen kalau cucunya cepet-cepet nikah?"


"Yo, pengin, to, Nduk. Tetapi bukan gitu caranya." Arsyanendra memang tidak setuju dengan putrinya, ibunya Zayan.


"Aku kan cuma ngenalke anak-anak, Pak."


"Aku juga ndak pernah maksa kamu nikah sama siapa dulu, Nduk. Kenapa kamu seperti itu sama Zay?"

__ADS_1


Zayan merasa tidak enak saat mendengar kakek dan ibunya berdebat karena dirinya. Ia berjalan mendekati kedua orang tersebut.


"Mbahkung, Ayo, istirahat dulu!"


Zayan menuntun Arsyanendra masuk ke kamar. Membantu laki-laki itu berbaring.


"Bu, Zay sudah kenal sama Grisa. Anaknya baik, Bu. Tetapi Zay sudah bilang berkali-kali, bahwa Zay akan memilih calon istri sendiri."


"Ibu ingat itu, Le. Ibu cuma mau kamu dapat wanita yang baik. Gak terus-menerus menunggu wanita yang entah di mana sekarang. Gak jelas asal-usulnya. Gak jelas turunannya. Ya sudah, ibu juga mau istirahat. Lelah."


Zayan tidak berani membantah ibunya, tetapi ia juga tidak ingin dipaksa untuk suatu hal yang akan dijalani seumur hidup.


"Maafkan Zay, Bu," gumam Zayan.


Keesokan harinya, Zay terkejut saat seorang kurir dari sebuah dealer, mendekatinya.


"Benar ini rumahnya Zayan Farras?"


"Ya betul, saya sendiri."


"Saya mengantarkan pesanan motornya."


"Saya gak pesan motor, Mas."


"Ibu yang pesen buat kamu, Le. Turunkan langsung saja, Mas!"


Sebuah motor jenis naked-bike terbaru, berwarna hitam dengan kelir merah, diturunkan dari mobil pick-up.


Zayan menatap kendaraan itu dengan takjub.


"Hitung-hitung, itu hadiah dari bapak dan ibu buat kamu, Le. Hadiah kelulusan."


"Tapi, Bu ... Zay bisa beli sendiri nantinya."


"Ibu tahu. Apa salah ibu membelikan ini untukmu?"


Zayan menarik lembut tangan ibunya, mencium punggung tangan perempuan itu dan mengecupnya.


"Terima kasih, Bu."


Zayan masih tidak menyangka, ibu dan bapaknya membelikan barang tersebut untuknya. Keluarga mereka memang keluarga yang berkecukupan. Namun, saat ini, ia belum terlalu membutuhkan kendaraan tersebut. Menolak rejeki, juga bukan hal yang baik. Oleh sebab itu, ia menerimanya. Membuat lega kedua orang tua.


"Pulang naik ini saja, Le?" Arsyanendra menepuk lembut punggung Zayan.

__ADS_1


"Belum punya SIM, Mbahkung." Zayan tersenyum kecut.


Bersambung ....


__ADS_2