Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 13 : Goyah?


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana akan ada seorang laki-laki menjabat tangan bapakku, menjawab dengan tegas di hadapan banyak orang, bahwa ia menerimaku sebagai bagian dari hidupnya. Normalnya, perempuan mana yang tidak bahagia bisa mengalami hal ini? Tapi aku? Aku malah menganggap hari ini seperti hari terakhirku di dunia, bahkan aku tidak merasakan sedikitpun rasa bahagia.


"Nduk, udah mandi?" Suara ibu mengagetkanku.


Aku melihat ibu sudah segar, bahkan tercium aroma khas sabun mandi dari tubuh ibu, ketika beliau berjalan mendekat. Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Ndang mandi to ... tadi aja ibu mampir ke tempat le Giyan, dia udah seger, siap dirias, lha kamu kok masih mbladus gitu, ckckck!"


Aku malah reflek tertawa mendengar sarkasme ibu.


"Heleh, malah ketawa. Sudah, mandi, buruan!" perintah ibu sembari menyeretku lembut.


"Nggih ... Ibu," jawabku cepat-cepat, sembari menyambar jubah mandiku, dan keluar kamar.


Setelah selesai mandi, dan memakai jubah mandi, aku segera menuju kamar, dan melewati beberapa orang yang sibuk mempersiapkan berbagai keperluan. Aku menjawab setiap sapaan mereka dan ya, berpura-pura bahagia!


Di dalam kamar, juru rias sudah menungguku, sembari mempersiapkan segala peralatan "tempur"nya di meja rias.


Aku duduk di depan meja rias membiarkan juru rias dan asistennya bekerja. Sesekali terselip obrolan dan gurauan dari mulutnya.


Beberapa jam kemudian, juru rias menyelesaikan pekerjaan akhirnya memoles wajah dan menata rambutku.


"Nah, untuk ijab, Mbake pake kebaya putih sama kerudung ini dulu ya. Yuk, ganti baju dulu," ucapnya setelah selesai meriasku. Aku terpana melihat kebaya berwarna putih itu, cantik!


Ia dan asistennya membantuku memakaikan kebaya dan segala perlengkapannya.


Saat juru rias memasangkan aksesoris di tanganku, ia meraba gelang manikku, kemudian berkata, "Mbak, ini gelangnya dicopot dulu, ndak apa-apa to?"


Ingin rasanya menolak, tetapi tiba-tiba ibu yang sudah komplit berpakaian kebaya dan riasannya masuk ke dalam kamarku.


"Iya, mbakyu, copot aja, ndak apa-apa." Ibu tersenyum menatapku.


Aku hanya pasrah, melepas gelang manik-manik itu dan meletakkannya di meja rias. Meskipun berat rasanya. Kuusap gelang itu sebentar, dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Ya udah, diteruske, ibu mau ke depan dulu, nemuin tamu. Ah iya, Zafia tadi juga dirias, Cha, jadi pagar ayu. Ndak apa-apa to?"


Lagi-lagi aku hanya mengangguk pasrah.


Aku menatap gelang manik-manik yang teronggok di meja. Entah kenapa, hatiku terasa sakit. Begitu pula pundak belakangku bagian kiri, terasa panas di sana.


"Duh!" rintihku, sembari berusaha menjangkau bagian yang terasa panas.


"Kenapa Mbak?" tanya juru rias yang masih sibuk membereskan kain jarik yang kupakai.


"Gak apa-apa, Bu ... cuma gatel, hehe," jawabku sekenanya.


Rasa panas itu mulai berkurang, tapi aku masih menekan-nekan bagian yang terasa panas tadi.

__ADS_1


"Beneran gak apa-apa, Mbak? Apa pegal? Mau dipijat dulu"


Aku ingin menggelengkan kepala sebagai jawaban, tetapi kemudian aku teringat bahwa di atas kepalaku terdapat berbagai macam benda, yang membuatku enggan bergerak meski untuk sebuah gerakan kecil.


"Aku gak apa-apa, Bu," kilahku singkat.


Benar kata Zafia, kenapa menikah harus seribet ini, aku tersenyum.


"Sudah selesai, Mbak. Tinggal nunggu dipanggil pas prosesi ijab-kabul. Saya permisi dulu ya, Mbak. Mau cek riasan lainnya." Juru rias berpamitan padaku, dan segera keluar dari kamar diikuti asistennya.


Aku menatap wajahku sendiri dari pantulan cermin, dengan riasan tebal di wajahku dan centang perenang di atas kepalaku. Aku belajar tersenyum, ya, tentu saja, meskipun itu sebuah senyum palsu!



"Ya ampun! Kamu cantik banget, Sha! Manglingi!"


Suara Zafia membuyarkan konsentrasiku. Ia berjalan mendekat dengan perlahan, kebaya berwarna hijau botol melekat di tubuhnya, dan terlihat begitu cantik.


"Terus ... kamu ngapain, Sha? Dari tadi senyam senyum di depan kaca? Udah mulai suka ya sama pernikahan ini? Atau ...." ujar Zafia lagi menyambung celotehannya tadi.


"Apaan sih? Gak usah ngomong aneh-aneh deh! Ah iya, ngomong-ngomong, kamu juga cantik dirias seperti itu, Fi," selaku.


"Kalo gitu, ayo kita foto-foto ya, Sha? Buat kenang-kenangan."


"Boleh, boleh. Sini!" jawabku.


Zafia mengambil ponselnya, kemudian mendekat untuk mengambil foto kami berdua dengan berbagai ekspresi muka dan gaya. Tentunya aku tidak bisa bergerak leluasa karena beberapa kilogram beban yang kusunggi di atas kepalaku.


Tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah pesan masuk. Aku mengintipnya, tertera nama mas Giyan di sana.


Dek, udah siap nih ... mas deg degan banget, moga-moga lancar ya, semuanya.


Aku membaca pesan dari mas Giyan. Sungguh, aku tidak merasakan apapun, bahkan debaran yang tak biasa, tidak ada sama sekali!


Beberapa menit kemudian, masuk sebuah pesan, lagi, kali ini disertai dengan sebuah gambar.



"Lagi latihan, Dek. Biar gak grogi ... hehehe. Tapi ini kamera mas kok fitnah banget ya? Kenapa jadi kayak orang mana gitu ...."


Aku tertawa, menertawai mas Giyan yang mengomentari fotonya sendiri.


"Tadi senyum-senyum, sekarang ketawa-ketawa sendiri. Kamu gak apa-apa kan, Sha?"


Aku segera menutup pesan dari mas Giyan, saat Zafia datang mendekatiku, mencoba mengintip layar ponselku.


"Dih, jahat. Kamu pikir aku sudah gak waras gitu, Fi?" sahutku pura-pura merajuk.

__ADS_1


Zafia tersenyum, kemudian berkata, "Nah gitu dong, kalo nikahan tuh ya kudu berbahagia, tersenyum, tertawa ...."


Aku ingin menangis, sungguh, mendengar perkataan Zafia, tapi aku tidak mau merusak riasanku.


"Eh, kamu lapar gak, Sha? Kalo mau sarapan, aku ambilkan ya?" sela Zafia membalikkan suasana.


"Lapar sih, tapi kalo makan, gimana lipstikku?" tanyaku.


"Ya nanti minta dibenerin sama periasnya lah, daripada nanti pas prosesi kamu pingsan, Sha!"


"Oh ... ya, aku mau sarapan, dikit aja."


Zafia meninggalkanku di kamar sendirian, tiba-tiba aku merasakan, bulu kudukku meremang. Perlahan aku membalikkan badan, memandang sekeliling, tapi tidak menemukan apapun.


Zafia kembali ke kamar, ia membawa senampan makanan untuk sarapan kami berdua.


"Tadi aku lihat calon suamimu, Sha. Ganteng, kayak artis! Kamu beruntung lho, Sha, dapetin dia," tutur Zafia seraya mengulurkan sepiring nasi dan lauk padaku.


"Kalo gitu, kamu gantiin aku nikahin dia, gimana Fi?" sautku sembarangan.


Kulihat Zafia melotot, mulutnya mengeriting, dan mulai menggerutu, "Kamu gila, Sha!"


Aku tertawa, kemudian dengan susah payah memasukkan sesendok nasi ke mulutku.


"Ah iya, tadi dia juga tanya-tanya tentang kamu, Sha." Zafia bertutur kembali, setelah mengunyah makanan di mulutnya.


"Tanya apa?" tanyaku lagi.


"Apa kamu cantik, apa kamu terlihat bahagia, dan sebagainya ...." jawabnya.


"Terus? Kamu jawab apa, Fi?"


"Ya ... kamu cantik, dan kamu bahagia, apalagi?"


Aku menghela napas, kemudian menyuapkan beberapa sendok makanan lagi ke dalam mulutku. Tiba-tiba ibu masuk ke dalam kamar, di belakangnya berdiri beberapa wanita berkebaya.


"Nduk, ini teman-teman ibu, pengen liat kamu ...." tutur ibu dengan senyum yang terlihat seperti basa basi.


"Waaa, cantik ya jeng ...." celetuk salah satu di antara mereka.


"Ibunya cantik, jelas putrinya juga cantik," saut yang lainnya.


"Ah, kalian bisa aja!" saut ibu dengan senyuman.


Aku meletakkan piring di atas meja, dan menyalami mereka satu per satu, begitu juga Zafia.


"Nduk, cepet habisin makannya, nanti ibu panggil juru rias buat benerin riasanmu ya?" pungkas ibu sembari berjalan keluar kamar bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Ya, Bu."


Bersambung ....


__ADS_2