Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 31 : Awal Nestapa.


__ADS_3

Mesha menelepon Bagas untuk memberitahu bahwa ia pulang terlambat. Ia meminta kepada sang bapak agar tidak menjemputnya. Kemudian, ia mulai mencari di meja kerja Pak Bejo. Sementara Sakha, ia mencari di ruang arsip.


Mereka berdua tidak sadar hingga ada seseorang yang diam-diam mengawasi.


Dengan diam-diam, seseorang menghampiri Sakha. Kemudian memukul tengkuk laki-laki itu hingga jatuh pingsan. Setelah itu, ia menyeret tubuh atletis yang sudah terkapar itu ke pojok ruangan.


Sesudah melakukan tugasnya di ruang arsip, laki-laki tadi mengendap-endap menghampiri Mesha yang masih sibuk mencari sebuah barang. Dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius, laki-laki itu membekap mulut dan hidung gadis tersebut hingga tak sadarkan diri.


Laki-laki itu membawa tubuh Mesha ke ruang arsip dan meletakkannya di sebelah Sakha. Dengan senyum bengis, ia mulai melucuti pakaian Sakha hingga semua kancing baju dan celananya terbuka. Hal yang sama dilakukan kepada Mesha. Ia membuka kancing kemeja Mesha hingga pakaian dalamnya sedikit terlihat lalu menyingkap sedikit roknya. Kemudian, laki-laki itu membuat posisi keduanya seperti sedang berdekapan.


"Sempurna! Sekarang aku tinggal membuat keramaian dengan bantuan orang lain!" ucap laki-laki itu.


***


Di rumah, Mayang berjalan mondar-mandir dengan gelisah.


"Pak, sudah jam segini. Echa belum pulang, apa benar dia lembur Pak?" Mayang mengerling ke jam yang tergantung di dinding. Jam itu menunjukkan pukul tujuh kurang beberapa menit.


"Iya, Bu. Tadi anak itu telepon ke bapak, kok."


Mayang mendaratkan pant*tnya ke tempat di sebelah Bagas.


"Perasaan ibu ndak enak, Pak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"


"Cuma perasaan ibu, mungkin. Nanti kalau bapak sudah selesaikan pekerjaan ini, bapak ke kantor Echa untuk mengeceknya. Ibu ndak perlu khawatir."


"Ya sudah."


***


"Kamu ngapain ke sini, Risa?"


"Lho? Mas Radit juga?"


"Iya, katanya ada yang perlu dikerjakan mendadak. Tadi aku dapat sms dari orang kecamatan."


"Lhah sama!"


Radit memicingkan mata saat melihat sesosok laki-laki berdiri di depan kantor yang masih terbuka pintunya.


"Pak Bejo? Di sini juga?" tanya Radit.

__ADS_1


"Iya, tadi saya dapat sms dari ...."


"Kalau begitu, apa yang harus dikerjakan, Pak?"


Radit dan Risa berjalan menghampiri Pak Bejo.


"Kayaknya kita harus merekap beberapa dokumen kependudukan yang tempo hari itu." Bejo masih sibuk mengetik di layar ponsel. "Kalian coba ambil beberapa dokumen di ruang arsip dulu."


"Ya, Pak."


Kemudian dua orang itu bergegas menuju ruang arsip. Namun Risa begitu terkejut saat melihat kedua sosok menggeliat di pojokan. Kedua sosok itu berdekapan dengan pakaian yang sudah tidak karuan.


"Kalian? Sedang apa?" teriak Marisa dengan kedua bola mata yang terbelalak.


Teriakan Marisa, membuat Bejo bergegas menuju ruang arsip. Sementara Radit, berdiri tertegun di belakang Marisa.


Sakha yang baru saja sadar saat mendengar teriakan Marisa terkejut saat tubuhnya menindih sesuatu yang empuk. Laki-laki itu tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Gadis yang ia sukai berada di bawahnya dengan mata terpejam. Kemudian ia cepat-cepat menggeser tubuhnya. Ia juga tak kalah kaget saat melihat ketiga orang memandangnya dengan mata yang dipenuhi emosi.


"Tidak! Tidak! Apa yang kalian lihat, bukan yang sebenarnya!" seru Sakha penuh frustasi.


Beberapa saat kemudian, Mesha membuka mata. Gadis itu merasa bingung, lalu melihat pakaiannya sudah tidak karuan, ia berteriak.


"Aku nggak nyangka, kalian seperti ini," ungkap Radit kecewa.


Tiba-tiba Marisa histeris, ia mulai memaki Mesha. Kemudian Radit menahan gadis itu saat mencoba menyakiti Mesha yang sedang merapikan baju di sela isak tangis.


Sakha merasakan nyeri yang sangat di dada saat melihat Mesha menunduk dan terisak. Sementara ia sama-sama tidak berdaya. Ia ingin memeluk gadis itu untuk menghiburnya, tetapi kali ini bukan waktu yang tepat.


"Saya sungguh tidak melakukan apa pun!" bantah Sakha kembali.


"Kalian tunggu saja di sini, aku sedang memanggil Pak Lurah dan pihak berwajib," papar Bejo.


Sadar bahwa tidak bisa berbuat apa-apa, Sakha hanya menunduk. Hatinya benar-benar sakit, kecewa pada diri sendiri.


Kedua pasangan itu digelandang ke ruang kerja Lurah. Di sana beberapa laki-laki berseragam pun sudah menunggu.


"Atas laporan dari yang lain, kalian berdua terancam pasal tentang tindak asusila di tempat umum. Aku tidak bisa melakukan apa-apa." Sutrisno menatap kedua pegawainya dengan perasaan kecewa.


"Demi Tuhan Pak, kami dijebak! Kami tidak melakukan apa pun!" bantah Sakha.


"Silakan hubungi keluarga kalian masing-masing," perintah aparat berseragam tadi.

__ADS_1


"Kemudian, ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan. Silakan tunjuk juga kuasa hukum. Jika tidak ada, pihak kami akan menyediakan."


Sakha menelepon seseorang lalu berbicara, "Om, tolong Sakha ...." Laki-laki itu menceritakan kejadian yang terjadi kepada seseorang di telepon. Kemudian ia berbicara, "Tunggu kuasa hukum saya."


Mayang histeris saat mendengar penjelasan dari seseorang di kantor kelurahan. Ia memeluk putrinya yang masih menangis. Tatapan nanar Bagas terlihat saat ia menangkap ekspresi wajah Sutrisno, temannya.


"Putriku ndak mungkin melakukan itu, Tris. Kamu juga sudah lama mengenalku, 'kan?" tutur Bagas.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Gas. Pegawaiku melihat mereka—"


Mayang meraung-raung saat melihat Mesha dibawa ke kantor polisi bersama Sakha.


"Ndak! Ndak mungkin putriku seburuk itu! Fitnah! Pasti fitnah!"


Bagas memeluk istrinya yang terus menceracau


"Sudah, Bu. Sudah! Bapak yakin, kalau Echa benar-benar tidak bersalah."


"Maafkan Echa yang selalu merepotkan Ibu dan Bapak. Tapi demi Tuhan, Echa benar-benar nggak melakukan hal yang nggak pantas." Kalimat terakhir Mesha kepada orang tuanya makin membuat Sakha merasakan sakit di rongga dadanya.


"Maafkan saya, Dek. Saya akan berusaha untuk membuktikan bahwa kita tidak bersalah. Saya akan bertanggungjawab atas segalanya mulai saat ini," ucap Sakha tulus saat berada di dalam mobil polisi kepada Mesha.


Mesha mengangguk pasrah. Gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Peristiwa ini benar-benar sudah memukul mentalnya sekali lagi.


***


"Ini ulah Bapak, 'kan? Tadinya saya hanya ingin mengusir perempuan itu. Tapi kenapa Bapak melibatkan, Mas Sakha?"


"Nanti juga apa yang kamu inginkan terwujud. Kamu tidak tahu siapa pengacara yang bersama anak itu?"


Marisa menggelengkan kepala.


"Dia adalah pengacara kondang dari kota sebelah. Sudah jelas ia akan selamat. Tapi tidak dengan gadis itu."


"Apa Bapak yakin?"


Laki-laki di hadapan Marisa tertawa keras.


"Sudah, kamu tenang saja. Oh, iya, bilang ke Bejo untuk temui aku besok pagi. Oke?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2