
Zayan duduk di atas motornya, tak jauh dari sebuah rumah yang terlihat asri dan sederhana. Seorang gadis, sibuk mengecek motor matik yang baru saja ia keluarkan dari dalam rumah. Seorang perempuan lainnya, tergopoh-gopoh keluar rumah.
"Echa! Echa! Jangan lupa nanti mampir toko bahan kue ya, Nduk. Ibu pengen bikin beberapa kue."
"Ya, Bu. Echa berangkat dulu!"
Zayan masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya tadi, gadis pelayan, anak angkat Zulkifli bukan bernama Indy. Echa. Seperti gadis kecil yang ia cari selama ini. Laki-laki itu berniat untuk mendekat dan memastikan semuanya. Namun, ponsel di sakunya bergetar. Setelah mengakhiri panggilan, ia buru-buru naik ke motornya. Memacu kuda besi itu kencang. Melupakan hal yang akan dilakukannya tadi.
Sesampainya di rumah, Zayan merasa lega. Mbahkungnya baik-baik saja meski jatuh terpeleset di depan rumah. Laki-laki itu mengutuk pada diri sendiri karena paving yang berlumut di halaman rumah sang kakek. Kesibukan pekerjaan membuatnya lalai untuk membersihkan lumut-lumut liar yang mulai tumbuh.
"Maafkan, Zayan, Mbahkung. Karena Zay lupa bersih-bersih akhir-akhir ini."
Arsyanendra tersenyum, terbaring di ranjang. Seorang dokter baru saja memeriksanya. Tenaga medis itu sangat mengenal keluarga Zayan. Rumahnya tak jauh dari rumah sederhana tersebut.
"Untuk sementara, saya resepkan beberapa obat ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ndak ada cidera serius. Hanya perlu banyak istirahat di ranjang." Laki-laki berkacamata dengan tas kotak di tangannya, mengulurkan beberapa bungkus pil dan kaplet. Kemudian pamit pergi.
"Terima kasih, Pak Dokter," ucap Zayan dan Arsyanendra berbarengan.
Arsyanendra menyuruh Zayan untuk kembali bekerja di kantor. Setelah meminum obat.
"Mbahkung yakin gak apa-apa?"
"Ya, nanti kalau sudah tidur juga paling udah mendingan."
Sesampainya di kantor, Zayan mulai sibuk dengan pekerjaannya. Hingga ia melirik pada baju toga dan undangan wisuda yang bertengger di sebelah layar komputernya.
Beberapa hari lagi, ceremony kelulusannya di kampus akan diadakan. Awalnya ia enggan untuk ikut mendaftar, tetapi kedua orang tuanya begitu antusias. Ia tidak mau mengecewakan dua orang yang selama ini membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ia juga ingin memamerkan keberhasilannya pada sang kakek, Mbahkungnya.
Tempo hari, teman dekatnya, sempat meledeknya.
__ADS_1
"Aku ada pendamping tambahan, Yuyum. Sampean siapa, Mas Bro?"
"Lihat saja nanti. Jangan kaget, ya!"
"Alah, paling-paling si Adik tingkat kita."
Zayan tersenyum, menggelengkan kepala.
Saat jam makan siang, Zayan pergi keluar kantor. Ia datang ke warung makan milik Zulkifli. Sebuah pertanyaan yang mengganggu hati dan kepalanya tidak tertahankan lagi. Laki-laki itu berdiri di pintu, lalu dengan nekat, memanggil nama yang selama ini ingin ia ucapkan, "Echa!"
Mesha terkejut, secara spontan, ia menolehkan kepala ke arah suara yang memanggilnya. Kedua mata indahnya membuka lebar. Rongga dadanya bergemuruh hebat. Melihat laki-laki yang selama ini mengganggu tidur dan hari-harinya dengan bayangan senyumannya. Berdiri di pintu masuk warung, memanggil nama kecilnya.
Tanpa berkata apa pun, Zayan berjalan mendekati perempuan yang memakai celemek tersebut dengan nampan besar, kosong, di tangannya. Ia menyeret lembut perempuan tadi diawali dengan ucapan, "Maafkan aku sebelumnya."
Kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, Mesha menurut. Mengikuti laki-laki berkemeja maroon itu duduk di sebuah kursi.
"Kenapa kamu diam saja saat melihatku? Kenapa kamu gak ngomong bahwa kamu adalah gadis yang aku cari selama ini? Indy? Mesha? Atau Echa! Kenapa kamu malah membuatku goyah dan linglung? Apa kamu puas melihatku seperti ini?"
"Kenapa kamu pura-pura bertanya tentang gelang ini? Apa maksud ini semua? Dan mana gelangmu? Tolong jelaskan padaku, Echa!"
Sri melihat kedua orang yang ia kenal dekat dari kejauhan. Ia hampir saja berlari mendekat, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Mesha.
"Bukan begitu, Mas. Aku ... aku minta maaf. Bukan maksudku untuk menyembunyikan semua, atau melupakan tentang hal itu. Hanya saja, aku berpikir, aku gak layak untuk menemuimu. Aku sudah menjanda dua kali! Apa aku pantas mengharapkan perasaan dari seseorang sepertimu?"
Mesha kembali menunduk, terisak.
"Kamu meremehkan perasaanku ...?"
Sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, Zayan menghentikan kalimatnya. Menggandeng tangan Mesha, berjalan menuju pintu warung.
__ADS_1
"Bu Sri, maaf. Saya pinjem sebentar putrinya!" pinta Zayan saat melihat Sri yang berdiri tertegun di depan meja kasir.
"Pergilah, Le. Tuntaskan urusanmu." Senyum mengembang di bibir Sri.
Zayan tetap menyeret lembut Mesha sampai ke sebuah taman kecil dekat kantornya. Karena perasaan yang membuncah, ia lupa akan segala ajaran untuk menjaga diri. Bersentuhan dengan lawan jenis. Saat ini, ia tidak peduli. Dosa yang manis, setidaknya, bagi laki-laki itu.
"Kenapa kamu berpikir sekonyol itu, Echa? Aku sungguh marah saat tahu semua kebenaran ini. Aku yakin kamu sudah lebih dulu mengenaliku. Kamu curang!"
Zayan mengulurkan sebotol minuman ringan yang dibelinya tadi saat melewati sebuah lapak kecil di pinggir jalan, untuk Mesha.
"Aku, aku memang tahu dari awal bahwa kamu adalah laki-laki di masa kecilku. Tetapi ... aku pikir, aku sungguh tidak pantas untukmu. Aku sudah ...."
"Menjanda dua kali? Dan semua suamimu meninggal di malam pertama? Aku sudah tahu!"
"Lalu? Apa kamu gak takut untuk mendekatiku? Aku dikutuk! Aku gak bisa menikah dengan laki-laki mana pun. Daripada aku hanya bermimpi lalu terjatuh lagi, aku gak mau! Atau bahkan aku bisa saja membunuh laki-laki yang menjadi suamiku! Gak! Aku gak mau!"
"Kamu ngomong apa, sih, Cha! Aku akan menghadapi apa pun untukmu. Jika aku harus pertaruhkan nyawaku, aku gak takut."
"Aku yang takut, Mas! Aku gak mau kehilangan lagi! Kamu berhak hidup dan bahagia dengan perempuan lain. Bukan mati karena kutukan yang aku bawa seumur hidup ini! Sudah, Mas. Aku pergi! Aku benci dengan perdebatan. Jangan temui aku lagi!"
Meski enggan, Mesha buru-buru berdiri lalu melangkah pergi. Ia tidak ingin jika kalimat-kalimatnya menyakiti hatinya sendiri ataupun hati laki-laki yang ia cintai itu. Ia menerima, bahwa dirinya patut dipanggil si bodoh, bertingkah seperti saat ini. Namun, ia tidak siap jika harus kehilangan lagi.
Air mata terus meleleh di kedua pipi Mesha, sekeras apa pun ia berusaha menghapusnya.
Sementara itu, Zayan berdiri mematung di tempatnya tadi. Memandangi punggung dan gerai rambut Mesha yang tertiup angin, berjalan menjauh. Hatinya sakit, tetapi sekaligus bahagia. Ia akhirnya menemukan perempuan yang ditunggunya selama ini. Terlebih lagi, ia tidak harus mengkhianati siapa pun, karena Indy dan Echa yang dicarinya, ternyata satu orang.
"Aku gak peduli, sekeras apa pun kau menolak atau bahkan menjauhiku, Echa! Aku akan bekerja keras untuk meluluhkan hatimu! Bahkan jika aku harus mematahkan kutukan itu dengan nyawaku!" Zayan bersumpah sejak saat itu.
Sosok laki-laki pucat dengan pakaian serba hitam, terlihat marah dengan apa yang baru saja ia lihat. Namun, ia tidak bisa mendekati laki-laki yang tadi berada di samping calon pengantinnya. Menggeram, lalu ia pergi menghilang.
__ADS_1
Bersambung ....