
"Mbak Mesha, kamu ...."
Mesha menubruk gadis yang berdiri di hadapannya. Memeluknya lama dan terisak. Ia meminta maaf berkali-kali. Bahkan, ia ingin berlutut, tetapi dilarang oleh kedua orang di hadapannya.
"Sudah, Mbak. Sudah ... Yuyum sudah gak apa-apa, kok. Mbak Mesha gimana?"
"Aku ... aku ...."
"Kalau sehat, Yuyum seneng, kok dengernya. Mbak kenapa di sini? Gak pulang ke rumah? Kasian bapak dan ibu Mbak Sha."
"Aku gak berani pulang, Dek. Aku takut, aku malu. Aku ...."
"Apa Mbak Sha gak khawatir sama bapak dan ibu?"
Mesha menunduk, lalu melihat nisan yang bertuliskan nama seseorang yang ia kenal.
"Mas Sakha ...." Ia bersimpuh di depan gundukan tanah tersebut, lalu menangis sepuasnya.
Sri berjalan mendekati Mesha. Ia menatap ke arah kedua orang yang berdiri tak jauh dari Mesha. Kedua orang itu mengangguk sopan.
"Nduk, ada apa?" tanyanya.
Mesha masih menangis di tepi makam Sakha. Ia terus menyalahkan diri. Yumna memandanginya dengan tatapan iba. Sementara Sri, ia mengusap lembut punggung perempuan itu.
"Sudah, Nduk. Sudah ...."
Karman berbisik kepada Yumna.
"Itu siapa, Yum?"
"Itu mantan mbak iparku, Mas."
"Oh ...."
Sri mengulurkan nampan berisi beberapa gelas teh hangat kepada Mesha. Yang kemudian ia berikan pada Karman dan Yumna. Setelah mencuci tangan sehabis dari makan, Sri mengajak mereka ke warung.
"Kamu temani mereka saja, Nduk. Biar aku yang ambil dan tata makanan-makanan buat jualan." Sri keluar warung seusai membuatkan minuman tadi. Mesha mengangguk.
"Mbak Sha sama sekali belum pulang ke rumah?" tanya Yumna masih belum percaya.
"Belum. Aku masih takut ... masih belum sanggup."
"Jangan egois, Mbak. Mereka pasti merindukan Mbak Sha. Bahkan aku dengar ibu Mbak Sha sakit."
Mesha tersentak kaget.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya, bapak Mbak Sha yang cerita waktu melayat."
Mesha tertunduk, memainkan jari-jemarinya.
"Aku tidak ingin mencelakakan siapa pun, atau menyakiti siapa pun. Tetapi kenapa nasib buruk malah terus menimpaku. Maafkan aku, Yum. Aku telah membuat Mas Kha seperti itu ...."
Yumna bingung saat perempuan di hadapannya kembali terisak. Rasa kesal dan tidak suka yang pernah muncul dulu, hilang begitu saat mengetahui keadaan mantan kakak iparnya tersebut. Gadis itu menggenggam tangan perempuan yang tertunduk di hadapannya.
"Kematian Mas Kha itu sudah suratan takdir, Mbak. Bukan salahmu. Sudah, jangan terus-terusan menyalahkan diri. Mbak Sha harus pulang, temui bapak dan ibu Mbak Sha. Juga, ibu ingin bertemu Mbak Sha."
Mesha mengangguk, masih terisak.
Karman terus memandangi Yumna saat mereka berdua keluar dari warung. Mereka berpamitan setelah beberapa pelanggan mulai datang ke warung tersebut. Laki-laki itu merasa takjub pada gadis manis berkaca mata di sampingnya. Selama ini, ia mengira bahwa gadis itu benar-benar menyebalkan dengan segala kehebohannya saat bertemu dengannya.
"Ternyata kalau dilihat-lihat, cewek ini manis juga," gumam Karman.
"Apa? Ngomong apa tadi?" tanya Yumna.
"Gak, gak penting omonganku tadi. Kita jadi kan?"
"Jadi apanya?"
"Ke kantor tempat Zayan kerja magang. Ke mana lagi?"
"Oh, iyalah!"
"Ternyata kalian. Kirain siapa." Suara khas Zayan membuat kedua orang tadi menoleh secara bersamaan ke arah yang sama.
"Iya, tadi kita ziarah ke makam kakaknya nih bocah dulu." Karman melirik ke gadis di sampingnya.
"Wah, sekarang kalian berdua semakin dekat. Selamat ya!"
"Opo to, Mas Bro? Oh iya, sampean hari ini ke kampus kah?"
"Ya, menyerahkan laporan selama kerja di sini. Aku juga lagi nunggu surat keterangan dari manajer."
"Ya, sekalian bareng ama kita aja, Mas Bro."
"Takutnya terlalu lama kalau menunggu surat itu."
"Oh, gak masalah. Ya, kan, Yum?"
Yumna mengangguk.
Zayan mendekatkan bibirnya ke telinga Karman.
"Itu cewek kenapa? Kok gak seperti biasanya?" tanya Zayan penuh keheranan.
__ADS_1
Karman menjawab pertanyaan tersebut dengan mengangkat kedua bahunya sekejap.
Setelah menunggu sedikit lebih lama, Zayan mendapatkan berkas-berkas yang ia butuhkan dari sang manajer. Tepat saat jam makan siang usai, laki-laki itu sudah meninggalkan kantor itu bersama kedua temannya. Sejenak, ia memandangi bangunan perkantoran itu saat ia sudah berdiri di luar. Kemudian menghela napas.
Zayan dan kedua temannya, berpapasan dengan Grisa saat berjalan menuju halte bus. Gadis itu menenteng sebuah bungkusan.
"Kalian mau ke mana?" tanya Grisa.
"Ke kampus. Kamu mau ke mana?" sahut Yuyun.
"Aku ... ini ..." Grisa memandangi Zayan. "Ah, ya sudah! Kalau begitu, aku ikut ke kampus juga," lanjutnya.
Keempat orang tadi mengobrol santai saat duduk di dalam bus kota. Sesampainya di kampus, Karman dan Yumna berpamitan memisahkan diri. Kemudian, Zayan dan Grisa berjalan menuju taman kampus.
"Mas Zay udah makan?"
"Makan tadi pagi. Oh iya, aku baru tahu kamu seakrab itu dengan Yumna."
"Oh, itu ... ceritanya panjang, Mas. Temani aku makan siang ya, Mas?" Grisa menunjukkan bungkusan di tangannya.
Zayan mengangguk.
Setelah mereka berdua menghabiskan makan siang. Zayan berpamitan untuk pergi ke gedung rektorat. Menyerahkan laporan dan semua berkas untuk keperluan tugasnya. Grisa melambaikan tangan pada laki-laki yang lambat laun membuat degup jantungnya berdetak lebih cepat.
Beberapa hari berikutnya, Zayan fokus dengan persiapan kelulusannya. Setelah menyelesaikan ujian skripsinya dengan gemilang. Begitupun Karman. Hanya Yumna yang setia menemaninya ke sana ke mari. Gadis itu juga mengambil percepatan beberapa mata kuliah setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya.
Di sisi lain, Mesha masih belum ingin pulang. Ia masih enggan. Setelah renovasi warung, pelanggan di warung semakin banyak. Tentu saja, pekerjaan menjadi lebih banyak. Ia tidak tega meninggalkan Sri begitu saja. Meski perempuan itu beberapa kali menyuruhnya pulang untuk menjenguk keluarga kandungnya.
Sebuah berita mengejutkan didapatkan Zayan. Dosen pembimbingnya menyuruhnya untuk cepat-cepat datang ke kampus. Padahal waktu wisuda masih jauh.
"Bentala Swarga Group, ingin merekrutmu menjadi pegawai mereka," kata dosen tersebut saat Zayan datang.
"Benarkah, Pak?"
"Ya, mulai hari Senin besok. Ini, bawa semua persyaratan ini ke mereka." Laki-laki berwajah teduh itu mengulurkan sebuah map pada Zayan.
"Terima kasih, Pak." Zayan mengangguk hormat saat menyalami laki-laki tadi.
"Itu pantas untuk mahasiswa cemerlang sepertimu. Selamat. Dan tunjukkan bahwa almamater kita yang terbaik."
"Ya, Pak. Pasti!"
Zayan bersujud syukur saat sampai di Masjid kampus. Kemudian, ia bergegas mengambil ponsel untuk menelepon kedua orang tuanya untuk mengabarkan berita bahagia tersebut. Ia juga bergegas pulang untuk memberitahu Mbahkung-nya.
Zayan tidak menyangka bahwa sebelum diwisuda, ia sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan bergengsi tersebut. Ia berjanji akan bersungguh-sungguh untuk bekerja, menghasilkan banyak uang, dan menemukan gadis kecil yang masih bersemayam di dalam hatinya hingga kini.
Bersambung ....
__ADS_1