
Saat mengantre untuk masuk ke gedung, langkah Yumna dan Mesha terhenti. Mereka berdiri bersebelahan dengan keluarga Zayan. Namun, mereka berdua tidak tahu sampai duduk di dalam.
Mesha mendapatkan kursi di barisan ke dua terdepan. Kursi untuk pendamping wisudawan berprestasi. Yumna mengantarnya sampai di kursi yang tertera keterangannya di sana.
"Mbak Sha aku tinggal ya? Kursiku di belakang. Gak apa-apa, kan?"
Meski kebingungan, Mesha mengangguk.
"Ya, gak apa-apa. Makasih."
Saat Arsyanendra dan rombongan berjalan menuju kursi. Ia mengerling pada sosok gadis yang sudah duduk terlebih dahulu di baris yang sama dengannya. Laki-laki tua itu tersenyum.
"Ternyata itu, orangnya."
Mesha berdiri saat Arsyanendra beserta putri dan menantunya lewat.
"Kamu pendamping tambahan dari Zayan?" tanya Kartika, ibu Zayan, dengan volume suara yang rendah hampir berbisik.
Mesha mengangguk sopan.
"Oke, aku duduk di sini, ya?" Kartika melanjutkan kalimatnya, lalu duduk di sebelah Mesha.
Sejenak, tercipta kecanggungan di antara kedua perempuan tadi. Namun, suara dari pembawa acara yang membuka acara, mengalihkan fokus mereka berdua.
Zayan didapuk menjadi wakil mahasiswa untuk berbicara di podium. Senyumannya melebar saat melihat ke arah kursi undangan. Hatinya bahagia ketika tahu, ibu dan perempuan yang ia cintai, duduk berdampingan.
Acara demi acara telah dijalani, semua lancar tanpa halangan hingga usai. Keluarga Zayan sudah menunggu laki-laki itu di area booth foto. Mesha berdiri canggung tak jauh dari mereka. Di sudut lain, Karman dan rombongannya sudah berfoto-foto ria.
Saat Zayan keluar dari gedung, ia melambai ke arah Karman, memanggilnya untuk mendekat.
"Ayo, foto bareng!" ajaknya.
Zayan dan Karman berfoto bersama, sedangkan Kartika, ia berjalan mendekati Mesha.
Mesha yang sudah tahu bahwa perempuan itu adalah ibunda dari Zayan, segera mengulurkan tangan, menyalami dan mengecup punggung tangannya.
"Jadi, sudah berapa lama kalian punya hubungan?"
"Itu ...."
"Kamu kuliah di mana? Atau kerja di kantor mana?"
"Saya ... saya tidak kuliah, Bu. Kerja di warung makan."
Mesha berbicara dengan nada rendah dan lembut.
Kartika menatap perempuan di hadapannya dengan pandangan menyelidik.
"Cantik sih, tapi masa beneran pelayan warung makan?"
"Ya memangnya kenapa? Kerja di warung makan bukan aib atau kejahatan, Nduk!" Arsyanendra menyela perkataan Kartika. Kemudian ia tersenyum, menyapa Mesha. "Aku kakeknya, Zayan, Arsyanendra."
Sama seperti apa yang dilakukannya kepada Kartika, Mesha menyalami laki-laki berwajah teduh itu.
"Ayo, kita foto bareng!" ajak Arsyanendra.
"Tapi, Pak. Keluarga kita dulu."
"Sama saja, ayo!"
Dengan gerakan canggung, Mesha berjalan di belakang Arsyanendra.
"Jangan sakit hati dengan ucapan ibunya Zayan ya, Nduk, dia memang suka ceplas-ceplos begitu." Arsyanendra menoleh sebentar dan berbicara dengan Mesha.
__ADS_1
Perempuan itu hanya mengangguk, takdzim.
Mesha mundur saat keluarga Zayan berfoto. Namun, Zayan malah menariknya untuk mendekat.
"Mau ke mana?"
"Itu ... kita fotonya nanti aja, Mas. Berdua. Aku gak enak sama ibumu." Mesha berbisik.
"Oke, oke."
Tepat saat Mesha menjauh, Grisa baru saja datang, ia ditarik oleh Kartika. Tersenyum dengan kemenangan semu kepada Mesha, saat fotografer mulai mengambil gambar.
Setelah sesi foto bersama keluarga, Zayan mendekati Mesha.
"Tadi sudah janji, kan? Ayo!"
"Ya Mas. Tapi ajak Yumna sama cowoknya."
"Oke, sebentar."
Fotografer mengambil beberapa foto mereka bertiga.
"Nah, sekarang, gaya bebas! Jangan pelit senyum ya!" teriak fotografer.
"Terima kasih udah mau datang, Cha." Zayan tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.
"Bukan sebuah masalah besar, Mas."
"Aku gak nyangka kamu benar-benar datang dan secantik ini, Cha."
"Terima kasih, Mas."
Di sisi lain, Karman dan Yumna memandangi dua sejoli tadi.
"Sama, aku juga. Tapi jangan nangis, to. Ntar mekapmu mbleber, Yuyum."
"Mana ada! Ini make-up Madame Tarsyi, gak semudah itu, Kakanda!" Yumna menggerak-gerakkan jari telunjuknya.
"Halah, mulai lagi! Aku heran, kenapa aku mau sama cah wedok iki. Hedeh!"
Kartika yang masih penasaran dengan Mesha, malah bertanya pada Grisa.
"Kamu kenal perempuan itu, Nduk?"
"Ya, kenal, Tante."
"Wah, gimana dia orangnya?"
"Itu ...."
Kartika tercengang, lalu air mukanya berubah.
Yumna datang menyeruak di antara Zayan dan Mesha.
"Udah, udah dulu! Kebaya yang dipakai Mbak Mesha, kudu dibalikin ke tempat Madame." Yumna memeluk lembut pundak Mesha.
"Jadi, tadi dia berangkat bareng kamu, Yum?"
"Tul sekali!"
"Makasih, ya."
"Heleh Mas Zay, kayak sama siapa aja!"
__ADS_1
Mesha melambaikan tangan, kaku, kepada Zayan saat Yumna mengajak pulang. Senyum simpul menghiasi bibirnya.
Setelah Mesha pergi, Kartika menarik Zayan.
"Ibu mau bicara sama kamu, penting!"
"Tentang apa, Bu? Syukuran wisuda Zay? Gak usah dipikirkan, nanti biar Zay yang urus semuanya."
"Bukan, tentang perempuan tadi."
"Perempuan? Echa?"
"Entah siapa namanya."
Arsyanendra merasakan ada yang tidak beres. Laki-laki itu memandangi raut wajah Kartika.
"Kenapa kamu tolak Grisa untuk perempuan macem itu, Zay? Apa ndak ada perempuan lain?" cerocos Kartika saat semuanya sudah masuk ke dalam mobil.
"Maksud ibu apa?"
"Perempuan tadi! Dia sudah menjanda dua kali dan semua suaminya meninggal saat malam pertama! Kamu ndak tahu gimana perasaan ibumu ini?"
"Tapi, Bu. Jodoh, kematian dan rejeki itu rahasia Tuhan. Zayan bisa saja berjodoh dan hidup bahagia dengan Echa ...."
"Ndak, ndak ada! Ibu ndak mau mempertaruhkan nyawa satu-satunya putra ibu. Titik! Cari perempuan lain!"
"Tapi Zay sudah mencari dia lama ...."
Arsyanendra yang dari tadi diam di kursinya, mulai merasa tidak nyaman.
"Kamu ini kenapa sih, Nduk? Bahas beginian di jalan. Apa ndak bisa nunggu sampai di rumahku saja? Merepet terus dari tadi."
"Aku sebagai ibunya, lagi khawatir tentang masa depannya, Pak. Dari tadi dah ndak tahan rasanya."
"Sudah, sudah! Nanti saja kalo dah sampai di rumahku."
Suasana di dalam mobil hening, setelah Arsyanendra mengutarakan protesnya.
Di tempat lain, Mesha sudah menghapus riasan dan mengembalikan baju yang disewa tadi. Ia sedang duduk bersama Yumna dan Karman di sebuah kafe tak jauh dari salon tadi.
"Aku kok tadi lihat kayak gak enak, wajah ibunya Mas Zay waktu pulang, Mbak Sha. Apa ada masalah?"
"Aku kurang tahu, Dek." Mesha menunduk, mengaduk-aduk jusnya dengan sedotan.
"Kalo biasanya, Tante Kartika itu ramah dan murah senyum," sela Karman.
"Aku gak ngomong apa-apa padahal. Aku udah bilang kan, ini gak akan berhasil! Mana ada orang tua yang mau ngepek aku menjadi menantu."
Yumna menatap ke arah Mesha tajam.
"Ibuku kan juga mau, Mbak Sha. Meskipun dah tahu kalau Mbak Sha ...."
"Ah, iya. Maaf."
Mesha menunduk lebih dalam.
"Wes to, Mbak. Gak usah dipikirkan. Karena terlanjur dah di luar, Mbak Sha ke rumah aja. Ibu nanyain terus, lho."
"Boleh."
"Aku nanti nganter kalian aja ya? Aku juga mau jalan-jalan sama keluargaku." Karman meminta ijin.
Bersambung ....
__ADS_1