Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 69 : Pendamping dan Undangan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Zayan sudah mampir ke warung makan tempat Mesha bekerja. Ia membawa undangan wisuda. Berharap perempuan yang ia cintai itu mau datang menjadi pendampingnya.


"Ngapain ke sini pagi-pagi? Pergi ke kantor sana!" usir Mesha.


"Kamu kenapa lagi? Masih pagi udah marah-marah."


"Memangnya kenapa? Kalau gak suka, ya sana pergi!"


"Bagaimana mungkin aku gak suka? Kamu mau marah-marah, ngamuk-ngamuk, aku tetep suka."


Mesha kesal, ia malas menjawab perkataan Zayan lagi. Perempuan itu masuk ke dapur. Sementara itu, Zayan berdiri terpaku di tempatnya.


"Kenapa lagi sih ini cewek?"


Sri mendekati Zayan yang kebingungan.


"Kenapa, Mas?"


"Ini, Bu. Saya mau kasih undangan ini ke E-eh Indy. Tapi malah saya dimarah-marahi."


Sri tertawa kecil.


"Ya sudah, ditaruh di meja kasir aja. Nanti aku kasih ke orangnya."


Kemudian, Sri mendekatkan wajahnya ke Zayan.


"Lagi PMS mungkin itu si Genduk."


Zayan malah tertawa mendengar kalimat Sri. Ia mengangguk-angguk, tanda setuju.


"Ya sudah, saya pamit, Bu."


Setelah pergi Zayan pergi, Mesha keluar dari dapur dengan makanan di tangannya. Kemudian menatanya di etalase. Sri mendekatinya.


"Apa ada masalah, Nduk? Kenapa sikapmu tadi begitu?"


"Itu ...."


"Jujur aja sama aku, Nduk!"


Suasana warung masih sepi, pagi itu. Mesha dan Sri duduk berhadapan.


"Jadi, kamu ingin memberikan kesempatan pada mantan adik iparmu itu, Nduk?"


"Ya, Bu. Saya sudah menjanda dua kali. Ya, meski pun memang suami-suami saya belum menyentuh saya. Tapi ini gak adil buat Grisa yang baru saja jatuh cinta, atau pun untuk Mas Zay yang masih lajang."


"Gak adil bagaimana? Apa kamu ndak peduli dengan perasaan Zay? Bagaimana kalau dia juga sakit hati dengan sikapmu ini? Dia anak yang baik."


"Saya tahu, Bu. Makanya saya memilih untuk menjauh, Grisa berkali-kali lebih pantas ketimbang saya. Apalagi kalau keluarga mas Zay tahu status saya. Itu hanya akan membuat masalah makin runyam. Siapa yang mau anak satu-satunya menikah dengan janda, Bu?"

__ADS_1


"Janda kan hanya status, Nduk. Yang terpenting, perasaan kalian berdua yang menjalaninya. Nyaman kah, bahagia kah? Untuk masalah keluarganya, Kita ndak tahu pikiran mereka bukan? Ndak akan tahu kalau ndak mencoba."


Sri mengulurkan kertas yang sedari tadi dipegangnya.


"Simpan ini, Nduk. Jangan sakiti hatimu sendiri dan orang yang mencintaimu hanya karena prasangka yang ndak pasti."


Sri bangkit dari duduknya, berjalan ke arah dapur. Menepuk pundak putri angkatnya dengan lembut.


Mesha menunduk, memandangi kertas undangan di meja. Di hadapannya. Ia terisak, kegamangan menyerang hatinya.


"Gusti ... aku harus apa?"


Saat makan siang, Mesha keluar dari warung, ia berusaha menghindar dari Zayan. Mengantarkan pesanan makanan di tempat lain.


Zayan yang datang ke warung makan, merasa kecewa saat tidak dapat menemukan perempuan yang ia nantikan. Ditambah lagi, Grisa menyusulnya di sana. Mengajaknya makan.


Mesha kembali ke warung tepat saat Grisa dan Zayan sedang menyantap makan siang mereka. Langkah perempuan itu terhenti saat melihat gadis tadi menggenggam tangan Zayan.


Mesha berbalik, masuk ke warung lewat pintu belakang di dapur. Perempuan itu bersandar pada dinding dapur, memegangi dadanya. Menahan isak tangis.


Grisa yang tahu bahwa Mesha baru saja kembali tadi, membuat gambaran seolah-olah ia sedang bermesraan dengan Zayan. Padahal, laki-laki itu buru-buru menarik tangannya.


"Aku gak suka seperti ini, maaf! Tolong jangan lakukan ini lagi, Gris! Aku sudah bilang, ada perempuan yang telah mencuri hatiku!" Zayan mengomel dengan suara rendah, menjaga martabat gadis di hadapannya.


"Aku ... aku hanya ... ah, sudahlah!" Grisa merasa kesal, kecewa dan marah. Ia beranjak pergi setelah mengulurkan uang ratusan ribu ke Sri yang sedang berdiri di meja kasir.


"Buat ibu saja!"


Zayan berdiri untuk membayar makanannya juga.


"Tadi sudah dibayar, Mas."


Grisa mengusap kedua ujung matanya. Baru pertama kali ia merasakan sakit di dadanya karena seorang laki-laki. Ia bertekad untuk mendapatkan laki-laki yang ia inginkan itu. Bagaimana pun caranya.


Mesha yang sudah lelah menangis, mencuci mukanya dan kembali bekerja


.


"Besok ada yang bakal datang untuk membantu kerjaan kita, Nduk."


"Sungguh? Tapi apa gak apa-apa, Bu?"


"Ya, pendapatan warung kita makin bertambah, pesanan makin banyak, pelanggan makin ramai. Jadi aku sama bapak memutuskan untuk memperkejakan seseorang lagi. Bapak juga akan mengundurkan diri dari pekerjaannya, untuk mengurusi layanan pesan-antar." Sri tersenyum.


"Apa ibu sudah gak membutuhkan tenaga saya lagi?"


"Bukan begitu, Nduk. Aku hanya ingin mengurangi bebanmu, kamu juga kelak akan sibuk dengan kehidupanmu sendiri. Aku mempersiapkan hal itu, agar kita ndak kaget."


"Maafkan saya, Bu."

__ADS_1


"Kenapa minta maaf? Jujur, hari-hari yang kita lalui bersamamu, itu sangat membahagiakan."


Sri menggenggam tangan Mesha. Menepuk-nepuknya lembut, menguatkan hati perempuan muda di hadapannya. Karena ia tahu, akhir-akhir ini adalah hari yang berat untuk putri angkatnya tersebut.


"Mbak!" Teriakan seorang gadis membuat Mesha menoleh.


Mesha melihat Yumna yang datang sendiri dalam balutan setelan kerja, berlari-lari merentangkan tangan. Kemudian memeluknya. Ada sebuah bungkusan di tangan gadis itu.


"Mbak Sha sehat? Oh, iya, ini kue dari ibu. Katanya ibu kangen, pengen ketemu Mbak Sha."


Sri menyuruh Mesha untuk menemani Yumna duduk. Sementara dirinya, melayani pelanggan.


"Ibu senang saat aku cerita tentang Mbak Mesha. Ibu bener-bener pengen ketemu, ini sampai sibuk bikin ini buat Mbak Sha." Yumna menunjuk bungkusan yang ia letakkan di meja.


"Wah, aku jadi gak enak hati, Dek. Merepotkan ibu saja. Oh, iya, dah makan siang kamu, Dek?"


"Kebetulan belum, Mbak. Makanya aku datang ke sini juga."


"Oh, gitu. Tunggu, aku siapkan makanan. Kali ini gak usah bayar, biar aku yang traktir!"


"Wih, ada apa nih, Mbak?"


"Gak ada apa-apa."


Mesha kembali dengan sepiring makanan dan minuman di nampan besar yang ia bawa. Ia juga membawakan makanan penutup.


"Apa gak apa-apa ini Mbak Sha?"


"Santai aja, dimakan dulu, gih!"


Yumna berbicara di sela-sela makannya. Mengobrol ngalor-ngidul bersama Mesha.


"Jadi, kamu tinggal nunggu lulus untuk menikah dengan cowok itu, Dek?"


"He em, Mbak Sha. Besok pas acara wisudanya, aku juga datang jadi pendampingnya."


"Wah, baguslah!"


"Oh, iya. Mbak Sha harus datang ke acara tunangan dan nikahan kita, lho!"


"InsyaAllah. Semoga lancar semuanya, Dek."


Mesha mengalihkan pandangan ke luar. Ia teringat dengan undangan yang diberikan Zayan tadi pagi.


"Mbak Sha. Aku sudah dengar cerita tentang Mas Zay dan Mbak Sha dari Mas Ayangmbebku."


Mesha menoleh, menatap penuh tanya kepada Yumna.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2