Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 43 : Kenangan itu ....


__ADS_3

Halaman rumah Mesha sudah dipasang tarup. Orang-orang mulai berdatangan untuk membantunya. Bisik-bisik kurang sedap didengar sudah mulai menguar. Beberapa orang seperti bernostalgia dengan suasana beberapa tahun yang lalu.


Di kamarnya, Mesha berjalan mondar-mandir. Ia merasa gugup dan cemas. Rasa-rasanya, ia ingin membatalkan saja pernikahan ini. Namun, ia tidak sampai hati. Beberapa saat kemudian, ibunya, Mayang, masuk dengan seorang juru rias pengantin.


"Dirias dulu, Nduk. Biar enak dilihat kalau udah sudah ada tamu yang datang." Mayang menyuruh putrinya duduk di depan meja rias.


Untuk kali ini, kamar pengantin itu terlihat biasa saja. Tidak seperti kamar-kamar pengantin baru. Hal itu atas permintaan Mesha. Sedikit banyak, ia masih trauma dengan pernikahan sebelumnya. Meski hal itu terdengar aneh, tetapi kedua orang tuanya menuruti keinginan tersebut. Bahkan acara adat yang lain pun tidak dijalani.


Tanpa terlalu banyak memoles, Mesha sudah terlihat cantik dan anggun. Kebaya warna mint yang melekat di tubuhnya, makin memperindah penampilan perempuan muda tersebut.


Benar saja, beberapa tamu dan kerabat sudah berdatangan. Mesha dan kedua orang tuanya, menyambut kedatangan mereka. Senyum lebar tergambar di bibir mempelai wanita itu saat melihat teman lamanya datang.


"Meshaaa!'


"Zafiaaa!"


Kedua perempuan itu berpelukan erat saat saling menempelkan pipi, cipika-cipiki.


"Akhirnya ... kamu mau melepas masa lajangmu lagi, Sha," goda Zafia.


"Iya, Fia. Kapan kamu juga melepas masa lajangmu?" sambar Mayang.


"Kapan-kapan, Bude. Fia mau selesaikan kuliah dulu." Zafia tersenyum sopan.


"Temanmu diajak masuk aja, Cha. Biar bapak sama ibu yang nerima tamu," perintah Mayang.


Dengan digandeng Zafia, Mesha berjalan masuk ke kamarnya. Kemudian, ia duduk di tepi ranjang. Bersebelahan dengan sahabatnya itu. Lama keduanya terdiam.


"Kamu gak mau ngomong apa-apa, Sha?"


"Ngomong apa, Fia?"


"Perasaanmu, apa pun itu. Kamu kayak bukan Mesha yang kukenal."


Mesha memberi kode dengan tangannya, meminta tisu yang tergeletak tak jauh dari Zafia duduk. Gadis itu pun mengambil beberapa lembar dan mengulurkannya.


"Mau gimana lagi, Fia? Aku sudah menyanggupi. Gak mungkin aku membatalkannya sekarang."


Sebenarnya, Zafia ingin menceritakan bisik-bisik warga yang didengarnya waktu tadi datang. Namun, ia berpikir, bahwa perkataannya nanti, bisa saja memperburuk keadaan. Ia pun mengurungkan niatnya.


"Fia, apa yang kulakukan ini salah?"


"Salah gimana, Sha?"


"Aku takut ...."


Zafia menarik lembut tangan Mesha, menepuk-nepuk punggung tangan temannya itu.

__ADS_1


"Sssttt! Gak usah ngomong macam-macam. Kalau kamu yakin, jalani aja. Doaku selalu untukmu."


Mesha mengusap hidungnya dengan tisu. Ia juga menekan-nekan pelan pangkal matanya dengan benda tadi.


"Jangan nangis, Sha. Kasian make up artist-nya. Kudu pasang ulang."


Mau tidak mau, kalimat yang dilontarkan Zafia, membuat Mesha tertawa kecil.


Kemudian, dua perempuan muda yang terikat dengan ikatan persahabatan itu, mengobrol lebih santai hingga waktu hampir malam.


"Kamu nginep di sini, Fia?"


"Gak apa-apa, kan, Sha?"


"Gak ada masalah. Nanti tidur di ranjangku aja."


"Oke."


Setelah membersihkan riasan di wajahnya, Mesha berbaring di sebelah Zafia. Mereka mulai mengobrol lagi hingga mereka berdua terlelap.


Di luar rumah, beberapa orang masih terjaga. Sebagian mulai menata kursi dan meja, yang lainnya sibuk di dapur. Suasana hening, meski banyak orang di sana. Sesekali terdengar tawa ibu-ibu di dapur, mengobrol untuk mengusir rasa kantuk mereka.


Tepat saat ayam jantan berkokok pertama kali, Mesha dibangunkan Mayang. Ia menyuruh putrinya juga membersihkan diri dan bersiap-siap untuk dirias. Hari itu adalah hari di mana untuk kedua kalinya, Mesha menikah.


Mesha meminta ibu dan juru rias untuk tenang, juga tidak membangunkan Zafia. Dengan menahan kantuk, perempuan itu mulai dirias.


"Gak apa-apa, masih bisa tahan, kok."


Setelah menghabiskan beberapa jam untuk riasan, Mesha sudah terlihat memukau dengan kebaya pengantinnya. Kerudung tipis terbuat dari kain tulle premium sudah disampirkan di kepalanya. Perempuan itu sudah siap untuk prosesi akad nikah.


Zafia sudah bangun saat Mesha hampir selesai dirias.


Kali ini, Mesha menolak untuk melepaskan gelang manik-manik yang selalu melingkar di pergelangan tangannya. Ia berdalih, itu bisa disembunyikan di balik lengan kebayanya.


"Tapi, Nduk ... ndak pantas kamu pakai barang pemberian laki-laki lain kalau kamu sudah punya suami, loh." Mayang masih bersikukuh membujuk sang putri.


"Echa merasa nyaman kalau pakai ini, Bu. Seandainya Mas Sakha nanti mengatakan keberatannya, ya nanti Echa lepas."


"Ya sudah. Ibu ke depan dulu."


Ketukan di pintu, membuat Zafia dan Mesha menoleh secara bersamaan ke sebuah titik yang sama. Seorang gadis cantik, tersenyum, berdiri di depan pintu.


"Grisa! Masuk, sini masuk!" ajak Mesha saat tahu siapa yang datang.


Grisa menghambur, memeluk Mesha dengan hati-hati.


"Mbak Mesha masih sama cantiknya. Selamat ya, Mbak. Semoga langgeng!"

__ADS_1


Zafia menerima kado yang dibawa Grisa setelah ikut menyambutnya.


"Ini taruh di sini ya, Sha?" Gadis itu menaruh kado tadi di meja yang terletak tak jauh dari ranjang.


"Ya, Fi."


Zafia meminta ijin keluar saat Mesha dan Grisa mulai mengobrol. Ia tidak mau mengganggu keakraban kedua perempuan muda tersebut.


"Aku kaget, Mbak Mesha. Jadi ... beneran cowok yang itu, jadi calon suami Mbak."


"Ya, Dek. Maafkan aku ...."


"Maaf untuk apa, Mbak?"


"Untuk ini ...."


Grisa tersenyum lembut.


"Malah bagus kalau Mbak Mesha menjalani hidup seperti sepantasnya. Mas Gi gak bakal bersedih kalau Mbak Mesha bahagia, kan?"


"Oh iya, gimana kuliahnya? Menyenangkan?"


"Iya, Mbak. Aku kalau diperbolehkan sama bapak dan ibu, bakal cepet nyusul Mbak Mesha."


"Wah, sudah punya cowok?"


"Diperbolehkan apa nih?" Suara lembut seorang perempuan paruh baya, membuat Mesha menoleh ke arah pintu.


"Ibu ...."


"Sudah, sudah Nduk! Biar ibu yang ke sana, kamu duduk saja."


Mesha mengecup dengan hormat punggung tangan perempuan tadi. Kemudian mereka saling berpelukan.


Mesha terisak, tidak bisa menahan lagi perasaannya.


"Ndak apa-apa, Nduk. Ndak apa-apa ... Ndak boleh nangis di hari bahagiamu, selain tangis kebahagiaan."


"Maafkan Mesha, selama ini gak pernah sowan ke ibu dan bapak. Mesha belum sanggup ...."


"Ya, ya Nduk. Itu bukan masalah besar. Kami tahu betul perasaanmu." Maryam mengusap-usap lembut punggung bekas menantunya itu.


Untungnya, riasan pengantin yang Mesha pakai, tahan luntur. Ia hanya perlu mengusap pelan air mata yang sudah terlanjur mengalir di pipi. Semua orang sudah keluar dari kamar pengantin. Hanya tersisa Zafia yang terkadang sibuk dengan ponselnya.


Mesha melirik ke jam yang tergantung di dinding. Seharusnya, rombongan pengantin pria sudah datang. Namun, sampai detik itu, belum ada kabar. Perempuan itu mulai dihantui rasa cemas. Ia *******-***** jarinya sendiri. Berharap tidak ada kejadian buruk yang menimpa keluarga Sakha saat perjalanan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2