
Mesha tidak bisa bangun dengan segar pagi ini. Kemarin malam, ia tidak bisa tidur nyenyak. Kalimat-kalimat yang dikatakan Zayan dan senyumnya kemarin, berhasil membuat perempuan itu porak-poranda. Tubuhnya terasa berat untuk bangun. Bahkan, saat panggilan ibadah salat subuh. Langkahnya seperti diseret menuju ke kamar mandi, berwudhu.
Helaan napas terdengar berkali-kali saat Mesha menyantap sarapan. Membuat Mayang, ibunya, tertawa kecil.
"Kamu kenapa, Cha? Kayak lagi ada masalah serius banget. Ngempos terus dari tadi."
"Gak apa-apa kok, Bu. Echa cuma kurang tidur."
"Begadang buat baca novel lagi?"
Mesha meringis, tidak menyangkal, tidak pula mengiyakan. Setelah menyelesaikan makan, ia berpamitan untuk berangkat ke warung.
Sesampainya di warung, Mesha berusaha bekerja secara profesional seperti biasanya. Hingga jam makan siang. Zayan datang bersama dua orang lainnya. Ia terkejut saat melihat seorang gadis yang datang bersama Zayan.
Wajah gadis itu sangat familiar bagi Mesha. Namun ia masih terus memikirkan siapa gadis tersebut. Satu hal yang terlintas di kepalanya, hanya Yumna, adik mantan suaminya. Akan tetapi, gadis itu berbeda, tidak ada kaca mata minus dengan frame berbentuk lingkaran penuh atau kipas bulat di tangannya. Wajahnya juga terlihat dewasa. Tak mau ambil pusing, ia berbalik dan berjalan ke arah lain.
"Mbak Mesha, kah?"
Mesha menoleh ke arah suara dari balik badannya. Tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Seorang gadis berdiri dengan senyum indah, bola mata berwarna abu-abu dan setelan pekerja kantoran yang tadi datang bersama Zayan.
"Apa saya mengenal Anda?"
Gadis itu tersenyum.
"Ini aku, Mbak. Yuyum!" Gadis cantik itu mengedipkan matanya lalu bertingkah seolah-olah ada kipas di tangannya.
"Gusti Allah! Pangling aku. Cantik banget sekarang!" Mesha menarik Yumna ke dalam pelukannya. Kemudian mengerling pada laki-laki yang juga berdiri di samping Zayan. Zayan tak kalah terkejutnya saat melihat kejadian tersebut. Mesha mengalihkan pandangan.
"Jadi ... karena cowok itu, Dek?"
Yumna tertunduk malu dan mengangguk.
"Pantesan. Gimana kuliahnya?"
"Lagi magang di kantor juga, Mbak. Gak jauh dari sini, kok."
"Di Bentala Swarga?"
"Bukan, Mbak."
Yumna menyeret Mesha untuk duduk bersamanya. Namun dengan halus, ia menolak. Menunjuk celemek yang dipakainya.
"Oh, maaf, Mbak. Kalau begitu, Yuyum gak akan ganggu kerjaan, Mbak. Tapi kalo mau pesan makanan, bisa langsung ke Mbak Sha, kan?"
__ADS_1
"Ya, bisa."
Yumna memesan beberapa makanan setelah bertanya kepada kedua laki-laki yang bersamanya. Sesekali, Zayan mencuri pandang ke arah gadis bercelemek tadi. Begitu pun sebaliknya.
Saat Zayan dan kedua temannya berpamitan kepada pemilik warung, Yumna melambaikan tangan pada Mesha. Yang masih melayani pelanggan di sudut lain warung. Mereka bertiga berpapasan dengan perempuan paruh baya yang memanggil seseorang dengan keras, "Echa!"
Yumna terkejut, saat tahu siapa perempuan yang baru saja masuk ke dalam warung. Langkahnya terhenti.
Ia memanggil, "Bude Mayang!"
Mayang menolehkan wajah ke arah suara yang memanggilnya lalu berujar, "Eh, eh! Genduk, siapa ya?"
"Yumna, Bude!"
"Ealah, kamu. Pangling aku, dah ketemu sama Echa?"
"Sudah, Bude."
Zayan terpaku di tempatnya berdiri. Ia yakin dengan suara dan nama panggilan itu. Menatap dengan segala pertanyaan di kepalanya pada perempuan paruh baya yang berbicara dengan Yumna di pintu. Ia merasa mengenali wajah perempuan tersebut. Meski ada sedikit uban dan kerutan di wajah itu.
Tarikan lembut Karman, membuat Zayan pergi meninggalkan warung. Yumna sudah berdiri tak jauh di belakangnya, mengajak mereka kembali ke kantor. Mulutnya bergumam, "Mungkinkah? Itu ...."
Namun hal mengejutkan juga terjadi, matanya menangkap sosok laki-laki serba hitam tak jauh dari tempatnya berdiri. Menyeringai.
"Jangan begitu, anakku di sini kan kerja to, Mbakyu. Aku juga datang ke sini untuk beli makanan. Tadi agak sibuk, jadi ndak sempat masak."
"Ibu kenapa gak bilang? Kan nanti bisa Echa bawakan pulang, makanannya." Mesha berbicara pelan saat menyodorkan bungkusan di tangannya.
"Ndak, nanti kamu kerepotan pulangnya."
"Halah! Gak to, Bu."
Setelah berbasa-basi sebentar, Mayang berpamitan dengan Sri. Menepuk lembut bahu putrinya dengan lembut dan berjalan keluar dari warung.
Zayan duduk di balik meja kerjanya dengan gerakan gelisah. Pikirannya tidak fokus dengan layar komputer yang menyala di hadapannya. Ia berulang kali memutar-mutar gelang manik yang dipakainya. Teringat dengan apa yang dituturkan Yumna tadi siang sebelum gadis itu dan temannya berpamitan.
"Itu Mbak Mesha, Mas Zay. Mantan istri almarhum kakakku, Mas Sakha."
"Jadi, kamu benar-benar mengenalnya? Bukankah namanya Indy, kenapa jadi Mesha?"
"Sebenarnya itu juga luka buat Yuyum-ku, Mas Bro."
"Cieeee ... 'Yuyumku', ternyata kalian sudah sedekat itu." Zayan tersenyum meledek temannya.
__ADS_1
"Doakan yang terbaik buat kami, Mas Bro."
"Entah, mungkin itu nama lainnya. Kasian, Mbak Mesha, Mas Zay. Yang kudengar, dia juga pernah ditinggal mati suami pertamanya sampai depresi. Terus dia sempat kabur di malam pertamanya saat dinikahi Mas Kha. Rumor yang beredar, Mbak Sha dapat kutukan."
Zayan mengernyitkan dahi, saat mendengarkan kalimat terakhir yang diucapkan Yumna.
"Kutukan macam apa?"
Tepukan di bahu Zayan, membuat laki-laki itu tersadar dari lamunan.
"Pak Direktur tadi panggil kamu, Zay. Nanti setelah jam kantor usai, beliau menyuruhku untuk datang ke ruangannya bersama kamu."
"Oh, iya Mas Firman, terima kasih."
Zayan meneruskan kembali pekerjaannya meski kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan dan pikiran tentang perempuan yang menjadi pelayan di warung makan itu.
Hari sudah gelap saat Zayan sampai di rumah, Mbahkungnya. Setelah membersihkan diri dan beribadah. Laki-laki itu mendatangi sang kakek yang sedang duduk di kursi malas. Membaca sebuah buku tentang spiritualitas.
Zayan mengulurkan tangan dan mengecup punggung tangan laki-laki berusia senja tersebut.
"Mbahkung. Apa kakek Nirwasita bisa dimintai tolong untuk mencari tahu tentang sesuatu?"
Arsyanendra menurunkan buku di tangan. Memandang sang cucu dari balik kaca matanya. Tersenyum.
"Tanya saja langsung ke yang bersangkutan to, Le."
"Apa gak merepotkan, Mbahkung?"
Arsyanendra mengangkat kedua bahunya. Kedua matanya kembali menelusuri tulisan-tulisan di buku yang ia pegang.
"Ndak ada yang merepotkan untuk makhluk macam dia. Hanya saja, dia mau atau tidak."
Zayan mengangguk, lalu berpamitan untuk masuk ke kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar saat merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Apa yang harus kulakukan? Kenapa gadis itu benar-benar membuatku penasaran setiap harinya?" Zayan terus bergumam.
Keesokan harinya, Zayan memutuskan untuk datang ke TK di mana dia dulu bersekolah. Butuh beberapa menit untuknya sampai di tempat tersebut. Segala kenangan saat kecil berseliweran di kepalanya waktu ia melewati jalan-jalan di sana. Ia juga berhenti di rumah lamanya yang sudah dihuni keluarga lain.
Zayan kembali memacu laju motornya dan berhenti saat ia melihat sosok seorang gadis yang baru saja mengeluarkan motor matik dari dalam rumah.
"Indy?" gumamnya.
Bersambung ....
__ADS_1