
Pagi ini, kediaman Bagas sudah ramai dipenuhi orang. Sebagian dari mereka adalah kerabat Bagas, dan beberapa lainnya, tetangga dekat. Di dapur dan ruang tengah, terlihat ibu-ibu sudah bergerombol, menciptakan suara bising halus, bagai dengungan lebah. Sedangkan bapak-bapak, mengobrol santai di ruang tamu.
Semua sudut rumah sudah ditata rapih dan dihias dengan indah. Hari ini mungkin hari membahagiakan bagi Bagas dan Mayang, tetapi tidak bagi Mesha. Ia malah masih duduk di depan cermin dengan wajah masam. Jari jemarinya memainkan gelang manik-manik yang masih melekat di pergelangan tangannya.
Mesha berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. Sesekali ia memandangi pantulan dirinya di cermin. Lama kelamaan, ia hanyut dalam lamunannya. Bahkan, suara ketukan di pintu kamarnya pun tak ia dengar.
"Lha kok masih semrawut gitu?"
Suara ibunya, Mayang, membuyarkan lamunannya.
"Acaranya kan baru nanti malam, Bu," jawab Mesha malas.
"Jangan gitu to, Nduk ... itu lho, tamu juga sudah pada datang, ditemuin dulu sana."
Mesha berdiri, tanpa membalas perkataan ibunya lagi. Meskipun berat baginya, ia hanya merasa, seperti ini lah caranya berbakti pada ibunya, menjalankan perintahnya dan menuruti segala perkataannya.
Mayang menangkap ekpresi keengganan putrinya. Ia tahu, ia hafal benar bagaimana adat gadis itu. Mayang mendekati Mesha, meraih tangannya dalam genggaman, dan menepuk perlahan.
"Ibu tahu, ini ndak mudah bagimu, Nduk. Tapi mau gimana lagi, bapakmu itu sudah kadung janji sama pak Wiryawan. Ndak penak rasanya kalo menolak. Kalo masalah perasaan, nanti juga bisa muncul seiring berjalannya waktu kok. Le Giyan kan bagus, pinter, ibu yakin, kamu nanti juga bakal kesengsem," tutur Mayang sembari tersenyum.
Mesha hanya menatap ibunya dengan perasaan hampa. Mencoba tersenyum, bukannya senyum yang ia perlihatkan tapi malah ringisan. Mayang tertawa melihat putrinya.
"Sudah sana, mandi dulu, pakai baju yang rapih, terus keluar kamar, jangan ndekem terus!"
Mesha mengangguk saat Mayang berbalik badan.
"Bu, boleh kan aku mengundang temenku, Zafia?" tanya Mesha.
Mayang menolehkan wajahnya kemudian menjawab, "Tentu!"
Mesha mengeluarkan ponsel pemberian Giyan untuk mengirim sebuah pesan kepada Zafia, memintanya datang.
"Boleh, ada acara apa memangnya, Sha?"
"Lamaran, Fi ...."
Setelah membalas pesan Zafia, Mesha menyambar handuknya dan beranjak ke kamar mandi. Ia melewati beberapa orang yang menyapanya, ia membalas dengan senyuman.
Setelah mengikat rambutnya, dan memoles wajahnya tipis-tipis dengan sapuan bedak, Mesha keluar dari kamar. Tepukan lembut di bahunya, membuatnya terperanjat.
"Kaget aku, Fi! Kirain siapa ...." ucap Mesha seraya mengelus-elus dadanya.
"Siapa lagi emangnya?" goda Zafia.
__ADS_1
"Ayo duduk dulu, sini!" Mesha menyeret sahabatnya untuk duduk di tempat yang agak sepi.
"Aku udah ketemu bapakmu, di depan tadi, nyuruh aku langsung masuk. Lha terus ibumu, mana?" tanya Zafia setelah duduk.
Mesha mengedarkan pandangannya mencari sosok ibunya. Beberapa saat kemudian, ia melihat ibunya sedang berbincang dengan seseorang, kemudian melihat ke arahnya.
"Tuh, ibu di sana, Fi," jelas Mesha sembari menunjuk dengan isyarat gerakan kepalanya. Di sisi lain, Mayang berjalan mendekati kedua gadis itu. Zafia berdiri, menyalami dan mengecup punggung tangan Mayang dengan hormat.
"Baru dateng, Nduk?"
"Iya, Bude. Apa ada yang bisa Fia bantu di sini?"
"Ah, itu. Kamu temenin Mesha aja, ndak apa-apa. Pokoknya jangan sungkan ya, Nduk."
"Siaaapp, Bude."
"Ya sudah, bude ke depan dulu," pungkas Mayang.
Zafia menatap lekat-lekat wajah sahabatnya yang duduk termenung di hadapannya.
"Kamu yakin, Sha?" tanya Zafia dengan merendahkan suaranya. Mesha mengangguk, meski sedikit ragu. Mesha menghela nafas.
"Entahlah ... aku belum yakin, apa ini keputusan yang tepat buatku, Fi ...."
Zafia hanya bisa mengusap pundak sahabatnya dengan lembut, mencoba mengalirkan dukungan moril lewat tangannya.
"Ya ampun ... baru mau lamaran aja udah cantik kayak gini, apalagi nanti pas nikahan, Sha? Pangling aku!" ungkap Fia dengan rasa kagumnya. Mesha tersenyum simpul.
Setelah memakai kebaya yang dijahit khusus di penjahit langganannya, penampilan Mesha terlihat semakin memukau.
Bagas mengamati putrinya dari kejauhan, ia bahagia melihat putrinya itu sudah tumbuh dewasa dan benar-benar cantik.
"Bapak hanya pengen kamu hidup nyaman dan bahagia, Nduk. Itu saja," ucap Bagas lirih, dari tempatnya berdiri.
Malam harinya, rombongan keluarga Wiryawan datang, setelah acara penyambutan, keluarga Wiryawan dipersilahkan masuk. Mesha sudah duduk di ruang tamu diapit kedua orang tuanya. Giyan sungguh terpukau melihat penampilan Mesha yang berbalut kebaya.
"Kak, itu matanya sampai mau meloncat keluar lho!" goda Grisa kepada Giyan, kakaknya.
"Apaan sih, Dek?" sanggah Giyan malu-malu. Grisa menutupi mulutnya yang cekikikan.
Acara lamaran berlangsung secara khidmat. Tepuk tangan terdengar saat bu Wiryawan mewakili putranya, Giyan, memasangkan cincin di jari Mesha. Begitu pun sebaliknya, Mayang memasangkan cincin di jari Giyan.
Setelah hadirin pulang ke rumah masing-masing, acara lamaran diakhiri dengan rembugan antar keluarga, menentukan tanggal pernikahan. Kebetulan, di antara kerabat Wiryawan, ada seorang laki-laki yang paham menghitung tanggal baik berdasarkan almanak jawa. Hal yang biasa dilakukan masyarakat jawa dalam setiap menentukan tanggal pernikahan.
__ADS_1
"Sepertinya, di tahun ini hanya ada dua hari baik untuk pernikahan, berdasarkan perhitungan almanak jawa. Hari pertama jatuh di hari ke lima belas di bulan ini, dan hari ke dua enam bulan kemudian, monggo, mau pilih yang mana ...." tuturnya.
"Giyan kan mau berangkat ke luar negeri bulan depan, kira-kira dua puluh hari lagi. Berarti, kita bisa ambil hari ke lima belas bulan ini saja," sela Wiryawan.
"Tapi, Pak Wir ... apa ndak terlalu buru-buru persiapannya?" sanggah Bagas.
"Oh, masalah itu, tenang saja, pak Bagas, biar saya dan jeng Mayang yang atur. Gimana?" potong Maryam, istri Wiryawan.
Mayang dan Bagas mengangguk setuju.
"Lalu, menurutmu gimana, Le? Giyan?" tanya Wiryawan lembut pada putranya.
"Gi nurut sama Bapak saja, Gi juga akan bantu semua persiapan, kan Gi yang mau nikah juga, Pak," jawab Giyan dengan senyuman.
"Kalo Genduk Mesha, gimana?"
Mesha yang daritadi hanya menunduk, mulai mengangkat kepalanya perlahan. Semua mata sekarang menatapnya.
"Mesha manut ...." jawab Mesha dengan suara bergetar.
Wiryawan tersenyum lega.
"Bagus kalo gitu, jadi, semua sepakat kan? Tanggal pernikahan dua minggu lagi, mulai besok, keluargaku, akan mulai mempersiapkan seperlunya. Termasuk pengurusan Visa dan passport untuk nduk Mesha ke luar negeri menemani Giyan."
"Begitu pun keluarga saya, Pak," sela Bagas.
"Ya ya ... jangan lupa, besok dokumen yang diperlukan, segera disiapkan. Nanti biar orang saya yang urus," saut Wiryawan lagi.
Setelah acara rembugan selesai, rombongan Wiryawan berpamitan. Giyan masih saja memandangi calon istrinya. Ia benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu, entah bagaimana.
Setelah melepas kepulangan keluarga Wiryawan, dan semua orang kembali ke rumah masing-masing. Mesha duduk bersandar di ruang tamu, ia merasa lelah. Mayang berjalan mendekat dan duduk di sebelah Mesha.
"Apa kamu masih keberatan, Nduk?"
Mesha terperanjat, kemudian menolehkan wajahnya, menatap Mayang.
"Maafkan ibu, Nduk," ucap Mayang lagi.
Mesha tersenyum, berusaha membuat nyaman hati ibunya.
"Echa cuma capek kok, Bu."
"Ya sudah, istirahat sana."
__ADS_1
Mesha berjalan masuk ke kamarnya. Setelah mengganti bajunya, ia mencuci mukanya di kamar mandi untuk menghapus sisa-sisa riasan. Ia kembali duduk di depan cermin. Lagi-lagi ia memandangi pantulan wajahnya di cermin. Entah sejak kapan, bulir-bulir bening jatuh dari ujung matanya.
Bersambung ....