Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 75 : Jalan Pulang


__ADS_3

Zayan menggenggam kopi hangat dalam cup. Ia masih duduk di atas motornya, setelah berkendara satu jam lebih dengan tunggangan kesayangan. Sejenak, hawa dingin melingkupi, yang diembuskan angin di perjalanan tadi. Kemudian ia merogoh saku celana, menarik keluar ponselnya. Mengetikkan beberapa kata, lalu mengirimnya sebagai pesan.


Beberapa menit kemudian, seorang gadis mengenakan sweater rajut berwarna lilac, keluar dari gerbang sebuah rumah sederhana.


"Mas Zayan?"


"Ya. Mbak Zafia?"


"Panggil Zafia aja, Mas. Aku lebih muda, kan? Beberapa bulan."


Zayan tertawa.


"Baiklah kalau begitu, Zafia. Gimana? Apa Echa di dalam?"


"Ya, Mas. Dia lagi makan malam. Bukannya Mas Zay punya nomor ponselnya?"


Zayan menggelengkan kepala.


"Jadi, selama ini, kalian berhubungan dengan telepati? Di jaman seperti ini? Kalian memang cocok!"


Kini, Zayan dan Zafia tertawa bersama.


"Ayo, duduk di teras saja, Mas! Gak enak seperti ini."


"Memangnya gak apa-apa kalo laki-laki masuk ke sana?"


"Kontrakan yang aku tempati, bebas kok, Mas. Tetapi tamu laki-laki hanya boleh di teras."


"Baiklah."


Zayan menuntun motornya, masuk ke halaman rumah kontrakan tersebut. Setelah ia duduk di kursi teras, Zafia masuk ke dalam rumah.


"Sha, ada yang mau ketemu kamu," ungkap Zafia saat ia melihat temannya itu telah menyelesaikan makan malamnya.


"Siapa? Aku gak punya kenalan di kota ini."


Zafia mengangkat bahunya, lalu menarik Mesha untuk keluar, melihat siapa yang datang. Tanpa memberontak, ia menuruti sahabatnya.


Mesha terkejut saat melihat siapa yang datang mencarinya. Ia mundur. Namun, Zafia mencegahnya. Meggelengkan kepala. Dengan isyarat, gadis itu menyuruh Mesha menemui Zayan.


"Apa kamu tega membiarkan laki-laki itu berkendara malam-malam tanpa menemui orang yang dicarinya?" bisik Zafia, saat Mesha bersikeras menolak.


"Ayolah, Sha!" Dengan lembut, Zafia mendorong Mesha keluar dari pintu rumah.


Zayan tersenyum lega saat melihat Mesha. Akan tetapi, tidak dengan perempuan itu.


"Ngapain Mas Zay ke sini? Aku kan sudah bilang berkali-kali, hubungan kita sudah cukup! Itu gak akan berhasil, Mas."


"Atas dasar apa kamu berkata begitu, Cha?"

__ADS_1


"Apa Mas Zay gak sadar-sadar? Aku bukan perempuan yang terbaik. Aku ...."


"Janda? Ditinggal mati suami? Aku tahu, Cha! Berapa kali kamu katakan itu! Tapi aku gak peduli! Aku hanya mau menikah denganmu!"


"Lalu meninggal sia-sia?"


"Siapa bilang? Aku gak akan meninggal karena kutukan itu, aku akan meninggal setelah menua bersamamu!"


Mesha menunduk, lidahnya kelu. Ia sangat mencintai laki-laki di sampingnya, tetapi ia telah berjanji pada Kartika untuk menjauhi putranya. Mulai goyah, ia terisak.


Zayan berlutut di hadapan, Mesha.


"Ayo, pulang! Ayo, hadapi itu bersama! Aku sudah melakukan apa pun yang bisa kulakukan. Kini, giliranmu. Cukup pulang bersamaku dan ikut ambil bagian untuk itu. Kamu berhak hidup bahagia, Cha! Ibuku juga gak akan mencampuri urusan kita lagi. Aku mohon!"


Mesha terdiam lama. Zayan masih tetap pada posisinya. Zafia yang menonton dari balik jendela merasa gemas. Ia ingin keluar, mencubit pipi temannya itu agar sadar.


Perlahan, Mesha mengangkat wajahnya, ia memandang laki-laki yang masih berlutut di hadapannya.


"Sejujurnya, aku takut kehilanganmu, Mas. Aku takut makhluk itu juga akan mencelakakanmu."


"Kamu gak perlu khawatir, Cha. Aku akan menceritakan semua, setelah kita sampai di kampung halaman kita. Bagaimana?"


Meski sedikit ragu, Mesha mengangguk. Hal itu mengubah ekspresi wajah Zayan yang tadinya kelam menjadi sumringah. Tanpa sadar, Zafia pun keluar, bertepuk tangan, memeluk Mesha, emosional.


Zayan tersenyum saat Mesha membonceng di belakangnya, saat pulang. Ia merasakan salah satu tangan perempuan itu, menyilang di punggungnya. Itu artinya, orang tersebut berusaha melindungi bagian depan tubuh, menempel ke tubuhnya. Canggung, memang, tetapi ia setuju dengan hal itu. Ia mengerti apa yang dikhawatirkan sang kekasih.


"Apa ini pertama kali kamu membonceng laki-laki?" tanya Zayan.


"Gak ... gak juga."


"Kamu bisa memakai tasmu buat penhalang di antara kita, Cha. Aku akan menepikan motorku sebentar."


"Boleh."


Zayan melaju lambat, lalu menghentikan motornya di depan minimarket 24 jam.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu? Minuman? Makanan?"


"Gak, Mas."


"Baiklah."


"Apa ini pertama kalinya Mas Zay memboncengkan perempuan?"


Zayan tertawa lalu mengiyakan.


"Kalau ibu atau saudara atau kerabat perempuan, pernah. Tapi kalo ...."


Mesha tertawa.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, kedua insan tadi sudah naik ke atas motor lagi. Kini, tas punggung Mesha yang tidak terlalu besar, diletakkan di antara dirinya dan Zayan.


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, motor Zayan telah berhenti di rumah Mesha. Sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Ia ikut turun, mengantarkan perempuan yang tadi diboncengnya.


Cukup lama menunggu, hingga pintu depan rumah tadi dibuka. Sesosok perempuan paruh baya dengan piyama tidurnya, muncul dari balik pintu.


"Echa? Kenapa ndak kasih kabar mau pulang malem ini?"


"Ini ... ada yang ketinggalan, Bu." Mesha tersipu malu.


Mayang mengerling pada laki-laki muda yang berdiri di belakang sang putri.


"Itu ...."


"Mas Zay, Bu." Mesha memberi isyarat dengan memutarkan jari telunjuknya di sekeliling pergelangan tangannya. "Ingat, Bu?"


"Oh, oh! Dia?"


Mesha mengangguk.


"Kalo begitu, ayo, masuk!"


"Terima kasih, Bu. Sudah larut malam, saya mau langsung pulang saja."


"Oh, gitu. Baiklah."


Mayang tersenyum lebar saat Zayan telah pergi. Ia menggoda putrinya yang wajahnya terlihat makin merona.


"Besok aku ijin ke kantor, untuk ke rumahmu! Jangan ke mana-mana." Ucapan Zayan sebelum pulang, berhasil membuat jantung Mesha terasa seperti jungkir balik.


Hampir lewat tengah malam saat Zayan sampai di rumah kakeknya. Mematikan mesin dan menuntunnya sampai ke teras. Ia membuka pintu depan rumah dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa ke mana-mana. Kemudian laki-laki itu berjalan jinjit, agar langkahnya tidak terdengar.


Namun, ternyata, Arsyanendra malah tertidur di kursi kesayangannya. Seperti sedang menunggu kepulangan sang cucu.


"Baru sampai, Le?"


Zayan menghentikan langkahnya, membalikkan badan. Kakeknya sudah membuka mata dan tersenyum hangat. Dengan gembira, Ia menghambur pada laki-laki yang ia kasihi dan hormati tersebut. Mengecup punggung tangan dengan penuh rasa hormat.


"Maaf kalo Zay bangunin Mbahkung."


"Ndak kok, Le. Aku tadi ndak tidur nyenyak. Suara angin juga aku masih dengar, kok. Oh, iya. Bagaimana urusannya? lancar?"


"Alhamdulillah, Mbahkung. Berkat doa dan restu Mbahkung." Zayan tersenyum lebar.


"Itu semua juga atas usahamu, Le. Jangan lengah, ini baru permulaan, perang baru saja dimulai."


Zayan mengangguk dengan mantap. Ia meyakinkan diri, bahwa ia akan berhasil. Ia akan berusaha hingga titik darah penghabisan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2