
"Kita kan cuma tahu dari sisi pandang orang lain, Bu. Kita gak tahu bagaimana perasaan dan apa yang dirasakan Dek Mesha saat itu."
"Kalau benar gadis itu punya kutukan seperti cerita orang-orang, bagaimana?"
Sakha berdecak frustrasi. Di sisi lain, Zafia merasa serba salah.
"Harusnya, aku gak ceritain ini, Mas," sesal Zafia.
"Kenapa? Kan aku yang minta."
"Mas gak tahu, butuh berbulan-bulan lamanya untuk membuat Mesha kembali ceria seperti sediakala. Bahkan ia sempat trauma."
"Aku tahu, aku belum berkomentar apa pun dari tadi, bukan?"
Zafia berpamitan setelah menceritakan semua tentang Mesha yang ia ketahui.
"Saranku, kalau Mas Sakha serius sama dia. Jangan ragu-ragu. Jodoh, kematian, rejeki, itu rahasia Tuhan."
"Ya, ya, bawel. Lama-lama kamu mirip Yuyum."
Zafia tertawa kecil, lalu menyalami ibu dan anak tersebut.
Setelah kepergian Zafia, Ningsih duduk terdiam di kursi tamu. Tangan kanannya memijit-mijit pelipisnya sendiri.
Melihat gelagat yang mengkhawatirkan, Sakha duduk bersimpuh di hadapan Ningsih.
"Ibu mulai ragu dengan keputusan Sakha?"
Tanpa berkata apa pun, perempuan paruh baya itu meneteskan air mata, lalu mengusap lembut pipi putranya.
"Ibu hanya takut terjadi apa-apa dengan dirimu, Le. Kalau kamu ndak ada, ibu harus bagaimana?"
"Bu, tadi Zafia juga bilang, kan? Jodoh, rejeki dan kematian. Itu rahasia Tuhan. Sakha setuju itu."
Ningsih mengembuskan napas keras-keras. Ia luluh melihat senyuman putranya.
"Yang akan terjadi, maka terjadilah," ucap Ningsih dengan pasrah.
Saat hari minggu, Sakha berinisiatif mengajak Mesha berjalan-jalan keluar. Kali ini ia tidak membawa siapa pun. Pria itu ingin lebih mendekatkan diri pada tunangannya.
"Lho? Kamu mau pergi sama calon istrimu? Jangan, Le. Masih masa pingitan. Ndak ilok. Nanti kalau ada apa-apa gimana?"
Sakha tersenyum, lalu menarik tangan perempuan itu dan mengecup punggung tangannya.
__ADS_1
"Ibu tenang saja! Ini sudah jaman modern."
Ningsih hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.
***
"Bu, Echa pamit. Mau jalan sama Mas Sakha, sambil urus beberapa keperluan."
Mesha baru saja keluar kamar dengan gaun berlengan panjang warna salem. Rambutnya yang hitam legam di ikat sekenanya ke belakang. Tas selempang warna marun tergantung di pundak perempuan cantik tersebut.
"Oh, iya. Hati-hati, Nduk. Dijemput, kan?"
"Iya, Bu."
Tak berapa lama, obrolan kedua perempuan itu terpotong oleh suara motor yang berhenti di halaman. Mesha meraih tangan ibunya, lalu bertakdzim.
Mata Sakha tidak berkedip saat melihat tunangannya menghampiri. Di mata pria itu, Mesha benar-benar terlihat bagai peri, meski dengan gaun yang sesederhana itu. Tatapan laki-laki itu terganggu saat melihat ada bayangan hitam berkelebat jauh di belakang Mesha.
Lagi-lagi, Sakha merasa heran tentang apa yang baru saja mengganggu penglihatannya. Mesha merasa heran, saat melihat laki-laki di hadapannya terdiam dengan mata melotot.
"Mas? Mas Kha baik-baik saja?" Mesha menyentuh lembut bahu Sakha.
"Ah, iya. Itu ... aku gak apa-apa."
"Apa aku sejelek itu? Sampai-sampai Mas Sakha melotot begitu?"
Sakha menyembunyikan ihwal ia melihat sosok lain di belakang Mesha. Sementara itu, Mesha tertunduk, ia jengah.
Beberapa menit kemudian, sepasang manusia itu sudah berboncengan menyusuri jalanan. Menuju sebuah tempat. Setelah sampai, kedua orang tersebut mencari tempat duduk di bawah pohon yang rindang. Untuk beberapa lama, mereka masih sama-sama terdiam, kikuk.
"Jadi ... bagaimana, Dek? Semuanya baik-baik saja, kan?"
Mesha menoleh ke arah Sakha. Ia tidak paham dengan arah pertanyaan pria itu. Untuk apa mempertanyakan hal tersebut kepada orang yang sudah ada di dekatnya. Semua sudah terlihat.
"Maksudnya ... apa kamu punya konsep atau pernikahan yang diimpikan kali ini?"
Mesha merasa terpojokkan saat mendengar kata "kali ini" dari bibir Sakha.
"Mas sudah tahu tentang aku? Maksudnya 'kali ini' itu apa?" Mesha menundukkan kepala, tangannya terkepal di pangkuan.
"Maaf ... maafkan aku ... sebelumnya, aku memang penasaran dengan masa lalumu, Dek. Sehingga aku menggali fakta dari beberapa orang. Tapi, mohon jangan salah paham. Aku hanya ingin tahu aja."
"Lalu? Itu membuat Mas Sakha ingin mundur?"
__ADS_1
"Siapa bilang? Justru aku semakin gak sabar menunggu hari itu, Dek. Aku tahu ... bukan hal yang mudah menanggung kesedihan seperti itu. Siapa pun kamu di masa lalu, aku sungguh gak peduli."
Mesha mengangka kepalanya, menatap lurus jauh ke depan. Melihat anak-anak yang bermain lempar bola dengan riang. Berkali-kali perempuan itu menghela napas. Pria di sisinya, masih menunggu perkataan dari bibirnya.
"Aku memang pernah menikah. Namun ironisnya, di malam pernikahanku juga, aku menyandang status janda. Suamiku, Mas Giyan. Meninggal. Dokter bilang, itu serangan jantung. Tapi aku ...." Mesha urung menceritakan secara detail malam itu. Hatinya masih belum menerima kenyataan bahwa itu ulah laki-laki tidak jelas asal-usulnya yang muncul secara tiba-tiba.
"Jangan diteruskan, kalau kamu memang gak sanggup, Dek. Aku gak mempermasalahkan itu. Yang terpenting bagiku, masa depan milik kita."
Bunyi perut keroncongan menghentikan obrolan serius itu. Tentunya, kedua orang tadi tertawa secara bersamaan.
"Aku sengaja gak sarapan, biar bisa sarapan sama kamu, Dek." Sakha malu-malu mengakui. Mesha tersenyum.
"Kalau gitu, kita sarapan, Mas. Di dekat sini, ada bubur ayam langgananku. Mau?"
"Ayo!"
Dengan semangat, Sakha meraih tangan Mesha. Karena terkejut, perempuan itu menepis tangannya.
"Ah! Maaf, Dek Aku gak bermaksud ...."
"Gak perlu minta maaf, Mas. Bukan salah Mas Sakha."
Mesha segera berdiri, menunjukkan jalan ke tempat penjual bubur ayam langganannya. Meski sedikit ramai, ada beberapa tempat duduk yang masih kosong. Penjual bubur yang mengenalinya, segera menyapa dan mengajak berbicara sebentar. Setelah itu, perempuan tersebut memesan dua porsi bubur ayam lalu kembali duduk di hadapan Sakha.
"Bubur ayam di sini enak, Mas. Hari ini kita beruntung, belum terlalu penuh yang makan di sini."
Sakha mengangguk antusias.
Beberapa menit kemudian, dua porsi bubur ayam sudah diantarkan ke meja Mesha. Mereka berdua terdiam, menikmati makanan yang sudah disajikan.
"Mbak Mesha?"
Suara perempuan terdengar dari arah pintu. Secara reflek, Mesha menoleh ke sumber suara. Ia terkejut saat melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Perempuan itu meletakkan sendoknya. Kemudian tersenyum canggung.
"Grisa ... kebetulan sekali. Sini, duduk!"
Gadis yang tadi memanggilnya, kini memandangi laki-laki yang ada di samping Mesha.
"Ini ...."
Grisa memandangi Sakha dengan tatapan penuh tanya. Melihat hal itu, membuat pria berkulit khas Indonesia itu mengulurkan tangan.
"Sakha, calon suami Mesha."
__ADS_1
Mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Sakha, Grisa ternganga.
Bersambung....