Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 17 : Bangkit Lagi.


__ADS_3

Hari-hari Mesha sejak hari itu, tidak ada perubahan. Waktunya hanya dihabiskan di dalam kamar. Ia sering termangu di pinggir ranjang, terkadang memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Bahkan, ia lebih banyak diam ketimbang berbicara.


Zafia sekali-kali datang, dan mengajak Mesha berbicara. Tetapi tetap saja, Mesha enggan bersuara. Seperti sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri. Bahkan Zafia pernah menyarankan Mayang untuk membawa Mesha ke psikiater, tapi usulnya ditolak mentah-mentah.


"Putriku masih waras!" sergah Mayang kala itu.


Siang ini, Mayang melongok dari pintu kamar, memandangi Mesha yang duduk dengan tatapan kosong di ranjang. Sementara sarapan yang ia siapkan untuk Mesha, masih tergeletak utuh di meja rias.


Hati Mayang nelangsa melihat keadaan putrinya yang berhari-hari masih saja seperti itu. Mesha mau menyantap makanan pun, jika ia memaksa suapan demi suapan ke mulut gadis itu. Bahkan, suapannya pun lebih sering ditolak. Ada rasa bersalah yang menusuk perasaannya. Tapi dirinya pun sama, tidak berdaya.


Ketukan di pintu depan membuyarkan lamunan Mayang, tanpa disadari ia sudah berdiri lama di tempatnya tadi.


Mayang bergegas membukakan pintu. Sebuah wajah cantik menyembul dari balik pintu, senyum sopan menghiasi wajah itu.


"Bulek ...." panggil gadis itu, setelah menguluk salam.


"Eh, Nduk Grisa. Ayo, ayo masuk!"


"Iya, Bulek ... maturnuwun."


Grisa duduk di sofa ruang tamu setelah tuan rumah mempersilakan.


"Ada apa ya, Nduk. Kok kamu datang ke sini?" tanya Mayang dengan hati-hati.


Grisa membuka tas selempangnya dan mengambil sebuah buku kecil berlambang Garuda. Kemudian, ia mengulurkan buku itu pada Mayang.


"Ini ...." Mayang terkejut melihat benda yang diangsurkan Grisa.


"Ibu meminta Gris untuk memberikan ini pada mbak Mesha, Bulek. Sayangnya beberapa hari sebelum ini, Gris masih banyak urusan. Jadi, baru hari ini, bisa datang ke sini," urai Grisa, lalu ia bertanya, "Boleh Gris ketemu sama Mbak Mesha, Bulek?"


"Boleh, Nduk. Bulek malah seneng kalo kamu masih mau nengok Mesha, ayo masuk ke kamarnya," jawab Mayang seraya bangkit dari tempatnya duduk, mengantarkan Grisa ke kamar Mesha.


Grisa terkejut melihat keadaan Mesha.


"Bulek, mbak Mesha masih seperti ini sejak hari itu?" tanya Grisa.


Mayang mengangguk.


Grisa berjalan masuk ke kamar dan mendekati Mesha yang duduk di tepi ranjang menatap kosong ke arah depan.


Grisa berjongkok di hadapan Mesha, kemudian mengenggam tangan perempuan yang duduk di depannya.

__ADS_1


Mesha bereaksi, ia memandang Grisa, dan mulai menangis.


"Maaf ... maafkan aku ...." ucap Mesha disertai isak tangis.


Grisa tidak tahan, ia memeluk Mesha, mengelus punggung gadis itu.


"Sudah, Mbak. Sudah ... itu bukan salah Mbak Mesha. Tolong ikhlaskan mas Gi, Mbak!"


Bahu Mesha semakin terguncang karena isakannya. Grisa membiarkan perempuan itu menumpahkan segala kesedihannya.


"Gak apa-apa nangis, Mbak. Sampai Mbak Mesha lega," imbuh Grisa.


*****


Grisa meletakkan karangan bunga di atas kuburan Giyan. Setelah pulang dari rumah Mesha, ia mampir ke pemakaman di mana orang yang ia kasihi disemayamkan.


Grisa berjongkok, mengelus nisan bertuliskan nama kakaknya. Kemudian berkata,


"Mas Gi, aku tadi habis lihat mbak Mesha. Kasian aku mas ... mbak Mesha terguncang, wajahnya pucat, Mas." Grisa terdiam sejenak kemudian menghela napas.


"Mas Gi, bantu mbak Mesha kembali seperti biasanya, Mas ...."


Grisa terus berbicara dengan batu nisan seolah-olah ia berbicara langsung dengan Giyan.


*****


Kata-kata Grisa tadi siang mulai membuatnya kembali menapaki kesadaran.


"Mbak Mesha, semua sudah digariskan. Grisa paham betul, mas Gi juga tidak akan suka lihat keadaan Mbak Mesha, kaya gini. Grisa mohon, Mbak ...."


Setelah merasa selesai dengan makannya, Mesha duduk bersandar di atas ranjangnya. Antara sadar dan tidak sadar, ia melihat sosok Giyan berdiri di depan pintu dengan senyuman khasnya.


Mesha bangkit dari duduknya, mengejar sosok yang dilihatnya, tapi kemudian sosok itu menghilang. Ia jatuh terduduk, dan menangis kembali.


Mayang yang mendengar tangisan Mesha, bergegas menuju kamar, dan memapah putrinya ke ranjang. Kemudian menunggu sampai gadis itu terlelap, lalu beranjak.


*****


Mesha bermimpi. Di dalam mimpinya, ia berjalan di sebuah padang rumput yang luas, seperti tidak berujung maupun bertepi. Suasananya begitu terasa menyenangkan, baginya.


Lagi dan lagi, Mesha melihat sosok Giyan berdiri jauh di hadapannya, mengenakan pakaian serba putih dan berjalan mendekati Mesha dengan lengkung bibir yang indah.

__ADS_1


Giyan mengelus puncak kepala Mesha dengan lembut, lalu menggenggam tangannya. Kemudian menyusupkan sebuah benda pada telapak tangan Mesha, dan berbalik pergi meninggalkan Mesha yang masih berdiri kebingungan.


Mesha berlari sekuat tenaga mengejar Giyan, tetapi tangannya tetap tidak bisa menjangkau. Kemudian cahaya terang berpendar membuat Mesha menutup mata, lalu ketika matanya terbuka, dan memandang sekeliling, ia sudah berada di kamar, masih terbaring.


Mesha perlahan beringsut duduk, kemudian membuka tangannya yang tergenggam. Ia terkejut, gelang tangan manik pemberian Zay ada dalam genggamannya.


Mesha mengusap gelang manik itu, dan memakainya pada pergelangan tangannya seperti biasa.


"Apa yang harus aku lakukan?" Mesha bergumam seperti berbicara pada benda yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sementara itu, Mayang dan Bagas berdiri memandang Mesha yang mulai bersuara, dengan senyuman. Sebelumnya, Mayang lah yang memungut gelang yang terjatuh, dan menaruhnya dalam genggaman tangan Mesha, saat gadis itu terlelap.


*****


Setelah malam itu, Mesha sudah mulai "hidup" kembali. Ia mulai berbicara dengan Mayang, dan tersenyum saat Zafia ataupun Grisa yang datang untuk menjenguknya.


Memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuat Mesha kembali seperti semula.


Pada suatu hari, Zafia mencoba untuk mengajak Mesha berziarah ke makam Giyan. Ia lega melihat reaksi Mesha, ia sudah tidak lagi histeris seperti sebelumnya.


"Bagus! Ini lah Mesha yang kukenal!" seru Zafia saat Mesha benar-benar tenang ketika menginjakkan tempat Giyan dikebumikan.


"Sha, maaf ... aku udah gak bisa menemanimu lagi seperti biasa. Mungkin, sebentar lagi, aku mulai sibuk mempersiapkan diri untuk masa perkuliahan," tutur Zafia.


Mereka berdua sudah kembali dari pemakaman, dan duduk di teras rumah.


"Ya, Fi. Aku gak mau membebanimu. Maaf, beberapa waktu ini, aku sudah membuatmu sering datang ke rumah ini," sahut Mesha.


"Ah, itu. Kamu kan temenku, sudah sepantasnya aku ada di sampingmu dan mendukungmu," timpal Zafia seraya memeluk pundak Mesha.


"Terima kasih, Fi!"


Langit mulai merona berhias lembayung, burung-burung pun terbang kembali ke sarang. Tetapi, dua perempuan sebaya itu, masih duduk menikmati nyamannya udara sore dan semburat warna jingga pada cakrawala.


"Tetap semangat ya, Sha!" sela Zafia memecah sunyi yang tercipta.


Mesha tersenyum lalu mengangguk.


Bersambung ....


⭐⭐⭐

__ADS_1


Hai readers, terima kasih sudah membaca karyaku ini. Jangan lupa like dan komen ya, Lup yu!!! ❤


__ADS_2