
Mesha merasa seseorang mengejarnya saat berjalan di kegelapan. Ia memandang ke segala arah, berusaha mencari cahaya. Terus berlari tanpa memedulikan apa yang di hadapannya. Secercah cahaya mulai terlihat, dari yang tadinya setitik, makin membesar.
Mesha hampir menggapai cahaya itu hingga sebuah tangan berkuku hitam nan panjang, menarik tangannya yang terulur. Dengan cahaya yang seadanya, ia menyusuri tangan tersebut. Gadis itu terkejut bukan main, saat wajah pucat dengan senyum sinis yang kemarin ia lihat, hadir di sana.
Sekuat tenaga, Mesha berusaha melepaskan diri dari laki-laki tadi. Ia menangis, berteriak, meminta tolong. Hingga ia mendengar sebuah panggilan lembut. Tersentak dan bangun dari ranjang. Sebuah wajah lembut berbalut mukena, menjadi hal yang pertama dilihatnya saat membuka mata.
"Mimpi buruk, Nduk?"
Mesha mengangguk.
"Minum dulu."
Mesha mengambil gelas berisi air bening di tangan perempuan tersebut, lalu dengan cepat meneguk isinya hingga habis.
"Aku mau ke pasar, belanja buat masakan di warung. Kamu ndak apa-apa ditinggal sendiri?"
Mesha memandang sekeliling.
"Ya, Bu. Gak apa-apa."
"Oh, iya. Semalam pas bapak pulang, kamu sudah tidur. Bapak tidur di kursi ruang tamu. Kamu juga belum makan, kan, tadi malam? itu di dapur, aku sudah goreng beberapa pisang."
Hati Mesha menghangat. Ia baru mengenal perempuan itu, tetapi sudah diperlakukan begitu baiknya. Bahkan, saat ia belum mengenal nama perempuan tersebut.
"Ibu ... mmm ... terima kasih."
"Sri, namaku, Nduk."
"Ah, iya. Bu Sri."
Setelah melepas mukena dan melipatnya. Meletakkannya di meja kecil. Kemudian, perempuan paruh baya itu berjalan keluar kamar. Mesha menyentuh benda putih itu dan mengusapnya lembut. Ia bahkan lupa kapan terakhir mengenakannya. Bulir-bulir air mata kembali membasahi pipinya.
Mesha berjalan keluar kamar, berpapasan dengan Sri yang sudah menenteng keranjang belanjaan. Sementara di kursi ruang tamu, sebuah benda yang terbungkus sarung, bergerak-gerak. Kemudian duduk.
"Lah, kebetulan sudah bangun. Ini, Pak, anak yang tadi malam ibu bawa pulang."
Laki-laki yang masih mengantuk itu, mengusap kedua matanya. Kemudian mengangguk.
"Ibu mau ke pasar dulu. Genduk ndak ikut. Di dapur, ada kopi sama pisang goreng."
Lagi-lagi pria itu mengangguk.
__ADS_1
"Saya ke belakang dulu, Bu, Pak," pamit Mesha.
Kedua orang tua itu mengangguk.
Mesha memandangi kamar mandi di hadapannya. Begitu sederhana, tidak seperti di rumahnya. Semua dindingnya terbuat dari kayu, hanya ada ember besar dan gayung di bawah keran air. Ada kendi besar di sudut kamar mandi. Ia membuka sumpal kendi tersebut.
Sebisanya, Mesha membasuh tangan, kaki, dan wajah. Kemudian berdoa dengan caranya.
"Mau salat, Nduk?"
Mesha tersentak kaget mendengar suara laki-laki di belakangnya.
"Belum adzan Subuh, paling beberapa menit lagi. Apa mau salat malam?"
Mesha merasa malu, pipinya terasa hangat. Ia baru ingat, sekarang masih jam setengah empat pagi.
"Bapak mau pakai kamar mandi?"
Laki-laki itu mengangguk.
Secepatnya, Mesha menyingkir dari tempat itu, lalu kembali ke kamarnya. Dengan susah payah, gadis itu memakai mukena terusan tadi. Kemudian mengingat doa-doa yang pernah ia pelajari di sekolah. Gadis cantik itu menangis dalam sujud panjangnya. Ia benar-benar malu telah melupakan Tuhannya selama ini. Mungkin hal itu yang membuatnya nasib buruk selalu menimpa, begitu pikirnya.
Adzan subuh berkumandang mendayu-dayu, memecah kesunyian pagi. Mesha mendengar suara pintu depan terbuka. Ia berdiri dengan mukena masih membalut tubuhnya. Mengintip dari balik korden kamar. Ia melihat pria paruh baya, suami bu Sri, memakai baju panjang batik lusuh dan sarung yang terlinting ujungnya. Sajadah tersampir di pundak laki-laki yang berjalan sedikit bungkuk tersebut.
Sri menitikkan air mata saat diperlakukan dengan hormat oleh gadis yang berdiri di hadapannya. Ia benar-benar merasakan bahwa putrinya telah pulang.
"Aku mau salat dulu, sebelum subuh habis, Nduk." Sri memalingkan muka dan mengusap kedua ujung netranya.
Sementara itu, Mesha membawa keranjang penuh belanjaan ke dapur. Ia berjalan hati-hati karena takut isinya akan terguling. Terlalu banyak dan berat! Untuk kesekian kalinya, ia memandang sekeliling. Ia menghela napas. Merasa beruntung di besarkan di rumah yang lebih baik. Seketika, ia berpikir untuk menjual kebaya dan segala aksesoris yang ia pakai. Setidaknya ia bisa memberi sedikit uang.
Mesha kembali ke dapur dengan kebaya dan segala aksesoris saat Sri tengah asyik memotong sayur-sayuran.
"Bu, Ibu tahu di mana tempat jual benda-benda seperti ini?" Mesha mengulurkan barang-barang di tangannya.
"Buat apa, Nduk?"
"Saya gak mau membebani ibu dan bapak."
Tangis Sri pecah. Ia meletakkan pisau di tangannya, lalu memeluk Mesha.
Mesha terdiam dan membiarkan perempuan berusia itu memeluknya hingga tangisnya tuntas.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku, Nduk. Aku terbawa perasaan, aku teringat dengan almarhumah putriku."
Dahi Mesha berkerut saat mendengar perkataan Sri.
"Maaf, Bu. Kalau boleh tahu, kenapa putri ibu?"
"Putriku ... putriku sangat malang. Dia ... dia menceburkan diri ke dalam sungai. Dia ...." Sri terisak keras. Ia tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
"Dia hamil di luar nikah saat bekerja di luar kota. Laki-laki yang katanya ingin menikahinya, ternyata seorang laki-laki beristri. Lastri ndak kuat menahan malu, karena omongan tetangga."
Mesha menoleh ke sumber suara, di pintu dapur, ia melihat suami Sri, berdiri di sana. Ada genangan di sudut mata laki-laki itu.
"Ah, sudah. Sudah, jangan dibahas lagi. Pokoknya, anggap saja di sini rumahmu sendiri, Nduk."
"Apa bapak dan ibu gak takut sama saya? Kenapa terlalu baik? Bagaimana kalau ternyata saya seorang penjahat? Pembunuh misalnya?" Mesha memandang nanar pada perempuan dengan penutup khas tersebut.
"Kamu ni, Nduk, ada-ada saja, mana ada penjahat menangis di warung gelap masih pakai baju penganten?"
"Nyatanya, saya seperti itu, Bu. Suami-suamiku, meninggal saat malam pertama."
Kedua orang itu tercengang mendengar pengakuan Mesha.
"Bagaimana bisa?" tanya Sri.
Mesha menghela napas. Kemudian, ia menceritakan kisahnya saat menikah dengan Giyan. Diteruskan dengan pernikahannya kemarin, dipersunting Sakha.
"Jadi, kamu pergi bukan karena dipaksa menikah, Nduk?"
"Bukan, Bu. Itu karena kebodohan saya. Saya gak sanggup lagi menghadapi kenyataan pahit."
"Apa kamu pernah dengar istilah 'Bahu Laweyan', Nduk?" Laki-laki yang sedari tadi berdiri di depan pintu, sudah duduk di dipan tak jauh dari istrinya.
Mesha menggeleng.
"Apa itu, Pak?"
"Itu ... seperti kutukan. Bisa menimpa laki-laki maupun perempuan. Biasanya ada makhluk halus yang mencintai manusia. Terkadang badan manusia itu jadi tempat tinggal makhluk itu, atau hanya persinggahan. Biasanya ciri-ciri fisiknya. Ada tanda lahir besar warna merah yang tak lazim di salah satu bagian tubuhnya. Siapa pun yang menikahinya, akan bernasib buruk hingga kematian."
"Kok, serem amat, sih, Pak?" timpal Sri.
"Ya begitulah ...."
__ADS_1
Bersambung ....