
"Apa yang kamu dengar, Dek?"
"Gara-gara cerita itu, aku jadi nge-fans sama Mas Zay, Mbak."
"Kenapa bisa?"
"Jaman sekarang, sangat jarang laki-laki macam itu, Mbak? Gak mau dekat-dekat dengan perempuan, karena dia menunggu seseorang."
"Maksudnya?"
"Selama ini, Mas Zay gak pernah mendekati perempuan mana pun. Meski banyak perempuan yang mengejarnya. Dan aku paham kenapa Mas Zay mau menunggu perempuan itu. Kalau perempuan itu adalah Mbak Sha."
Yumna menceritakan semua yang didengarnya dari versi Zayan melalui apa yang dikisahkan Karman padanya.
"Makanya, Mbak. Itu gak adil buat Mas Zay, kalo cuma cinta bertepuk sebelah tangan. Setelah sekian lama ia menahan diri dan menunggu Mbak Sha."
Dada Mesha bergemuruh. Ia tidak menyangka sebesar itu perasaan yang dimiliki Zayan untuknya.
"Kamu gak disuruh Mas Zay untuk cerita kayak gini ke aku kan, Dek?"
"Hah? Maksudnya, Mbak?"
"Kalau ini strategi untuk meluluhkan hatiku, bilang ke Mas Zay. Itu gak akan berhasil."
Yumna menatap tajam ke wajah Mesha. Ia merasa kesal.
"Untuk apa aku lakukan apa yang dituduhkan Mbak Sha? Aku gak dapet keuntungan apa pun. Aku hanya bercerita tentang apa yang kudengar. Maaf, Mbak. Bukan maksudku mencampuri urusan Mbak Sha, tapi aku benar-benar prihatin lihat Mas Zay. Kalo memang Mbak Sha menolaknya mentah-mentah."
Mesha menunduk, menyembunyikan bulir yang sudah menggantung di ujung matanya.
"Entahlah, Dek! Aku hanya ... kamu tahu kan kutukan itu? Ingat, kan? Bagaimana kalo itu juga bakal menimpa Mas Zay. Bagaimana kalo ...."
Yumna menghela napas, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Melipat tangan di dadanya.
"Nasib setiap orang berbeda. Anggaplah, Mas Sakha kurang beruntung, Mbak. Teramat menyakitkan aku berkata seperti ini, tetapi hidup terus berjalan, Mbak. Mas Sakha juga pasti menginginkan Mbak Mesha melanjutkan hidup dan bahagia."
Yumna bangkit dari duduknya.
"Makasih atas makanan yang enak ini, Mbak. Terakhir kali, aku cuma mau bilang. Sesekali, menghargai perasaan sendiri itu juga penting!"
Mesha menatap punggung Yumna yang menjauh, keluar dari warung. Ia tak sanggup lagi. Tangisannya pecah, dalam keheningan. Sri membiarkan perempuan itu duduk sendirian dengan isak tangisnya.
Beberapa hari, Mesha tidak melihat Zayan di warung atau bahkan di kantor Bentala Swarga Group. Ia merasakan kehampaan yang besar di dalam rongga dadanya. Seperti ada lubang di sana. Hal itu membuatnya tidak bersemangat saat bekerja. Untungnya, ada gadis lain yang dipekerjakan untuk membantu warung tersebut.
"Kalau ndak enak badan. Istirahat saja, Nduk."
"Gak apa-apa kok, Bu. Saya gak kenapa-kenapa."
"Oh, ya sudah."
Mesha membereskan beberapa meja kotor. Tangannya terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.
Seorang gadis dengan kebaya modifikasi yang cantik. Riasan tipis menghiasi wajahnya. Lensa mata abu-abu yang ia pakai, membuatnya terlihat makin memesona.
__ADS_1
"Mbak Sha ngapain masih di sini?"
"Memangnya kenapa, Dek?"
"Lupa? Hari ini acara wisuda Mas Zay!"
Mata Mesha membelalak, ia benar-benar lupa. Bergegas lari ke meja kasir. Membaca waktu dan tempat acara wisuda yang tertera di undangan. Ia berjalan ke arah Yumna, memegang lembaran kertas tersebut.
"Tapi ... aku ... belum siap apa pun, apa aku layak untuk datang, Dek?"
Yumna berdecak kesal, ia menyeret Mesha keluar warung, sambil berteriak ke Sri, "Bu, pinjam Mbaknya sebentar, nanti saya kembalikan!"
Sri tersenyum lebar, ia melambaikan tangan, tanda setuju.
"Ikut aku, Mbak! Ini masih keburu! Haduh, Mbak Sha ini, bener-bener deh!"
Yumna terus menggerutu saat menyeret lembut Mesha. Sebuah mobil terparkir di depan warung. Wajah Karman yang tersenyum lebar muncul dari balik kemudi.
"Yok, Mas Ayangmbeb! Kita bawa tuan Puteri ke salon yang tadi!" Perintah Yumna pada Karman.
"Siap, Yang mulia Ratu!"
Yumna tertawa keras sambil membukakan pintu untuk Mesha.
Mobil sedan berwarna hitam tadi sudah meluncur ke sebuah salon ternama di kota kecil tersebut. Seorang laki-laki bergaya kemayu menyambut Yumna dan Mesha di depan pintu.
"Ola, Madame! Tolong buat Mbakku ini cantik bak seorang artis, ge pe el! ngerti? Ge pe el! Waktu kita hanya satu jam."
Yumna bertepuk tangan lembut.
"Cuz! Cuz! Madame!"
Laki-laki yang dipanggil Madame oleh Yumna tadi, memeriksa wajah Mesha.
"Ini mah cipirili! Kontur wajah dan kulitnya udah bener-bener cucok eimmmm!"
"Iya, iya, Madame. Terserah! pokoknya jangan buang-buang waktu."
"Akika jambak nih, kalo rempong terus!"
Yumna tertawa, sementara Mesha duduk dengan patuh di sebuah kursi, meski ia kebingungan.
Setelah memakan waktu beberapa lama, riasan wajah dan rambut Mesha sudah selesai.
"Hei Yuyu Kangkang, Yey pilih dah kebaya buat Mbak Yey ini!"
"Iya, ih, rempong!"
Yumna sempat diam, terkesima oleh kecantikan alami Mesha yang terpancar. Meski riasan di wajah perempuan itu sederhana saja. Cepat-cepat ia menuju ke lemari kaca berisi kebaya-kebaya modern. Tangannya menyentuh sebuah kebaya berwarna peach dengan mote bermotif akar.
"Ini, dia!"
Mata Madame dan Yumna terbelalak saat melihat Mesha keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
"Onde mande, Thursday!"
"Napa Madame tiba-tiba jadi orang Minang?" sela Yumna.
"Akikah tersepona! Cantiknya ada aura-aura bintang, gitu!"
Yumna tersenyum lebar, tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung membawa pergi Mesha.
"Urusan tagihan, ntar ya Madame! Aku ada misi penting dulu! Ciao Bella!"
"Dasar! Kebiasaan."
"Subhanallah, bidadari mana ini yang turun?" celetuk Karman saat melihat Mesha masuk ke dalam mobil.
"Ini bidadarinya orang, jangan macem-macem! Ayok, buruan ke kampus, waktu masuk gedung udah mepet!" Yumna menjewer lembut telinga Karman dari kursi sebelahnya.
Beberapa menit kemudian, Karman yang sudah dipanggil untuk masuk gedung, mendahului Yumna dan Mesha. Laki-laki itu berlari dengan toga yang tersampir di pundaknya. Hal itu membuat kedua perempuan tadi tertawa.
"Dia emang konyol seperti itu, Mbak. Tapi justru itu yang menarik, bagiku," papar Yumna.
"Pilihanmu gak salah, Dek."
Yumna mengeluarkan ponsel dari tas tangannya, ia menelepon seseorang. Sementara Mesha, ia memandang sekeliling gedung dengan perasaan canggung.
"Mas Zay udah di dalam, Mbak. Kita masuk aja lewat pintu penerimaan tamu."
"Oke. Kita masuk sekarang?"
"Tahun depan! Ya sekarang dong, Mbak Sha-ku yang cantik!"
Yumna berjalan mendekati seorang perempuan paruh baya, menyalami dan mengecup punggung perempuan itu.
"Ini, ibunya Mas Ayangmbeb, Mbak," bisik Yumna kepada Mesha.
"Oh ...."
Mesha mengikuti Yumna, menyalami dan mengecup punggung tangan perempuan tadi.
"Cantik banget, siapa nih, Nduk?"
"Calonnya Mas Zay, Bu."
"Wah, seleranya memang jempolan!"
Calon mertua Yumna, menepuk-nepuk lembut pundak Mesha.
"Ayo, masuk!"
Dari kejauhan, Grisa memandangi Mesha dengan perasaan terluka. Ayah, ibu dan Mbahkung Zayan, baru saja pamit untuk masuk.
"Aku pikir kamu yang dapat undangan itu, Nduk." Kalimat terakhir ibu dari Zayan, mencabik-cabik perasaan gadis tersebut. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan air mata.
Bersambung ....
__ADS_1