Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 24 : Kecurigaan.


__ADS_3

Sakha mengajak Mesha untuk makan di warung soto yang tak jauh dari kantor kelurahan. Biasanya mereka memesan, lalu pemilik warung akan mengantarkan pesanan ke kantor. Namun kali ini. karena terlambat makan siang, mereka memutuskan untuk makan di warung.


"Wah ... wah ... serasi banget emang dilihatnya ini," goda Mansyur, paklek pemilik warung soto.


"Apa sih, Lek? Nggak enak saya sama Mbak Mesha lho!" Sakha mulai menampik godaan Mansyur dengan malu-malu.


Sementara Mesha hanya tertawa lembut menanggapi gurauan paklek tadi.


Setelah menghabiskan satu porsi soto beserta minumannya, kedua orang tadi kembali ke kantor kelurahan.


"Aku mau ke toilet sebentar, silakan Mas Sakha duluan ke ruangan." Mesha membelokkan langkahnya tepat sebelum masuk ke dalam kantor.


"Oh iya, Mbak." Sakha mendahului langkah Mesha menuju ke ruangan tempat mereka bekerja.


Saat Mesha melangkah menuju toilet, sekelebat mata, ia menangkap sosok yang mengendap-endap berjalan menuju ruang arsip. Gadis itu menghentikan langkahnya, menyembunyikan diri sebisa mungkin. Kemudian ia mengamati sosok tadi. Tak lama kemudian, laki-laki yang sama dan berbaju khaki keluar dari ruangan tersebut. Di tangan pria tadi, terlihat sebuah map berwarna hijau.


Setelah sosok tadi menjauh, Mesha berjalan perlahan menuju ruangan arsip.


"Mbak, toiletnya kan di sana!" Suara bariton yang khas milik Sakha mengejutkan gadis tersebut.


"Eh, iya ... sebentar Mas Sakha. Sini! Ada sesuatu yang baru saja kupikir aneh."


"Ada apa, Mbak?" tanya Sakha saat sudah berdiri di depan Mesha.


"Tadi aku lihat sesuatu yang mencurigakan, Mas. Pak Bejo, tadi berjalan mengendap-endap ke ruang arsip. Aneh, 'kan?"


"Lalu, sekarang masih di dalam?"


Mesha menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan Sakha.


Pada akhirnya, Mesha berjalan cepat menuju toilet.


"Bentar, Mas. Ini bener-bener kudu ke toilet!" seru Mesha.


Sakha hanya tersenyum lebar melihat polah tingkah gadis tersebut.


Laki-laki itu memeriksa ke dalam ruangan arsip, mencari sesuatu yang mencurigakan. Namun, nihil. Kemudian ia kembali ke ruang kerjanya.


Setelah lega menuntaskan hajatnya di toilet, Mesha pun kembali ke ruangan tempatnya bekerja. Ia sibuk mencatat seperti biasa, hingga jam pulang tiba. Kemudian, ia menunggu jemputan bapaknya di tempat biasa. Sakha menghentikan motornya di hadapan Mesha.


"Apa sekalian saya antar saja, Mbak?" tawar laki-laki itu.


"Ng—nggak, terima kasih, Mas. Bapak sudah bilang mau jemput," jawab Mesha.


"Oh, ya sudah. Duluan ya, Mbak. Hati-hati!"


Cukup lama Mesha menunggu, Bagas, ayahnya. Namun, tanpa disadarinya, ada seorang pria yang duduk di atas motor memperhatikan dari kejauhan. Tatapan kekhawatiran muncul dari matanya yang tajam bagai elang.


Mesha merogoh tasnya, mencari sesuatu. Setelah tangannya menyentuh benda tersebut, ia mengeluarkannya cepat-cepat. Ia mencoba menelepon bapaknya dengan ponselnya. Namun suara operator seluler selalu berkata nomor yang ia tuju berada di luar jangkauan.


Mesha memutuskan berjalan kaki untuk pulang. Meskipun hari sudah semakin sore hampir surup. Tanpa sepengetahuan Mesha, Sakha yang sedari tadi mengamati dari kejauhan, datang mendekat.

__ADS_1


"Kok jalan kaki, Mbak? Bapak nggak menjemput?"


Langkah Mesha terhenti, lalu ia menolehkan kepalanya.


"Eh ... iya, Mas Sakha."


"Wah, kebetulan, aku tadi lewat sini. Eh, masih lihat Mbak Mesha. Ayo Mbak, saya saja yang antar Mbak pulang."


Mesha tersenyum setelah memperhatikan pria yang dengan motor di hadapannya.


"Mana mungkin kebetulan lewat, sepatu aja belum lepas." Mesha berbicara sendiri di dalam hatinya.


Sakha menunggu jawaban Mesha.


"Memang nggak apa-apa, Mas?"


"Ya, Mbak. Emang apa-apa, kenapa?"


"Mungkin ada yang bakal cemburu, gitu?"


Sakha tertawa mendengar kalimat Mesha, hingga memperlihatkan deretan giginya yang bersih dan rapi.


"Nggak ada, Mbak. Siapa yang mau cemburu? Kan Mbak Mesha tahu sendiri, kalo saya masih senggel dan nggak ada perempuan yang mau sama saya."


Giliran Mesha yang tersenyum.


"Ayo, Mbak! Keburu semakin sore," sela Sakha.


"Masa sih, nggak ada yang mau sama Mas Sakha?" Mesha mencoba memecah kecanggungan yang mulai tercipta.


"Iya, Mbak."


"Tapi Mbak Risa kalo memandangi Mas Sakha, kayak nggak mau berhenti lho, Mas."


"Masa sih, Mbak?"


"Iya! Bahkan kalo ada perempuan yang mengurus surat-surat kependudukan di kelurahan, pasti melihat ke arah Mas Sakha terus."


"Wah ... wah! Artinya, Mbak Mesha memperhatikan saya terus dong?"


"Heleh, jangan terlalu percaya diri deh, Mas!" Mesha tertawa saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Bagaimana dengan Mbak Mesha sendiri? Memangnya nggak ada yang cemburu?"


Mesha terdiam mendengar pertanyaan Sakha. Namun motor yang mereka berdua tumpangi, sudah berhenti di depan rumah Mesha.


"Nggak ada, Mas. Terima kasih atas tumpangannya." Dengan wajah lesu tertunduk, Mesha berjalan masuk ke dalam rumah.


Merasa tidak enak dengan ekspresi Mesha, Sakha turun dari motornya memanggil nama Mesha.


Mesha menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. kalau pertanyaan saya mengganggu Mbak Mesha. Saya sama sekali nggak bermaksud ...."


Tanpa menolehkan wajahnya, Mesha menyahut Sakha.


"Nggak apa-apa, Mas. Nggak perlu minta maaf. Maaf, saya mau masuk ke rumah dulu.


"Ah, iya ... iya, Mbak."


Sakha memandangi punggung Mesha hingga gadis itu masuk ke dalam rumah. Kemudian ia mengendarai motornya untuk pulang ke rumah. Setelah sampai, pria itu melempar tubuhnya ke atas sofa di ruang tengah. Seorang perempuan paruh baya keluar menyambutnya.


"Kok sore banget pulangnya, Kha?"


"Iya, Bu. Tadi ada urusan sebentar."


"Oh, ya sudah. Ganti baju dulu sana, bau!" Perempuan itu berpura-pura menutup hidungnya.


Sakha tertawa mendengar ledekan ibunya.


"Iya, Bu. Sebentar lagi ...."


"Ibu denger kalo di kantor ada pegawai baru, perempuan, bener Kha?"


"Iya, Bu. Dia seumuran kok sama Yumna. Dia juga ca--"


"Cantik? Dasar! Kamu kalo udah pengen nikah, ya nikah aja, Le! Uang pensiun bapakmu, masih bisa buat membiayai kuliah adikmu dan kebutuhan hidup kita, kok."


"Nggak, Bu. Sakha pengen Yumna selesai kuliah dulu, biar aku tenang berumah tangga juga dan ibu juga bahagia." Sakha memeluk ibunya dengan penuh kasih.


"Gusti, beneran udah kecut! Sana, mandi sekalian!" Ningsih menyingkirkan kedua tangan anaknya dengan lembut.


Namun Sakha malah kembali memeluk perempuan paruh baya tersebut.


"Seumuran kamu ini, kebanyakan udah pada ngekepi anak dan istri, malah wong tuwek iki dikekepi," kelakar Ningsih.


"Biarin! Nanti juga ada waktunya, Bu!" Sakha masih bermanja-manja dengan ibunya, meski sang ibu mencoba melepaskan diri.


Bersambung ....


***


Ngekepi : memeluk.


Wong tuwek : orang yang sudah tua.


Iki : ini.


Dikekepi : dipeluk.


***


Terima kasih sudah membaca ❤ Jangan lupa like dan komentarnya! 🌹

__ADS_1


Lup yu pul, tu de mun en bek! 💗


__ADS_2