Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 63 : Kegamangan


__ADS_3

Mesha tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Grisa datang ke warung di mana ia bekerja. Sebuah kebetulan atau memang gadis itu mengikuti? Pertanyaan tersebut berseliweran di kepala gadis itu.


"Mbak Mesha?"


Mesha berdiri lalu berjalan ke arah Grisa. Meninggalkan Zafia yang masih menerka-nerka gadis yang baru saja masuk itu.


"Silakan duduk, Gris. Mau pesan apa?"


Grisa memandangi celemek yang menempel di tubuh Mesha. Ia menautkan kedua alisnya.


"Mbak kerja di sini?"


Mesha diam, mengangguk. Menarik kursi, mempersilakan Grisa duduk.


"Maaf, Mbak. Bukan maksudku ... aku ...."


"Gak apa-apa, Gris. Aku memang bekerja di sini. Mau pesan apa? Nanti biar aku sajikan."


"Eh, itu ... yang jadi favorit pelanggan di sini aja. Biasanya, apa?"


Tatapan mata Grisa bertabrakan dengan pandangan menyelidik Zafia. Gadis itu merasa kurang nyaman. Kemudian ia berdiri.


"Dibungkus aja, Mbak!"


Langkah Mesha terhenti. Ia membalikkan badan.


"Oke."


Mesha membawa bungkusan pesanan Grisa dan makanan untuk Zafia.


"Maaf, menunggu sedikit lama," ucapnya saat mengulurkan bungkusan kepada mantan adik iparnya tersebut.


Setelah membayar makanan yang dipesan pada pemilik warung, Grisa berpamitan.


"Gak ngobrol dulu, Gris?"


"Maaf, Mbak. Aku terburu-buru, ke kampus.


"Oh, baiklah. Hati-hati di jalan. Kapan-kapan main ke rumah, Gris."


"Ya, Mbak."


Mesha kembali duduk di hadapan Zafia yang mulai menyantap makanan yang disajikan temannya.


"Itu ...."


"Adiknya, Mas Gi, Fia."

__ADS_1


"Oh, iya! Baru inget aku. Tapi kenapa dia di sini?"


"Aku kurang tahu, Fia. Tadi juga aku ketemu di kantor Zay."


Zafia menyemburkan minuman yang baru saja diseruputnya. Dengan sigap, Mesha mengambilkan tisu untuk gadis tersebut.


"Minumnya pelan-pelan, untung gak kena muka aku!" Mesha tertawa, menggelengkan kepala.


"Aneh, Sha. Kenapa cewek itu di sana?"


"Ya, gak aneh, Fia. Itu kan kantor, siapa saja bisa di sana. Termasuk Grisa."


"Tadi aku dengar dia mau ke kampus, dia masih kuliah kan?"


Mesha mengangkat bahunya sekejap.


Setelah mengelap mulut dengan tisu, Zafia kembali duduk menyandar dengan tangan terlipat di dada.


"Meneruskan tadi. Masalah laki-laki yang kamu tungguin itu ... kamu yakin gak akan berkata yang sesungguhnya?"


"Aku masih belum siap, Fia. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatku senang."


Pelanggan mulai banyak berdatangan, hal tersebut membuat Mesha meminta Zafia untuk menunggu.


"Aku bantu antarkan pesanan ke meja-meja pelanggan, Sha."


Zafia mendorong lembut Mesha.


"Kamu kayak ngomong ke siapa."


Hari ini Sri merasa bahagia, ia melihat anak angkatnya mulai ceria. Ia yakin bahwa gadis yang datang itu membuat perasaan anak perempuannya sedikit lebih ringan. Beberapa hari ini, ia memperhatikan raut wajah Mesha yang terlihat sedih. Bahkan helaan-helaan napas perempuan muda tersebut.


Setelah Mesha mengantarkan Zafia sampai halte bus, ia kembali ke warung. Sri menghadangnya di depan pintu.


"Kamu kalo capek, pulang duluan saja, Nduk."


"Gak apa-apa kok, Bu. Saya nunggu warung tutup saja pulangnya."


"Ya sudah."


Setelah berpamitan untuk beribadah, Mesha masuk ke dalam warung. Menuju ke bilik kecil di belakang warung. Kemudian, setelah selesai, ia duduk di depan meja kasir. Matanya memandang ke arah luar. Mengamati kendaraan yang lalu-lalang.


Mesha terkejut bukan kepalang, saat menangkap sebuah sosok di seberang jalan. Laki-laki berwajah pucat dengan pakain serba hitam memandanginya dengan senyuman yang malah terlihat seperti seringai. Perempuan itu memalingkan pandangan ke arah lain.


Di sisi lain jalan, Mesha seperti melihat sosok yang baru pernah ia lihat. Laki-laki tua berwajah teduh, dengan rambut dan pakaian serba putih. Kulit pucat dan busana yang dipakai, membuat pria itu terlihat seperti bercahaya.


"Apa itu malaikat?" gumam Mesha. Kemudian ia tersenyum, menggelengkan kepala. Meyakini bahwa itu hal yang mustahil. Merasa banyak berbuat dosa, tidak mungkin malaikat repot-repot mewujudkan diri di hadapannya.

__ADS_1


Ketika Mesha memindahkan fokus pandangannya lagi ke tempat awal. Kosong. Sosok serba hitam itu telah menghilang.


Di seberang jalan, Nirwasita merasakan bahwa gadis yang ia awasi, bisa melihatnya. Namun, pria itu juga merasakan jejak energi dari makhluk yang selama ini dicarinya. Di sisi lain. Ia bergegas mengikuti jejak energi itu, tetapi jejaknya menghilang di bawah pohon beringin tak jauh dari tempat tadi.


Ingatan Nirwasita terlempar ke ratusan tahun yang lalu. Di mana ia masih belum bertemu dengan manusia.


"Kenapa Mbah ndak coba sepertiku? Banyak manusia yang mau melakukan apa pun, agar keinginannya terwujud."


"Alam kita berbeda dengan mereka, Caraka. Jangan mengacaukan apa yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk mereka."


"Tapi ... mereka memberikan apa pun yang aku inginkan, Mbah. Termasuk jiwa mereka untuk kekuatanku."


"Hentikan itu! Dan hiduplah jadi makhluk yang nrimo ing pandum."


Caraka menatap tajam pada sang Kakek, ia sangat tidak suka jika ada yang menghentikan apa yang disukainya.


"Mbah egois! Aku ingin meningkatkan ilmu sihir dan energiku. Dan itu jalan yang termudah!"


Nirwasita menggenggam tangannya sendiri. Menahan amarah. Menjaga agar emosinya tidak meninggi. Ia tidak suka bahwa murid sekaligus cucunya itu melakukan hal yang menyimpang dari aturannya.


"Kalau kita ndak bisa mengendalikan manusia, kita yang akan dikendalikan dan diatur oleh mereka, Mbah! Makhluk paling tinggi derajatnya, apanya? Itu seperti dongeng saja! Bangsa kita yang lebih unggul!"


Nirwasita masih terdiam dengan mata yang masih menyorotkan rasa kekecewaan pada Caraka.


"Kita bisa menguasai dunia ini, Mbah! Kita diciptakan lebih tinggi dari manusia!" Caraka tertawa keras saat mengakhiri kalimatnya.


Amarah yang memuncak, membuat Nirwasita tidak tahan lagi. Ia sangat tidak suka, dengan semua perkataan laki-laki di hadapannya. Genggaman tangannya bersinar, tanpa sengaja, ia melepaskan sihirnya yang terkuat. Menghantam dada Caraka.


Caraka terpental jauh dengan rasa panas di dadanya. Ia marah, tetapi tidak bisa melawan.


"Ingat kata-kataku ini, Mbah! Kelak Mbah juga akan berurusan dengan manusia seperti apa yang aku jalani sekarang. Bedanya, aku yang mengendalikan mereka, Mbah jadi budaknya! Persetan!"


Nirwasita tersadar saat mendengar umpatan Caraka. Rasa penyesalan menjalari rongga dadanya. Ia ingin meminta maaf atas kekhilafannya barusan. Namun Caraka sudah terlanjur pergi dengan amarah yang mengubah wujudnya.


Lamunan Nirwasita buyar saat mendengar panggilan dari seseorang. Saat menoleh, ia menemukan wajah tampan cucu teman manusianya.


"Zayan!"


Zayan mengedarkan pandangan lalu berjalan ke bawah pohon Beringin di depan kantornya. Lengang, tidak ada seorang pun. Hanya dirinya dan laki-laki bercahaya di hadapannya.


"Kakek kenapa di sini?"


"Itu ... ndak, ndak ada apa-apa. Aku hanya **melihat ada jejak energi makhluk yang kukenali."


"Oh, begitu ...."


Nirwasita pergi setelah berbicara sedikit dengan Zayan. Ia ingin kembali ke pondoknya di alam lelembut.

__ADS_1


Sementara Zayan, ia berjalan ke arah lobi kantor, menemui kawan lamanya**.


__ADS_2