
Jalanan mulai lengang, orang-orang yang singgah pun mulai berkurang. Malam belum larut. Namun karena sehabis hujan, suasana jadi lebih sunyi ketimbang biasanya. Mesha masih merapihkan beberapa meja dan kursi di warung. Kemudian, gadis itu memandang jam di dinding.
"Ibu pulang dulu gak apa-apa, nanti biar saya selesaikan semua." Mesha melihat wajah Sri yang mulai didera lelah.
"Tapi, Nduk ...."
"Sudah, Bu. Gak apa-apa, sungguh."
Atas permintaan Mesha, Sri pulang lebih dulu. Meski mengkhawatirkan gadis itu di warung sendirian, larut malam begitu.
Setelah selesai membereskan beberapa barang dan bersih-bersih. Mesha mengunci warung dan berjalan pulang. Saat melewati jalan kecil di belakang warung, perempuan itu merasa ada seseorang yang mengawasinya dari jauh. Bulu kuduknya meremang.
Mesha sedikit mempercepat langkah, saat melewati kebun kosong dengan minim penerangan. Telinganya menangkap bunyi denting botol beradu. Tanpa menoleh, ia tetap berjalan.
"Hei, cewek! Mau Mas antar?" Dua orang laki-laki dengan botol di tangannya berjalan sempoyongan, mendekat.
Mesha mulai panik, ia mundur perlahan-lahan. Ia tersandung batu di tengah jalan. Kemudian jatuh terduduk.
"Mau ke mana, Cantik? Sini, main sama, Mas!" Laki-laki dengan celana jeans sobek-sobek dan kaos oblong, melambaikan tangan.
"Jangan macam-macam kalian! Atau saya akan berteriak!" ancam Mesha.
Serentak, kedua laki-laki dalam pengaruh alkohol tadi, tertawa. Mereka sudah sangat dekat dengan Mesha.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam bergerak cepat. Membuat kedua orang mabuk itu terpental jauh ke semak-semak. Mesha berteriak-teriak saat bayangan hitam itu membuat kedua pria tadi melayang.
"Lepaskan! Lepaskan!" teriak perempuan tersebut.
"Indi ... Indi! Apa itu kamu, Nduk?" Suara perempuan yang Mesha kenali, membuatnya menghambur ke arah sosok yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia lega, bahwa itu benar-benar Sri.
Sri memeluk erat Mesha dan menepuk-nepuk lembut punggungnya.
"Ada apa, Nduk?"
"Itu, Bu ... itu, ada orang mabuk yang mengganggu saya."
Mesha mencari ketiga sosok di belakangnya tadi. Kosong. Tidak ada apa-apa.
"Kamu yakin?"
Mesha mengangguk.
"Ayo, kita cepat pulang saja. Besok-besok, kalau mau pulang, lewat jalan besar aja, Nduk."
__ADS_1
Mesha menarik napas lega saat mereka berdua selamat, sampai di rumah. Sri mengulurkan segelas air putih untuknya.
"Di daerah situ memang kadang ada orang yang begitu, Nduk. Anak-anak kampung kadang suka minum minuman keras, terus mengganggu orang yang lewat. Tapi tadi kok gak ada apa-apa, aneh."
Mesha masih memikirkan bayangan hitam yang menyerang kedua laki-laki mabuk tadi. Ia tidak tahu itu makhluk jahat atau baik. Namun, sosok itu menyelamatkannya.
Malam semakin larut saat Mesha merebahkan tubuhnya di samping Sri. Memandang langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah berjamur di mana-mana. Berkali-kali, perempuan itu mengubah posisinya, berusaha tidur. Namun ia belum bisa memejamkan mata.
Mesha berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Ia merasa sangat haus. Sebuah gundukan berselimut sarung, terlihat di kursi ruang tengah. Dengkuran halus terdengar dari sana. Hatinya terenyuh. Ia ingin menghasilkan uang juga untuk membelikan tempat tidur yang layak untuk laki-laki tersebut.
Mesha terkesiap pada sosok yang berdiri di hadapannya. Di dapur. Wajah pucat, dengan pakaian serba hitam. Deretan gigi yang menguning kehitaman, terlihat saat laki-laki tersebut tersenyum lebar.
Mesha meraih sebuah sapu lidi dan menodongkannya pada sosok di depannya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu di sini?" tanyanya.
"Hai, Cah ayu, akhirnya kita bisa bertemu lagi."
"Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!"
Mesha mengibaskan sapu lidi di tangannya. Sambil membaca doa yang ia hapal dulu semasa kecil. Kedua matanya terpejam, ketakutan. Makhluk tadi menghilang setelah ia membuka mata.
Mesha berjerit-jerit saat merasakan tepukan halus di pundaknya.
Hatinya lega saat mendengar suara Zulkifli.
"Ma-maaf, Pak. Tadi saya lihat ... itu di sana."
Zulkifli memandang ke arah yang ditunjuk Mesha. Tidak ada apa-apa di sana.
"Kamu yakin, Nduk?"
Mesha mengangguk.
"Sudah, tidur lagi. Masih malam, Nduk."
Mesha kembali berbaring, tetapi ia masih belum juga terlelap. Ia meraba pergelangan tangannya. Baru sadar, bahwa gelang manik yang biasa ia pakai, tidak ada. Kemudian ia teringat kembali saat malam pernikahannya. Ia menahan isakan tangisnya. Kemudian jatuh tertidur.
Suara wajan berbenturan dengan solet dari arah dapur, membuat Mesha terbangun. Ia bergegas turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Ia melewati Sri yang sudah sibuk memasak untuk jualannya.
"Kenapa Ibu gak bangunin saya?"
"Tadi kayak masih nyenyak banget, Nduk. Mau salat? Buruan, sebelum subuh habis!"
__ADS_1
Mesha mengangguk.
Setelah melipat mukena dan meletakkan benda itu di tempat biasanya, Mesha berjalan ke dapur.
"Saya bantu apa, Bu?"
"Potong sayur itu saja."
Lama kedua perempuan itu saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bu, Bu Sri benar-benar gak lihat tiga laki-laki tadi malam?"
"Ndak, Nduk. Aku cuma lihat kamu yang teriak dan lari."
Mesha heran. Ia yakin betul, melihat orang-orang itu tadi malam. Meski remang-remang, ia masih bisa mengenali pakaian yang melekat di tubuh mereka.
Seperti biasa, setelah matahari bersinar, Zulkifli berpamitan berangkat untuk bekerja. Sedangkan Mesha dan Sri, menata masakan yang akan dijual di warung.
Mesha melihat kerumunan orang tak jauh dari mereka. Sebuah mobil polisi terpakir beberapa meter dari sana.
"Itu ada apa? Kok rame begitu?" celetuk Sri.
"Entah, Bu."
Sri menyetop seorang laki-laki yang melewatinya.
"Itu, Bu. Ada yang dibunuh, dua laki-laki. Mayatnya ditemukan di semak-semak kebun kosong sana."
Mesha terkesiap, ia mengingat kejadian tadi malam. Didorong rasa penasaran, ia mempercepat langkahnya. Menyeruak kerumunan orang-orang tadi. Keranjang di tangannya hampir jatuh saat melihat pakaian kedua mayat tadi yang terbujur kaku, tak jauh darinya. Seorang polisi berjongkok di antara kedua jenazah tersebut.
Mesha menutup kedua mulutnya. Mencegah agar teriakannya tidak lolos dari mulutnya. Ujung matanya basah. Ia yakin, kedua laki-laki itu adalah orang-orang yang mengganggunya, bahkan kedua botol minuman keras, masih dicengkeram erat oleh mereka.
Mesha cepat-cepat berbalik, ia hampir saja menabrak Sri yang berdiri di belakangnya tadi.
"Ma-Maaf, Bu ...."
"Kenapa, Nduk? Belum pernah lihat jenazah?"
"Bukan, Bu. Itu ... mengenaskan ... kasian, Bu."
Lidah kedua mayat itu terjulur kaku. Polisi membuat pengumuman di tempat, bahwa keduanya adalah korban pembunuhan. Meminta tolong untuk siapa saja yang mengetahui tentang kedua mayat itu, agar segera melapor. Mesha memejamkan mata, menghela napas keras. Kemudian, ia menarik halus tangan Sri.
"Ayo, Bu. Kita pergi dari sini!" pinta Mesha lembut. Sementara matanya menangkap penampakan sosok berbaju serba hitam, menyeringai. Di seberang.
__ADS_1
Bersambung ....