
Sinar matahari mulai meredup, menyinari sebuah tempat terbuka. Tempat di mana orang-orang terlelap di peristirahatan terakhir. Angin berembus sepoi-sepoi menggoyangkan daun-daun bunga seroja. Sunyi, hanya bunyi gerisik daun yang terdengar. Syahdu.
Seorang gadis dengan kacamata bulat besar dan kipas di tangan, berjongkok di depan sebuah gundukan tanah yang masih merah. Kerudung pasmina, menutupi kepalanya sekenanya. Berbagai macam bunga ditaburkan di atas pusara tersebut.
"Kenapa Mas pergi gitu, aja? Apa Mas beneran pengen nemenin bapak di sana? Mas Kha gak kasian sama aku dan ibu?"
Isak tangis mulai terdengar dari mulut gadis tersebut. Hari ini, ia memutuskan untuk kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu. Oleh karena itu, ia ingin berpamitan dengan kakak yang paling ia sayangi.
"Aku gak tahu, sampai detik ini, Mbak Sha belum datang, Mas. Bahkan, gak jenguk ibu sama sekali. Aku pikir Mbak Sha orang baik, tetapi dugaanku salah ... aku pamit, Mas. Sesuai janjiku, aku akan selesaikan kuliahku dan cepat mencari pekerjaan. Mas Kha yang tenang di sana."
Setelah mengusap lembut batu nisan Sakha, Yumna beranjak pergi. Sejujurnya ia tidak membenci Mesha sama sekali. Hanya saja, ia sangat kecewa karena sampai saat ini, perempuan yang kakaknya cintai itu belum terlihat. Bahkan, lari entah ke mana.
Keesokan harinya, Yumna sudah berada di kampus. Ia memandangi gelas berisi teh hangat yang ia pesan. Kehilangan Sakha, sebuah goncangan untuknya. Ia tidak bisa menelan makanan atau minuman dengan benar, selama beberapa hari ini. Bahkan kehadiran Karman yang biasanya heboh, ia anggap seperti angin lalu.
Karman yang saat itu mengembalikan beberapa buku ke perpustakaan kampus, merasa heran saat melihat kondisi Yumna sekarang. Ia sempat bertanya dengan beberapa teman dekat gadis tersebut.
"Itu minuman gak bakal berkurang kalau cuma dipelototi, thok!" Suara Karman, membuat Yumna tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa, sih?"
Secara reflek, Yumna memijit-mijit pangkal matanya dari balik kacamata andalannya.
"Gak apa-apa, kok." Kemudian sunyi lagi.
"Kamu seperti bukan Yuyum yang aku kenal selama ini."
Yumna tersenyum kecut, ia menggapai gelas di hadapannya lalu menyesapnya.
"Entahlah ... hal ini benar-benar mendadak, membuatku masih gak percaya ...."
"Oh, itu. Aku dengar dari anak-anak, aku ikut berduka untuk Kakakmu."
"Terima kasih."
"Yum, jadwal Bu Tika. Mau masuk, gak?" Seorang gadis berteriak dari seberang.
Dengan malas Yumna menjawab, "Ya, duluan aja. Aku nyusul."
Karman memandangi gadis tersebut.
"Kamu yakin, kalau kamu gak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut.
Yumna mengangguk.
Setelah saling terdiam beberapa saat, akhirnya Yumna berpamitan pada Karman. Ketika gadis itu berjalan menuju ruangan, ia tidak sengaja berpapasan dengan Grisa.
"Eh, kamu kuliah di sini ternyata?" sapa Grisa.
Yumna menyipitkan mata, berusaha mengenali gadis di depannya.
"Aku yang ... kita ketemu di pernikahan Mbak Mesha. Ingat?"
"Ah, itu. Bagaimana mungkin aku lupa?"
"Terus, gimana kabar Mbak Mesha? Kamu adik iparnya, kan?"
__ADS_1
Yumna kali ini begitu penasaran dengan Grisa. Ia mengorbankan jam kuliahnya. Ia ingin bertanya sesuatu pada gadis tersebut.
"Apa habis ini kamu gak ada jam?"
"Kayaknya gak, kenapa?"
"Boleh kita bicara?"
Grisa mengajak Yumna duduk di bangku taman komplek fakultasnya. Ia mengulurkan segelas kopi dingin pada gadis yang duduk di sebelahnya.
"Yang aku dengar, kamu mantan adik ipar, Mbak Sha?"
"He em."
"Kamu sangat mengenal Mbak Sha dan keluarganya."
Grisa mulai menceritakan kisah pertemuan hingga pernikahan kakaknya dengan Mesha. Bahkan hingga kejadian saat meninggalnya Giyan.
"Aku merasa kasihan sama, Mbak Sha, Yum. Aku harap, kakakmu langgeng sama dia."
Yumna menunduk. Ia terisak.
"Mas Sakha udah gak ada."
Sekarang giliran Grisa yang terkejut, matanya membuka lebar tak percaya.
"Dulu aku kira itu hanya rumor. Jangan-jangan ... itu benar!"
"Rumor tentang apa?"
"Jadi? Kakakmu korban juga? Apa kamu marah dengan Mbak Mesha karena ini?"
"Tadinya iya, tetapi setelah mendengar ceritamu. Aku kasihan. Sampai detik ini, yang aku dengar, Mbak Mesha belum pulang ke rumah."
"Astaga!"
Grisa pergi tepat setelah satu jam berbicara dengan Yumna. Kali ini, kekesalan di hati gadis tersebut, sedikit berkurang. Namun, ia bertekad untuk tetap mencari mantan kakak iparnya itu.
Sementara itu, di kantor Bentala Swarga group, Zayan masih disibukkan dengan pekerjaannya. Sementara gadis pucat itu masih duduk menungguinya di sudut ruangan. Beberapa makhluk yang berseliweran pun tidak bisa membuat laki-laki itu mengangkat kepalanya dari kumpulan kertas-kertas.
Zayan duduk di sebelah gadis tadi. Tanpa memandang wujud itu, ia mulai berbicara.
"Sebenarnya, apa yang bisa aku bantu?"
"Itu ... aku meninggal dunia karena kebodohanku. Aku belum sempat berpamitan kepada kedua orang tuaku."
"Lalu? Aku harus apa?"
"Bolehkah aku meminjam tubuhmu?"
Zayan berdiri, ia tidak mau mengabulkan keinginan gadis tersebut.
"Gak, aku gak bersedia."
__ADS_1
"Hanya agar aku bisa berbicara dengan kedua orang tuaku. Setelah itu, aku akan pergi."
"Gak, gak bisa! Pakai cara lain!"
"Apa?"
"Entah!"
Zayan pulang dengan perasaan kesal karena gadis dari dunia lain itu terus-menerus merengek dan memohon. Sikapnya terbaca oleh Arsyanendra.
"Kamu kenapa to, Le? Dari tadi, mbecu terus. Ada masalah di kantor?"
"Itu Mbahkung, makhluk yang Zay ceritakan. Ia ingin meminjam tubuh Zay."
"Jangan, ndak boleh!"
"Ya, Mbahkung, Zay tolak."
Nirwasita mewujud di depan kedua laki-laki beda generasi tersebut.
"Ada apa?" tanya makhluk tersebut.
Zayan menceritakan kejadian tadi siang di kantor.
"Kalau cuma berkomunikasi, ada cara lain. ndak harus menggunakan media tubuh manusia."
"Besok bawa aku ke tempat orang yang ingin ditemui makhluk tersebut, Le."
"Aduh! Aku lupa, belum bertanya tentang itu, Kek."
"Baiklah. Besok tanyakan."
Sesuai permintaan, Nirwasita, Zayan berbicara lagi dengan gadis yang akan ditolongnya tersebut. Mencari siapa yang ingin ia temui
"Itu orangnya." Gadis itu menunjuk ke arah seorang laki-laki paruh baya berseragam office boy.
"Pak Zul?"
Mendengar namanya dipanggil. Zulkifli menoleh.
"Mas Zay panggil saya?"
"Oh, eh, itu ... gak apa-apa, Pak. Gak jadi."
Zulkifli menganggukkan kepala dengan sopan kemudian pergi.
Zayan berjalan menuju ke dapur. Sosok gadis itu masih mengikutinya. Sungguh sebuah kebetulan, is melihat Zulkifli di sana. Pria berambut gelombang dengan sedikit uban itu, sedang mengelap meja dapur dan kompor.
Lama Zayan memandangi Zulkifli. Ia tidak tahu kenapa makhluk itu sangat ingin berbicara dengan laki-laki paruh baya tersebut.
"Pak, apa Pak Zul dulu punya seorang putri?"
Tangan Zulkifli terhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Bagaimana sampean tahu?"
Bersambung ....