Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 25 : Mencari Petunjuk.


__ADS_3

Tak terasa, sudah lama Mesha bekerja di kantornya sekarang. Meskipun hanya sebagai administrator. Setidaknya ia mulai bisa mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Dari pada berdiam diri di rumah, nglangut.


"Nduk, udah sampai lho ini. Ndak mau turun to?" Suara bapaknya membuyarkan lamunan Mesha.


"Oh ... iya, Pak." Mesha buru-buru turun dari boncengan, mengecup punggung tangan pria di hadapannya dengan takdzim, lalu berjalan menuju ruangan tempatnya bekerja.


Suasana kantor masih sepi, hanya terlihat Paijo di sana, tukang kebun sekaligus tukang jaga kantor kelurahan. Laki-laki itu sibuk memangkas pohon-pohon hias yang mulai semrawut dan tak beraturan. Melihat kedatangan Mesha, Paijo menyapa gadis tersebut. Pemilik wajah cantik itu mengulas senyum untuk membalas sapaan Paijo.


Untuk ke dua kalinya, Mesha melihat sosok mengendap-endap mendekati ruang arsip. Gadis itu dengan hati-hati mengikuti sosok itu lagi. Kemudian, ia berjongkok di balik semak yang lumayan rimbun untuk menyembunyikan tubuhnya. Kedua matanya mengamati sosok tadi. Laki-laki mencurigakan itu keluar dari ruang arsip dengan membawa sebuah map di tangannya.


"Tunggu! Warna map itu ...." Mesha bergumam sendiri. Namun beberapa saat kemudian, tepukan halus di pundaknya membuat ia terkejut. Jantungnya berdetak semakin kencang.


"Aduh, apa aku ketahuan sedang mengintai?" kata gadis itu dalam hati.


Perlahan Mesha memalingkan wajahnya. Saat tahu siapa yang menepuk pundaknya, ia tersenyum lega.


"Ngapain di situ, Mbak?" tanya laki-laki tadi, yang tak lain adalah Sakha.


"Gusti Allah! Aku kaget, Mas. Kirain tadi siapa," sahut Mesha.


"Siapa Mbak?"


Mesha bangun dari jongkoknya, lalu dengan reflek memegang pergelangan tangan Sakha. Gadis itu menarik Sakha masuk ke dalam ruang arsip. Berbeda dengan Mesha yang begitu santai, cengkeraman lembut Mesha, membuat sensasi aneh yang menjalar hingga ke dada Sakha. Laki-laki itu merasakan degup jantungnya semakin kencang.


"Mas, tadi aku lihat Pak Bejo masuk ke ruang ini lagi. Sepertinya ia membawa map yang berisi laporan keuangan yang aku ketik kemarin, Mas," ujar Mesha.


Sakha masih terdiam, memegangi dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang bakal meloncat ke luar dari sana.


"Mas?" Mesha menolehkan wajahnya, ia terkejut saat menangkap ekspresi wajah laki-laki yang diseretnya tadi.


"Ma—maaf, Mas!" Gadis itu melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Sakha.


"Eh, oh ... itu ... ng—nggak apa-apa, Mbak. Tadi Mbak Mesha bilang apa?" Sakha gelagapan menyahut perkataan gadis di hadapannya. Namun, Mesha malah tertawa.


Sakha semakin salah tingkah melihat tawa Mesha. Ia tersenyum canggung.

__ADS_1


"Tangan Mas Sakha nggak apa-apa, 'kan?" tanya Mesha lagi.


"Nggak apa-apa, cuma kaget aja. Kulit ini kan kulit badak, Mbak. Nggak bakal kenapa-kenapa dipegang tangan sehalus itu." Sakha berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang semakin menggila.


Mesha memalingkan wajahnya, menahan tawa. Kemudian ia menuju rak tempat ia menyimpan map berisi laporan keuangan. Ia keheranan, map itu masih ada di tempatnya.


"Masih ada, terus tadi Pak Bejo bawa map apa?" gumam Mesha.


"Gimana, Mbak? Apa ada yang hilang?"


"Nggak ada, Mas. Aneh ... tapi aku yakin, tadi Pak Bejo membawa sebuah map dari ruangan ini, aku hapal betul warna mapnya." Mesha mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri dengan telunjuknya.


"Terus, gimana Mbak?"


"Apa aku bawa dulu, nanti aku cek ulang, kebetulan ada salinannya di komputer rumah, Mas."


Setelah meneliti beberapa hal, Mesha meyakinkan dirinya untuk meneliti ulang laporan yang ada di tangannya sekarang. Ia buru-buru memasukkan map tadi ke dalam tasnya. Kemudian, ia mengerling pada arloji di pergelangan tangannya.


"Udah waktunya masuk kantor, Mas. Yuk, nanti kita bahas lagi!" Mesha mengajak Sakha untuk keluar dari ruangan tadi. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan.


Suasana kantor sudah mulai ramai, para pegawai sudah mulai berdatangan. Saat beberapa orang sadar tentang kedatangan Mesha dan Sakha yang bersamaan, mereka menggoda keduanya. Seketika, ruangan menjadi riuh riang. Reaksi Mesha biasa saja, hal itu berbanding terbalik dengan Sakha. Wajah laki-laki itu bersemu merah, meskipun ia berusaha menutupinya dengan tawa lebar.


*******


"Kamu hati-hati kalo bertindak. Anak baru itu lebih jeli ketimbang pegawai yang lama." Laki-laki itu mengelus-elus dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis.


"Nggih, Pak," jawab laki-laki paruh baya di hadapannya.


"Kamu tahu, to? Apa akibatnya kalau sampai kita ketahuan? Ndak cuma karir kita yang hancur, tapi bisa saja dijebloskan ke penjara. Kamu mau gitu?"


"Ndak mau, Pak."


"Bagus, sekarang ayo kita masuk! Sudah mulai ramai itu kantor."


*******

__ADS_1


Mesha berdiri di belakang Bagas, ia menunggu bapaknya itu selesai memakai komputer di hadapannya. Merasa ada yang mengawasinya, Bagas buru-buru memalingkan wajahnya.


"Lho? Ada apa, Nduk?" tanya Bagas saat melihat Mesha berdiri di belakangnya.


"Itu ... kemarin Echa memasukkan salinan pekerjaan di komputer Bapak. Bapak masih lama pakai komputernya?" sahut Echa.


"Oh, sudah selesai kok, ini. Pakai aja, Nduk! Tidurnya jangan kemalaman lho!" Bagas segera menutup pekerjaannya di layar komputer, lalu berdiri, mengelus rambut Mesha dan masuk ke kamar.


Mesha tersenyum, lalu duduk di depan layar komputer mencari file yang disimpannya beberapa hari yang lalu. Gadis itu mulai meneliti kembali satu per satu angka-angka yang tertulis di sana. Ia membandingkan dengan yang tertulis di map yang dipegangnya. Gadis itu tertegun, begitu banyak angka yang berubah. Ia menggelengkan kepalanya. Bahkan beberapa kuitansi seperti dibuat-buat untuk mengikuti angka-angka tersebut.


"Gilaaaa, bener-bener penipuan!" pekik Mesha tertahan.


Mesha sadar betul, bila semua ini ketahuan. Bisa jadi, malah ia yang tertuduh. Namun di hatinya, gadis itu tetap bertekad untuk membongkar masalah ini. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di meja ruang tengah. Ia berusaha menghubungi Sakha.


Nada sambung masih terdengar di seberang sana. Mesha mengerling jam yang tergantung di dinding.


"Astaga! sudah jam sepuluh, ternyata!" Gadis itu berniat untuk mematikan panggilannya, tetapi suara Sakha mengucap salam sudah terdengar.


"Maaf, Mas. Apa aku membangunkanmu?" ucap Mesha sesaat setelah menjawab salam.


"Nggak, Mbak. Saya belum tidur kok. Apa ada hal penting sampai menelepon aku, Mbak?"


Mesha menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berbicara.


"Mas, aku baru selesai mengecek semua yang tertulis di laporan yang kubawa dari ruang arsip. Semuanya berubah! Angka-angkanya begitu besar, Mas!"


"Terus, Mbak?"


"Sampai kuitansi-kuitansinya juga berubah, Mas! Kita harus menemukan laporan yang asli. Atau ... bisa jadi, aku atau Mas Sakha yang tertuduh."


"Mbak Mesha tenang dulu, ini sudah malam, Mbak istirahat aja. Besok kita bicarakan di tempat yang aman."


"Iya, Mas. Maaf, sudah mengganggu ...."


"Nggak kok, Mbak."

__ADS_1


Bersambung ....


🥀🌹 Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar dan like-nya! ❤ Lup yu pul tu de mun en bek! ❤


__ADS_2