Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 80 : Permulaan Kebahagiaan.


__ADS_3

Zayan memejamkan mata, memfokuskan segala daya batin dan pikirannya. Memanggil pedang cahaya yang diberikan oleh Nirwasita. Kemudian merapalkan amalan zikir yang sudah sering ia lakukan setiap harinya.


Sebuah pedang cahaya, muncul begitu saja dari genggaman tangan Zayan. Laki-laki itu membuka mata kembali.


"Lumayan! Ternyata aku ndak boleh meremehkan manusia sepertimu."


Caraka merasakan energi positif dari pedang cahaya di hadapannya, mulai mengintimidasinya. Laki-laki itu mulai menyerang Zayan dengan tongkat berkepala ular miliknya.


Dalam sekejap, kedua makhluk berbeda jenis itu telah saling menyerang. Kilatan-kilatan cahaya yang muncul saat kedua senjata bertumburan, menerangi kamar yang temaram. Di atas ranjang, Mesha melihat pemandangan tersebut dengan berkali-kali menarik napas penuh kekhawatiran.


Doa dan permintaan, Mesha ucapkan dalam bisikan. Ia ingin semua berlalu dengan kebenaran yang menang.


Zayan yang manusia biasa, mulai terdesak dengan ilmu kanuragan Caraka. Beberapa pukulan yang melayang ke dadanya, membuatnya terbatuk-batuk. Napasnya tersengal-sengal.


Caraka berhasil menjatuhkan Zayan, hingga laki-laki itu tergeletak di lantai. Mesha segera berdiri. Namun, ia segera berteriak, menahan perempuan itu untuk mendekatinya.


"Aku mohon, jangan sakiti suamiku! Lepaskan dia! Bawa saja aku!" teriak Mesha, mulai frustasi.


"Diam saja, kamu! Pastinya, kamu akan jadi milikku, telingaku gatal mendengar kamu menyebutnya suami."


Zayan tertawa, meski sekujur tubuhnya terasa sakit.


"Aku memang suami sahnya! Makhluk sepertimu, seharusnya tahu, seberapa besar kekuatan janji sakral itu! Bahkan 'arsy pun terguncang karenanya. Sampai mati pun, aku akan mempertahankan istriku!"


Zayan kembali bangkit. Ia kembali menyerang habis-habisan Caraka. Sejenak, dalam pikirannya, terlintas segala petuah bijak Kakek Nirwasita. Ia juga teringat dengan rahasia yang ada pada gelang yang diciptakan sepasang.


Sambil tetap menyerang Caraka, Zayan berpikir keras bagaimana caranya menggunakan kekuatan pada sepasang gelang itu, sementara gelang itu masih melindungi Mesha dengan kubah gaibnya.


Zayan lengah, ia tidak sadar bahwa tembakan sihir hitam diarahkan tepat ke jantungnya. Dalam waktu bersamaan, kilatan bayangan putih melesat cepat menghalangi sihit hitam tadi.


Nirwasita menggelepar, setelah menghantam tembok kamar. Rupanya, ia menjadikan tubuhnya sebagai pelindung untuk Zayan. Menerima sihir hitam yang telah diluncurkan. Caraka terkejut, dalam hatinya, ia tidak mau melukai satu-satunya makhluk yang ia hormati. Ia berdiri terpaku.


Zayan berteriak, ia memanggil nama Nirwasita. Bergegas mendekati laki-laki tersebut. Cairan berwarna hitam pekat, dimuntahkan dari mulutnya.


"Kakek, apa yang Kakek lakukan? Kenapa seperti itu?"


"Aku berjanji pada Mbahkung-mu untuk melindungimu, Le. Itu sudah menjadi tugasku. Selesaikan tugasmu juga, jangan pedulikan aku!"


Mesha terisak di tempatnya duduk, sekali lagi, ia ingin menyerahkan diri. Namun, Zayan dengan keras melarangnya.


Nirwasita mengacungkan tangannya, ia mengambil dua gelang yang melindungi Mesha sekaligus membuat kubah lain untuk melindungi perempuan itu.


"Kubah perisai itu adalah energi terakhir yang kumiliki, Le. Aku sudah terlalu lelah berada di dunia fana ini. Maukah kamu membantuku untuk tugas terakhirku?"


Zayan menangis, ia tidak mau kehilangan teman kakeknya itu. Di sisi lain, Caraka pun merasakan ketidakrelaannya. Ia masih tertegun.

__ADS_1


Nirwasita mengikatkan kedua gelang tadi pada pedang cahaya di genggaman Zayan.


"Bismillah, jadilah apa yang seharusnya terjadi!" ucap Nirwasita.


Pendar cahaya pada pedang itu semakin terang. Zayan meletakkan kepala Nirwasita pada lantai. Laki-laki itu berdiri. Dengan gerakan cepat dan bertubi-tubi, ia mulai menyerang Caraka kembali.


Beberapa saat kemudian, tubuh Nirwasita memudar, lalu mengurai berkeping-keping. Masuk ke dalam pedang cahaya tadi. Dengan air mata mengalir deras, Zayan terus menyerang Caraka, lantunan doa dan zikir tak putus dari mulut laki-laki tersebut.


Caraka yang menyaksikan sang kakek menyerpih, mulai lemah. Sejahat apa pun makhluk itu, ia tidak bisa kehilangan makhluk yang merawat dan mengasuhnya sejak kecil. Hingga hunusan pedang Zayan, berhasil menusuk dadanya.


Seperti pasrah, Caraka diam tanpa melawan. Untuk pertama dan terakhirnya, makhluk itu menangis dan menjerit.


"Maafkan aku, Kek!" teriak Caraka saat tubuhnya mulai menyerpih. Sebelum menghilang sepenuhnya, wajah pucat itu dibanjiri air mata.


"Innalilahi wa inna ilaihi roji'un ...." Zayan menundukkan kepala dalam-dalam. Air mata mengalir dari sudut kedua matanya.


Pedang cahaya dalam genggaman Zayan, kembali masuk ke dalam telapak tangannya. Kubah pelindung yang melingkupi Mesha pun menghilang. Perempuan itu segera berlari, menubruk suaminya, lalu terisak.


Malam itu begitu panjang bagi Mesha dan Zayan. Setelah menemani Mesha hingga terlelap, laki-laki itu keluar dari kamar. Menghela napas panjang, mengembuskannya keras-keras. Kemudian menunduk, memandangi kedua telapak tangannya dengan sedih.


Arsyanendra berjalan mendekati cucunya. Zayan mengangkat kepalanya saat merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya.


"Mbahkung ... Kakek Nirwasita ...."


Arsyanendra mengangguk, air mata terlihat membasahi matanya.


Pagi hari, orang-orang sudah mulai berdatangan. Tamu undangan pun sudah mulai terlihat. Di kamar, Mesha masih dirias, beberapa gadis menemaninya di sana.


Zayan yang mengenakan Jasko putih gading berpayet emas, berdiri di ruang tamu, menemani teman-temannya yang datang sebagai tamu undangan. Yumna dan Karman sudah datang setelah subuh. Wiryawan dan istrinya, baru terlihat turun dari mobil.


"Grisa nanti datang, menyusul, katanya ada sedikit urusan di kampus."


Zayan tersenyum getir. Ia merasa tidak enak saat mendengar Wiryawan mengatakan hal tersebut. Perasaannya makin tidak nyaman saat mengingat ia dengan bodohnya mengundang gadis yang menaruh hati padanya.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berwarna merah, berhenti. Seorang laki-laki yang baru dilihat Zayan, turun dari mobil, lalu membukakan pintu di sisi lain. Gadis yang baru saja turun dari kendaraan itu, ia kenali dengan baik.


"Ah, itu Grisa!" Gumaman Wiryawan yang terdengar oleh Zayan.


"Itu ...."


"Teman dekat Grisa, katanya." Wiryawan menyambar perkataan Zayan yang menggantung.


"Ah, maaf. Ayo, silakan masuk, Om, Tante."


Grisa memanyunkan bibirnya, lalu tersenyum. Gadis itu memukul lembut pundak Zayan.

__ADS_1


"Mas Zay pikir aku gak akan datang?"


"Kan, ini juga acara mendadak, Dek."


Laki-laki muda yang berdiri di samping Grisa, mengulurkan tangan kepada Zayan.


"Ini ...."


"Saya teman ...."


"Pacarnya Grisa lah, Mas! Siapa lagi?"


Laki-laki tadi kebingungan, lalu tersenyum lebar.


"Ah, begitu! Ayo, ayo, silakan duduk! Di dalam ada Yumna juga."


"Aku di sini aja, Mas. Sama dia."


Acara demi acara, siang itu berlangsung sangat lancar. Pencatatan nikah secara hukum negara pun sudah dilakukan. Berbagai hidangan disuguhkan dan beberapa lagu dari biduan, menghibur para tamu undangan.


Zayan memutuskan untuk tidak melakukan upacara adat. Ia mengalah. Menjaga perasan sang istri.


Tiba-tiba, hujan turun begitu deras beserta angin, beberapa saat kemudian, reda seketika dan kembali cerah.


Zayan teringat dengan perkataan Nirwasita.


"Jika kelak aku mungkin sudah tiada di dunia fana ini, aku akan tetap hadir untuk menyaksikan kebahagiaanmu. Hujan lebat bercampur angin, tetapi sekejap, itu pertandanya."


Zayan tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. Kemudian, menunduk.


"Terima kasih, Kek!" Laki-laki itu bergumam.


Hari semakin sore, saat Zayan selesai berwudhu. Tamu-tamu kebanyakan sudah pulang. Hanya tersisa beberapa keluarga yang masih mengobrol. Ia mengetuk pintu kamar Mesha. Beberapa saat kemudian, perempuan itu membuka lebar pintu kamar.


"Udah salat, Dek? Yuk, bareng!"


"Aku ... aku halangan, Mas. Baru tadi pagi."


"Pantas saja! Terus ntar malam?"


Mesha tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Yaaaah, puasa dulu?"


Tawa gadis-gadis terdengar dari dalam kamar.

__ADS_1


Zayan buru-buru pergi menahan malu.


Sekian.


__ADS_2