Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 74 : Beradu Keteguhan


__ADS_3

Zayan mengaduk-aduk makan siangnya, terlihat tak berselera. Sementara itu, di hadapannya, Karman duduk memerhatikan sahabatnya itu.


Siang itu, tiga sekawan itu membuat janji untuk makan siang di warung makan Zulkifli. Seperti biasa, situasi di sana sedikit ramai. Dipenuhi pelanggan.


"Surem banget mukamu, Mas Bro. Beneran, bagaikan matahari tertutup mendung."


"Ya gimana gak surem? Baru saja aku menemukan perempuan yang aku cari. Dia udah pergi lagi."


Di sebelah Karman, Yumna terbatuk-batuk, tersedak. Dengan cekatan, Karman menyorongkan gelas berisi air minum kepada kekasihnya itu.


"Ke mana lagi Mbak Sha-nya, Mas Zay?"


"Entahlah, aku harus cari dari mana. Kemarin aku ke rumahnya, ibunya bilang dia pergi cari kerja di luar kota."


"Di mana, Mas?"


"Di ... eeemmm ... kota K, tempat temannya. Za--Zafi--, siapa gitu."


"Zafia?"


"Iya, itu Yum."


Wajah Yumna berseri-seri seperti habis menang lotere besar. Matanya berkedip-kedip.


"Ngapain itu ngapain?" sela Karman.


Yumna menempelkan jari telunjuknya ke bibir Karman sambil mendesis.


"Mbak Zafia itu sepupuku, Mas! Kalo mau, aku telepon dia sekarang. Tanya di mana alamat kontrakannya."


Sekarang giliran wajah Zayan yang berseri-seri.


"Sungguh? Telepon sekarang bisa?"


"Bentar, to, Mas! Aku selesaiin makan siangku."


Kemudian, ketiga orang tadi diam. Menyelesaikan makan siang masing-masing.


Sesuai janji, Yumna menelepon sepupunya, setelah makan siang. Sepanjang pembicaraan dengan perempuan di sebelah sana, gadis itu terus tersenyum. Ia juga meminta kepada Zafia untuk merahasiakan dari Mesha, bahwa ia telah meneleponnya.


"Mbak Fi, pengen Mbak Sha hidup bahagia, kan? Percaya aja deh, sama Yuyum!" Kalimat itu mengakhiri percakapan Yumna di sambungan telepon.

__ADS_1


Zayan hampir saja melonjak kegirangan saat Yumna menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat kontrakan Zafia.


"Terima kasih, Yum. Aku gak tahu harus gimana untuk membalasmu. Terima kasih, Man, sohibku!"


"Santai aja, Mas. Aku ikut bahagia kalo Mbak Sha dan Mas Zay bahagia. Gak usah dibales apa-apa, cukup undang aku dan Masmbebku pas di nikahan kalian aja!"


"Tentu!"


Zayan tak henti-hentinya tersenyum lebar. Ia ingat betul perkataan Mbahkungnya. "Jika kamu bersungguh-sungguh dalam usaha dan ikhtiarmu, kamu ndak akan dikecewakan oleh hasilnya. Dan jangan lupa! Pasrahkan semuanya, pada Gusti Allah."


Di tempat lain, Arsyanendra begitu tidak suka dengan apa yang telah diperbuat oleh putrinya. Malam kemarin, Zayan menceritakan apa yang terjadi hingga Mesha kembali menghilang. Laki-laki tua itu tahu betul, bahwa kepergian Mesha, karena perempuan itu ingin menjauhi Zayan atas perintah Kartika.


"Aku sudah peringatkan kamu to, Nduk? Jangan hancurkan hati putramu seperti itu. Dia anak baik dan selalu patuh padamu, tetapi kenapa kamu malah seperti itu?" Arsyanendra berbicara dengan sang putri lewat sambungan telepon.


"Tapi, Bapak ... bagaimana kalo Zay celaka seperti suami-suaminya terdahulu?"


"Sejak kapan kamu berubah jadi seperti itu? Aku ndak pernah mengajarimu semacam itu! Jodoh, pati, rejeki, itu sudah diatur sama Gusti Allah. Sepatutnya manusia, sebagai makhluk-Nya, kita berusaha dan berpasrah diri."


"Aku sebagai ibunya cuma khawatir, Bapak ...."


"Ndak perlu mikir macem-macem, aku juga ndak akan tinggal diam. Dah, kamu ndak perlu seperti itu lagi!"


Arsyanendra menutup telepon dengan perasaan kecewa. Laki-laki itu menyayangkan apa yang telah dilakukan Kartika.


Malam telah tiba, suara ketukan di pintu depan membuat Arsyanendra bangun dari kursi kesayangannya. Ia merasa heran, cucunya telah meneleponnya tadi. Mengabarkan kepulangannya yang larut, malam itu.


Arsyanendra begitu terkejut, saat melihat wajah yang muncul ketika ia membuka pintu.


"Mas Zay ada, Kek?" tanya gadis itu.


"Dia belum pulang."


"Tetapi, di kantornya tadi gak ada."


Melihat gadis itu yang datang, itu sebuah kebetulan bagi Arsyanendra.


"Bisa kamu duduk sebentar, mengobrol denganku?"


Perkataan laki-laki berusia senja yang berdiri di hadapannya, membuat hati Grisa sedikit hangat. Ia bertanya-tanya, apa kakek dari laki-laki yang ia dambakan itu, mulai membuka hati untuknya.


Arsyanendra mempersilakan Grisa untuk duduk di kursi yang ada di teras.

__ADS_1


"Aku sebenarnya ndak suka basa-basi. Jujur, aku ndak suka untuk berbicara tentang ini ...."


Grisa menoleh, melihat ekspresi wajah Arsyanendra sekejap, lalu menunduk.


"Ndak pantes rasanya, perempuan selalu mendatangi rumah laki-laki tanpa kenal waktu seperti ini. Apa orang tuamu ndak khawatir?"


"Bapak dan ibu tidak pernah mempermasalahkan itu, Kek. Saya bebas pulang dan pergi sesuka hati."


Arsyanendra menghela napas mendengar jawaban gadis tadi.


"Jaman sekarang, banyak orang tua yang menyayangi anaknya keterlaluan, sampai kadang keblabasan. Mereka ndak sadar, bahwa apa yang mereka lakukan, malah akan merugikan anak-anaknya kelak."


Perasaan Grisa seperti terintimidasi dengan kata-kata Arsyanendra. Ia mengatupkan mulutnya. Bergeming.


"Aku ndak melarangmu untuk datang ke sini. Pintu rumahku terbuka untuk siapa saja. Jangan salah sangka! Hanya saja ... ingat waktu, Nduk!"


"Maafkan saya, Kek."


"Ndak perlu meminta maaf, ndak ada yang salah. Aku juga pernah muda. Tahu rasanya. Pernah keras kepala, egois dan ndak memikirkan akibatnya, yang penting seneng aja, gitu. Tetapi, kita ndak bisa memaksakan sesuatu pada orang lain. Apa pun itu. Karena kalo yang dipaksakan, itu hasilnya ya ndak bagus. Ya, to?"


Grisa menunduk makin dalam. Ia tahu arah pembicaraan Arsyanendra.


"Aku tahu, kamu itu gadis yang cerdas, cemerlang, ayu. Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan laki-laki yang baik. Jodohmu itu, nanti ya selevel denganmu. Kalo ndak selevel dengan materi yang kamu miliki, ya karaktermu. Yang bisa mengimbangimu. Aku juga ndak melarang kamu, menyukai cucuku. Tapi kamu tahu betul, kan? Bagaimana karakter dan apa yang dia mau?"


Grisa berjalan pulang dengan langkah gontai, terngiang-ngiang di telinganya semua perkataan Arsyanendra tadi. Gadis itu berjalan tanpa menyadari bahwa ia telah menyusuri jalan raya. Sebuah motor tergelincir karena menghindarinya. Seorang laki-laki muda dengan jaket kulit dan helm full face berdiri di samping motor yang roboh.


"Kalau bosen hidup, jangan di sini, Mbak! Tuh, di sana!" Laki-laki itu menunjuk sebuah parit tak jauh dari tempatnya berdiri.


Grisa tidak memedulikan perkataan laki-laki tadi. Namun, ia berjongkok, menangis keras. Hatinya sakit.


"Ini cewek, sinting apa? Aku yang jatuh, dia yang histeris."


Kehebohan itu, tentu saja membuat orang yang lewat, memelankan kendaraan mereka, penasaran.


Laki-laki berwajah oriental tadi, menghampiri Grisa yang masih berjongkok memeluk tas, menangis keras.


"Mbak? Woi! Denger gak?"


Grisa menengadah, dengan air mata yang membanjiri pipinya.


"Wah, cakep juga ini, cewek!" gumam laki-laki berjaket kulit tadi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2