
"Lastri ingin mengatakan beberapa hal kepada, Bapak. Lastri ingin membahagiakan Bapak dan Ibu."
Lastri menunduk, air mata membasahi pipinya yang pucat.
"Lastri menyimpan beberapa rupiah di tabungan Lastri. Uang yang disisihkan saat Lastri bekerja dulu. Buku tabungan itu ada di kantong yang ada resleting di koper. Bapak masih menyimpan itu, kan?"
Zulkifli mengangguk, tanpa bisa berkata apa pun.
"Bapak bisa meminta tolong orang Bank untuk mengurus itu. Atau Mas Zayan mungkin bisa membantu. Untuk terakhir kali, aku merepotkanmu lagi, Mas." Lastri menoleh ke arah Zayan.
"Gak masalah, Mbak," sahut Zayan.
"Bapak dan ibu jaga kesehatan. Uang itu ndak seberapa, mungkin. Tapi Lastri yakin, itu bisa membantu Bapak dan Ibu. Sedikit. Lastri pamit, Pak. Jangan lupa untuk selalu kirim doa untuk Lastri dan putra Lastri, Pak."
"Dia laki-laki, Nduk? Kalau begitu, aku akan membuat sebuah batu nisan kecil untuk ditaruh di sebelah milikmu, Nduk. Aku juga akan memberi nama untuk anak itu."
Lastri mengangguk lalu tersenyum lega.
Air mata kini mulai membasahi pipi Lastri, ia terus mengangguk. Kebahagiaan dan kesedihan, bercampur menjadi satu. Ia menoleh ke arah Nirwasita yang masih diam menyimak peristiwa di depannya.
"Kek, mari kita pergi!" ucap gadis itu.
Tangis Zulkifli pecah, lalu ia menunduk dalam-dalam. Ia belum ingin berpisah dengan putri yang selalu ia rindukan. Laki-laki itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, sampai Lastri menghilang dari pandangannya.
Zayan menepuk-nepuk lembut punggung tangan laki-laki itu. Membiarkan semua emosi Zulkifli terlampiaskan sore itu. Begitu pun Nirwasita, ia memandang terenyuh kepada laki-laki tersebut.
"Cinta manusia itu terkadang bisa sangat menyiksa manusia itu sendiri. Namun, di saat bersamaan, cinta itulah yang membuat mereka kuat dan tegar," ucap Nirwasita.
Hari sudah gelap saat Zulkifli pulang ke rumahnya. Seperti biasa, Mesha dan istrinya sudah terlelap saat ia sampai. Dengan perlahan, laki-laki itu mencari koper yang dimaksud oleh Lastri.
Setelah lama mencari, Zulkifli menemukan koper itu berada di atas lemari tua tempat Sri menyimpan baju dan barang-barang peninggalan Lastri. Ia menggapai-gapai untuk mengambil koper tersebut. Benda tersebut meluncur jatuh, menimbulkan bunyi berdebum keras.
Mesha dan Sri bangun bersamaan dan segera bergegas menuju ke sumber suara.
"Bapak? Ada apa?" tanya Sri saat melihat Zulkifli membereskan barang-barang yang ikut terjatuh saat koper itu jatuh.
Tangan Zulkifli terhenti saat mendengar suara Sri. Ia menoleh, lalu terisak. Sri kebingungan dengan tingkah suaminya kali ini.
"Lastri, Bu. Lastri ...."
"Ada apa dengan dia?"
__ADS_1
"Aku habis menemuinya."
Sri menangis, ia merasa bahwa suaminya mulai bingung karena terlalu rindu dengan putrinya.
"Sadar to, Pak. Sadar! Mana mungkin kita bisa bertemu dengan orang yang sudah meninggal!"
"Bener, Bu. Aku ndak bohong. Lastri bilang, ia menyimpan uang di sini."
Zulkifli membuka resleting koper tersebut. Sebelumnya, ia sama sekali tidak tahu ada ruang kecil di sana. Ia kembali terisak saat benar-benar menemukan dua buah buku tabungan.
"Gusti Allah, Nduk ...! Lihat, Bu, lihat! Aku ndak bohong!"
Kedua orang tua tersebut membelalak saat melihat nominal uang di lembaran kertas tersebut. Bagi orang lain, uang sejumlah itu mungkin tidak banyak. Akan tetapi, bagi Sri maupun Zulkifli, itu bukan jumlah yang sedikit.
Mesha keluar dari dapur dengan membawa dua gelas air putih. Dadanya ikut sesak saat melihat kedua orang di hadapannya. Setelah keduanya tenang, ia mengulurkan kedua gelas tersebut.
"Pak, Bu. Minum dulu, ini."
Sri memandang nanar pada buku tabungan di tangannya. Ia terharu, ternyata cinta sang putri sangat besar untuk dirinya. Ia menyesal bahwa ia tidak sempat menguatkan gadis itu. Ia kecewa bahwa dirinya tidak bisa mencegah kepergian putrinya. Apalagi dengan calon cucu di dalam kandungan.
"Bu, anak Lastri laki-laki. Aku mau ziarah ke makamnya besok, sekaligus mau membuat nisan kecil untuk anak Lastri."
"Bapak mau kasih nama siapa?"
"Bagus, Pak."
Kemudian, kedua orang tua itu bertangisan kembali. Mesha memandangi mereka dari sudut ruangan. Ia tidak mau ikut campur masalah keluarga mereka.
"Maaf, Nduk Ndi, kamu jadi lihat kami seperti ini." Sri menoleh kepada Mesha yang masih berdiri di sudut ruangan.
"Gak apa-apa kok, Bu. Kalau begitu, saya pamit istirahat lagi, Pak, Bu."
Suami-istri itu mengangguk bersamaan.
Mesha membaringkan tubuhnya, ia menghela napas. Kejadian tadi, membuatnya sangat rindu kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, ia belum berani pulang ke rumah. Perempuan itu hanya bisa berdoa, semoga kedua orang tuanya sehat selalu.
Matahari sudah bersinar saat Mesha keluar, berjalan bersama Sri menuju warung. Wajah perempuan paruh baya itu masih terlihat kuyu. Karena menangis semalaman.
"Nanti biar saya saja yang urus warung, Bu. Ibu duduk dan temani saya saja."
"Kok, gitu, Nduk? Itu kan warungku, masa aku diem cuma nonton orang lain bekerja keras."
__ADS_1
"Ibu terlihat kurang sehat."
"Ndak, kok. Ini karena aku nangis terus tadi malam."
Mesha mengusap pundak Sri dengan lembut. Berusaha memberi semangat untuk perempuan tersebut.
Seperti yang sudah dijanjikan, Zayan mengantar Zulkifli ke Bank di mana uang tabungan Lastri di simpan. Sebelumnya, laki-laki berparas manis itu sudah memberi tahukan syarat apa saja yang perlu dibawa oleh Zulkifli.
Setelah berhasil melalui segala proses. Zulkifli masih belum percaya dengan amplop coklat tebal yang ada di tangannya sekarang.
"Terlalu bahaya membawa uang tunai sebanyak itu, Pak Zul. Saya antar sampai rumah, ya?"
"Apa itu ndak merepotkan sampean?"
"Gak sama sekali, Pak."
Zayan berjalan berdampingan dengan Zulkifli setelah turun dari bus di sebuah halte. Mereka berdua mengobrol santai. Zulkifli melambaikan tangan saat melewati sebuah warung. Ia melihat Sri ada di depan. Perempuan itu membalas lambaian tangannya.
"Itu istri Pak Zul?"
"Ya, Mas. Kami punya usaha kecil-kecilan buat menyokong keseharian kami."
"Warung makan, Pak?"
"Ya, Mas. Warung makan sederhana saja."
Zayan memandangi rumah kayu di hadapannya. Keadaannya lebih buruk dari rumah milik Mbahkung-nya.
"Ya beginilah tempat tinggal kami, Mas. Istri dan anak saya lagi di warung. Jadi, rumah kosong."
"Anak? Saya kira, Pak Zul cuma punya putri satu, Mbak Lastri."
Zulkifli tersenyum.
"Oh, itu ... ada gadis yang kami anggap seperti anak sendiri, Mas. Semenjak dia datang, kami ndak merasa kesepian lagi."
"Oh, begitu. Tapi, Pak, apa aman uangnya disimpan di rumah?"
"Rumah jelek begini, siapa sangka ada uangnya?" Zulkifli terkekeh.
Zayan menunggu di depan rumah tersebut. Memandang sekeliling. Kemudian ia menangkap sosok laki-laki berwajah pucat dengan pakaian serba hitam, jauh di seberangnya.
__ADS_1
"Sosok itu ... aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?" gumamnya.
Bersambung ....