
Beberapa orang datang ke rumah Mesha untuk mengecek sudut dan tempat-tempat di sekeliling. Sebelumnya, mereka meminta ijin kepada tuan rumah. Sementara di dalam rumah, Mesha membantu ibunya menyiapkan camilan untuk orang-orang di luar.
"Beneran gak apa-apa, Bu?"
"Ya ndak apa-apa to, Cha. Memangnya ada alasan buat nolak?"
"Kan sebelumya sudah pernah ... tapi ...."
"Wes to, kamu ndak perlu mikir aneh-aneh. Yuk, bantu ibu bawa ini ke depan."
Setelah meletakkan nampan yang ia bawa, Mesha masuk ke dalam rumah. Ia melihat tetangga yang di luar, seperti menatapnya dengan pandangan aneh. Tidak nyaman baginya. Meski itu mungkin hanya perasaannya saja.
Mesha duduk di tepi ranjang di dalam kamarnya. Memandangi langit-langit. Berkali-kali ia mengembuskan napas. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Saat hari-hari menjelang pernikahannya dengan Giyan.
Calon suaminya sekarang sungguh berbeda. Lebih terlihat dewasa dan lebih mandiri daripada Mesha sendiri. Padahal mereka masih sebaya. Kali ini, ia sungguh berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Untuk masalah hati, mungkin ia bisa menumbuhkannya perlahan, nanti.
***
Minggu pagi, Mesha sudah berdandan rapi. Tepat jam tujuh, Sakha sudah duduk di atas motornya. Menunggu di depan rumah.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Mesha pergi ke rumah teman calon suaminya. Di sana, beberapa kru sudah menunggu, termasuk seorang make up artist.
Setelah didandani, Mesha terlihat begitu memukau. Sakha tidak henti-hentinya berdecak kagum.
"Cantik parah!" katanya pada temannya. Beberapa saat kemudian, beberapa kru berkumpul dan mengajak kedua calon mempelai berburu tempat pemotretan.
Dari di gedung tua eksotis hingga di tepi pantai. Setelah itu, mereka berdiskusi memilih beberapa foto yang akan dipakai.
"Besok, aku kirim fotonya setelah diolah," kata sang fotografer saat Sakha dan Mesha berpamitan pulang.
Hari sudah gelap saat keduanya duduk di atas motor.
"Dek? Lapar? Kita mampir makan sebentar, Yuk!"
"Boleh, Mas."
__ADS_1
"Mau makan apa?"
"Apa saja yang Mas Kha mau."
Sejenak, Sakha berpikir, lalu ia menyalakan mesin motornya. Beberapa saat kemudian, kedua insan itu sudah meluncur di jalanan. Tidak membutuhkan waktu lama, motor yang mereka tumpangi, berhenti di sebuah kedai makanan di pinggir jalan.
"Ini ayam geprek kesukaanku. Aku jamin, kamu akan suka, Dek!" Sakha berpromosi, meyakinkan Mesha untuk makan di sana.
"Oke," sahut Mesha.
Saat masuk ke dalam, Sakha mengerling pada sebuah mobil yang ia kenal. Tepat seperti dugaanya, ia melihat sosok laki-laki yang ia kenal bersama istri dan anaknya.
"Mas Lingga, 'kan? Lingga Maheswara?"
Laki-laki tadi menoleh dan tersenyum saat melihat Sakha.
"Eh, Dik Sakha. Sama ... mmm, calonnya atau istrinya?"
Sakha tersenyum, menyalami Lingga dan Dyah yang menggendong putranya.
Mesha ikut menyalami teman Sakha tadi. Kemudian mereka berdua duduk bersama keluarga kecil tersebut. Obrolan ringan mengalir dari kedua laki-laki itu. Dari perpolitikan sampai kegiatan sehari-hari.
Lingga berpamitan terlebih dulu, karena ia harus ke tempat lain. Sementara Sakha dan Mesha masih duduk-duduk di sana.
"Dik Sakha, makanan sudah kubayar semua. Enjoy!"
Sakha berterima kasih dari jauh, lalu melambaikan tangan, hormat, kepada suami-istri tadi.
"Mas Lingga itu sosok yang keren, Dek. Aku kagum sama beliau. Lulusan sarjana, tapi tidak angkuh dan sombong dengan apa yang dimiliki."
Mesha mengangguk, ia tidak terlalu paham dengan apa yang Sakha maksud. Ia merasa lelah.
Sakha meminta maaf saat menyadari bahwa gadis di sebelahnya sudah terlihat lelah. Setelah menghabiskan makanan, ia mengantar Mesha pulang.
Sesampainya di rumah, tanpa mengganti pakaian. Mesha melempar tubuhnya ke kasur. Lelah benar-benar membuatnya tidak bertenaga lagi. Tidak seperti biasanya ia seperti itu. Tak berapa lama kemudian, gadis itu jatuh tertidur.
__ADS_1
Di dalam tidurnya, lagi-lagi Mesha bermimpi aneh. Ia melihat laki-laki berjalan di hadapannya. Hanya terlihat punggung dan bagian belakang. Gelang manik di tangan pria itu yang membuat Mesha mengenalinya. Ia memanggil-manggil nama Zay. Berlari mengejar, tetapi itu seperti terlalu sulit.
Saat Mesha berhasil memegang tangan laki-laki itu, ia berbalik, tetapi wajah yang terlihat di sana, malah wajah Sakha yang tersenyum. Kemudian bayangan hitam menyambar Sakha, melemparkannya jauh. Gadis itu berteriak-teriak, memohon kepada makhluk berbentuk bayangan hitam tadi untuk melepaskan Sakha.
Mesha jatuh terduduk, menangis keras. Tangannya menggapai-gapai.
"Nduk, bangun, Nduk! Kamu kenapa?"
Suara ibunya dan tepukan lembut di pipi berhasil membuat mata Mesha terbuka. Ia langsung memeluk erat sang ibu, mengusap air mata di sudut-sudut matanya.
"Mimpi buruk lagi?" tanya Mayang dengan lembut. Mesha yang masih sesenggukan, mengangguk.
"Ya sudah. Ganti baju dulu, bersih-bersih lalu tidur lagi."
Setelah mengganti baju dan membersihkan diri. Mesha berbaring kembali di ranjangnya. Ia mengangkat tangannya, sebuah gelang manik-manik melingkar di sana. Dengan lembut ia mengusapnya. Mengingat kembali mimpinya yang tadi.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya.
Gadis itu terus memandangi langit-langit kamar. Hingga kantuk menyerangnya lagi.
Di tempat lain, Zayan memandangi langit malam dari jendela kontrakannya. Ia mengangkat tangan dan mengusap gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Bayangan gadis yang ia tabrak dulu, masih menari-nari di matanya. Ia selalu menggerutu, kenapa ia tidak mengamati tangan gadis tersebut saat itu. Ia berharap ada gelang yang sama di sana.
Seketika, Zayan menepuk dahinya sendiri dan mengutuk pikiran liarnya. Gadis itu calon istri orang lain. Tidak pantas rasanya jika ia memikirkannya. Dering ponsel mengalihkan fokus pemuda itu. Telepon dari rumah, yang membuatnya harus pulang esok hari.
Pagi-pagi sekali, Zayan menuju terminal. Ia harus menumpang bus yang paling pagi menuju ke rumah Mbahkung-nya. Sepanjang perjalanan, hatinya tak tenang. Sebenarnya Nirwasita sudah memberitahunya untuk menjenguk sang kakek. Namun, kesibukannya membuat laki-laki itu belum sempat datang.
Sesampainya di rumah Mbahkung-nya, Zayan menghambur ke dalam. Di sana, ibu dan ayahnya sudah duduk menunggu. Seorang dokter sedang memeriksa laki-laki tua yang terbaring di ranjang.
Zayan berdoa dalam hatinya dengan kepasrahan, agar sang kakek diberi kesembuhan. Ujung matanya basah, ia berpaling, lalu mengusapnya. Namun, ia melihat sebuah sosok yang dikenalnya. Berdiri di sudut dengan senyum yang lembut. Rambut berwarna perak dan tongkat di tangan laki-laki tersebut.
Dengan anggukan lemah, Zayan membalas senyuman sosok tadi.
"Maafkan Zay, Kakek. Maafkan Zay yang terlalu egois, hingga tidak punya waktu untuk Kakek. Aku mohon, sembuh ya, Kakek. Aku akan menebus kesalahanku."
Bersambung ....
__ADS_1