Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 50 : Meminta Pertolongan


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu lebih, Zayan bekerja magang di perusahaan Bentala Swarga group. Hari ini, setelah salat, ia pergi ke dapur untuk membuat kopi sendiri. Ia mencari-cari Zul tetapi ia tidak menemukan laki-laki itu di mana pun.


Seorang gadis berwajah pucat dengan baju terusan selutut, duduk di dapur, saat Zayan masuk. Ia mengangguk sopan sebagai isyarat sapaan. Kemudian ia mulai meracik kopi. Gadis itu terkejut.


"Kamu bisa lihat aku?"


Zayan menghentikan adukan di cangkir kopinya. Ia tertegun mendengar pertanyaan seperti itu. Tentu saja, ia bisa melihat, matanya belum buta. Namun, tiba-tiba ia mulai berpikir bahwa gadis itu bukan manusia. Setelah melihat kaki tanpa alas kaki dan terlihat pucat.


"Benar kan? Kamu bisa melihat bahkan mendengarku."


Zayan tidak bisa berpura-pura lagi, ia sudah terlanjur melihat sosok yang seharusnya tak kasatmata bagi orang lain. Ia menolehkan kepala, melihat ke arah gadis tadi yang menunduk.


"Aku mungkin kenangan yang tertinggal oleh pemilik rupa ini. Aku tidak akan mengganggumu. Atau siapa pun."


Zayan mengamati sosok tersebut, melipat kedua tangannya di dada. Bersandar pada meja dapur.


"Aku hanya ingin minta tolong padamu, jika memang kau bisa melihat dan mendengarku." Gadis itu terisak.


Untuk sekali dalam hidupnya, Zayan melupakan pesan Mbahkung-nya. Ia berusaha berkomunikasi dengan makhluk dunia lain.


"Memangnya, apa yang bisa kubantu?"


Gadis berwajah pucat itu mengangkat kepalanya, memandang Zay dan tersenyum.


Namun, tiba-tiba, pintu dapur terbuka. Wajah teduh Zul muncul dari balik pintu.


"Eh, Mas Zay. Ada apa ke sini?"


"Gak ada apa-apa, Pak. Saya tadinya mau minta tolong untuk dibikinkan kopi, tetapi Pak Zul saya cari-cari gak ada."


"Oh, itu ... tadi saya ke Masjid gede di jalan itu, Mas. Kopinya sudah?"


Zayan mengangguk, lalu keluar dari dapur membawa kopinya, kembali ke meja. Ia terkejut saat melihat gadis tadi sudah berdiri di depan mejanya. Laki-laki itu bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya bantuan apa yang diinginkan oleh perempuan tersebut.


Berpura-pura acuh tak acuh, Zayan duduk di balik meja kerjanya, meneruskan pekerjaannya tadi, hingga jam pulang berakhir.


"Kamu benar-benar mau menolongku, kan?" tanya perempuan itu, untuk sekian kali.


Zayan masih diam, bungkam. Ia melihat beberapa makhluk lain di sekitar sana. Jadi, ia tidak mau mereka tahu bahwa dirinya bisa melihat dan mendengar mereka berbicara.


Zayan berjalan pulang, sosok gadis itu tetap mengikutinya hingga ke luar kantor.


"Aku mohon, aku yakin benar, hanya kamu yang bisa menolongku!"


Laki-laki itu memandang sekeliling, lalu membalikkan badan.

__ADS_1


"Ya, aku akan menolongmu. Tapi, saat ada makhluk lain di sekitarmu, aku gak akan berbicara. Oh iya, sudah gelap. Aku pulang dulu."


Sosok perempuan itu sebenarnya memang tidak bisa pergi dari tempat tersebut. Ia hanya bisa berkeliaran di gedung perkantoran itu. Beberapa orang hanya bisa mendengar isakan tangisnya atau melihat samar-samar sosoknya. Namun Zayan berbeda. Ia bisa berkomunikasi dan melihat.


Zayan baru sampai di rumah tepat azan Maghrib berkumandang. Ia duduk di teras, melepas sepatunya. Kemudian melihat Mbahkung-nya sudah siap pergi ke Masjid. Cepat-cepat ia menyalami laki-laki berumur senja tersebut.


"Aku pergi dulu, kalau belum makan. Ada lauk dan sayur di meja, Le. Tadi ada orang kirim itu ...."


"Ya, Mbahkung."


Setelah membersihkan diri, Zayan melaksanakan kewajibannya. Tepat setelah ia selesai berzikir dan berdoa. Arsyanendra baru saja pulang dari masjid. Ia menyambut sang kakek dan menyalaminya.


Zayan duduk di ruang makan, menunggu Arsyanendra selesai mengambil makanan. Kemudian ia juga mengambil makanan untuk makan malamnya. Setelah menelan beberapa suapan nasi, laki-laki itu berhenti makan sejenak.


"Mbahkung ... maafkan Zay."


Arsyanendra mengangkat wajahnya, memandangi cucu kesayangannya itu dengan heran.


"Kesalahan apa yang kamu lakukan?"


"Zay ... ada makhluk ... itu, Mbahkung, Zay gak tahu kalau gadis itu bukan manusia, kirain dia rekan kerja Zay. Jadi, tadi sempat berkomunikasi ...."


"Tapi kamu ndak diganggu atau dicelakai, to?"


"Aku ndak menemukan energi jelek atau dendam yang tertinggal di tubuhmu, Le." Tiba-tiba Nirwasita muncul di antara kedua laki-laki tadi.


"Maksudnya gimana, Kek?"


"Kamu sempat berbicara dengan makhluk itu, kan, Le?"


"Iya, Kek."


Arsyanendra meletakkan sendoknya. Ia sudah selesai makan.


"Jadi, menurutmu, aman kalau cucuku itu menolong makhluk tersebut?" tanya laki-laki berusia lanjut tersebut kepada Nirwasita.


"Ya, cobalah untuk bertanya besok. Apa yang diinginkan."


Pagi-pagi sekali, Zayan sudah sampai di kantor. Seperti biasa, ia melihat Zul sudah melakukan tugasnya.


"Pak, Pak Zul. Tolong ke sini! Ada yang ingin saya tanyakan."


Zulkifli meletakkan sapu yang dari tadi ia pegang, lalu berjalan mendekati Zayan.


"Pak, apa bapak pernah lihat 'penampakan'?"

__ADS_1


"Maksud Mas Zay?"


"Hantu, roh, arwah, jin, atau apalah itu." Zayan bertanya dengan merendahkan volume suaranya.


Zulkifli tertawa.


"Mas Zay habis lihat salah satunya? Biasa kok, itu. Banyak pegawai sini juga lihat. Kalau saya, belum. Dan ndak mau."


Sekarang, giliran Zayan tertawa.


"Bukan begitu, Pak. Saya bukan takut. Hanya saja, saya kemarin lihat satu di dapur."


"Ah, yang bener, Mas?"


"Iya."


"Tapi memang ada yang sempat lihat juga di sana sih, selain sampean."


"Oh, gitu. Kalau begitu, saya minta tolong dibikinkan kopi ya, Pak?"


Zayan mengalihkan pandangan saat melihat ada sosok tinggi besar di dekat sudut koridor tempatnya tadi mengobrol dengan Zulkifli. Makhluk itu seperti sedang mengawasinya dari kejauhan.


Di sisi lain, Mesha baru saja membantu Sri membuka warung. Setelah gadis itu tinggal bersama perempuan itu dan membantu berjualan, omzet penjualan makin naik. Suatu waktu, Sri mendapati gadis itu duduk termenung di kursi. Makanan di piringnya hanya dipandangi saja.


"Nduk, Ndi, apa kamu kurang sehat?"


"Eh, itu ... gak kok, Bu. Saya sehat-sehat saja."


"Ingat sama rumah?"


Gadis itu menghela napas.


"Apa orang rumah mau menerima saya lagi, Bu? Mungkin sehabis itu, saya ini cuma aib bagi keluarga."


"Belum tentu!"


"Permisi, Bu. Mau pasang brosur di depan warung, boleh?" Seorang pemuda menyela pembicaraan kedua perempuan tadi.


"Oh, iya. Silakan!" Sri berjalan masuk lagi ke belakang meja tempat makanan, langkahnya terhenti, lalu menoleh ke arah Mesha. "Kalau ada apa-apa, cerita, Nduk. Jangan dipendem sendiri."


Mesha berjalan keluar warung, ia penasaran dengan brosur yang ditempel tadi. Ia terkejut saat melihat kertas yang tertempel di sana. Fotonya, dalam warna hitam putih. Dengan keterangan ciri-ciri dan nomor yang bisa dihubungi. Kedua orang tuanya berusaha mencarinya dengan cara tersebut.


"Maafkan, Echa. Pak, Bu." Mesha merobek kertas yang tertempel itu, lalu membuatnya jadi serpihan. Dia masih belum ingin pulang, untuk waktu yang belum ia ketahui. Entah kapan ....


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2