
"Nduk, sini dulu coba!"
Dengan langkah malas, Mesha keluar dari kamarnya setelah mendengar panggilan sang ibu.
Di ruang tamu, seorang perempuan paruh baya tengah menggelar beberapa potong kain di meja. Sementara itu, di sisi lain, Mayang meraba kain-kain tersebut.
Mayang mengangkat sehelai kain berwarna hijau daun. Motifnya seperti akar dengan taburan kristal kecil-kecil berkilauan.
"Ini pasti bagus kalau kamu yang pakai, Nduk!" Mayang berbicara antusias. Senyum lebar tergambar di bibirnya.
Mesha membanting pant*tnya ke sofa. Kemudian ia menghela napas.
"Apa saja, Bu. Echa nurut."
Kedua perempuan paruh baya di ruangan itu saling berpandangan mendengar perkataan Mesha.
"Ini juga bagus kok, Jeng Mayang. Motif yang lagi trend, warna rose gold." Perempuan dengan gincu tebal khas ibu-ibu itu mengulurkan sehelai kain lainnya. "Sebenarnya, banyak motif lain di toko, saya ke sini cuma bawa sampel kain yang terbaik. Permintaan pihak laki-laki," lanjutnya.
Mayang tersenyum basa-basi. Matanya bergerak-gerak, memberi kode kepada putrinya. Melihat gelagat sang ibu, Mesha menerima kain yang diulurkan oleh pemilik toko kain.
"Ini juga bagus, kok, Bu. Echa pakai ini aja, gak apa-apa."
Kedua perempuan paruh baya tadi, berseru bahagia hampir bersamaan.
Setelah memilih beberapa kain untuk hari pernikahan. Mesha malah termangu, di ruang tamu. Di hati perempuan itu, masih ada mengganjal. Laki-laki yang hampir menabraknya tempo hari. Salah satunya.
Dering ponsel membuyarkan lamunan, Mesha. Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju kamarnya. Dering berhenti saat perempuan itu meraih benda pipih tersebut. Kemudian, ia mengecek siapa yang barusan menelepon. Namun, nomor tadi kembali menghubungi. Diangkatnya panggilan itu segera.
"Gimana, Dek? Sudah pilih warna yang kamu suka?" Suara khas Sakha terdengar dari seberang sana.
"Udah, Mas. Kenapa kita gak cari bareng-bareng saja, Mas?"
"Sebenernya, aku tadinya mau gitu. Tapi, kupikir lagi ... takutnya nanti kamu kecapekan. Jadi ...."
"Gak apa-apa, kok, Mas."
Obrolan kedua insan melalui sambungan telepon itu, berlangsung hampir satu jam. Mereka berdiskusi apa pun tentang rencana pernikahan. Mesha seringkali hanya mengiyakan. Berbanding terbalik dengan Sakha yang sangat antusias.
Helaan napas Mesha terdengar sangat dalam, setelah mematikan panggilan. Ia meletakkan ponsel ke meja rias, lalu duduk di tepi ranjang. Angin dingin seperti menyapu tengkuknya. Dengan refleks, perempuan itu memegang leher bagian belakang. Merasa ada yang sedang memerhatikan, ia pun memandang sekeliling. Tidak ada apa pun.
__ADS_1
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya.
Sinar matahari mulai berwarna jingga kemerahan, saat Mesha keluar dari kamar. Ia baru ingat, belum sempat makan siang karena sempat tertidur. Perempuan itu keheranan, rumah begitu lengang. Seperti tidak ada kehidupan.
Mesha berjalan ke arah dapur, lalu membuka tudung saji bermotif daun. Di sana pun, ia tidak menemukan sosok ibunya. Karena perut yang sudah berbunyi lagi, ia memutuskan untuk segera mengambil sepiring nasi dan lauk-pauk.
Baru saja Mesha duduk, menyorongkan sesendok nasi ke mulut, ia mendengar suara mesin motor berhenti di depan rumah. Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat.
Mayang menarik kursi untuknya duduk, tepat saat Mesha menoleh.
"Baru bangun, Nduk?"
Tanpa berbicara, Mesha mengangguk. Sesuap nasi masih di dalam mulutnya. Selang beberapa waktu sesudahnya, Bagas terlihat membuka pintu lemari es. Bunyi gluk-gluk, terdengar dari tenggorokan laki-laki itu, kemudian.
"Tadi ibumu ajak bapak ke rumah calon besan. Katanya mau bahas masalah katering, kamu tidur, jadi kita ndak mau bangunin kamu, Nduk," papar Bagas setelah mengelap sisa air di mulutnya.
Mesha masih tidak berbicara, mengunyah makanan di mulutnya.
Melihat gelagat putrinya yang acuh tak acuh, membuat Mayang dan Bagas saling berpandangan. Keduanya saling melempar kode dengan ekspresi wajah.
"Nduk ... kamu marah sama kami atas rencana pernikahan ini?"
Mesha menghentikan gerakan tangannya. Menyendok nasi di piring. Perlahan, ia meletakkan benda tersebut. Kemudian ia menatap kedua orang tuanya.
"Ealah ...!" seru Bagas dan Mayang secara bersamaan. Kemudian, ketiganya tertawa bersama.
***
Sakha memandangi sebuah album foto di tangannya. Sementara di depannya, duduk seorang laki-laki dengan usia yang tak terpaut jauh darinya.
"Jadi, mau pilih konsep yang seperti apa, Kha?" tanya pria itu.
"Mmm ... aku mau yang sederhana saja. Toh ini hanya untuk gambar di kartu undangan, 'kan? Lagipula, waktu pernikahan kami semakin dekat."
Laki-laki dengan kacamata yang bertengger di hidung macungnya itu, mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, yang seperti ini saja," usulnya, menunjukkan gambar lain di tangannya.
"Wah, oke ini! Cocok!"
__ADS_1
Dalam gambar itu, model berpakaian dengan gaya kasual dan saling mencipratkan air di tepi pantai. Sore itu, Sakha memang sedang mengunjungi teman masa sekolahnya yang berprofesi sebagai fotografer. Ia sedang memilih konsep pemotretan untuk prewedding dan kartu undangan.
"Aku seneng. Akhirnya kamu mau nikah juga, Kha."
"Ya iyalah, masa iya aku gak mau nikah!"
"Soalnya dari dulu, aku gak pernah lihat kamu jalan sama cewek."
Sakha tertawa.
"Gak pernah kelihatan, belum tentu gak pernah," sanggah Sakha.
Teringat bahwa ia belum mengabari kapan waktu pemotretan, Sakha merogoh kantongnya. Mengeluarkan sebuah benda pipih, lalu mengetikkan beberapa kata di layarnya. Sepintas, laki-laki di depannya melihat gambar di latar belakang ponsel Sakha.
"Itu calon istrimu?"
"Kenapa? Cantik kan?"
"Memang cantik. Tapi ... aku seperti gak asing lihat wajah itu, Kha."
"Masa sih?
"Hmmm ...."
Sakha terdiam, memandangi foto Mesha yang terpampang di layar ponselnya. Kemudian, ia mulai berbicara.
"Tebakanku, mungkin kamu pernah jadi fotografer pernikahan pertamanya. Ya, dia memang pernah menikah. Bukan gadis lajang, meski ia cerai ditinggal mati." Sakha menunduk dalam.
"Ah, iya, Kha! Aku baru ingat! Waktu itu aku memang punya job di sebuah pernikahan di desa tak jauh dari sini. Aku masih baru terjun ke dunia fotografi. Aku dengar waktu itu mempelai prianya meninggal sebelum 'itu'." Laki-laki di hadapan Sakha tadi menekuk dan meluruskan dua jarinya. Kemudian tersenyum. "Artinya, dia cuma istri di kertas. Masih segelan."
Sakha hampir saja menjitak kepala teman lamanya itu. Untungnya, ia masih bisa menahan tangannya.
"Jangan ngomong seperti itu tentang calon istriku! Mau kamu aku bikin benjol?" ancam Sakha dengan tawa kecil di bibirnya.
"Iya, iya. Maaf, Mas Bro! Tapi, apa kamu yakin mau menikahi perempuan itu? Banyak rumor yang beredar setelah pernikahannya waktu itu."
Sakha mengangguk.
"Itu masa lalunya, bukan urusanku," ucap Sakha dengan tegas.
__ADS_1
"Bukan itu. Tapi, kutukan ...."
Bersambung ....