
Sakha duduk menunggu di atas jok motornya. Pria itu melambaikan tangan saat melihat seorang gadis keluar dari pintu terminal. Gadis itu tersenyum, lalu mendekatinya. Saat tiba di hadapan Sakha, gadis manis itu mengecup punggung tangannya dengan hormat.
"Langsung pulang rumah kan, Dek?" tanya Sakha saat gadis itu duduk di boncengan.
"Iya, Mas."
Sakha memacu motornya membelah jalanan berdebu yang dihujani terik matahari. Seperti biasa, gadis yang duduk di belakangnya, berbicara panjang lebar menceritakan apa yang dilakukannya sehari-hari. Sesekali, Sakha menimpali perkataan adiknya itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, motor Sakha sudah berhenti di depan rumah.
"Oh iya, Mas. Kantor kelurahan, tutup jam berapa?"
"Jam dua, Dek. Kenapa?"
"Ada yang mau kuurus, Mas."
"Apa mau bareng sekalian?"
"Bentar, Mas. Aku taruh tas dulu." Yumna menguluk salam lalu lari masuk.
"Ndak istirahat dulu, Nduk?" tanya Ningsih saat melihat putrinya datang, mengecup punggung tangannya, lalu keluar rumah lagi membawa sebuah map.
"Nggak, Bu. Yuyum mau ikut Mas Sakha. Biar cepet selesai urusan."
"Oh, yowis."
Beberapa saat kemudian, kedua kakak beradik itu sudah sampai di kantor kelurahan. Semua pegawai di sana menyapa Yumna, saat gadis itu masuk. Kecuali Mesha, yang memang belum kenal.
"Mas, itu siapa? Pegawai baru?" tanya Yumna berbisik pada Sakha. Laki-laki itu mengangguk.
"Halo, Mbak! Mbaknya baru ya?" tanya Yumna tanpa tedeng aling-aling kepada Mesha.
Mesha terkejut, lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Mesha Indira, kamu?"
"Yumna, adiknya Mas Sakha, yang ganteng ini!" jawab Yumna sambil membalas uluran tangan Mesha.
Yumna melihat benda yang melingkar di pergelangan tangan Mesha. Ia merasa familiar dengan benda tersebut. Namun ia belum bisa mengingatnya.
"Maafkan ketidaksopanan adikku, Mbak," sela Sakha.
"Nggak apa-apa, Mas."
Setelah berlalu dari hadapan Mesha, lagi-lagi Yumna berbisik.
"Pegawai paling cantik yang pernah kulihat, Mas. Dari tatapan Mas Sakha, aku kok kayak lihat ada apa gitu ...."
Sakha menutup mulut Yumna.
"Jangan sok tahu, bocil!" seru Sakha.
Yumna menyingkirkan tangan Sakha dari mulutnya, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Aku udah mahasiswa, Mas! Umur kita cuma terpaut empat tahun!" sungut Yumna.
__ADS_1
"Bawel! Sini, mana yang mau diurus!"
Yumna menyodorkan map yang sedari tadi dipegangnya. Kemudian ia menoleh ke Mesha dan memandangi gadis tersebut.
"Kalo mbak iparku secantik itu sih, aku rela aja," celetuk Yumna.
Sakha mencubit pipi Yumna dengan lembut.
"Ngomong apa sih?"
"Sakit tahu, Mas!" Gadis itu mengelus-ngelus pipinya dengan kesal.
Setelah urusan Yumna selesai, gadis itu pulang sendiri tanpa diantar kakaknya. Sementara Sakha, ia kembali bekerja.
"Adiknya lucu ya, Mas?" celetuk Mesha saat jam kerja berakhir.
"Nyebelin, iya!" jawab Sakha.
"Aku seneng lihatnya, Mas. Kadang kesepian juga, jadi anak semata wayang. Dulu sering iri lihat kakak adik berantem pas rebutan mainan." Mesha tertawa mengingat masa kecilnya.
"Mbak Mesha aneh-aneh aja, masa iri sama orang yang berantem."
Mesha tersenyum lalu berpamitan untuk pulang lebih dulu.
Mesha menunggu jemputan dari Bagas. Namun hampir lima belas menit, ayahnya itu belum terlihat sama sekali. Lagi-lagi ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah. Seperti biasanya, Sakha menunggu Mesha dijemput, dari kejauhan. Saat melihat gadis itu berjalan kaki. Tanpa ragu, Sakha menyalakan mesin motornya dan menghampiri gadis berambut indah itu.
"Ayo, Mbak. Saya antar saja!"
"Duh, apa nggak merepotkan Mas Sakha?"
Sakha mulai mengendarai motornya saat Mesha sudah duduk nyaman di boncengan.
"Beneran nggak apa-apa, Mas?"
"Nggak apa-apa, Mbak. Nyantai saja."
"Ngomong-ngomong, jujur ya Mas. Aku nggak enak kalo dipanggil Mbak, sama Mas Sakha. Umut kita terpaut empat tahun dan Mas Sakha lebih tua dariku. Lain kali, panggil nama aja, Mas."
"Wah, nggak sopan kedengarannya, Mbak."
Cukup lama mereka berdua berdebat alot tentang panggilan. Namun ada tawa dan candaan dalam debat mereka.
"Terima kasih, Mas." Mesha turun dari boncengan dan tersenyum manis.
Tentu saja hal itu membuat jantung Sakha berdetak semakin kencang.
"Nggak Mb—Mbak, eh, Dek."
Mesha tertawa.
"Ya udah, Mas. Jangan dipaksa, senyamannya aja." Mesha masuk ke dalam rumah setelah melambaikan tangan pada Sakha.
Saat Sakha melaju pelan, sekejap, ia melihat laki-laki misterius berpakaian serba hitam itu lagi tak jauh dari rumah Mesha. Ia juga mengintip lewat kaca spion. Namun sosok itu sudah tidak terlihat. Bahkan, ia juga menolehkan kepalanya sejenak, tetapi sosok itu benar-benar sudah hilang.
***
__ADS_1
Di dalam hati Mesha, benar-benar tidak ada rasa sedikit pun terhadap pria yang akhir-akhir ini sering bersamanya. Namun ia takut kesopanan dan keramah tamahannya disalah artikan. Meski ia sering menghindari laki-laki itu, tetapi entah kenapa, kesempatan malah sering mempertemukan mereka.
Mesha mengangkat tangannya lalu dengan jari yang lainnya menyentuh gelang manik yang menghiasi tangannya. Ia bahkan belum tahu bagaimana wajah Zayan yang sekarang, tetapi ia masih tetap merindukannya.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Mesha. Kemudian gadis itu meraih benda kotak itu. Nama Zafia muncul di layar.
"Iya, Fi, ada apa?" tanya Mesha setelah menjawab salam.
"Sha, besok aku nggak ada kuliah sampai beberapa hari ke depan. Ini aku udah di rumah. Gimana kalo kita jalan-jalan?"
"Mmmm ... tapi aku kerja, Fi."
"Oh iya, lupa. Maaf, Sha."
"Tapi nggak apa-apa sih, Fi. Kita masih bisa main kok, nunggu aku pulang kerja."
"Oke, sip! Aku tunggu."
***
Sementara itu, di rumah Sakha, terjadi kegaduhan kecil. Yumna terus-terusan menggoda kakaknya tentang pegawai baru di kelurahan.
"Bu, Mas Sakha sering pulang telat akhir-akhir ini?" sela Yumna.
"Iya, Nduk."
"Hmmm, pantesan! Ada pegawai baru yang cantik di sana, Bu!"
Sakha memelototi Yumna, tetapi gadis itu malah menjulurkan lidahnya.
Ningsih tertawa melihat polah kedua anaknya.
"Ibu juga sudah tahu, Nduk. Tapi masmu itu bersikeras nunggu kamu selesai kuliah."
"Padahal Yuyum juga udah bolak-balik bilang ke Mas Sakha lho, Bu. Nggak apa-apa Mas Sakha nikah, masalah kuliah, Yuyum bisa kok cari beasiswa."
"Tuh, Le. Adikmu juga sepemikiran sama ibu."
"Ibu sama Yumna, nggak usah khawatir. Kalau udah waktunya, Sakha juga bakal nikah, kok."
"Ibu cuma pengen lihat kamu ada yang urus, sebelum ibu ...."
Sakha menggenggam tangan ibunya.
"Ibu nggak boleh berpikiran macem-macem. Ibu bakalan panjang umur dan lihat Sakha nikah kok, Bu. Sakha yakin."
Sakha tersenyum untuk menenangkan sang ibu.
"Iya, Mas. Yuyum rela kok punya mbak ipar secantik Mbak Mesha."
Sakha kembali mencubit pipi Yumna dengan gemas.
"Mulai lagi!" celetuk Sakha.
Bersambung ....
__ADS_1
🥀🌹 Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komentarnya ya ❤ Lup yu pul tu de mun en bek!❤