Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 59 : Ujian Hati


__ADS_3

Mesha menguluk salam saat sampai di rumahnya. Wajahnya terlihat begitu suram. Hingga ibunya memandangi dengan tatapan penuh tanya. Ia mengambil gelas dan menuang air ke dalamnya. Menghabiskan minumnya dengan sekali jalan. Kemudian masuk ke kamar.


"Kamu ndak apa-apa, Nduk? Kok lesu gitu?" Mayang menyusul putrinya sampai ke kamar.


"Gak apa-apa, Bu. Echa cuma capek aja."


"Oh, ya sudah. Istirahat dulu."


Mayang meninggalkan kamar Mesha setelah ia menyuruh sang putri cepat-cepat mandi.


Mesha menghela napas, ia beringsut bangun dari ranjangnya. Bayangan Zayan tersenyum, menari-nari di matanya. Ia teringat dengan gelang yang diberikan laki-laki itu dulu. Mencari-cari benda itu di mana pun.


Akhirnya, benda yang Mesha cari, sudah ketemu di laci meja riasnya. Ia memandangi gelang tersebut dengan tatapan nanar.


"Untuk apa aku memakai barang ini lagi? Toh Zay sudah dengan gadis lain." Mesha merasa patah hati dan meletakkan kembali barang tersebut ke dalam laci. Kemudian bangun, berjalan ke luar. Untuk Mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, adzan maghrib berkumandang. Mesha meraih mukenanya dan mulai beribadah. Ia menangis, menumpahkan segala kesedihan dalam doa panjangnya. Ia tidak keluar kamar hingga makan malam tiba.


Mayang khawatir, ia mengetuk pintu kamar Mesha. Ia membukanya setelah ketukannya tidak ada jawaban. Perempuan itu terkejut saat putrinya tergeletak masih memakai mukena. Mata perempuan muda tersebut terpejam.


"Nduk, Cha! Kamu kenapa? Kamu ndak apa-apa?"


Mesha membuka matanya, lalu duduk.


"Gak apa-apa, Bu. Echa cuma lelah dan ngantuk. Tadi tertidur habis salat 'isya."


"Oalah, Nduk. Ibu kaget, kirain kenapa-kenapa. Ya sudah, makan malam dulu sana!"


Suapan nasi di mulut Mesha, terasa hambar baginya. Ia sudah kehilangan selera makan. Patah hatinya membuat perempuan itu terguncang dalam. Namun, mau tidak mau, ia harus tetap bekerja di warung Sri sesuai janjinya.


"Nduk, sebenarnya kamu kenapa? Diam terus, terus tiba-tiba ngempos. Apa ada masalah dengan pekerjaan di warung. Kamu pindah aja, gak perlu kerja di sana. Toh juga dapetnya gak seberapa."

__ADS_1


"Gak, Bu. Gak ada apa-apa. Sungguh. Echa gak mau berhenti kerja di warung Bu Sri, Bu. Beliau sudah menolong. Echa tidak mungkin meninggalkan begitu saja."


"Oh, ya sudah kalau begitu.


Keesokan harinya, Mesha terkejut saat baru saja tiba di warung. Zayan sudah duduk di dalam warung. Mata perempuan itu tertuju pada lengan baju yang tergulung. Gelang itu masih di sana. Gelang yang sama seperti miliknya. Hatinya mencelos saat teringat perempuan yang duduk di hadapan pria itu kemarin.


"Eh, baru datang, Mbak?" Zayan berusaha mengapa Mesha yang baru datang.


Tanpa berkata apa pun, Mesha mengangguk sopan sebagai jawaban sapaan. Kemudian, ia berjalan cepat, masuk ke dapur.


"Maaf, Bu. Saya kesiangan," ucap Mesha saat melihat Sri membawa pesanan Zayan. Ia buru-buru menghindar. Tidak mau berhadapan lagi dengan pria tadi. "Saya ke kamar mandi dulu, Bu. Kebelet," lanjutnya tanpa mendengar jawaban Sri.


Sri menggelengkan kepala, tersenyum. Baru kali ini, anak angkatnya itu menolak mengantarkan pesanan.


Dari kejauhan, Mesha memandangi Zayan yang terlihat terus tersenyum saat berbicara dengan Sri. Sementara itu, Zayan merasa bahwa dirinya sedang diawasi. Ia memandang sekeliling, dan menemukan wajah cantik yang sedang memandanginya. Laki-laki itu tersenyum.


Mesha gelagapan saat ia terpergok sedang memandangi Zayan. Meski senyum itu membuat detak jantungnya berpacu, tetapi ia lelah tersiksa. Sampai pria muda tersebut keluar dari warung, dirinya masih menyembunyikan diri.


Cobaan kedua, Mesha harus mengantarkan pesanan para pegawai Swarga Bentala group seperti biasa. Ia terus-menerus menepuk dadanya sendiri. Menguatkan diri. Namun sialnya, laki-laki itu juga memesan makan siang.


"Gak usah, Mas. Biar saya bawa sendiri semuanya." Mesha berusaha membuat suaranya bernada datar.


"Gak apa-apa, Pak Zul gak mungkin keberatan, saya sering membantunya, kok."


"Beneran, gak apa-apa, kok, Mas!"


Mesha merasa lega saat ia sudah keluar dari gedung perkantoran tadi. Ia bolak-balik mengembuskan napas.


Sementara itu, Zayan tersenyum saat teringat kejadian saat makan siang tadi. Jam kerja sudah selesai, beberapa pegawai sudah pulang. Ia memutuskan untuk mampir dulu ke rumah Zulkifli. Saat ia melewati warung, tempat itu sudah tutup. Kemudian, ponsel dalam kantong celananya berdering.


"Kamu sehat, Le? Kapan pulang?"

__ADS_1


"Sehat, Bu. Zay pulang akhir minggu besok. Kalau tidak ada halangan. Memangnya kenapa, Bu?"


"Teman ibu punya seorang anak gadis, cantik dan pinter, pengen mengenalkannya sama kamu."


"Bu, Zay kan sudah bilang, Zay sudah punya orang yang dicintai. Ibu gak perlu carikan gadis ...."


"Ya, ya. Ibu ingat, tapi kan cuma kenalan. Apa salahnya, Zay?"


"Ya, bu, iya. Zay coba."


Zayan merasa kesal. Ini bukan pertama kalinya, sang ibu berusaha memperkenalkan gadis kepada dirinya. Mana mungkin ia bisa menaruh hati pada gadis lain. Ia telah menunggu saat bertemu dengan gadis kecil berkuncir dua yang ia sukai.


"Kamu di mana sebenarnya?" gumam Zay.


Namun, di sisi lain, ia sedikit tertarik dengan putri angkat Zulkifli. Kecantikan wajah dan senyum gadis itu, mulai menghiasi malam-malamnya. Hingga Zayan terus berdoa untuk meminta kepada Tuhan, agar mata dan hatinya lebih terjaga.


Zayan sampai di rumah, tepat setelah Arsyanendra kembali dari perjalanan spiritualnya. Berziarah ke makam para wali dan ulama. Laki-laki itu menyambut kedatangan Mbahkung-nya dengan riang gembira.


"Mbahkung sehat?"


"Ya, tentu saja. Alhamdulillah. Kamu gimana, Le?"


"Alhamdulillah, Mbahkung. Oh, iya. Akhir minggu, Zay pulang ke rumah ibu, Mbah. Apa Mbahkung mau ikut?"


"Ya, ndak apa-apa. Aku juga udah kangen sama kedua orang tuamu. Ya sudah, aku mau bersih-bersih terus salat isya. Kamu dah makan?"


"Sudah, Mbahkung."


Zayan duduk di jendela, memandangi bulan yang hampir bulat sempurna. Di tangannya, secangkir kopi masih mengepulkan uap. Ia mengedipkan kedua matanya saat melihat bayangan wajah pelayan warung Sri terpampang di permukaan bulan.


"Kenapa sih, mataku ini?" Zayan mengusap kedua matanya dengan tangan, seketika gelang di tangannya membuatnya ingat tentang sesuatu. "Lalu? Bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta pada perempuan itu dan meninggalkan gadis dengan gelang yang sama dengan punyaku ini?" lanjutnya.

__ADS_1


Zayan tidak mau menduakan gadis itu, tetapi bayangan perempuan bernama Indy itu selalu saja mengganggunya. Seperti tergambar di mana-mana. Setelah menyesap kopinya, laki-laki itu bergegas mengambil wudhu. Berharap bayangan itu sirna dari pikirannya.


Bersambung ....


__ADS_2