Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 79 : Penentuan atas Penantian


__ADS_3

Zayan segera berdiri mendengar suara yang tak lazim tadi. Meski Arsyanendra memegang tangannya. Menyuruhnya kembali duduk. Setelah melihat isyarat wajah sang kakek, laki-laki itu duduk.


"Kamu ndak perlu khawatir, kawanku itu sudah berjaga di luar semenjak kita masuk ke rumah." Arsyanendra berbisik kepada cucunya. Sementara, Kartika, ibunya Zayan terlihat mulai khawatir.


Dengan lancar dan tegas, Zayan mengucapkan kalimat yang sudah lama ia latih saat prosesi ijab-kabul. Hadirin serentak mengucapkan "Sah!" saat laki-laki itu selesai dengan kalimat tersebut.


Di sisi lain, Mesha menunduk, menangis terharu. Kedua gadis yang mengapitnya, memeluk, begitu pula, sang ibu, Mayang. Ia segera menghampiri putrinya.


"Hampiri suamimu, lakukan bakti pertamamu, Nduk."


Zayan yang masih belum menyangka bahwa semuanya berjalan lancar dan secepat itu, terus-terusan menatap Mesha dengan pandangan terpukau. Di matanya, kini, perempuan itu terlihat benar-benar cantik. Walaupun, riasan sederhana dan kebaya simpel yang dipakai.


Dengan gerakan canggung, Mesha mengulurkan tangan, menarik tangan Zayan dan mengecup punggung tangan laki-laki itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Secara reflek, sang suami membalasnya dengan kecupan di dahi. Tentu saja, momen itu membuat seluruh hadirin bersorak dan bertepuk tangan formal.


Berbeda keadaan di luar rumah, awan hitam mulai melingkupi wilayah di atas tempat tersebut. Angin kencang bertiup, mengguncang pohon-pohon. Nirwasita yang sudah bersiaga, tersenyum. Ia tahu betul penyebab kejadian luar biasa tersebut.


Caraka berdiri di seberang jalan, ia menatap tajam pada sang kakek.


"Jadi, Kakek lebih memilih anak itu ketimbang aku?!" Caraka berteriak geram, ia mulai mengangkat sesuatu benda panjang di tangannya. Dalam pandangan laki-laki itu, terlihat benar, kubah perak mengelilingi rumah perempuan yang diincarnya.


Mata Caraka memerah karena amarah. Petir menyambar-nyambar dari ujung tongkat yang dipegangnya. Nirwasita terpaksa mengusir cucunya dari sana. Laki-laki berambut perak itu, menembakkan kilatan cahaya.


Tentu saja, pertarungan antara kakek dan cucu itu pun terjadi dengan sengit. Lagi-lagi Caraka terpukul mundur, lalu pergi.


Rombongan keluarga Zayan pulang saat cuaca di luar rumah sudah kembali normal.


Zayan melihat Nirwasita yang berdiri ditopang tongkat saktinya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu mengangguk takdzim. Hal yang tak diduga, gurunya, sang Kyai itu pun tersenyum pada laki-laki tua tadi.


"Ternyata, beliau juga menyadari kehadiranku." Nirwasita tersenyum, mengangguk hormat, membalas laki-laki alim itu.


Malam telah tiba. Zayan dan beberapa orang, masih tinggal di rumah Mesha untuk mulai merancang acara resepsi minggu depan. Termasuk Zafia yang masih bertahan di sana, menemani sahabatnya di dalam kamar.


"Fi, cubit aku sekarang!" perintah Mesha.


"Ngapain, sih? Aneh-aneh aja!"


"Cubit aku!"


Dengan enggan, Zafia mencubit pipi Mesha.

__ADS_1


"Sakit!"


"Yaiyalah sakit, kan dicubit!"


"Ini berarti bukan mimpi!"


Zafia menggelengkan kepala.


"Masa iya, mimpi kita samaan, Sha?"


Mesha tersenyum. Ia bersyukur bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Berharap, sampai kapan pun tidak akan ada hal buruk yang terjadi.


"Aku mungkin gak bisa bantu persiapan acara, Sha. Besok aku harus balik ke kampus. Tapi aku janji, aku pasti datang pas hari H."


"Gak masalah, Fia. Aku udah seneng banget kayak gini. Makasih ya, selalu ada untukku di saat apa pun. Aku gak bisa membalas semua kebaikanmu."


Zafia merangkul pundak Mesha dengan lembut. Ia melengkungkan senyum.


"Bagiku, kebahagiaanmu, itu kebahagiaanku juga, Sha. Selama ini, aku bertemu dengan banyak orang, bahkan di kampusku. Tetapi, gak ada yang setegar, seteguh, dan sebaik kamu, Sha. Ini terdengar klise, tapi, panggil aku saat kapan pun kamu butuh teman untuk berbagi. Apa pun itu! Jangan ragu."


"Makasih, Fia. Bisakah malam ini, kamu temani aku tidur di sini?"


"Kan ada suamimu, Sha."


"Entahlah, Fia. Aku belum siap. Kami juga baru terikat sah secara agama. Aku masih ...."


Suara ketukan di pintu kamar, membuat perkataan Mesha terhenti. Zayan melongok dari celah pintu yang tidak tertutup tersebut. Melihat itu, Zafia segera berdiri.


"Gak usah ke mana-mana, temani saja istriku. Aku tidur bareng temen-temen di ruang tamu. Silakan dilanjutkan. Aku ingin berbicara sebentar dengan istriku, boleh?" ucap Zayan.


Zafia kembali duduk, ia mengangguk. Mesha berjalan mendekati Zayan. Laki-laki itu tersenyum padanya.


"Aku gak akan menyentuhmu sampai hari itu, Dek. Kalau kamu butuh waktu lebih lama, aku juga bersedia menunggu. Gak perlu khawatir atau risau dengan hal apa pun. Nyamankan dirimu."


Zayan memegang kedua lengan Mesha dengan lembut, mengusapnya, lalu berpamitan pergi.


"Maafkan aku, Mas."


Langkah Zayan terhenti, ia berbalik.

__ADS_1


"Gak perlu meminta maaf, itu bukan salahmu. Segera tidur, sudah malam!"


Ada kehangatan yang merayap di dalam rongga dada Mesha. Ia memejamkan mata. Menahan bulir-bulir yang sedari tadi bergelayut di ujung kedua mata.


"Alhamdulillah, Gusti." Bisiknya pada diri sendiri.


Beberapa hari berlalu, persiapan acara resepsi sudah disiapkan. Mesha meminta hanya beberapa orang yang diundang, tetapi Zayan bersikeras untuk mengundang banyak orang. Pada akhirnya, perempuan itu mengalah, ia menyadari, memang itu bukan pernikahan pertamanya. Namun, bagi laki-laki tersebut. Semua hal tersebut adalah pengalaman pertama.


Malam sebelum resepsi digelar, Zayan berada di kamar Mesha. Memastikan sesuatu. Sementara itu, Mesha sedang menemani keluarganya di ruang tamu. Sejak kedatangannya tadi, ia merasakan kehadiran Caraka. Perisai gaib yang dipasang Nirwasita sebelumnya, telah menghilang.


Merasa ada hal yang aneh, Mesha menyusul Zayan.


"Ada apa, Mas?"


"Dia, ada di sini, Dek."


"Makhluk itu?"


Zayan mengangguk.


Khawatir dan ketakutan akan kehilangan lagi, secara spontan, Mesha memeluk erat suaminya. Perempuan itu mulai terisak.


Melihat pemandangan yang memuakkan baginya, Caraka memunculkan wujudnya. Wajah pucat dengan amarah di kedua matanya.


Menyadari hal tersebut, Zayan segera berdiri di depan Mesha, menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk perempuan itu. Dua gelang yang dipakai laki-laki itu, berpendar. Membuat perisai yang melingkupi kedua manusia tadi.


"Kamu tetap di belakangku, apa pun yang terjadi, jangan keluar dari kubah perisai ini. Mengerti?"


Mesha mengangguk, meski di wajahnya, tergambar kekhawatiran. Zayan memegang pergelangan tangan istrinya, lalu memindahkan kedua gelang tadi tanpa melepas tangannya.


Kini, Zayan berdiri di luar kubah. Kemudian melepaskan tangan sang istri.


"Aku akan menutup pintu kamar ini. Ingat pesanku, apa pun yang terjadi. Jangan keluar dari kubah atau melepas gelang itu."


Zayan menuntun istrinya untuk duduk di ranjang. Kemudian, ia menatap tajam kepada laki-laki pucat dengan pakaian serba hitam di hadapannya.


"Ayo, selasaikan ini semua, sekarang juga!" tantang Zayan.


Caraka terbahak-bahak mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut Zayan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2