Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 16 : Sesuatu Menjadi Bermakna Saat Menghilang.


__ADS_3

Suasana di pemakaman mulai sepi, semua pelayat yang ikut mengantar Giyan ke peristirahatan terakhir, sudah pulang ke rumah masing-masing. Tetapi, Mesha masih bersimpuh di depan pusara Giyan. Tangisnya sudah reda, namun matanya yang merah dan mulai membengkak, terus menatap gundukan tanah itu, lekat-lekat.


Beberapa kali Zafia mengajak Mesha pulang, tetapi ia tetap bergeming. Baik kedua orang tuanya, maupun mertuanya, ataupun Grisa, bahkan tidak bisa membujuk perempuan itu untuk meninggalkan makam. Pada akhirnya, Zafia menawarkan diri untuk menemani Mesha sampai ia mau pulang ke rumah.


Tidak ada yang memahami perasaan apa yang berkecamuk dalam hati Mesha. Ia sendiri bahkan tidak mengerti, dan terus menyangkal, bahwa rasa itu ada karena secercah cinta. Cinta? Kepada Giyan? Mesha menggelengkan kepalanya.


"Bukan, itu bukan cinta! Bahkan aku menolak pernikahan ini. Bukannya aku membenci mas Giyan! Tetapi hatiku masih dipenuhi dengan perasaan kepada laki-laki lain. Apa ini sebuah kesalahan? Salahku?" Mesha berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati. Bulir-bulir bening mulai menetes dari sudut matanya.


Potongan-potongan kenangan tentang polah dan suara Giyan, seperti menyerbu Mesha. Tidak tahan, perempuan itu menutup kedua telinganya dengan kedua tangan, dan mulai terisak.


Zafia yang semakin khawatir dengan keadaan Mesha, buru-buru memeluk.


"Sha, udah ya? Ayo pulang ...." Untuk kesekian kali, Zafia membujuk Mesha.


Mungkin karena rasa lelah yang mulai mendera, Mesha menuruti ajakan Zafia.


Setelah sampai di rumah, Zafia memapah Mesha masuk ke dalam kamar. Beberapa pasang mata menatap Mesha yang dipapah, dengan pandangan iba. Dekorasi kamar pengantin sudah tidak ada lagi, sepertinya, semua hal yang berkaitan dengan pernikahan kemarin, telah disingkirkan.


Zafia membantu Mesha berbaring, dengan sigap ia melepas kerudung Mesha sebelum meletakkan kepala gadis itu di atas bantal. Pandangan Mesha kembali kosong, menatap langit-langit kamar.


Setelah mengetahui putrinya pulang ke rumah, Mayang bergegas menuju kamar Mesha dengan membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk untuk dua orang.


"Nduk, Fi, kamu makan dulu, biar bude yang jaga Mesha," perintah Mayang dengan lembut setelah ia meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.


"Ya, Bude," jawab Zafia.


Zafia mengambil sepiring nasi komplit dengan lauk dari nampan, dan duduk di kursi yang ada dalam ruangan tersebut.


Mayang duduk di pinggir ranjang, menatap wajah Mesha yang memucat, hatinya perih, melihat keadaan putrinya saat ini. Ia mengusap pipi gadis itu dengan lembut.


"Nduk, makan yuk, ibu suapin ya?" pinta Mayang, lirih.


Mesha menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ikhlaskan semua, Nduk. Dan kamu juga harus jaga dirimu ...." Mayang membekap mulutnya sendiri, ia takut akan menangis di depan putrinya.


Zafia tidak sengaja menyenggol sebuah benda di meja rias, saat dia meletakkan kembali piringnya. Ia membungkuk untuk memungut benda tadi yang terjatuh.


"Bu, keluarga pak Wiryawan ingin berpamitan," papar Bagas melongokkan kepalanya.


Mayang bangkit dan berkata pada Zafia, "Nduk, tolong jaga Mesha lagi ya? Kalo bisa, bude mohon, kamu bujuk Mesha untuk makan, ya?"


Zafia menggenggam benda yang dipungutnya tadi dalam kepalan tangannya, kemudian ia mengiyakan permintaan Mayang.


"Ya, Bude. Fia usahain."


Grisa masuk ke dalam kamar Mesha untuk berpamitan, meski tidak ada reaksi sama sekali dari gadis itu. Ia menyalami, kemudian menggenggam tangan Mesha.


"Mbak ... Mbak Sha harus sabar, Mbak harus kuat. Mas Gi pasti gak suka melihat Mbak Sha kayak gini," ucap Grisa, trenyuh.


Mesha hanya berkedip sebagai reaksi kata-kata Grisa.


"Sha, lihat ini ... tadi aku gak sengaja menjatuhkannya. Bukankah ini gelang pemberian Zay?" tanya Zafia sambil mengangkat sebuah gelang manik-manik.


Tiba-tiba Mesha bereaksi, ia menyambar gelang yang ditunjukkan Zafia. Kemudian ia menggenggam erat gelang tersebut dan mendekatkan ke dada.


******


Sore hari, rumah Wiryawan sudah dipadati dengan tetangga yang mendengar kabar duka tentang Giyan. Mereka membantu persiapan acara kirim doa untuk Giyan. Maryam, ibunda Giyan, sama terpukulnya dengan Mesha. Ia duduk di dalam kamar Giyan sembari memeluk foto putra sulungnya.


"Oalah le ... rasa-rasanya, ibu masih ingat senyum bahagiamu karena bakal bersanding dengan gadis yang kamu cintai, tapi kenapa ... kenapa kamu malah pergi mendahului ibu?" ratap Maryam dalam isak tangisnya.


Grisa memandangi ibunya dari pintu kamar, kemudian berjalan mendekati meja kerja Giyan, memandangi paspor Giyan dan Mesha yang berjejeran. Foto Mesha yang diambil sembunyi-sembunyi oleh Giyan pun bertengger manis dalam bingkai yang cantik, di meja tersebut.


Grisa mengangkat bingkai berisi foto Mesha, memandanginya cukup lama.


"Mas Gi begitu mencintai mbak Mesha, Bu. Mas Gi pasti bahagia di detik-detik akhirnya, pergi dalam pangkuan wanita yang dicintainya," ujar Grisa dengan suara parau sembari menahan air matanya.

__ADS_1


Maryam menoleh ke arah Grisa, kemudian kembali terisak.


"Ya ... tapi apa salah Giyan, sampai secepat itu harus pergi? Dan ... dan ... serangan jantung? Bagaimana ... bisa?" ceracau Maryam, isakannya semakin keras.


Grisa berjalan dan duduk di ranjang memeluk ibunya.


"Sudah, Bu. Sudah ... ikhlaskan mas Gi, mas Gi sudah bahagia, sudah tenang, Bu ...." hibur Grisa.


Pada akhirnya, Grisa pun sudah tidak bisa menahan air matanya. Kedua perempuan berbeda generasi itu berpelukan sangat lama, tanpa menghiraukan tetangga yang sudah berdatangan.


"Nduk ... Gris, ibu minta tolong, antarkan paspor nduk Mesha. Akan lebih baik kalo dia menyimpannya sendiri," pinta Maryam saat tangisnya mulai mereda.


"Iya, Bu. Sekalian Grisa juga mau lihat keadaan mbak Mesha. Kasian, Bu. Waktu pamitan tadi, tatapan mbak Mesha kosong ...." ungkap Grisa.


"Gusti ... malangnya genduk ...." gumam Maryam setelah mendengar cerita Grisa.


"Ibu istirahat aja, biar Grisa yang bantu Bude Hanna urus persiapan acara kirim doa buat mas Gi," usul Grisa sembari menyeka sisa-sisa air mata di pipinya.


Maryam mengangguk.


******


Mesha memejamkan mata, kemudian ia tertidur, dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Giyan masih memakai baju pengantinnya. Laki-laki itu tersenyum, melambaikan tangan lalu berbalik arah membelakangi Mesha.


Mesha memanggil-manggil Giyan sembari berlari mengejarnya. Tetapi, sosok Giyan semakin menjauh. Kemudian, Mesha seperti terperosok dalam sebuah lubang, dan berakhir pada peristiwa malam itu, di kamarnya. Seperti de javu, tragedi pada malam pertama terulang kembali dalam mimpinya.


"Jangaaaaaaannnn! Lepaskan dia! Lepaskan!"


Mesha berteriak-teriak dalam tidurnya, membuat Zafia yang menungguinya, ketakutan. Ia menggenggam tangan Mesha. Saat Mesha tersentak bangun dan reflek duduk, Zafia buru-buru memeluknya.


Mesha menangis dalam dekapan Zafia. Dengan penuh kesabaran, Zafia membiarkan Mesha menangis sepuasnya. Kata penghiburan, seakan sudah tidak berguna lagi. Ia hanya menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu, dengan lembut.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2