
Grisa menyesap teh jahe di hadapannya. Di sebuah angkringan tak jauh dari tempatnya tadi berjongkok dengan tangisannya. Meski banyak orang, suasananya tidak ramai. Tidak paham dengan apa yang terjadi dengan dirinya sendiri, kini. Ia tidak menolak duduk bersebelahan dengan orang asing. Laki-laki pula!
"Kamu beneran niat mau bunuh diri tadi? Cewek secakep kamu? Apa pacarmu kabur ninggalin kamu setelah ...."
Grisa menoleh, menatap tajam pada laki-laki yang mengoceh di sampingnya. Kemudian tertunduk kembali.
"Aku bukan perempuan seperti yang kamu pikirkan!"
"Terus ngapain tadi? Jalan di tengah jalan, gak mau minggir meski aku klakson berkali-kali."
"Aku tuli sesaat."
Laki-laki muda tadi, tertawa. Hingga orang-orang di sekitarnya sontak menoleh ke arahnya.
"Semoga memang sesaat. Oh, iya. Kamu gak takut waktu kuajak ke sini tadi?"
Grisa mengangkat wajahnya, memandang lurus ke depan. Ke jalanan yang mulai sepi. Tatapannya menerawang jauh.
"Aku gak tahu, instingku bilang, kamu bukan laki-laki jahat."
"Apa instingmu selalu benar?"
"Biasanya, begitu."
Laki-laki yang mempunyai lesung pipi di sebelah kiri itu, tersenyum. Ia salut akan keberanian gadis di sampingnya.
"Lalu, sebenarnya apa masalahmu?"
"Masalahku? Itu karena aku bodoh."
Lagi-lagi pria muda tadi tertawa.
"Aku baru pernah menemui gadis yang unik seperti dirimu. Sungguh! Ngomong-ngomong, namaku Lian."
Grisa menoleh kepada seseorang yang duduk di sampingnya tersebut.
"Berdarah Tiong? Sesuai dengan parasmu."
"Entah, kedua orang tuaku menamaiku Julian."
Kini giliran Grisa tertawa.
"Aku sok tahu, kan? Aku Grisa."
"Nama yang cantik, sesuai dengan orangnya."
"Kamu yang ke seratus bilang seperti itu."
"Kamu menghitungnya?"
"Cuma kira-kira."
__ADS_1
Lian benar-benar tertarik dengan gadis yang berbicara dengannya saat ini. Meskipun bibir perempuan itu tersenyum dan tertawa, tetapi dibalik semua itu, ia melihat kesedihan di wajah cantik tersebut.
"Jadi ... kamu bukan ditinggalkan oleh pacarmu atau suamimu? Hanya orang bodoh yang melakukan itu."
"Apa?"
"Lupakan saja!"
Grisa menyeruput tehnya lagi, lalu menghela napas. Kemudian, ia memandang lurus jauh ke depan lagi.
"Aku mencintai orang yang salah. Salah tempat, salah waktu. Hanya itu. Dia gak bodoh, aku yang bodoh, karena memaksakan diri dan memaksakan takdir." Senyum kecut melengkung di bibir Grisa saat ia mengakhiri kalimatnya.
Lian melirik ke arloji yang menempel di pergelangan tangannya. Ternyata, malam sudah kian larut.
"Aku antar kamu pulang, Gris. Ini sudah terlalu larut."
"Gak perlu, aku bisa memanggil taksi, Lian."
"Apa kamu takut kuapa-apakan?"
"Kamu mungkin belum tahu, aku pernah belajar ilmu bela diri."
Lian tertawa.
"Cewek setangguh kamu, bisa nangis kayak tadi karena cowok?"
Kini, Grisa menatap Lian dengan pandangan tajamnya.
"Baiklah, ayo! Kalo kamu macam-macam, aku sanggup memitingmu."
Pada akhirnya, Grisa menerima tawaran Lian untuk mengantarkan dirinya pulang. Sepanjang perjalanan, Lian terus bercerita tidak jelas. Terkadang, lelucon garing-nya membuat gadis itu tertawa tanpa suara.
"Kenapa kamu gak cepat pulang, Lian?" tanya Grisa saat ia sudah berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Menunggumu masuk ke dalam rumah. Aku baru pergi, begitulah laki-laki gentle harus bersikap."
"Berapa gadis yang kamu beri sikap seperti itu?"
"Kamu yang ke seratus."
"Ah, bagus, Mister Playboy!" Grisa berbalik membelakangi Lian, berjalan masuk, lalu melambaikan tangan tanpa menoleh kepada laki-laki itu.
"Enak saja! Aku bukan playboy," seru Lian.
Keesokan harinya, di tempat lain. Zayan sudah datang ke rumah Mesha. Ia mempercepat jam pulang, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya di kantor.
Di ruang tamu, Mesha duduk diapit oleh kedua orangtuanya.
"Jadi, kamu sudah tahu keadaan putri kami, Le?" Bagas tercengang setelah mendengar cerita Zayan sore itu.
"Saya sudah tahu sejak kecil dulu, Pak. Dan niat saya kemari, secara resmi untuk meminta putri Bapak, Echa. Menjadi calon pendamping saya. Jika Bapak da Ibu berkenan, saya akan membawa keluarga saya minggu depan."
__ADS_1
"Kamu ndak main-main to, Le?"
Zayan mengangguk mantap. Menjawab pertanyaan Mayang.
"Masalah kutukan atau apa pun itu. Saya pun sedang berusaha mencari jalan keluarnya, Bapak dan Ibu."
Zayan menatap Mesha, lalu berkata, "Kamu masih menyimpan gelang yang aku beri waktu dulu kan?"
Mesha mengangguk, lalu bangkit untuk mengambilnya.
Setelah kepergian Mesha, Bagas mendekatkan dirinya pada Zayan.
"Kamu yakin? Gelang seperti itu, apa manfaatnya? Apa yang Echa punyai, itu karena kesalahanku. Seseorang mengikatnya dengan makhluk dunia lain karena dendamnya. Kamu juga bisa celaka jika tetap nekar melawan." Bagas berbicara dengan volume suara yang rendah.
"Saya tahu itu, Pak. Saya akan berusaha, semoga semuanya membaik, atas ijin Gusti Allah." Zayan berkata dengan mantap, senyum terulas di bibirnya.
Mayang merasa terharu dengan keteguhan laki-laki muda yang duduk di hadapannya.
"Kenapa kita ndak beri kesempatan saja padanya, Pak?"
"Tapi, Bu ... aku ndak mau anak orang lain celaka lagi dan membuat Echa terguncang lagi."
"Echa yakin sama Mas Zay, Pak. Dan Echa pun akan berusaha sekuat tenaga bersamanya melawan makhluk itu." Mesha baru saja kembali dari kamarnya dengan membawa gelang yang sama dengan dipakai oleh Zayan.
Gelang itu terbuat dari tali yang berbahan kain dipelintir, dengan manik-manik bermaterial bambu berjumlah tujuh buah yang besar. Dengan dua simpul hidup yang bisa bergeser menyesuaikan lingkar pergelangan si pemakai. Sehingga, benda itu bisa dipakai oleh anak kecil hingga dewasa sekali pun.
Zayan mengambil gelang itu, dan memakainya, menumpuk dengan gelang yang ia miliki.
"Seperti yang Bapak dan Ibu lihat, gelang ini dibuat sepasang oleh teman kakek saya. Yang diberkahi dengan doa dan dilingkupi sebuah jenis energi. Taruhlah ini sebagai wasilah atau jalan, jangan percaya sepenuhnya pada kesaktian suatu benda ...."
Bagas mengerutkan dahi mendengar perkataan Zayan yang baginya seperti di luar nalar.
"Singkatnya, saya akan mencoba berbagai cara untuk melindungi calon istri saya dan nyawa sendiri. Tanpa doa dan restu dari Bapak dan Ibu sekalian, kurang afdol rasanya."
Bagas memandang putrinya yang menunduk, lalu memandang istrinya.
"Dia memang putriku, aku hanya bisa mengikuti keputusan yang ia ambil sendiri. Dia jauh lebih dewasa ketimbang diriku yang sering luput ini. Bagaimana, Nduk, Cha? Semua bapak serahkan sepenuhnya padamu."
Mesha mengangkat wajahnya, memandang Zayan yang menatapnya penuh harap sekaligus kemantapan. Kemudian ia menunduk kembali.
"Ya, Bapak dan Ibu. Echa akan berjuang bersama Mas Zay. Echa mohon doa dan restu bapak."
Degup jantung Zayan makin kencang, ia bahagia dengan keputusan Mesha yang baru saja didengar.
"Alhamdulillah ...." Zayan bergumam bahagia.
Tiba-tiba, angin berhembus sangat kencang, meski cuaca di luar begitu cerah.
Dengan sigap, Zayan berdiri di depan Mesha dan kedua orang tuanya, lalu melebarkan tangannya menghalau angin yang tidak wajar itu.
"Aku tidak takut padamu!" seru Zayan.
__ADS_1
Kemudian, suara tawa laki-laki, nyaring terdengar di ruangan itu, meski tidak berwujud.
Bersambung ....