Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 49 : Untaian Benang Merah Takdir


__ADS_3

Mesha meminta ijin untuk kembali ke kamar, setelah mendengar kisah dari penolongnya. Ia menurunkan lengan gaunnya, memandangi tanda lahir yang ia miliki dari pantulan cermin buram. Tanda lahir berwarna merah pudar berbentuk bulat seperti koin di bahu kirinya.


Mesha terngiang-ngiang dengan perkataan suami Sri yang mengenalkan diri dengan nama Zul itu. Ia mengusap pelan tanda tersebut dengan lembut. Terlintas dalam pikirannya juga, beberapa kali, ia merasakan panas menyengat, di tempat tanda itu.


"Apakah aku benar-benar orang seperti itu? Mempunyai kutukan sejak lahir?" gumam Mesha. Kemudian, air mata meleleh dari mata cantiknya lagi. Ia mulai merasa beban itu terlalu berat dipikul.


Menurut penuturan Zul, para Bahu Laweyan akan terlepas dari kutukan jika mereka menikah sebanyak tujuh kali. Namun, siapa yang akan menikahi perempuan atau laki-laki yang sudah menikahi sekaligus membunuh pasangannya berkali-kali?


Mesha kembali ke dapur setelah lelah menangis. Membersihkan dan mencuci wajah serta matanya yang sembap. Ia membantu Sri menyiapkan dagangan. Pukul enam pagi, Zul berpamitan untuk berangkat kerja. Dengan bekal sarapan buatan sang istri.


"Bu, boleh saya ikut ke warung, bantu-bantu?" tanya Mesha saat Sri mulai menata dagangan di sebuah bakul besar untuk dibawa ke warung.


"Kenapa ndak boleh? Ayo!"


Mesha membantu membawa beberapa wadah berisi makanan, setelah mandi dan mengganti bajunya. Pakaian-pakaian Lastri yang sederhana, tetap membuatnya terlihat ayu. Hati Sri begitu bahagia, bak menemukan putrinya kembali. Ia ingin gadis itu tetap tinggal bersamanya.


Jam dinding di warung menunjukkan pukul tujuh. Beberapa orang sudah mulai memadati tempat itu. Beberapa pemuda yang singgah untuk makan, terpesona melihat kecantikan gadis yang sekarang membantu di warung tersebut.


Warung nasi rames milik Sri tersebut memang tidak terletak di jalan protokol. Meski tidak sebanyak sekarang pelanggannya, tetapi hasilnya masih bisa untuk kebutuhan sehari-hari suami-istri yang mulai menua itu. Selain harganya yang murah meriah, rasanya juga sangat disukai pembeli. Beberapa ibu muda bahkan membeli makanan untuk anak-anaknya sepulang sekolah.


Kabar seorang gadis cantik yang menjadi pelayan warung, dengan cepat menyebar. Dari toko-toko kecil di dekatnya hingga perkantoran dan pertokoan yang berada di jalan besar.


Tidak terkecuali, di kantor Bentala Swarga Group. Beberapa pegawai laki-lakinya mulai membicarakan sosok perempuan yang sama. Hanya Zayan yang tidak peduli dengan hal sepele seperti itu. Tentu saja karena di hatinya, sudah ada perempuan lain.


Rekan-rekan kerja Zayan, mengajaknya makan di luar. Namun, ia merasa enggan. Baru saja ia mengangkat telepon intra-ruangan untuk meminta tolong OB membelikan makan siang, seorang gadis memanggil namanya.


"Grisa? Ada apa sampai ke sini?"


Zayan memandang sekeliling, ia menemukan sebuah kursi kosong, lalu menyeretnya hingga ke depan mejanya. Mempersilakan Grisa duduk.


"Kebetulan tadi lewat, Mas. Oh, iya. Aku bawa makanan. Ini sudah jam makan siang, kan, Mas?"


Grisa meletakkan sebuah bungkusan di meja kerja Zayan.


"Wah, terima kasih. Bagaimana denganmu? Ayo, makan sekalian!" Zayan segera membuka bungkusan, sebuah kotak makan berisi nasi, sayur dan lauk-pauk.

__ADS_1


"Aku nanti saja makannya, Mas."


Grisa duduk menunggui Zayan makan. Meski merasa tidak nyaman, tetapi laki-laki itu tidak sampai hati untuk mengusir gadis tersebut pergi.


Setelah selesai makan, Zayan membereskan kotak makan dan menaruhnya di bawah meja.


"Kenapa ditaruh di bawah meja, Mas? Sini, aku buang saja!"


"Jangan, eman-eman. Bisa buat tempat makan lagi. Nanti aku cuci di dapur kantor."


"Ya, ampun, Mas! Kalau mau, kotak makan yang lebih bagus, banyak di rumah." Grisa tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkan Zayan.


Grisa memandang keliling ruang kantor tersebut. Terakhir ia datang, pada saat Giyan minta dibelikan makan siang. Beberapa sudut kantor itu, tidak berubah. Ujung kedua mata gadis itu basah. Zayan menangkap pemandangan itu.


"Kenapa? Ada apa?"


"Gak apa-apa, Mas. Aku hanya ingat waktu mas Gi kerja di kantor ini. Kalau ia masih hidup, mungkin kalian bisa jadi rekan kerja yang akrab."


"Ah, maaf. Sudah membuatmu mengingatnya lagi."


Zayan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku mau salat. Apa kamu mau ikut?"


Gris menggelengkan kepala.


"Halangan, Mas."


"Oh, oke."


"Kalau gitu, aku pamit dulu, Mas Zay. Semoga kerja magangnya sukses dan jadi pegawai di sini beneran."


"Ya, makasih. Salam buat bapak dan ibu."


Di tempat lain, Mayang terbaring di kamarnya. Ia belum mau makan dan tidak mau dirawat di rumah sakit. Dengan terpaksa, Bagas memanggil perawat ke rumahnya untuk memasang infus dan dokter untuk memastikan kesehatan istrinya.

__ADS_1


Berkali-kali Mayang bertanya kepada sang suami. Di mana Mesha berada. Beberapa orang diminta pertolongan untuk mencari sang putri.


"Besok bapak ke kantor polisi, Bu. Untuk meminta bantuan," hibur Bagas.


Bagas teringat sesuatu bahwa ia belum melayat ke tempat Sakha.


"Bu, aku ke rumah almarhum Le Sakha dulu."


Mayang mengangguk lemah.


Bagas menitipkan Mayang pada saudaranya yang tinggal tak jauh dari rumah. Ia pergi saat perempuan itu datang ke rumah.


Sesampainya di rumah Sakha. Bagas berdiri di depan rumah, enggan masuk. Beberapa orang memandang keheranan padanya, hingga salah seorang kerabat Sakha mengenali dan mempersilakan masuk.


Tatapan mata Ningsih terlihat kosong, saat Bagas menghampiri untuk mengucapkan bela sungkawa. Yumna yang memberitahukan sang ibu dengan perlahan.


Ningsih menangis ketika mendengar ucapan dari Bagas. Perempuan itu malah meminta maaf. Sekejap, kedua orang itu bertangisan. Bagas merasa bersalah karena membiarkan menantunya meninggal sia-sia akibat kelalaiannya.


Bagas mengikuti semua prosesi hingga jenazah Sakha dimakamkan. Laki-laki itu berpamitan saat hari hampir senja.


"Saya belum menemukan, Mesha, Bu. Jadi saya mewakilinya meminta maaf juga."


"Oalah, jadi anak itu belum ditemukan? Malangnya si Genduk. Harus mengalami hal-hal tersebut."


Yumna terdiam saat mendengarkan obrolan ibunya dan bapak dari mantan iparnya. Entah kenapa, timbul rasa tidak suka dari dalam hati gadis itu. Ia berpikir, harusnya Mesha di sini, bukan bapaknya. Namun malah tidak tahu sekarang berada di mana.


"Bu, kenapa Mbak Sha malah pergi? Bukannya mengantar kepergian Mas Kha?" celetuk Yumna saat Bagas sudah pergi.


"Ibu ndak tahu, Nduk. Yang ibu dengar dari cerita orang-orang, Nduk Mesha berlari sambil berteriak histeris. Ndak ada orang yang bisa menahannya."


"Berlari seperti pengecut?"


"Hush! Jaga perkataanmu, Nduk. Ndak baik didengar orang lain."


Semenjak itu, Yumna bersumpah akan menemukan perempuan itu dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi di malam itu. Ia hanya belum ikhlas kakak kesayangannya pergi begitu saja.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2