Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 15 : Kepergiannya.


__ADS_3

"Mas! Mas Gi! Buka matamu, Mas! Kumohon!" teriak Mesha di sela isak tangis.


Derap langkah kaki beberapa orang yang berlarian mulai terdengar mendekati kamar Mesha.


"Ada apa, Nduk? Kenapa teriak-teriak gitu?" tanya Mayang yang terlebih dulu sampai di depan kamar Mesha.


Mayang terbelalak melihat pemandangan di depannya, begitu pun orang-orang yang datang kemudian. Giyan tergeletak dengan kepala berada di pangkuan Mesha.


"Mas Gi, Bu. Mas Gi ... orang itu! orang aneh itu, mau mencelakai mas Gi!" ceracau Mesha masih terisak.


"Orang itu? Siapa? Mana?" sahut Mayang ikut panik.


"Wes, Bu ... wes, itu ditolong dulu," cetus Bagas berusaha tidak ikut panik.


Kemudian ia memohon kepada orang-orang di sekitarnya, "Bapak, Kang, tolong ... tolong bantu angkat dulu le Giyan."


Mesha menggeser tubuhnya. Kemudian, beberapa orang mulai mengangkat Giyan ke atas ranjang.


"Bu, tolong telepon keluarga pak Wiryawan, biar bapak yang memanggil ambulans." Bagas bergegas mengambil ponselnya yang biasa ditaruh di meja kerja dan mulai menelepon, di sisi lain, Mayang meraih gagang telepon untuk menghubungi keluarga Wiryawan.


Sementara itu, Mesha ia masih terisak, tetapi ia tidak berani mendekati suaminya yang terbaring tak bergerak sedikitpun, rasa kalut, dan takut menyelimuti perasaannya. Ia hanya berdiri terpaku di tempat.


Beberapa saat kemudian, bunyi sirine ambulans meraung memecah keheningan malam.


"Nduk, kamu ndak usah ikut, kamu di rumah aja ya," ucap Mayang sebelum dirinya ikut masuk ke dalam ambulans.


Mesha tidak menjawab sepatah kata pun, ia menurut, dan kembali ke kamarnya.


Di ranjang pengantin yang masih berhiaskan bunga-bunga yang indah nan harum, Mesha duduk memeluk lututnya, sekujur tubuhnya gemetaran.


"Aku memang gak menginginkan pernikahan ini ... ta—tapi, aku ... aku juga gak mau mas Gi celaka, aku harus bagaimana? Apa? Apa yang terjadi? Apa ini semua salahku?" gumam Mesha pada dirinya sendiri, dengan suara bergetar.


Di halaman rumah, sebuah mobil berhenti. Seorang gadis turun, dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Ia menerobos masuk ke kamar Mesha. Hatinya sedih mendapati kakak iparnya duduk sendirian memeluk lutut, menyembunyikan wajah dan menangis.


"Mbak ... mbak Mesha, ini aku," katanya.


Mesha mendongakkan kepala, tangisnya semakin pecah saat Grisa memeluknya dengan kelembutan.

__ADS_1


"Udah, Mbak. Udah, kita berdoa aja, moga-moga mas Gi gak kenapa-kenapa ya, Mbak ...." ucap Grisa menenangkan Mesha, sembari menepuk-nepuk punggungnya.


"Ini ... ini semua salahku, salahku!" Mesha mulai menangis histeris lagi.


Maryam menyaksikan putri dan menantunya berpelukan dalam tangis, dari depan kamar. Hatinya hancur, tapi ia berusaha tenang. Ia berjalan mendekati Mesha, mengelus punggung menantunya itu, dengan penuh kasih, sembari berucap, "Sudah, Nduk, Sha ... bukan, itu bukan salahmu, sudah, sudah ... ndak perlu seperti itu." Kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Gris, kamu jaga mbakmu ya, bapak sama ibu nyusul ke rumah sakit."


"Ya, Bu," sahut Grisa.


Setelah Maryam meninggalkan kamar, Grisa menopang Mesha yang duduk bersandar padanya. Suasana di kamar itu masih sunyi, hanya suara sesenggukan Mesha yang masih terdengar.


"Mas Gi, akan baik-baik saja, to?" tanya Mesha dengan suara parau.


"Ya, Mbak, semoga ... Mbak Sha istirahat ya, biar Grisa temenin di sini."


Mesha mengangguk.


Beberapa jam berlalu, masih belum ada kabar dari rumah sakit. Grisa bolak balik mengecek ponselnya. Nihil! Sementara Mesha, ia tertidur di sebelahnya. Tiba-tiba, bulu kuduk Grisa meremang, ia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, tapi ia tidak menemukan apapun.


Dini hari, mobil keluarga Wiryawan berhenti di depan rumah Bagas. Mayang dan Bagas turun dari mobil itu.


"Mesakne kamu, Nduk ... kenapa kamu harus bernasib seperti itu ...." gumam Mayang saat memasuki rumah, Bagas berjalan di sebelah, memapahnya.


Grisa terantuk-antuk menahan rasa kantuknya, kemudian ia melihat kedua orang tua Mesha masuk ke dalam kamar.


"Bu, Pak, gimana? Gimana mas Gi?" tanya Grisa dengan memelankan suaranya.


Bagas menunduk, Mayang membekap mulutnya dan mulai sesenggukan.


"Le Giyan, sudah ndak ada ... dokter bilang, serangan jantung ...."


Mata Grisa terbelalak, ia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


"Gak mungkin! Mas Gi sehat, bugar, dan rajin olahraga! Gak! Gak mungkin, mungkin Ibu dan Bapak salah dengar!" sanggah Grisa diiringi deraian air mata.


Bagas semakin tertunduk, sedih.


Mesha terbangun, ia mengusap matanya, melihat tiga orang bertangisan di hadapannya.

__ADS_1


"Bapak, ibu, mana mas Gi?"


Mayang dan Bagas terdiam, hanya isakan yang terdengar dari mulut mereka.


Grisa menubruk Mesha, tangisnya semakin keras.


Mesha mencoba memahami, isyarat tubuh orang-orang dihadapannya. Yang ia tangkap, bahwa Giyan telah pergi selama-lamanya membawa segala rasa cinta untuk Mesha.


Mesha mematung, bahkan ia sudah tidak bisa mengekspresikan kesedihannya, seakan-akan air matanya mengering. Tatapan Mesha sayu, kosong, sementara orang-orang di sekitarnya menangis.


Mobil ambulans pembawa jenazah telah tiba di kediaman Bagas. Maryam dan Wiryawan ikut turun dari ambulans tadi. Tetangga sekitar pun mulai berdatangan. Beberapa diantaranya bahkan mulai membantu segala persiapan pemulasaran jenazah Giyan, termasuk menyiapkan tempat persemayaman sementara. Tarub yang sebelumnya dipakai untuk pesta pernikahan, kini menjadi tarub untuk menaungi para pelayat.


Mesha berjalan mendekati tubuh Giyan yang membujur kaku, Grisa yang terisak memegangi lengannya. Ia membuka kain penutup wajah Giyan dengan perlahan, dan memandangi wajah Giyan yang mulai memucat dengan senyuman yang tersungging. Dielus pipi suaminya untuk terakhir kali, kemudian dikecupnya kening laki-laki itu, dingin, tanpa reaksi, hanya itu.


Mesha benar-benar seperti mayat hidup, tidak menangis, tanpa ekspresi, pandangannya kosong. Dan orang-orang di sekitarnya memandangi dengan rasa iba. Setiap orang yang datang memberikan penghiburan, tidak digubrisnya sama sekali. Bahkan saat Grisa meninggalkannya sebentar, ia tetap bergeming, menyandarkan tubuhnya ke tembok, seperti boneka yang terbengkalai.


Zafia datang saat hari mulai terang, ia menggantikan Grisa mendampingi Mesha. Sementara Grisa membantu segala persiapan pemakaman.


Zafia menggenggam tangan Mesha. Ia baru menyadari, bahwa Mesha masih memakai piyama. Zafia terisak, sedih, melihat keadaan sahabatnya saat ini. Ia berinisiatif menuntun Mesha ke dalam kamar, dan membantu mengganti pakaian.


Hari semakin siang, semua persiapan pemakaman Giyan sudah selesai. Grisa bergegas masuk ke dalam rumah setelah prosesi pemberangkatan jenazah selesai. Ia menuju kamar Mesha, ia mengangguk sopan kepada Zafia kemudian bertanya dengan lembut, "Mbak ... Mbak Mesha mau ikut nganterin mas Gi?"


Mesha mengangguk.


Mesha berjalan perlahan di belakang keranda, dengan diapit Zafia dan Grisa. Ia sama sekali belum berkata-kata hingga acara pemakaman usai. Ia bersimpuh di depan pusara saat sebagian pelayat mulai meninggalkan pemakaman.


Mesha mengelus nisan bertuliskan nama Giyan.


"Maaf, mas ... bahkan aku belum bisa memberikan apa yang paling diinginkanmu meski di saat-saat terakhir, hatiku ...." ucap Mesha dengan lirih. Rasa bersalah yang semakin menghimpit, membuat tangisnya kembali pecah. Grisa dan Zafia buru-buru berjongkok untuk menenangkannya.


Sementara beberapa pelayat yang masih menyaksikan kejadian itu, mulai berkasak-kusuk.


"Kasian ya mbak Mesha, baru jadi pengantin sehari, udah ditinggal suaminya ...." bisik seorang pelayat pada pelayat lainnya.


"Ho oh, buku nikahnya aja belum jadi, udah jan ...."


"Hush! Kalian pada ngapain? Ayo pulang! Ndak ilok rasan-rasan di tempat seperti ini!" tukas lainnya dengan merendahkan suaranya.

__ADS_1


"Iya, iya. Ayo!"


Bersambung ....


__ADS_2