
"Apa yang Kakek inginkan dariku?" tanya Zayan untuk ke dua kalinya.
Nirwasita mengembangkan senyum di bibirnya. Matanya menatap penuh kelembutan, lalu ia tertawa.
"Memangnya apa yang kamu punya, sehingga aku menginginkannya?" Nirwasita mengelus jenggotnya yang juga berwarna putih, masih dengan sedikit tawa di bibirnya.
"Entahlah Kek, yang aku tahu makhluk-makhluk seperti Kakek ini bukannya selalu meminta imbalan untuk setiap permintaan yang dikabulkan." Zayan mengalihkan pandangan dari sosok yang berdiri di depannya.
Tawa Nirwasita semakin keras, Zayan terlonjak kaget.
"Apa Kakek tidak tersinggung dengan perkataanku? Malah tertawa semakin keras. Kaget aku, Kek!" ujar Zayan sembari mengelus dadanya.
"Kamu ini, manusia yang lucu. Tapi iya juga, sebuah pertanyaan yang bagus, untuk apa aku marah?"
Nirwasita masih mengelus jenggotnya, kali ini tawanya berhenti. Ia berjalan kemudian membuka sebuah lubang bercahaya seperti portal, dengan tongkat kayu yang dipegangnya.
"Ayo, ikut aku lagi!" ajak Nirwasita.
"Ta—tapi, Kek ...." Zayan masih ragu dengan ajakan Nirwasita, ia seperti sedang mencari alasan untuk menghindar.
Sekonyong-konyong Nirwasita menarik tangan Zayan untuk masuk ke dalam lubang tadi.
"Iki bocah pancen kebangetan! Masih saja ndak percaya!" gerutunya.
Zayan terpaksa mengikuti kakek tua di depannya, karena sudah terlanjur masuk ke dalamnya. Ia terperangah melihat lorong yang dilewati, dinding-dinding itu seperti terbuat dari kilauan cahaya yang berwarna-warni. Memang menakjubkan, dan sulit dipercaya.
Tak berapa lama, Nirwasita menghentikan langkahnya, begitu pun Zayan. Kini, Zayan benar-benar semakin terpukau dengan pandangan yang tersaji di depan matanya. Sebuah pondok kayu kecil yang berdiri kokoh di bawah pohon besar yang menjulang tinggi. Daratan sekitarnya terlihat begitu asri dengan hamparan rumput hijau. Lorong cahaya di belakang mereka, sudah menghilang.
"Hmm, selamat datang di tempat tinggalku!" Nirwasita berjalan mendahului Zayan yang masih berdiri tercengang di belakangnya.
Nirwasita tertawa, kemudian menyambung perkataan sebelumnya, "Ya, manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya, tapi ini lah yang bangsa kami bisa kerjakan dengan anugerah yang kami miliki."
Zayan masih terdiam tak bersuara dan berjalan mengikuti Nirwasita menuju sebuah bangku di pelataran pondok kayu.
"Jangan bertanya di mana tempat ini berada, yang jelas, bukan di dunia yang kamu tinggali. Tapi dunia yang berdampingan dengan dunia manusia," imbuh Nirwasita.
"Tapi, apa maksud Kakek membawaku ke sini?" Zayan memandang sekeliling masih dengan perasaan kagum.
"Hanya ingin menunjukkan kepadamu, siapa diriku!" sahut Nirwasita, lalu tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi burung Alap-alap berukuran besar, dengan bulu berwarna putih bersalur abu-abu di bagian leher dan sayap. Ia terbang dengan kecepatan tinggi. Zayan mendongakkan kepalanya melihat pemandangan lain yang tak kalah ajaib itu.
Setelah Nirwasita yang berwujud burung Alap-alap terbang tinggi dan berputar di atas Zayan, ia pun menukik turun dan mendarat, lalu berubah ke wujud semula, seorang kakek berambut perak. Kemudian, ia berjalan mendekati Zayan yang masih duduk di bangku dengan ekspresi wajah terpukau. Lagi-lagi Nirwasita tertawa.
__ADS_1
"Baru pernah lihat yang begini, Le?" Nirwasita bertanya pada Zayan saat dia mengambil tempat duduk di sebelah laki-laki muda itu.
"Ya, Kek. Apa Kakek selalu berwujud seperti itu?"
"Ndak, tergantung kondisi. Tapi aku suka dengan wujud Alap-alapku," sahut Nirwasita.
Kemudian Nirwasita melanjutkan kata-katanya lagi,
"Dulu, waktu aku mengambil wujud ini, seorang manusia membidikku dengan suatu benda yang membuatku jatuh dan lemas. Tapi Arsyanendra, berhasil mengusir laki-laki itu, dan menyelamatkanku. Manusia itu merawatku hingga aku bisa kembali terbang."
"Ah! Jadi burung yang mbahkung selamatkan itu ... rupanya Kakek?" sela Zayan.
"Ya! Aku berhutang budi padanya, Waktu itu, kekuatanku memang sedang terbatas. Untuk menyelamatkan diri pun ndak bisa!" kenang Nirwasita.
Tanpa sengaja, mata Nirwasita menangkap benda yang melingkar di pergelangan tangan Zayan.
"Gelang itu ...." Nirwasita menunjuk benda yang mengalihkan fokusnya tadi.
"Oh ini, Kek? Ini mbahkung yang kasih," urai Zayan.
Nirwasita tertawa lembut.
"Kami membuatnya bersama, dan seharusnya itu sepasang, kan?"
Nirwasita mengangguk-angguk. Kemudian berkata, "Ya ... aku tahu itu, Arsyanendra sudah menceritakan itu padaku. Aku harap, itu ndak jadi hal yang sia-sia."
"Maksud Kakek, apa?" tanya Zayan lagi.
"Hmmm ... kalau nanti tiba saatnya, kamu bakal tahu kok, Le!" Nirwasita kembali mengelus jenggotnya dengan mata yang tertutup.
Beberapa saat kemudian, Nirwasita membuka matanya dan berdiri, kemudian berkata, "Sudah saatnya kamu pulang, Le. Ndak bagus juga untukmu terlalu lama di sini."
Nirwasita mengangkat tongkat kayunya seperti menggambar sebuah lingkaran besar. Kemudian sebuah lorong cahaya tercipta dari lingkaran yang dibuat Nirwasita.
Zayan berjalan masuk ke lorong itu, dan melambaikan tangan, Nirwasita membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
"Bro, bangun bro! Kenapa sampean tidur di sini sih?" Karman mengguncang tubuh Zayan yang duduk tertidur di bawah sebuah pohon.
Zayan terbangun dengan ekspresi kebingungan.
"Tidur? Aku? Kok bisa?" tanya Zayan.
__ADS_1
"Bukan, tetanggaku yang tidur di bawah pohon!" jawab Karman sarkastik, kemudian ia melanjutkan, "Ya sampean lah! Siapa lagi!"
Masih dengan rasa bingung dan heran, Zayan berdiri dengan bantuan Karman.
"Tadi tuh, aku nggak lagi tidur. Tapi kenapa bisa jadi tidur di sini?" ungkapnya.
Karman mengangkat kedua bahunya, tanda tidak paham apa yang dibicarakan oleh temannya itu.
"Apa itu tadi, cuma mimpi?" gumam Zayan.
Zayan menengadah, ia melihat seekor Alap-alap terbang berputar jauh di atas sana. Ia tersenyum, sedangkan Karman semakin heran dengan polahnya.
"Kelas selanjutnya, Bu Fatiya, Bro. Sampean mau masuk gak?"
Zayan menjawab dengan kepala masih memandang burung yang terbang di atas sana, "Ya, aku masuk!"
"Udah nggarap tugas yang kemarin?" tanya Karman lagi.
Senyum Zayan semakin lebar, kemudian ia menatap Karman.
"Udahlah! Meskipun aku sering titip absen, tugas gak ketinggalan!" jawabnya.
"Kan ... aku lihat to!"
"Boleh. Ayo, cari tempat yang bisa sambil ngopi-ngopi!" Zayan ngeloyor pergi meninggalkan Karman di belakangnya.
"Kebiasaan! Heleh!" gerutu Karman seraya berlari mengejar Zayan seperti biasanya.
Zayan menikmati secangkir kopi hitam dengan gula jawa kesukaanya, sedangkan Karman sibuk menulis sesuatu pada lembar kertas folio bergaris.
"Jaman sudah maju, kok ya masih disuruh nulis tangan sih, ampuuuuun!" sungut Karman.
"Kamu gak tahu to? Tulisan tangan itu, terkadang mencerminkan karakter seseorang. Itu yang justru membuatku salut dengan Bu Fatiya!" timpal Zayan.
Udara di sekitar kantin kampus itu terasa sejuk dan sepoi-sepoi, dan jenis minuman yang disajikan cocok dengan minat Zayan. Tak heran, kantin itu pun menjadi tempat favorit lainnya bagi Zayan.
"Ya ampun, mimpi apa aku semalam, sampai bisa ketemu sama cowok cakep ini!" pekik seorang gadis yang membuat Zayan dan Karman kompak menoleh ke arah yang sama.
Bersambung ....
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like tiap bab, dan komennya ya. Lup yu! 😉❤
__ADS_1
➡ Alap-alap (Bahasa Inggris: Falcon, Caracara atau Kestrel) merupakan sebutan untuk Burung pemangsa anggota keluarga Falconidae. Termasuk jenis burung yang dilindungi oleh negara.