Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 22 : Kegundahan Hati.


__ADS_3

"Ya ampun, mimpi apa aku semalam, sampai bisa ketemu sama cowok cakep ini!" pekik seorang gadis yang membuat Zayan dan Karman kompak menoleh ke arah yang sama.


Sejurus kemudian, Karman menutupi wajah dengan tas ransel miliknya.


"Pahit! Pahit! Pahit! Demit ora ndulit! Setan ora doyan!" gumam laki-laki itu, lirih. Zayan tersenyum lebar melihat tingkah laku temannya itu.


"Mas Kar ... ke mana aja sih? Aku nyari ke sana ke mari, lho!" Gadis dengan pakaian sederhana dan kacamata bulat bertengger di wajahnya, bergelayut manja pada Karman.


"Ih, jangan gitu. Malu tuh dilihat sama orang-orang!" cegah Karman.


"Ya biarin, kan mereka punya mata, Mas. Ngeliatin ya wajar lah!"


Karman memberi kode isyarat kepada Zayan untuk membantunya melepaskan diri dari Yumna. Gadis berkaca mata bulat dengan kipas bulat di tangannya. Laki-laki itu berpura-pura tidak paham dengan isyarat sahabatnya. Kemudian ia bangkit dari duduknya.


"Kalo begitu ... kalian nikmati waktu berdua ya, aku mau masuk ke kelas dulu," pamit Zayan. "Kertas tugasku nanti tolong dibawa ya, Man?" sambungnya kemudian dengan senyuman jahil tergambar di bibirnya.


"Weeh ... weh! Kok aku malah ditinggal to, Bro?" teriak Karman begitu melihat Zayan berjalan menjauh. Zayan berbalik sebentar, lalu melambaikan tangannya meledek Karman.


"Nasib ... nasib!" keluh Karman lirih. Di sebelahnya, Yumna masih cengar-cengir memeluk lengan Karman. "Nggak apa-apa to, di sini kan, masih ada Yuyum yang selalu setia menemani Mas Karman!" Yumna mengibaskan kipas bulatnya ke arah Karman. Pria itu mengerucutkan bibirnya sebagai balasan, lalu melanjutkan menyalin tugasnya.


Sementara di lain tempat, Zayan berjalan di sebuah lorong menuju kelas untuk jadwal kuliah selanjutnya. Dari arah berlawanan, berjalan seorang gadis dengan rambut panjang yang diikat ke belakang. Kulitnya yang kuning langsat terlihat begitu kontras dengan tuniknya berwarna biru. Ia tersenyum saat Zayan berpapasan dengannya, tetapi pria itu hanya mengangguk tanpa ekspresi.


Grisa membalikkan badannya, lalu memanggil laki-laki yang masih berjalan tadi. Ia merasakan bahwa dirinya mulai tertarik dengan laki-laki tersebut.


"Mas! Mas Zay!"


Mendengar seseorang memanggilnya dengan panggilan itu, langkah Zayan terhenti. Ia mematung sejenak. Laki-laki itu berpikir, seseorang yang dikenalnya akan memanggilnya dengan panggilan tersebut. Namun ia terkejut, saat gadis itu berdiri di hadapannya.


"Mas Zay, aku belum minta maaf secara resmi karena tadi pagi ...." Perkataan Grisa terhenti saat gadis itu melihat dengan jelas wajah Zayan. Kali ini, gadis itu benar-benar semakin terpesona dengan laki-laki di hadapannya itu. Kharisma, sorot mata yang tajam dan pesona maskulinnya, benar-benar mengobrak-abrik hati Grisa.


Zayan buru-buru menundukkan kepalanya, menghindari tatapan gadis di hadapannya.


"Nggak perlu, bukan salahmu. Toh juga nggak sengaja. Maaf, saya masih ada jadwal kelas, permisi!" Zayan berlalu setelah mengucapkan kata-katanya yang tegas.


Sementara Grisa, ia tetap bergeming, hingga ia tersadar laki-laki di hadapannya sudah pergi.


"Ya Ampun ... apa-apaan sih aku? Malu-maluin banget!" gerutu Grisa pada diri sendiri.

__ADS_1


Sementara Zayan, ia tersenyum kecut saat mengingat kejadian tadi. Ia berharap seseorang lainnya yang memanggilnya kala itu. Seorang gadis kecil berkuncir dua yang selalu ingin ditemuinya. Kemudian ia berdecak kesal.


"Kelak, setelah aku layak. Aku akan mencarimu, Cha." Zayan mengangkat tangannya lalu memandangi benda yang melingkar di pergelangan tangannya.


***


Di tempat yang lain, dua orang gadis sedang duduk berbincang di sebuah taman. Sebuah cup minuman di tangan mereka masing-masing.


"Gimana kuliah kamu, Fi?"


"Baru mau mulai, Sha ... eh, kamu gimana? Jadi nyari Zay?"


Mesha tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Aku malah takut, Fi. Takut kalo pas ketemu sama dia, bisa saja dia memandang rendah aku."


"Kenapa memangnya, Sha?"


"Aku sudah pernah menikah. Suamiku meninggal karena aku."


"Hish! Nggak boleh gitu, Sha. Jangan menyimpulkan pemikiran orang lain kalo kamu belum tahu apa yang dipikirkannya."


"Kalo berjodoh, pasti kita bakal ketemu kok, Fi," ucap Mesha pasrah.


"Iya, tapi kalo nggak mau usaha. Ya sama aja, Sha ...."


Mesha tersenyum kecut.


"Ya udah, Sha. Aku pulang dulu ya, mau siap-siap berangkat ke kota S, mengunjungi sepupuku, terus ke kampusku di kota sebelahnya. Kamu jaga diri, ya!" Zafia berpamitan setelah memeluk Mesha.


"Kamu juga, Fi. Hati-hati ...."


"Apapun yang akan kamu hadapi di sini, kamu harus bahagia Sha. Aku selalu mendoakanmu dari jauh."


Kemudian dua gadis itu berpisah dengan senyum tergambar di bibir mereka.


***

__ADS_1


"Kita ketemu lagi ya, Mas. Apa mungkin kita berjodoh?"


Grisa menyapa Zayan yang sudah lebih dulu berdiri di halte kampus. Menunggu bus yang akan mengangkutnya pulang.


"Tahu apa kamu tentang jodoh?" sahut Zayan tanpa ekspresi.


"Bercanda, Mas! Jangan terlalu spaneng gitu ...."


Zayan menoleh sekilas dan memandangi Grisa dengan tatapan tajamnya. Kemudian laki-laki itu melengos kesal.


Grisa tertawa kecil melihat tingkah Zayan.


Sebuah bus berhenti di hadapan mereka berdua, menurunkan beberapa penumpang.


"Aku duluan!" ucap Zayan sambil melenggang pergi, masuk ke dalam bus.


Lagi-lagi Grisa tertawa. Hatinya senang. Meski nada bicaranya begitu dingin, tetapi Zayan masih mau berbicara dengannya.


"Aku cuma berharap, semoga hatimu belum dimiliki siapa pun, Mas," gumam Grisa. Beberapa saat kemudian, gadis itu masuk ke dalam bus berikutnya yang berhenti di halte tersebut.


Warna jingga menyemburat di langit kota itu. Menandakan hari hampir bergeser menuju petang. Bus yang ditumpangi kedua insan tadi, menembus membelah keramaian kota. Entah takdir apa yang akan dijalani mereka berdua. Namun jodoh, tetaplah rahasia ilahi.


***


Seperti halnya di belahan bumi lain, Mesha terpekur memandangi jendela kamarnya. Ia teringat perkataan Zafia, sahabatnya. Bahwa ia harus bahagia, apapun terjadi. Tiba-tiba gadis itu ingin mengunjungi makam almarhum Giyan, suaminya.


"Bapak, Echa pinjam motornya boleh? Echa mau ke makam Mas Gi." Ucapan Mesha membuat Bagas dan Mayang saling berpandangan. Ada ekspresi kekhawatiran di wajah kedua orang tersebut.


"Echa baik-baik aja kok, Bu, Pak. Echa cuma pengen nengok makam Mas Gi aja," ujar Mesha tersenyum.


"Oh ya sudah, jangan lama-lama, sudah hampir surup lho, Nduk," sahut Bagas.


"Ya, Pak. Terima kasih."


Kemudian Mesha menyalami kedua orang tuanya, menggelung rambut panjangnya dan menaikkan kerudung yang sudah tersampir di pundaknya.


Pelan-pelan Mesha mengeluarkan motor matic milik bapaknya. Kemudian, perlahan juga ia melaju di jalanan desa menuju pemakaman umum di mana jasad Giyan disemayamkan.

__ADS_1


Bersambung ....


🌹Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like atau komen! ❤ Lup yu pul tu de mun en bek!🌹


__ADS_2