
Pagi ini seperti biasanya, tempat favorit Mesha, kantin SMA Wijayakusuma, masih lengang. Gadis itu menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia masih malas berada di rumah, sehingga ia membuat janji bertemu dengan Zafia di kantin ini.
Mesha masih menggelengkan kepala dan menghela nafas dalam-dalam.
"Ngapain sih, Sha? Songgo wang dan ngempos gitu, kayak orang banyak utang aja!"
Mesha cengar-cengir mendengar perkataan Zafia, sahabatnya.
Zafia menarik kursi di depan Mesha dan duduk melipat tangannya.
"Beneran deh, liat wajahmu sekarang, gak enak banget!"
"Aaaah ... perasaanku juga lagi gak enak, Fi."
Mesha kembali menopang dagunya.
"Aku pulang aja ah! Males liat kamu kayak gini!"
Zafia hampir berdiri, karena kesal.
"Ishh, jangan ... please!" sergah Mesha dan kemudian ia tersenyum untuk membuat Zafia duduk lagi.
"Ada apa, Sha? Kayaknya kamu males banget di rumah?"
Tatapan Zafia menyelidik.
"Males lah, Fi ... bapakku beneran jodohin aku. Semalem mereka datang, buat ngeliat aku," jawab Mesha dengan muka masam.
"Berarti kamu udah liat calonmu?"
Mesha menghela nafas, "Iya."
"Terus, menurutmu gimana?"
"Kalo diliat-liat, dia emang ganteng, kata orang tuanya udah kerja kantoran, dan lulusan universitas di Luar Negeri. Tapi ...."
"Tapi, apa Sha?"
"Gak ada getaran sedikitpun waktu ngeliat dia, Fi."
"Gak tertarik, gitu?"
Mesha mengangguk.
"Aku mengiyakan, ya ... karena aku gak mau mempermalukan orang tuaku, Fi."
"Dan lagi, waktu aku bilang alasanku, aku masih pengen kuliah. Mereka malah menawariku kuliah di luar negeri, karena kebetulan putra mereka juga kan dapet beasiswa pascasarjana di luar negeri. Aku disuruh nemenin dan ngurusin dia ...."
"Heh? Jadi istri apa jadi pengurusnya?"
"Entahlah, Fi. Apapun itu, aku gak mau kemana-mana. Cuma mau kuliah di luar kota aja, sambil nyari 'dia'."
"Hmmmm ... aku bingung udah mau komentar apa lagi, aku juga gak bisa bantu apa-apa, Sha."
"Kamu di sini, dengerin curhatku, itu udah sedikit meringankan kepalaku." Mesha mengembangkan senyum di bibirnya.
Mesha masih terpekur memandangi suasana di luar kantin yang masih sepi. Ia berkali-kali menghela nafas dalam-dalam, berharap semua bebannya menghilang saat ia membuang nafas-nafasnya.
Tanpa sepengatahuan Mesha, Zafia memesan secangkir cokelat panas, lalu menyodorkannya pada Mesha.
"Nih, diminum dulu. Nelangsa aku liat kamu gitu, udah kayak orang yang divonis penjara aja."
"Sepertinya memang mirip, hufffhhh ... makasih ya Fi."
Zafia mengernyitkan dahi.
"Gak usah makasih mulu, ah. Aku gak suka liat wajahmu yang gak karuan gitu bentuknya!" saut Zafia sembari terkekeh.
Sepintas, Zafia melihat sosok itu lagi. Dan seperti biasanya, Zafia bersikap seperti tidak melihat apa-apa.
"Kalo kamu mau pulang duluan gak apa-apa, Fi."
__ADS_1
"Santai aja, Sha. Aku juga masih betah di sini," jawab Zafia masih dengan senyumnya.
"Apa kita jalan-jalan ke toko buku aja yuk, Fi. Siapa tahu, ada buku bagus yang baru."
"Wah boleh tuh!"
Setelah membayar makanan dan minuman mereka ke ibu kantin, Zafia dan Mesha berjalan keluar dari komplek bangunan SMA Wijayakusuma.
Zafia menggerakan tangannya untuk melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Eh, kita kan masih pake seragam sekolah, Sha, ntar gak boleh masuk ke toko buku jam segini ...."
"Eh ... iya ya! Apa kita pulang dulu?"
"Ke rumahku aja, gimana? Kita ganti atasan aja."
Mesha mengangguk setuju.
Rumah Zafia hanya berjarak satu kilometer dari SMA Wijayakusuma, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana.
Suasana rumah Zafia terlihat sepi ketika mereka berdua sampai di sana.
"Masuk, Sha," ucap Zafia sembari membuka pintu depan rumahnya.
Mesha sudah mengetahui bahwa orang tua Zafia juga bekerja di sebuah kantor instansi pemerintah. Sedangkan adiknya, masih bersekolah di sebuah Sekolah Dasar. Jadi, dia pun tahu jika di jam-jam begini, tidak ada orang di rumah Zafia.
"Sini, pilih sendiri bajunya, Sha."
Zafia menarik tangan Mesha untuk masuk ke kamarnya. Zafia sudah terlihat berganti baju. Setelah berpikir sejenak, Mesha memilih sebuah kemeja lengan pendek motif kotak berwarna biru tua.
"Ini ya, Fi?" tanya Mesha.
"Monggo ...."
Mereka berdua sudah keluar dari rumah Zafia. Mesha memasukkan seragamnya ke dalam tas. Setelah berjalan sebentar ke tempat pemberhentian angkutan umum, mereka berdiri menunggu, di sana.
Sebuah mobil berwarna silver melewati mereka. Mesha terhenyak, saat melihat platnya. Melihat ekspresi Mesha yang terkejut Zafia pun bertanya,
"Itu tadi, mobil yang lewat, aku mengenalinya, Fi. Kayak mobilnya ...."
Mesha berusaha mengingat-ingat.
"Itu mobil mas Giyan!"
"Mas Giyan? Siapa, Sha?"
"Itu ... laki-laki yang datang bersama keluarganya makan malam di rumahku, Fi."
"Oooh ... hah? Tapi tadi aku lihat ada seorang perempuan duduk di sebelah kemudi, Sha."
"Hah?"
Entah kenapa, Mesha merasa jengkel. Meskipun ia juga tidak setuju dengan perjodohan itu, tidak seharusnya Giyan seenaknya pergi dengan perempuan lain. Sementara Mesha, menjaga dirinya untuk tidak bersama laki-laki lain. Ada rasa dongkol yang semakin bercokol di hati Mesha.
"Sha? Kita jadi ke toko buku?" Zafia menarik lembut tangan Mesha.
"Eh, iya ... iya ... jadi, Fi," Mesha menjawab dengan tergagap.
"Itu, angkotnya udah datang."
Mesha mengangguk dan berjalan masuk ke dalam angkutan umum tadi.
Setelah sampai di tujuan, Zafia memberhentikan angkot yang mereka tumpangi.
"Pak, toko buku G stop ya, Pak," kata Zafia pada sopir angkot itu.
Mesha masih menerka-nerka tentang perempuan yang duduk di sebelah Giyan.
"Sha? Kamu gak mau turun?"
Ucapan Zafia membuyarkan lamunan Mesha, Zafia sudah berdiri di luar angkot.
__ADS_1
"Eh, iya ...." jawab Mesha sembari mengaduk-aduk isi tasnya.
"Aku udah bayar sekalian, tadi Sha."
"Oh ... makasih, hehehe."
Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam toko buku tersebut.
"Kamu gak apa-apa kan, Sha? Ngelamun terus dari tadi."
"Iya, Fi. Aku gak apa-apa."
Tak berapa lama, kedua gadis itu sudah mulai melihat-lihat buku di bagian "karya sastra".
Saat Mesha berjalan dengan mata yang fokus memperhatikan judul-judul buku, ia tidak segaja menabrak seseorang.
"Aduh!" terdengar suara perempuan mengeluh.
"Maaf, maaf. Saya tidak sengaja, Maaf! Lain kali saya akan hati-hati."
Ucap Mesha sambil menundukkan kepalanya, malu.
"Eh iya, gak apa-apa," jawab gadis itu.
"Mesha?"
Mesha mendongakkan kepala saat suara laki-laki dari kejauhan menyebut namanya. Ia terkejut, mendapati wajah yang dikenalnya, tersenyum kepadanya.
"Mas Giyan?"
Giyan mendekati gadis yang tidak sengaja tertabrak Mesha tadi.
"Kamu gak apa-apa, Dek?" tanya Giyan dengan lemah lembut.
Mesha memperhatikan ekspresi mereka berdua, sementara Zafia mendekatinya dengan wajah penuh tanda tanya, Zafia menggandeng lengan Mesha.
"Aku gak apa-apa kok, Mas. Tapi buku yang kubawa jadi berhamburan."
Serta merta Mesha merasa bersalah dan berjongkok untuk membantu mengambilkan buku yang terjatuh. Begitu juga dengan Giyan. Tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, Mesha buru-buru menarik tangannya.
"Mas kenal sama dia?"
"Iya, Dek. Dia ...."
"Kalo begitu, saya pamit dulu, sekali lagi maaf," Mesha berpamitan kemudian pergi meninggalkan Giyan dan gadis itu, dengan menarik tangan Zafia lembut.
Zafia menangkap ekspresi kecewa pada wajah sahabatnya itu.
"Kamu cemburu, Sha?"
"Hah? Mana mungkin!"
"Kok mukanya gitu?"
"Udah yuk, kita pindah ke toko lain aja, Fi!"
Zafia meringis.
"Mana ada toko lain dekat sini, Mesha sayaaaang ...."
Entah kenapa, Mesha benar-benar merasa dongkol.
"Ternyata calon suamimu, ganteng ya, Sha."
Mesha hanya melirik sebal pada sahabatnya itu, sedangkan Zafia, ia malah terkekeh-kekeh.
Bersambung ....
*****
Songgo Wang : Menyangga dagu dengan salah satu tangan, sembari melamun.
__ADS_1
Ngempos : Menarik nafas berkali-kali dengan berat, seperti diibaratkan motor yang berat tarikan gasnya.