Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 38 : Gadis yang Lain.


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi kedua mata Zayan belum bisa terpejam. Berkali-kali ia membalikkan badan, mencari posisi ternyaman. Tubuhnya benar-benar terasa lelah. Namun, kepalanya masih terisi oleh bayangan seraut wajah cantik yang ia lihat tadi siang. Sementara itu, di ranjang lain, suara dengkuran Karman sudah terdengar.


Zayan bangkit dari ranjang tidurnya, membuka jendela kamar. Suasana kebun samping rumah itu begitu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam lainnya. Udara dingin malam hari, menyeruak masuk. Pria itu berdiri, menyandar salah satu sisi jendela. Ia menatap langit malam.


Zayan berkali-kali menghela napas. Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah sosok duduk di dahan pohon. Seperti biasa, pria itu berpura-pura tidak melihat. Mengarahkan pandangan ke tempat lain. Sosok itu tertawa nyaring.


Tidak peduli dengan tawa yang mengganggu itu, Zayan tetap bergeming. Memandang sudut lain kebun rumah milik orang tua teman dekatnya. Ternyata, banyak makhluk gaib yang bersemayam di sana. Dua sosok kecil berkejaran.


Sosok nenek-nenek yang duduk di sebuah batu besar. Serta sosok seorang perempuan dengan mulut menyeringai lebar. Bibirnya seperti hampir sobek. Yang duduk di dahan tadi.


Lama-kelamaan, Zayan merasa energi negatif di sekelilingnya semakin besar. Membuat kepalanya mulai berdenyut. Ia memejamkan mata dan melantunkan do'a di dalam hati. Gelang manik-manik di tangannya, ia usap perlahan.


Mengenai gelang itu, bukannya Zayan menyembah atau mengkeramatkan. Ia hanya yakin, benda itu diisi energi positif oleh kakeknya. Oleh karena itu, setiap ia merasa ada tarikan energi negatif, laki-laki itu meminta perlindungan pada Tuhan dengan perantara energi positif dalam benda itu. Bukankah doa orang tua, lebih kuat?


Melihat energi positif dan cahaya yang berkilauan dari arah Zayan berdiri, makhluk-makhluk itu mengerutkan dahi, kesal. Beberapa menit setelahnya, makhluk-makhluk tersebut terbang lalu menghilang. Apalagi setelah sesosok kakek berbaju putih, rambut perak dengan tongkat di tangannya, datang.


Melihat sosok yang dikenalnya datang, Zayan mengangguk lalu tersenyum. Tawa khas Nirwasita terdengar menentramkan.


"Apa yang kamu lakukan di malam selarut ini, Le? Apa ada makhluk lain yang menggangumu?" Kakek berambut perak itu, melepaskan tongkat di tangannya. Kemudian, ia duduk di atas tongkat yang melayang.


Zayan tersenyum.


"Gak, Kek. Aku hanya sedang terganggu dengan sesuatu yang aku sendiri pun gak ngerti itu apa."


Mendengar penuturan laki-laki muda di hadapannya, Nirwasita tertawa kecil.


"Jangan-jangan, kamu sedang jatuh cinta? Seingatku, umur manusia seperti umurmu sekarang, sudah mulai ...."


"Bukan, Kek. Bukan itu!" Zayan cepat-cepat memotong pembicaraan laki-laki dari alam lain tersebut.


"Lalu? Apa yang mengganggumu? Bukankah sudah kubilang, jangan biarkan pikiranmu ke mana-mana! Nanti makhluk-makhluk tadi bakal merasukimu."

__ADS_1


Zayan mengangguk lalu terdiam.


"Kakek masih ingat kan? Dengan pasangan gelang ini?" Zayan mengangkat tangannya menunjukkan benda yang melilit di sana.


"Ya, tentu saja. Kan dulu aku sudah bilang, kakekmu yang minta untukmu dan untuk seorang gadis kecil."


"Ya, Kakek. Karena gadis itu, aku gak bisa menyukai gadis lain lagi. Tapi ini ...."


Nirwasita menautkan kedua alisnya yang juga berwarna perak. Kemudian tersenyum.


"Benar dugaanku, ini masalah hati. Betul bukan?"


Zayan mendesah kesal.


"Dengar dulu ceritaku, Kek!" pinta laki-laki muda itu.


"Ya, Ya ... cerita saja, silakan."


Zayan mengubah posisinya, sekarang ia duduk di kusen jendela bermodel kuno itu. Punggungnya menyandar, tatapannya lurus ke depan.


Nirwasita mengelus-elus jenggotnya yang panjang.


"Kenapa kamu berkesimpulan itu bukan gadis yang kamu cari?"


"Gadis itu sudah bertunangan, punya calon suami, Kek. Sementara, Echa bahkan dulu pernah berjanji gak akan mau main dengan orang lain selain aku, Kek."


Kali ini, Nirwasita tertawa sangat keras hingga memegangi perutnya.


"Kakek menertawaiku?" sela Zayan.


"Kamu ini, Le ... omongan seorang gadis di masa kecil, kamu yakini?"

__ADS_1


"Aku ... aku dulu kan juga masih kecil, Kek."


"Tapi sekarang kamu sudah dewasa. Kalau memang gadis itu milikmu dari awal. Dia akan menjadi milikmu, entah kapan."


"Jujur, Kek. Ini mungkin konyol, aku menyukai gadis itu. Gadis yang mau menjadi tamengku, saat anak kecil lain melempariku dengan kerikil atau pasir. Gadis yang mau berbagi bekalnya dengan anak yang pendiam dan susah didekati sepertiku. Sebesar apa pun aku menolaknya saat itu, gadis berkuncir dua itu selalu mengekoriku. Itu sebabnya juga aku dulu meminta bantuan Mbahkung untuk melindunginya dari makhluk yang selalu mengganggunya."


Nirwasita masih mengelus-elus jenggotnya. Menyimak setiap perkataan Zayan.


"Kamu tahu, Le? Jodoh, mati dan rejeki memang rahasia Tuhan. Aku dan kamu, sama saja. Harus meyakini bahwa Tuhan sudah berkehendak, kita makhluk-Nya, ndak bisa melawan. Aku sudah bilang di awal, jika memang gadis kecil itu jodohmu. Dia akan ada untukmu. Ndak perlu risau tentang gadis yang baru kamu temui tadi. Bisa jadi, itu bukan gadis yang sama dengan gadis yang kamu cari dari dulu."


Zayan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan keras. Ia mulai memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Nirwasita. Namun, di hatinya, ia merasa gadis itu adalah Echa. Degup jantungnya semakin kencang saat melihat kedua bola mata indah milik gadis tersebut.


"Jadi, ndak usah mikir macam-macam, Le. Kamu jalani aja takdirmu yang sekarang. Menggapai apa yang kamu harapkan. Buat orang tuamu bangga. Masalah anak gadis itu, jangan biarkan terus mengganggumu. Oh iya, kamu sudah ndak ke pesantren lagi?"


"Gak, Kek. Aku sudah mengontrak rumah kecil dekat kampus. Hanya datang ke pesantren saat waktu mengaji dan setoran hapalan. Karena kesibukanku mengurus tugas akhirku. Setelah selesai ini, aku akan pergi ke kota lain untuk tawaran magang kerja dari sebuah perusahaan."


"Oh, gitu. Ndak apa-apa, yang terpenting, kamu tetap harus berpegang teguh pada agama dan keyakinanmu. Oh iya, Mbahkungmu sudah ndak bisa ke mana-mana. Aku selalu melihatnya menatap ke arah jalanan. Mungkin ia merindukan anak dan cucunya. Jika kamu sempat, jenguklah laki-laki tua itu. Aku masih ada urusan di lain tempat. Kamu jaga diri, Le!"


Nirwasita menghilang setelah berpamitan pada Zayan. Namun pria muda itu masih termangu di jendela. Menatap langit malam.


"Sampean ngobrol sama siapa, Bro?"


Suara Karman yang berat, membuyarkan lamunan Zayan.


"Gak ngobrol sama siapa-siapa."


Tidak percaya dengan jawaban temannya, Karman berjalan mendekati jendela. Ia celingak-celinguk, mencari orang lain. Namun, nihil. Memang tidak ada orang lain di sana. Kemudian, ia menatap curiga kepada laki-laki di hadapannya.


"Sampean gak jadi gila, kan?" tanyanya, menyelidik.


"Sembarangan!" Zayan meraupi wajah Karman dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Kemudian, kedua laki-laki itu tertawa bersama.


Bersambung ....


__ADS_2