Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 46 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

Seorang wanita berkebaya hitam tertawa keras di halaman rumah Bagas. Hal itu membuat beberapa orang yang sedang mengurus jenazah Sakha, keluar dari rumah. Tentunya Bagas sendiri.


"Halo, Sayangku! Masih ingat aku? Bagaimana? Masih mau ngeyel kalau aku ini ndak lebih bagus ketimbang istrimu itu?" Wanita itu berkata dengan lantang dan angkuh.


"Retno? Apa maksudmu?"


"Kamu pikir, siapa yang membuat istrimu hanya bisa melahirkan satu orang anak? Kamu pikir, siapa yang membuat anak gadismu seperti itu? Aku! Aku orangnya, tapi ... itu semua karena kamu, Bagas!"


Beberapa orang berusaha meringkus Retno. Namun, Bagas dengan isyaratnya, menghentikan mereka.


"Kau tahu, Retno. Aku ndak mau menikahimu dulu, karena apa?"


"Alah! Itu hanya alasanmu! Sekarang, rasakan akibatnya!"


Mayang yang sedari tadi diam, merasa sangat marah. Ia berlari ke arah Retno dan menjambak rambut wanita itu.


"Aku ndak kenal kamu, tetapi kalau kamu mengusik keluargaku. Aku juga ndak akan tinggal diam."


Mayang bukan lawan sepadan bagi Retno. Wanita itu menggunakan ilmu hitamnya, untuk menyingkirkan lawannya.


Tubuh Mayang terpelanting, jatuh di halaman berumput. Ia memegangi dadanya setelah muntah darah. Beberapa ibu-ibu bergegas mendekat, menyelamatkannya.


"Diam kau di sana, perempuan s*alan! Atau kau akan mengalami nasib yang sama dengan menantu-menantumu!" gertak Retno.


Bagas berlutut, kedua matanya basah.


"Kalau kamu membenciku, bunuh saja aku, Retno. Jangan kamu ganggu istri dan anakku. Aku ndak mau kamu bersekutu dengan iblis. Itulah kenapa alasanku dulu membuang benda-benda itu. Kau tetap bersikukuh, aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Dan menikahi perempuan yang lain. Sekarang, apa maumu?"


Retno memandang nanar pada laki-laki di hadapannya. Ia masih menyayangi laki-laki itu, tetapi sakit hatinya masih belum sembuh.


"Aku hanya ingin kamu merasakan sakit yang aku rasakan. Tetapi aku ndak bisa mengendalikan makhluk itu seperti dulu. Sekarang, sisanya, nikmati saja." Retno tertawa terkekeh-kekeh lalu ia mengubah tubuhnya menjadi ular dan melesat pergi dengan cepat.


Bagas terhentak saat mendengar perkataan wanita berwajah tirus tadi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Laki-laki itu menunduk, menangis dalam diam. Ia menyesal selama ini tidak meminta bantuan orang yang ahli dalam bidang ini.


Warga yang menyaksikan peristiwa itu, mulai berbisik-bisik. Selama ini, dugaan mereka benar. Beberapa pemuda dan bapak-bapak kembali. Mereka berkata, belum menemukan Mesha. Sementara keluarga Sakha sudah datang untuk mengambil jenazah laki-laki itu.


Di langit yang gelap, Nirwasita dalam wujud burung alap-alap, sempat melihat kejadian tadi. Melihat jejak sihir pada jenazah, ia melihat makhluk itu seperti ia kenali. Sejenak, ia turun dan berubah menjadi wujud laki-laki tuanya. Mengawasi kejadian saat seorang wanita berubah menjadi ular.

__ADS_1


Dengan wujud tak kasatmatanya, Nirwasita berjalan melihat-lihat rumah Bagas. Ia menemukan sebuah gelang yang ia kenali, tergeletak di meja rias.


"Jadi, ini rumah gadis yang dulu Arsyanendra dan cucunya, lindungi."


Kemudian, ia memandang foto yang terpajang di dinding.


"Cantik, untuk ukuran manusia."


Nirwasita pergi saat beberapa orang sudah semakin ramai. Ia mendatangi Arsyanendra yang sedang duduk terpejam di kursi goyang. Malam itu, Zayan belum terlihat di rumah.


"Kemana anak itu?"


"Dia lembur," jawab Arsyanendra setelah membuka mata.


"Aku melihat sebuah kejadian waktu aku ke sini. Kau ingat gelang yang dulu kubuat sepasang?"


Arsyanendra duduk, menegakkan punggungnya.


"Ada apa dengan hal itu?"


"Artinya, gadis pemilik gelang itu?"


"Melepasnya. Dan entah di mana."


"Haruskah aku ceritakan pada cucuku."


"Kurasa jangan dulu. Biar aku selesaikan sesuatu terlebih dulu."


Di kantor, Zayan baru saja menghabiskan isi cangkir kopi ke duanya. Pria itu meregangkan tubuh sejenak, lalu membereskan kertas-kertas di meja. Setelah memastikan semuanya rapih dan bersih, ia menyambar jaket trucker-nya, lalu bergegas pulang.


Dari kantor Bentala Swarga Group, Zayan berjalan menuju pangkalan ojek. Selarut itu, tidak akan ada bus atau angkutan umum yang lewat. Beberapa tukang ojek, mengobrol ramai. Seperti habis berkerumun. Seorang tukang ojek bersedia mengantarnya sampai rumah.


"Itu tadi, lucu, Mas. Ada seorang gadis masih pakai baju penganten ditemukan menangis di warung kosong. Sepertinya dia kabur karena ndak mau nikah."


"Oh, gitu." Zayan hanya menanggapi seperlunya obrolan dengan tukang ojek tersebut. Selain lelah, ia juga tidak tertarik untuk bergosip.


Sesampainya di rumah, Zayan melepas jaket dan sepatunya di teras. Perlahan, ia membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Kemudian jalan berjingkat menuju kamarnya. Ia melihat sang kakek masih duduk bersandar di kursi goyangnya. Mata laki-laki tua itu terpejam.

__ADS_1


"Baru pulang, Le?"


Zayan terkejut. Ia menghentikan langkahnya.


"Loh, Mbahkung belum tidur ternyata."


Laki-laki itu mendekati kakeknya, menyalami dan mengecup punggung tangan yang mengeriput itu.


"Sudah makan? Tadi ada nasi bancakan di meja. Makan yang belum basi, Le."


"Sudah tadi di kantor, Mbahkung."


"Ah, ya sudah. Istirahat saja."


Zayan membaringkan tubuhnya yang penat. Ia memandangi langit-langit kamarnya hingga terlelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia berjalan di padang bunga yang luas. Saat ia berjalan di jalan setapak berbatu, ia melihat seorang perempuan dengan baju pengantin, berdiri membelakanginya.


"Mas Zay ...." panggil perempuan itu tanpa membalikkan tubuhnya.


Zayan terkejut dengan panggilan tersebut. Ia perlahan, mendekat untuk mencoba melihat wajah perempuan itu. Namun tiba-tiba, kebaya berwarna putih itu dibanjiri darah yang mengucur dari bahu kiri. Laki-laki itu menghentikan langkahnya.


Perempuan itu menangis, dengan kebaya yang berlumuran darah. Tiba-tiba tubuh perempuan itu ambruk, menyerpih menjadi abu. Zayan tersentak. Ia terbangun dari tidurnya. Masih dengan mata berat karena kantuk, ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum panjangnya terlihat bertumpuk di angka tiga.


Zayan teringat, bahwa ia belum menunaikan kewajibannya. Laki-laki itu beringsut bangun, mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih yang diambil dari lemari. Setelah membersihkan diri dan menyelesaikan ritual ibadahnya. Pria muda itu duduk di ranjang dengan laptopnya. Mengetik laporan kerja magangnya untuk kampus.


Mimpinya tadi sedikit mengganggu konsentrasinya. Ia memutuskan untuk membuat secangkir kopi lagi. Kemudian melanjutkan pekerjaannya tadi.


Suara adzan berkumandang, Zayan menghentikan aktivitasnya dan beranjak mengambil wudhu. Kemudian menuju sebuah masjid tak jauh dari rumah kakeknya itu. Ia berpapasan dengan sang kakek yang sudah rapih dengan baju batik lengan panjang dan sajadah yang tersampir di pundak.


"Nyenyak tidurnya, Le?"


"Njih, Mbahkung."


"Ya sudah. Ayo, sebelum telat!"


Zayan menggandeng lengan sang kakek, membantu laki-laki tua itu berjalan. Nirwasita tersenyum melihat pemandangan itu dari jauh.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2