Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 12 : Hari ( seharusnya ) Bahagia.


__ADS_3

Pernikahan sejatinya adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia, dengan restu Tuhan. Akan tetapi, hari ini, mempelai wanita, Mesha, justru masih terpekur di jendela, memandangi langit subuh yang belum bersemburat sama sekali, gelap.


Denting alat masak dan peralatan makan terdengar dari beberapa sudut, bahkan dengungan orang mengobrol pun, sudah terdengar. Tenda sudah terpasang dengan megah, dan kursi sudah ditata rapi. Beberapa orang terlihat sedang menyelesaikan hiasan di pelaminan.


"Gustiiii, lha mantennya malah masih ngalamun di jendela, gitu!"


Mesha terperanjat, sejurus kemudian ia mengelus dadanya, perlahan.


"Ibu ah, bikin kaget Echa!" gerutu Mesha sembari menutup jendelanya.


"Gek ndang mandi, sebentar lagi juru paes bakal datang buat merias kamu lho, Nduk!" perintah Mayang dengan lembut.


Mesha memandangi kamar yang sejak kemarin sudah dihias sebagai kamar pengantin. Beberapa perlengkapan untuk rias pengantin sudah teronggok di pojokan kamar.


"Hari ini, acaranya siraman sama malam midodareni, Nduk ...." tutur Mayang lagi, sebelum keluar dari kamar Mesha.


Mesha mengangguk.


"Yeah ... mau bagaimana lagi? Ini lah pencapaianku, umur sembilan belas tahun, sudah menikah!" gumam Mesha di dalam hatinya, sembari menertawakan diri sendiri.


Layar ponsel Mesha tiba-tiba berpendar, Ia meraih benda yang tergeletak di meja rias itu.


"Apa kabar calon istriku? Tak sabar rasanya aku melihatmu .... rindu!"


Mesha meringis membaca pesan yang masuk, ia hanya memandangi pesan yang tertulis, seperti enggan untuk membalas. Cinta untuk Giyan, belum tumbuh sedikitpun di hati Mesha, hingga membuatnya semakin merasa bersalah pada laki-laki itu.


Mesha memainkan gelang manik di pergelangan tangannya. Ia berusaha mencari ketenangan dari sana. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu kamar. Ia berjalan mendekat dan membukakan pintu. Wajah Mayang, ibunya menyembul.


"Nduk, ini juru paes-nya udah datang. Siap-siap gih!" perintah Mayang dengan lembut.


"Tapi, Bu ... Echa belum mandi," saut Mesha.

__ADS_1


"Ndak usah mandi juga ndak apa-apa, nanti kan siraman ...." potong Minah, Sang juru paes.


Pada akhirnya, Mesha duduk di depan meja rias. Tangan Minah dengan cekatan, mulai mempersiapkan peralatan make up, dan menggelarnya di meja rias. Selang beberapa menit kemudian, setelah Minah berkomat-kamit seperti merapal doa, ia mulai memoles wajah Mesha.


Di ruangan lain, penata rias lainnya menangani riasan dan kostum yang dipakai Mayang dan Bagas untuk hari ini. Setelah selesai dirias, mereka berdua dituntun juru paes untuk melaksanakan tradisi adol dawet.


Setelah Mayang menggendong bakul kecil di pinggangnya, ia berjalan menuju tempat di mana terdapat pikulan seperti penjual dawet, sedangkan Bagas, berjalan di belakang sambil memayunginya. Di luar, beberapa tetangga sudah berdatangan untuk mengikuti prosesi menjelang pernikahan.


"Dawet ... daweeeett ... Dawetnya Pak, Bu, Mas, Mbak, Dek ... manis seger. Kalo ndak manis, monggo disawang wae bakule ...." tutur Bagas dengan menggunakan mikrofon yang disambut tawa riuh orang-orang yang hadir.


Dengan cekatan, Mayang melayani pembeli dawet yang membayarnya dengan kreweng atau pecahan genteng.


Setelah prosesi adol dawet selesai, juru paes mendudukkan Mesha di tempat acara siraman akan digelar. Kedua orang tuanya, sudah berdiri menantinya dengan senyum bahagia di sana.


Mesha masih saja belum menampakkan senyum di wajahnya, bukan seperti layaknya pengantin lain yang bahagia menyambut datangnya hari pernikahan.


"Cha ... senyum, Nduk!" perintah Mayang dengan berbisik-bisik di telinganya.


Satu per satu keluarga dan kerabat menyirami Mesha menggunakan air dalam bejana kuningan yang dicampur dengan kembang setaman. Ia masih mempertahankan senyum palsunya, saat prosesi siraman usai dan kedua orang tua mengantarnya kembali ke kamar.


Di dalam kamar pengantin, Mayang sebagai ibu dari mempelai wanita, mulai mengerik rambut Mesha, sebagai isyarat menghilangkan segala hal buruk menjelang pernikahan. Pengerikan diselesaikan oleh juru paes, yang kemudian merias calon pengantin untuk prosesi selanjutnya, sungkeman.


Tangis Mesha pecah saat ia mulai bersungkeman dengan kedua orang tuanya. Banyak wejangan, dan pitutur yang disampaikan dalam prosesi itu.


Sementara itu, di kediaman Wiryawan, prosesi siraman untuk Giyan pun sedang dilangsungkan dengan penuh khidmat.


Saat langit mulai gelap, Mesha yang kembali dirias dan terlihat begitu mempesona dalam balutan kebaya, duduk di dalam kamarnya menunggu prosesi Midodareni dimulai. Ia gelisah, tangannya masih bermain-main dengan gelang manik-manik yang masih melingkar di pergelangan tangan. Sedangkan di sampingnya, Zafia yang baru datang beberapa jam yang lau, duduk menemaninya.


Melihat sahabatnya yang mulai gelisah, Zafia meraih tangan Mesha dan menggenggamnya. Mesha menoleh ke arah Zafia dan tersenyum.


Setelah tahap jonggolan dalam prosesi Midodareni usai, tiba saatnya tahap tantingan. Tahap di mana kedua orang tua mempelai wanita masuk ke dalam kamar pengantin, menanyakan kembali kemantapan mempelai untuk menjalani pernikahan tersebut.

__ADS_1


Mesha berbicara dengan nada suara yang bergetar saat ibunya mengulurkan mikrofon kepadanya.


"Oh ... nggih Bapak, Ibu ... nggih, kula mangertos sinten niku Mas Giyan putranipun bapak Wiryawan punika. Nggih, lamaranipun kula tampi, ananging, kula nyuwun bebana dipadosaken Kembar Mayang Dewa Ndaru kalian catur weda ...."


Setelah mendengar jawaban Mesha tadi, Mayang dan Bagas keluar dari kamar pengantin untuk tahap selanjutnya, penyerahan catur weda, yang berisi pedoman hidup berumah tangga, untuk mempelai laki-laki, Giyan.


Acara dilanjutkan penyerahan angsul-angsulan atau oleh-oleh berupa makanan, kancing gelung atau pakaian, serta sebuah pusaka berbentuk dhuwung atau keris yang bermakna bahwa mempelai laki-laki diharapkan menjadi pelindung bagi keluarganya kelak. Acara ditutup dengan doa agar hari H terlaksana dengan lancar.


Selama acara midodareni, kedua mempelai harus terjaga sampai tengah malam. Sementara itu, Mesha masih duduk termangu, di ranjangnya ditemani Zafia.


"Sha, aku paham, gak mudah buatmu untuk menjalani ini semua. Tapi aku juga gak mau liat temenku berwajah murung di hari besarnya," tutur Zafia sembari merangkul pundak Mesha.


Mesha mencoba menyunggingkan senyum, demi sahabatnya itu, meskipun itu tidak mudah baginya.


Mayang masuk ke dalam kamar Mesha kemudian berujar, "Sudah, Nduk ... udah lewat tengah malam, istirahat, biar besok bisa seger waktu dirias jadi manten."


"Aku keluar dulu ya, Sha. Kamu istirahat, gih!" sela Zafia.


"Kamu di sini aja, Fi. Temani aku sampe besok, please!" saut Mesha dengan nada memohon.


Lalu Mesha beralih pada ibunya, meminta persetujuan, "Boleh kan, Bu? Biar Echa merasa lebih nyaman, Fia kan temen Echa, Bu ...."


Mayang mengangguk pasrah.


Beberapa menit setelah Mayang keluar kamar, Zafia dan juru paes membantu melepaskan sanggul dan segala aksesoris yang melekat di tubuh Mesha.


"Ternyata mau nikah aja ribet ya, Sha!" celetuk Zafia yang disambut tawa Mesha.


Bersambung ....


**nggih Bapak, Ibu ... nggih, kula mangertos sinten niku Mas Giyan putranipun bapak Wiryawan punika. Nggih, lamaranipun kula tampi, ananging, kula nyuwun bebana dipadosaken Kembar Mayang Dewa Ndaru kalian catur weda : Ya bapak, ibu ... ya, aku tahu siapa itu Mas Giyan putra bapak Wiryawan itu. Ya, lamarannya kuterima, tetapi, aku minta syarat dicarikan kembar mayang dengan Catur Weda.

__ADS_1


__ADS_2