
"Hai, Bro! Lagi ngapain di situ? Noh dicari sama kakak tingkat caem!"
Seorang laki-laki terlihat berbicara dengan teman sebayanya yang duduk di balkon kelas yang terletak di lantai dua.
"Kamu kan tahu, Man. Aku nggak suka deket-deket sama perempuan," jawab laki-laki itu dengan nada yang datar.
"Hah? Jangan-jangan sampean sukanya sama ...." Kemudian Karman menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi khawatir.
"Ngaco! Aku cuma malas saja dengan tingkah mereka yang sering bikin kesal," sahut laki-laki itu di sela senyumnya. Kemudian ia termenung dan memainkan gelang manik-manik yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tapi, Bro ... Mirna itu manis lho, dan Suci itu imut, dan ada lagi, si cantik kating, Sherly! Yakin nggak satu pun nyantol, gitu?" sela Karman.
Laki-laki bermata elang itu tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.
"Aku cuma belum tertarik pada lawan jenis, selain ...."
"Selain siapa?" tanya Karman dengan rasa ingin tahu yang meletup-letup.
Ingatan Zayan kembali ke masa kecilnya, dengan gadis berkuncir dua yang selalu mengikutinya kemana-mana, dan membaginya beberapa makanan. Tanpa sadar, bibir Zayan melengkungkan senyum.
"Ehem!" Suara dehem Karman memudarkan senyum yang menghias paras rupawan Zayan.
"Ah iya, Man. Nanti aku titip absen ya, bisa kan?"
pinta Zayan.
"Duh, gimana ya ... emmm ... emangnya sampean mau kemana?" tanya Karman ragu-ragu.
"Aku ada urusan dikit, Man."
"Ya deh, tapi nanti mau kan kalo gantian?"
"Pasti!" Zayan mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Karman.
Karma bergidik, tiba-tiba ia merinding, ia memandang sekeliling. Kemudian merasa takut.
"Eh tunggu! Tunggu aku!"
Karman berlari mengejar Zayan yang berjalan cepat.
"Broooo! Woy! Tunggu!" seru Karman masih sambil mengejar Zayan.
"Sampean nggak pengen lihat maba-maba itu?" imbuh Karman.
Zayan mengernyitkan dahi, lalu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Maba?"
"Mahasiswi baru. Beeeuuhhh, tahun ini semakin cakep-cakep, Bro!" tutur Karman antusias, seraya merangkul Zayan.
"Udah sana, Man. Masuk ke kelas! Aku bener-bener ada urusan!" potong Zayan.
Zayan membetulkan topinya, melepaskan rangkulan Karman dan berjalan cepat menuju sebuah bangunan yang menjadi favoritnya di kampus biru itu.
Sementara itu, dari arah lain, seorang gadis berjalan sembari melihat-lihat sekeliling. Di titik tertentu, mereka berdua bertabrakan.
"Ma—maaf, kamu nggak apa-apa?" tanya Zayan dengan tetap menghindari mata gadis yang jatuh terduduk di hadapannya.
"Eh ... oh ... i—iya gak apa-apa," jawab gadis itu dengan gelagapan.
Zayan menyorongkan lengannya berbalut jaket dengan wajah yang menunduk menawarkan bantuan, agar gadis itu segera bangkit.
"Gris, Grisa! Maaf aku telat!" seru gadis lain sembari berlari mendekat.
"Em, gak apa-apa, Lis," sahut Grisa.
Zayan merasa kikuk berdiri di depan kedua gadis yang belum dikenalnya.
"Eh, kok ada kak Zayan, ada apa, Gris?" bisik Elis.
"Maaf, saya duluan. Kalo mbaknya nggak kenapa-kenapa lagi," potong Zayan.
"Aduduh," seru Grisa. Ia baru sadar telapak tangannya terluka.
"Kok bisa tanganmu terluka gitu, Gris?" tanya Elis seraya memeriksa luka Grisa.
"Ini ... tadi aku bertabrakan dengan cowok itu, Lis." Grisa masih meniup-niup lukanya.
"Oh ... itu, kak Zayan namanya, kakak kelasku dulu di SMA. Termasuk deretan cowok memesona dengan prestasi akademik yang bagus. Sorot matanya yang tajam, kharismanya, bikin cewek-cewek di sekolahku, klepek-klepek. Kategori cowok pendiam dan gak banyak tingkah. Dan nilai plus-nya, doi dikenal suka menyendiri di Masjid sekolah. Suaranya kalo lagi ngaji, beuuuhhh! Bikin merinding, Gris!" terang Elis panjang lebar.
"Serius, Lis?"
"Iya, Gris!"
Grisa mengingat-ingat wajah laki-laki yang bertabrakan dengannya. "Ya, memang benar, wajahnya tampan dan berkharisma," kata Grisa di dalam hatinya.
"Hei, malah bengong! Yuk ke pusat kesehatan kampus. Obati lukamu dulu, takut infeksi." Elis menepuk lembut pundak Grisa dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
Sementara di pojok masjid, Zayan bersimpuh, mulutnya masih disibukkan dengan wiridnya. Ia bahkan seperti asik dengan dunianya sendiri, tidak menghiraukan orang-orang yang keluar masuk Masjid.
Setelah hatinya tenang dan damai, Zayan beranjak dari tempatnya. Suasana di sekitar sunyi, sangat jarang mahasiswa lain melewati rute yang ia lewati sekarang.
__ADS_1
Zayan sudah berjalan ratusan langkah dari area Masjid, lalu ia dikejutkan sosok hitam tinggi besar yang menatapnya dari bawah pohon beringin tak jauh dari tempat ia berjalan. Seperti biasanya, Zayan bersikap seolah-olah ia tidak melihat apapun. Meskipun terkadang Zayan merasa tidak nyaman melihat wujud tidak lazim makhluk-makhluk tersebut, ia harus tetap bersikap seperti itu.
"Pura-pura aja kamu ndak lihat apa-apa, Le. Biar mereka ndak penasaran sama kamu. Kalo mereka penasaran, mereka bakal mencoba melawan atau menjadi kawanmu. Tapi mbahkung, berharap kamu jangan terlalu dekat dengan makhluk-makhluk semacam itu." Kata-kata Arsyanendra dulu, kakek Zayan, yang membuat Zayan tetap bertahan dengan reaksinya.
Sekonyong-konyong, Zayan melihat sesosok kakek dengan tongkat kayu di tangannya, berdiri jauh memandangnya, di seberang. Pakaian dan ikat rambutnya serba putih, bahkan rambut dan janggutnya pun berwarna perak. Kakek tadi mengembangkan senyumnya dan mulai mendekati Zayan. Reaksi Zayan tetap sama, pura-pura tidak "melihat".
Kakek berpostur proporsional itu, tertawa kecil, kemudian berkata, "Aku tahu ... aku benar-benar tahu, kamu bisa melihatku, Le, cah bagus!"
Zayan masih bertahan dengan sikapnya dan tetap berjalan dengan mantap, bahkan melewati sosok kakek tadi.
"Arsyanendra, sudah menceritakan semuanya padaku," sambung kakek itu lagi.
Mendengar nama mbahkungnya di sebut, Zayan menghentikan langkahnya.
"Aku hanya dimintai tolong Arsyanendra untuk melindungimu, semenjak waktu itu, hanya saja, aku baru bisa menampakkan diri sekarang," imbuh kakek itu.
Kali ini Zayan sudah tidak bisa lagi berpura-pura, makhluk yang ada dihadapannya, jelas-jelas sudah mengikutinya dari dulu, bahkan mengenal mbahkungnya. Ia menoleh, kemudian bertanya, "Kakek siapa?"
Laki-laki tua itu tersenyum, dan menjawab Zayan,
"Aku Nirwasita, teman kakekmu dari alam lain."
Zayan mengerjap tidak percaya, ekspresi wajahnya terbaca oleh Nirwasita.
"Ulurkan tanganmu," pinta Nirwasita lembut.
Zayan masih ragu-ragu.
"Demi Allah, Pencipta alam semesta, aku ndak akan mencelakaimu, Le," ujar Nirwasita dengan tegas, meyakinkan Zayan.
Zayan mengulurkan tangannya, yang kemudian digenggam Nirwasita. Dalam pandangan Zayan, ia melihat kelebatan-kelebatan peristiwa yang ia pahami sebagai masa muda mbahkungnya, semua kejadian yang dilihatnya benar-benar seperti nyata. Hanya saja, Zayan tidak bisa menyentuh benda apapun di sana.
Beberapa saat kemudian, Zayan sudah kembali ke tempat di mana ia berdiri, di kampusnya.
"Apa kamu sekarang sudah percaya padaku, Le?" tanya Nirwasita.
"Lalu, apa yang kakek inginkan dari aku?" potong Zayan.
Nirwasita tertawa.
Bersambung ....
*******
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻❤
__ADS_1
Jangan lupa like, setiap bab, dan komen ya .... 🤗