Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 57 : Perubahan


__ADS_3

"Pagi, Pak Zul!"


"Wah! Mas Zay sudah beneran kerja di sini?"


Zayan mengangguk.


"Alhamdulillah. Syukurlah. Selamat ya, Mas. Nanti siang ke warung saya. Saya mau traktir Mas Zay."


"Wah, gak perlu repot-repot, Pak. Harusnya saya yang traktir, Pak." Kemudian dua laki-laki tadi megobrol dengan akrab. Suasana yang hangat.


Berbeda suasana, dengan Mesha yang sudah berdiri di depan rumahnya. Ia memandangi rumah tersebut dengan segala rasa rindunya. Namun, ia masih ragu untuk melangkah masuk ke dalam. Sampai saat Bagas keluar dari rumahnya.


"Nduk? Cha!" Laki-laki itu memanggil namanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya, Bapak. Ini Echa." Mesha terisak lalu jatuh berlutut di hadapan bapaknya.


"Bangun, Nduk! Bangun!" Bagas memegang bahu putri yang sangat ia rindukan tersebut, lalu memeluknya.


"Maafkan Echa, Bapak." Tangis Mesha pecah dalam pelukan laki-laki paruh baya tersebut.


Air mata Mesha sangat deras saat melihat ibunya terbaring tanpa daya di ranjangnya. Wanita itu terlihat pucat dan kurus. Matanya masih terpejam. Selang infus menancap pada pergelangan tangan wanita tersebut.


"Gusti Allah! Ibu ... Ibu ... Maafkan Echa." Mesha terisak sambil menciumi punggung tangan Mayang.


Mayang membuka mata saat mendengar suara Mesha yang sangat ia harapkan kedatangannya.


"Nduk ... Cha! Putriku!"


"Ya, Bu. Ini Echa. Apa yang terjadi sampai ibu jadi begini?" Masih terisak, Mesha mengusap lembut tangan sang ibu.


"Akhirnya kamu pulang, Nduk ...." Mayang tersenyum.


Mayang sudah bisa duduk, dengan telaten, Mesha menyuapi perempuan tersebut. Meski makan dengan perlahan, tetapi banyak makanan yang sudah ditelan. Bagas berangkat ke kantor saat seorang perawat datang. Laki-laki itu memeluk Mesha dan memintanya jangan ke mana-mana lagi saat ia pulang nanti.


"Jadi, selama ini, kamu tinggal di mana, Nduk? Di kota itu, Bu. Bersama keluarga yang bersedia menampung Echa."


"Kamu pasti menderita banget ya, Nduk. Maafkan ibu yang ndak bisa berbuat apa-apa."


"Echa yang salah, Bu."


"Kamu ndak akan pergi ke mana-mana lagi, kan?"


Mesha mengangguk.


Mayang terlelap kembali setelah meminum obat. Perawat pulang setelah mengganti infus yang terpasang di tangan Mayang. Ia berpesan kepada Mesha untuk menghubunginya jika cairan bening dalam botol tersebut hampir habis.

__ADS_1


Mayang menggenggam erat tangan Mesha meski matanya terpejam. Seolah-olah ia takut untuk ditinggalkan lagi oleh sang putri.


Setelah Mayang benar-benar nyenyak. Mesha berjalan ke arah kamarnya. Ia membuka kamar yang penuh dengan kenangan buruk tersebut. Tanpa diperintah, bulir-bulir bening di sudut matanya perlahan jatuh. Ia tidak sanggup, lalu menjauh dari tempat tadi.


Mesha menepati janji, ia menunggu sampai Bagas pulang dari tempat bekerjanya.


"Jadi, kamu akan kembali ke rumah kedua orang itu, Nduk?"


"Hanya saat warung buka, Pak. Itupun kalau Bapak dan Ibu memperbolehkan."


"Kamu sudah cukup dewasa, Nduk. Terserah kamu saja. Tapi kasihani ibumu."


"Ya, Pak. Echa akan jaga ibu sampai pulih kembali."


Beberapa hari setelah kepergian Mesha, Sri merasa kesepian. Meski putri dari salah seorang tetangganya membantu di warung. Rasanya berbeda saat Mesha masih ada.


"Bu, ini Mas Zay. Aku ajak dia makan di warung kita. Siang ini."


Sri terkejut, ia langsung berdiri dari tempat duduknya. Membalas uluran tangan Zayan.


"Eh, oh. I-iya. Maaf, saya ndak dengar tadi, Mas."


Zayan tersenyum sopan lalu duduk di tempat Zulkifli mempersilakan. Matanya memandang sekeliling. Ia melihat seorang gadis melayani seorang pelanggan. Namun, sepertinya bukan gadis yang dulu sempat ia lihat.


"Oh, begitu."


"Ada kisah yang menarik saat kami memutuskan untuk merawat gadis tersebut seperti anak sendiri, Mas." Sri menimpali sambil membawa sebuah piring berisi nasi dan lauk-pauk.


"Jadi ... dia sudah janda?"


Zulkifli dan Sri mengangguk bersamaan.


"Tapi, semua suaminya belum menyentuhnya."


"Oh ...."


Sebenarnya, Zayan tidak begitu tertarik dengan kisah perempuan lain. Namun, mendengar kisah yang dituturkan suami-istri itu, memang menarik. Apalagi dengan sebuah cerita mistis yang menyelimuti kehidupan gadis tersebut.


"Tapi ya gitu ... kalau perempuan dengan kutukan seperti itu, baru bisa hidup bahagia saat suaminya ke tujuh. Tapi apa ya ada yang mau?" pungkas Zulkifli.


"Di dunia ini gak ada yang mustahil, Pak Zul. Semua sudah berjalan sesuai garis yang sudah ditentukan, kan, Pak?"


"Ya, Mas. Keakraban kita juga terjadi karena hal yang kadangkala manusia anggap di luar nalar."


Siang itu, Zayan memberikan kesan yang baik pada pasangan suami-istri tersebut. Ia berpamitan saat jam istirahat hampir habis. Kemudian melipir sejenak ke Masjid besar saat berjalan kembali ke kantor.

__ADS_1


Setelah yakin sang ibu sudah mulai pulih, Mesha mengajak perempuan itu ke warung milik Sri. Bagas telah menuruti permintaan untuk membelikan sebuah motor matik untuk dirinya. Hal itu memudahkan dirinya untuk pergi ke mana pun yang ia inginkan.


Sebelum menuju ke warung Sri, Mesha mengarahkan motornya ke rumah mendiang suaminya. Sakha. Setelah motor itu berhenti di sebuah rumah sederhana, ia dan ibunya turun dari motor.


Mata Ningsih berkaca-kaca saat melihat siapa yang bertamu di rumahnya. Ia terisak saat Mesha bersimpuh meminta maaf di hadapannya.


"Maaf selama ini, Mesha sangat pengecut, Bu."


"Jangan! Jangan berbicara seperti itu, Nduk. Aku sudah mengikhlaskan kepergian Tole. Itu juga bukan salahmu."


"Tapi, Bu ...."


"Kutukan itu? Ndak, itu juga bukan atas kemauanmu."


Mayang yang sedari tadi terdiam menyimak, terisak. Hal itu membuat Ningsih kebingungan.


"Terima kasih, Jeng," ucapnya kepada Ningsih, singkat.


Hari sudah hampir sore saat Mayang dan Mesha sampai di sebuah warung makan. Mayang memandang sekeliling. Sementara Sri yang sudah melihat kedatangan Mesha, langsung menyambutnya dengan pelukan penuh kerinduan.


"Kalau Bu Mayang memperbolehkan, tentunya."


"Saya nurut si Genduk saja, Bu Sri. Terima kasih selama ini sudah merawat putri saya."


"Ah, itu bukan apa-apa. Kehadiran Genduk, membuat saya merasa punya seorang putri kembali."


"Saya senang mendengarnya."


"Tapi saya ndak bisa menggaji Genduk dengan uang yang banyak."


Mesha tersenyum.


"Gak masalah, Bu. Asal saya dikasih makan dengan baik. Cukup."


Mesha dan Mayang tiba di rumah saat Matahari hampir terbenam. Mayang takjub saat melihat Mesha memakai mukena, ketika azan Maghrib sudah berkumandang. Bagas pun tak kalah terkejut. Ia bahkan melongo. Selama ini, mereka berdua tidak terlalu memperhatikan perubahan putrinya.


"Ibu dan Bapak kenapa? Kayak lagi lihat hantu saja," celetuk Mesha.


"Selama ini, kami juga lalai, Nduk. Membiarkanmu, tidak terlalu dekat mengenal hal tersebut."


"Kalau begitu, ayo, Bapak dan Ibu!"


Seketika, Bagas dan Mayang saling berpandangan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2