Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 62 : Mulai Terbuka


__ADS_3

"Aku melihat sosok gaib yang pernah aku lihat sebelumnya. Tak jauh dari rumah."


"Kamu yakin dengan itu?"


"Ya, sosok yang sama pernah kulihat belasan tahun lalu. Di sekitar rumah masa lalu putriku."


Nirwasita baru saja muncul setelah tahu Arsyanendra sudah pulang dari tempat tinggal putri di sebuah kota besar.


"Aku memang merasa ada yang janggal. Apa aku harus ke rumah gadis pemilik gelang yang sama dengan tole Zay?"


"Kau tahu rumahnya?"


"Ya, aku sudah memberitahumu beberapa waktu yang lalu bukan? Apa kau mau kubawa ke sana sekarang?"


"Jangan, ini sudah terlalu larut. Nanti ada orang lihat, dikira aku mau macam-macam. Gak pantas juga kakek-kakek keluyuran di rumah orang."


Nirwasita terkekeh. Ia lupa, bahwa teman beda dunianya itu juga sudah makin menua. Rasanya baru kemarin mereka bertemu dan berteman.


"Aku mau istirahat, capek."


"Baiklah. Aku pergi."


Nirwasita berjalan ke luar menembus pintu kamar Arsyanendra. Tepat ketika laki-laki berumur senja itu berbaring.


Di tempat lain, Grisa masih belum bisa memejamkan mata. Beberapa hari ini, semenjak pertemuannya dengan Zayan bersama keluarganya, hatinya makin tak karuan. Ia merasa senang, jika kedua belah pihak sudah saling merestui. Hanya saja, gadis itu merasa kecewa saat melihat reaksi laki-laki yang ia dambakan itu. Dingin, bahkan terlihat tidak senang.


Sebelum memejamkan mata, Grisa memutuskan untuk kembali menemui Zayan di kantornya. Ia ingin berbicara lebih dekat dengan laki-laki tersebut. Kebetulan, jam kuliahnya sangat sedikit. Semester akhir ini. Jadwalnya makin longgar. Seperti besok misalnya, sama sekali tidak ada jam kuliah.


Grisa sampai di kantor Swarga Bentala Group, tepat saat jam makan siang. Ia baru saja bertanya pada rekan kerja Zayan, di mana laki-laki itu sedang berada. Gadis itu terkejut saat melihat seseorang perempuan berlari ke arahnya, ia belum sempat menghindar. Sehingga, kedua perempuan tadi bertabrakan.


"Mbak Mesha?"


Seperti tanpa mendengar kalimatnya, perempuan yang ia kenali tersebut, berlari kembali.


"Grisa?"


Grisa menoleh ke arah suara. Laki-laki yang ia cari, tepat berdiri di ujung lorong. Gadis itu pun berjalan mendekat.


"Mas Zay gak makan siang?" tanya Grisa saat sudah berdiri di hadapan laki-laki tadi.


"Oh, aku mau makan siang. Sudah pesan. Maaf, aku gak tahu kamu datang, jadi aku hanya memesan untukku."


"Ah, tidak masalah, Mas!"


"Mau duduk dulu?"


"Boleh."


Zayan berjalan mendahului Grisa masuk ke pantry. Mengambilkan kursi untuk gadis tersebut.


"Kopi atau teh?" tawar Zayan.

__ADS_1


Grisa tersenyum.


"Gak perlu, Mas. Mas makan aja, gih!"


Grisa duduk menyandar di kursinya, sambil memandangi Zayan yang "khusyuk" dengan makanan di hadapannya. Bibirnya tersenyum, hatinya makin tertarik dengan laki-laki itu.


"Gris, aku mau tanya sesuatu." Zayan menghentikan tangannya yang sedari tadi menyendok nasi. Menatap Grisa.


Merasakan tatapan yang begitu mengintimidasi, Grisa menunduk, memandangi jari-jemarinya sendiri. Memikirkan pertanyaan apa yang akan dilontarkan laki-laki tersebut.


"Apa, Mas? Kalau aku bisa menjawabnya, aku akan menjawab. Tidak perlu sungkan."


"Perempuan tadi, di lorong, apa kau mengenalnya? Kurasa aku mendengarmu memanggilnya." Zayan kembali menyuapkan makanan ke mulut. Menunggu jawaban Grisa.


Grisa meringis kecut. Masih belum mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka, pertanyaan yang dilontarkan Zayan. Masih tersenyum, terpaksa, gadis itu membuka mulut untuk berbicara.


"Oh, itu ... Mbak ...."


Baru saja Grisa ingin berbicara, seorang laki-laki masuk, meminta ijin berbicara dengan Zayan. Hal itu membuat kata-katanya tertelan kembali.


"Jadi ... Pak Direktur minta Mas Zayan yang mempresentasikan proyek kemarin." Laki-laki itu terus berbicara seperti tidak melihat Grisa di sana.


"Sekarang? Ke mana Mas Ridwan?"


"Ya, Mas. Mas Ridwan ada keperluan mendadak, ibunya masuk rumah sakit."


Setelah rekan kerjanya tadi keluar ruangan, Zayan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Kemudian berdiri, dengan cepat membereskan sisa makanan.


"Maaf, Gris. Aku tidak bisa mengantarmu sampai lobi. Aku duluan!" Zayan menurunkan lengan kemejanya yang tergulung. Berjalan cepat keluar ruangan tanpa mendengar jawaban Grisa.


"Benar-benar kamu ya, Mas! Laki-laki normal gak akan meninggalkan begitu saja, seperti ini," gumam gadis itu.


Di warung makan, Mesha baru saja mempersilakan Zafia duduk. Ia senang melihat gadis itu lagi.


"Kamu kerja di sini, Sha? Yakin? Kamu bisa kuliah kelas khusus dan bekerja di ...."


Mesha menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


"Ceritanya panjang, Fia. Oh, iya, apa kamu sudah makan siang?"


"Wah, siapa ini, Nduk?" Sri sudah berdiri di samping meja di mana kedua perempuan muda tadi duduk. Sebuah nampan berisi minuman ada di tangannya. Kemudian, dengan cekatan, ia menurunkan gelas-gelas tersebut.


"Ini ... Teman sekolah saya, Bu. Zafia namanya."


Zafia cepat-cepat berdiri, mengulurkan tangannya.


"Oh, begitu. Ya sudah, aku mau layani pelanggan lain." Sri menoleh ke arah Mesha. "Kalau butuh apa-apa bilang saja, nanti aku ambilke."


"Gak usah repot-repot, Bu. Biar saya saja yang ambil nanti."


Zafia masih memandangi Mesha dengan tatapan keheranan.

__ADS_1


"Bisa gak, kamu cerita secara singkat?" tanya Zafia.


Mesha tersenyum.


"Aku coba. Asal kamu gak bosen dengernya."


Zafia mengangguk, lalu melipat tangan di dadanya, menajamkan pendengaran.


Beberapa menit berlalu, Mesha menceritakan secara singkat bagaimana ia bisa sampai bekerja di warung makan tersebut.


"Jadi ... itu karena masalah waktu itu? Kamu gila! Kamu gak tahu seberapa khawatirnya kami waktu itu, Sha!"


Mesha menunduk.


"Maaf, tapi hanya itu yang bisa kupikirkan waktu itu."


"Terus? Kamu masih ingin mencari laki-laki yang dulu itu, Sha?"


"Sudah, gak lagi. Aku sudah menemukannya."


Ekspresi Zafia berubah dengan cepat. Menjadi sangat antusias.


"Aku ikut senang, artinya kamu bisa bersamanya dalam waktu dekat, Sha."


Mesha menggeleng keras. Kemudian menunduk dalam-dalam.


"Zay mungkin sudah menikah, Fia. Aku melihatnya tersenyum saat berbicara dengan seorang perempuan di kantornya."


"Kantornya? Kamu tahu di mana cowok itu kerja? Apa dia juga mengenalimu? Bagaimana ekspresi wajahnya?"


Lagi-lagi Mesha menggelengkan kepala.


"Bagaimana bisa!" Kata-kata Zafia terdengar frustasi.


"Aku gak membuka identitasku di depannya. Yang dia tahu, aku adalah anak angkat pemilik warung ini. Dia sering ke sini, kok, Fia."


"Ini bener-bener gila! Kenapa kamu gak bilang terus terang aja sih, Sha? Apa kamu gak capek menunggu dia sadar dengan sendirinya? Kapan?"


"Entahlah, Zafia. Aku masih memikirkan pernikahan-pernikahanku sebelumnya. Semua berakhir dengan tragedi. Aku takut, jika terulang lagi. Itu sama saja aku merenggut kehidupan orang lain. Kalau cuma untuk pacaran, aku sudah gak muda lagi."


Zafia tertawa.


"Jahat! Teman kesusahan, malah kamu ketawa, Fia."


"Kamu berkata seolah-olah kamu udah kayak nenek-nenek. Jangan lupa, kita seumuran, Sha!"


"Permisi! Saya mau pesan makanan."


Suara seorang perempuan terdengar dari balik punggung Mesha. Zafia memandang perempuan yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia merasa bahwa perempuan itu tidak asing.


"Itu ... cewek itu, kayak pernah lihat!" ungkap Zafia.

__ADS_1


"Siapa?" Mesha menolehkan kepalanya. Matanya melebar melihat perempuan yang dimaksud tadi.


Bersambung ....


__ADS_2