
"Saya terima nikah dan kawinnya, Mesha Indira binti Bagas Pramudya dengan maskawin yang telah disebutkan, dibayar tunai!"
Suara lantang, tegas dan dalam satu tarikan napas Giyan membahana lewat pengeras suara. Beberapa saat kemudian, penghulu bertanya pada para saksi, "Bagaimana hadirin, sah?"
"Sah!" jawab saksi dan hadirin serentak.
"Alhamdulillah ...." saut penghulu yang kemudian membacakan doa.
"Nah, sekarang, tolong panggilkan mempelai wanitanya ya, untuk mengisi dokumen-dokumen ini," pinta penghulu setelah selesai membacakan doa untuk kedua pengantin.
Mesha berjalan dengan anggun, menuju tempat berlangsungnya ijab-kabul, didampingi Mayang dan Maryam di kanan dan kiri.
Mesha mengecup tangan Giyan, saat ia duduk di sebelah laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Mata Giyan benar-benar tidak bisa lepas dari sosok Mesha, Ia semakin bersemangat ketika mengecup kening Mesha.
"Sik to Mas, sabar ... kecap kecupnya nanti malam saja," kelakar penghulu membuat hadirin tertawa riuh.
Sesaat mata Mesha melihat mata Giyan yang berbinar-binar penuh kebahagiaan, ia makin merasa bersalah pada laki-laki itu. Hatinya belum luluh, cinta bahkan belum tumbuh, meskipun ia telah mendengar suara Giyan yang lantang dan penuh ketegasan, saat kabul tadi. Mesha cepat-cepat menunduk, ia tidak tahan lagi, melihat kedua bola mata yang berpendar penuh cinta itu.
Setelah saling memasangkan cincin pernikahan, kedua mempelai menandatangani beberapa dokumen dan surat nikah. Kemudian, mereka pun berfoto bersama sambil memamerkan buku kecil bergambar garuda yang berbeda warna. Tentu saja, Mesha tersenyum, meski terpaksa.
Acara kemudian diteruskan dengan prosesi adat, Mesha dan Giyan dituntun masuk ke dalam rumah, untuk berganti pakaian dengan model basahan.
Mesha kembali merasakan panas menyengat di bagian punggung kirinya, saat juru paes mulai mengganti pakaian yang dikenakannya.
"Aduh!" rintih Mesha, yang membuat Giyan buru-buru memalingkan wajahnya.
"Kenapa, Dek?" tanya Giyan dari kejauhan.
"Gak apa-apa, Mas."
Juru paes mengamati sebuah tanda di bagian bahu kiri Mesha dan mulai bertanya, "Mbak, ini ... memang sudah daridulu ada?"
"Apa, Bu?" tanya Mesha tidak mengerti.
"Tanda lahir, Mbak. Warnanya coklat kemerahan," jawab sang juru paes sembari menekan lembut tanda lahir yang dimaksud.
"Aww, iya Bu. Itu tanda lahir, tapi akhir-akhir ini terasa panas dan perih, entah kenapa ...." potong Mesha.
"Tapi kalo pake basahan, ini nanti bakal keliatan Mbak, saya tutup saja ya pake riasan?"
"Iya, Bu."
Kemudian juru paes meneruskan pekerjaannya memasangkan segala atribut basahan, dan memperbaiki riasan Mesha.
__ADS_1
Sementara itu, Giyan sudah duduk menghadap Mesha yang sedang dipoles, ia benar-benar semakin jatuh hati pada istrinya, Mesha.
Mesha merasa seseorang sedang memperhatikan, saat juru paes sedang membubuhkan sesuatu untuk menutupi tanda lahirnya. Perlahan, ia menolehkan kepala dan mendapati Giyan sedang memandangnya dengan tersenyum.
"Kenapa sih, Mas? Apa ada yang aneh?" tanya Mesha dengan nada risih.
"Gak ada apa-apa, cuma merasa bahagia dan beruntung punya istri secantik kamu, Mesha."
"Apaan, sih?" sahut Mesha.
Kedua perias tersenyum mendengar pembicaraan sepasang pengantin baru itu. Bagi mereka, kata-kata Giyan terdengar romantis, dan reaksi Mesha dianggap wajar, karena masih malu-malu.
Gending Kebo Giro mengalun mengiringi prosesi adat yang digelar di kediaman Bagas. Hadirin dengan hidmat menyaksikan setahap demi tahap prosesi tersebut hingga selesai. Di penghujung acara, tetamu mulai menyalami kedua pengantin, dan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Beberapa teman kantor Giyan, bahkan menyumbangkan lagu khusus di hari bahagia itu. Sedangkan Mesha, tak ada temannya yang datang selain Zafia yang menemaninya sejak kemarin.
"Dek, temanmu diajak foto-foto, kan?" sela Giyan setelah beberapa teman kantornya mengajak berfoto bersama.
"Aku gak punya teman, Mas," jawab Mesha singkat dengan ekspresi kurang suka. "Tuh, temanku!" lanjutnya sambil menunjuk Zafia.
"Maaf, Dek ... aku gak bermaksud ...."
"Gak perlu minta maaf, Mas."
Sedari kecil, Mesha memang tidak mempunyai teman. Hanya Zafia yang mau berteman saat ia sekolah di SMA Wijayakusuma. Meskipun wajah Mesha terbilang cantik dengan nilai akademis yang tinggi. Akan tetapi, lagi-lagi, hanya Zafia pula lah yang membuat Mesha nyaman dengan "pertemanan".
Hari semakin sore, hingar bingar mulai berkurang, tamu sudah jarang, bahkan beberapa kursi pun sudah mulai dibereskan. Mesha duduk di dalam kamarnya, menyeruput secangkir teh jahe yang ia minta dari dapur, dengan bantuan Zafia. Ia merasa kurang enak badan, atau mungkin lelah, dan berharap secangkir teh jahe bisa menyegarkan.
"Shaaaa ... aku pamit ya," sela Zafia yang sudah berganti pakaian.
Mesha memalingkan wajahnya, yang masih memakai riasan, meletakkan cangkir di meja rias, dan berdiri menyambut cipika cipiki dari Zafia.
"Kok gak nunggu malam sekalian, Fi?"
"Weh, gimana to? Ntar aku ganggu pengantin baru," jawab Zafia.
"Apaan sih?" tukas Mesha.
"Sekali lagi, selamat menempuh hidup baru ya, Sha. Aku cuma bisa mendoakan kebahagiaan untuk kehidupan pernikahanmu ...." ucap Zafia sembari menggenggam tangan Mesha.
"Makasih, Fi. Makasih atas semuanya. Eh tapi kalo aku pengen main sama kamu lagi, meskipun aku udah bersuami, gak apa-apa kan?"
"Kalo suamimu mengijinkan, gak masalah ...." pungkas Zafia seraya memeluk Mesha, kemudian melambaikan tangan dan berjalan ke luar.
__ADS_1
*******
Malam semakin larut, kediaman Bagas semakin sunyi, hanya beberapa orang yang masih tinggal untuk membersihkan sampah, dan peralatan makan yang kotor. Menjelang tengah malam, suasana di rumah itu semakin sepi.
Di ruang tengah, beberapa orang yang tersisa masih asik mengobrol, termasuk kedua orang tua Mesha dan suaminya, Giyan. Sedangkan Mesha, ia sudah berpamitan ke kamar terlebih dahulu, untuk beristirahat.
"Udah sana, Le ... istirahat bareng istrimu, ngobrolnya besok lagi, apa kamu gak pengen nemoni istrimu? Kasian kan, masa malam pertama, ditinggal sendirian ...." kelakar Mayang seraya meledek menantunya.
"Iya, Bu. Kalo gitu saya pamit, mau bebersih dulu dan istirahat," saut Giyan dengan malu-malu. kemudian.
Di dalam kamar, Mesha terbaring dengan memakai piyama, wajah dan rambutnya sudah bersih seperti biasanya. Ia sangat gugup hingga memainkan jari jemarinya. Rasa panas di pundak kirinya, muncul kembali, tetapi ia menahannya.
Saat pintu kamar terbuka, Mesha memejamkan matanya, pura-pura tertidur. Telah lama memejamkan mata, ia tidak mendapati siapapun mendekat atau naik ke ranjang. Ia membuka matanya, penasaran.
Mesha terperanjat, ia melihat Giyan berdiri di depan pintu seperti membeku, di depannya, berdiri sesosok lain, berpakaian serba hitam. Sosok itu kemudian menoleh ke arah Mesha, wajah pucatnya dihiasi seringai kejam.
"Si—siapa itu?" tanya Mesha ketakutan.
Seketika laki-laki berpakaian serba hitam itu mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti belati, dan menusukkan tepat di dada Giyan.
"Ja—jangaaaaann!" teriak Mesha.
Tetapi terlambat, Giyan sudah roboh sembari memegangi dadanya, meskipun tidak ada darah mengucur dari sana.
Laki-laki berpakaian serba hitam itu tertawa penuh kemenangan seraya berkata, "Ini lah balasan, karena berani menikahi pengantinku!"
Kemudian laki-laki berubah menjadi asap dan lenyap.
Mesha melompat dari ranjang, mendekati Giyan yang kesakitan memegangi dada. Aneh, tidak ada belati atau apapun menancap di sana.
"Dek ...." gumam Giyan seraya menggapai-gapai Mesha.
"Mas! Mas Gi! Tolong ... siapapun, tolong!" teriak Mesha yang mulai terisak.
Mesha memangku kepala Giyan, kemudian laki-laki itu bergumam lirih, "Is—istriku ... aku ... mencintai ... mu!" Kemudian Giyan memejamkan mata.
"Mas? Mas Gi?"
Bersambung ....
*******
Basahan : pakaian pengantin jawa tengah ( biasanya daerah jogja atau solo) berbentuk kemben yang terbuat dari kain panjang dan lebar, yang biasa dinamakan kain dodot.
__ADS_1
Gending Kebo Giro : musik tradisional khas dari jawa yang umumnya digunakan untuk mengiringi prosesi adat dalam acara pernikahan.