
Sakha tak henti-hentinya tersenyum, setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Mesha lewat sambungan telepon. Ia bahkan mulai mengingat senyum dan tawa gadis itu.
"Gusti! Aku bisa benar-benar gila, karena gadis itu!" Sakha meraup wajahnya sedikit kasar dengan kedua telapak tangan. Malam ini, laki-laki itu bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Entah berapa kali, ia menggulingkan tubuhnya mencari posisi untuk tidur yang nyaman.
Menjelang dini hari, Sakha mulai jatuh tertidur. Ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia seperti terdampar di sebuah tempat yang asing. Hutan belantara dengan pepohonan yang rimbun, pemandangan yang pertama kali ditangkap kedua bola matanya.
Sakha berjalan menyusuri hutan yang sepertinya tanpa ujung itu. Kabut pekat mulai melingkupi tempat tadi. Namun, pria itu tetap terus berjalan mengikuti kedua kakinya yang melangkah. Ia tiba di sebuah tempat yang terlihat seperti tanah luas berbentuk lingkaran. Di tengah tempat itu, terdapat sebuah pohon yang besar. Pria itu melihat sebuah sosok wanita yang terikat di pohon tersebut.
Sakha memicingkan mata, berusaha mengidentifikasi sosok di hadapannya itu. Ia terkejut, saat menyadari bahwa Mesha, gadis yang terikat di pohon.
Sakha berlari mendekat, berusaha menolong gadis itu. Namun tiba-tiba sebuah bayangan hitam, melesat cepat menabraknya. Tentu saja, pria itu terpelanting menjauh. Bayangan hitam itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Senyumnya yang lebih mirip seringai, menghiasi bibirnya. Sakha berusaha bangkit.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ikat gadis itu di sana?" teriak Sakha.
Tawa laki-laki itu menggema setelah mendengar pertanyaan Sakha.
"Aku adalah orang yang harus jadi pemilik gadis itu!"
Sakha terkejut mendengar perkataan laki-laki di hadapannya.
"Maksudmu?"
"Jangan dekati milikku! Mengerti?"
Mesha yang terikat di pohon, mulai membuka matanya perlahan. Ia menggeleng kuat saat Sakha mencoba untuk menyelamatkan dirinya.
Tak tinggal diam, laki-laki berpakaian hitam itu melancarkan serangan pada Sakha. Namun Sakha berhasil menghindar.
"Pergi! Kamu pergi saja, Mas!" jerit Mesha.
Sakha menggeleng, ia tetap berjalan mendekat ke pohon. Lagi-lagi, pria berbaju hitam melancarkan serangan pada Sakha.
"Berhenti! Jika kamu tidak mau melepaskan Mas Sakha, aku akan mencelakai diri sendiri!" Mesha kembali berteriak.
Sakha terbangun dengan teriakan panjang menyebut nama Mesha. Ibunya, Ningsih, lari tergopoh-gopoh masuk ke kamar menghampiri.
"Ada apa, Le? Pagi-pagi sudah teriak nggak karuan gitu?" tanya Ningsih.
Sakha mengelus dahinya yang dibanjiri keringat.
"Nggak apa-apa, Bu. Cuma mimpi buruk."
"Owalah! Ibu kira ada apa. Kaget. Ya sudah, hari ini masuk kerja to?"
Sakha mengangguk.
"Ibu udah siapkan sarapan. Oh iya, kamu udah buka HP kamu? Tadi Yumna SMS ke ibu mau pulang. Kamu jemput, ya?"
"Ya, Bu."
__ADS_1
Setelah Ningsih keluar dari kamar, Sakha menyambar benda pipih dari meja kecil di samping ranjang. Ia membaca beberapa pesan lalu meletakkan benda itu kembali. Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, ia bangkit dari ranjang. Kemudian pria berbadan atletis itu mengambil handuk dari gantungan.
Setelah memakai baju kerjanya, Sakha berjalan menuju ruang makan. Dengan lahap, ia menghabiskan isi piringnya. Kemudian ia berpamitan pada sang ibu.
Suasana di kantor masih sepi saat Sakha datang, hanya beberapa pegawai yang sudah duduk di tempat mereka sambil mengobrol santai. Pria itu menyapa beberapa rekan kerjanya lalu terlibat obrolan dengan mereka.
Sakha menangkap sosok Mesha berjalan masuk. Seketika ia teringat dengan mimpinya semalam, tatapan mata elangnya terus mengikuti gadis itu.
"Biasa aja to, Kha! Itu mata sampai mau coplok!" Radit mulai menggoda Sakha.
Mendengar perkataan Radit, Sakha gelagapan, terkejut sekaligus malu. Kemudian ia mengembangkan senyum lebar di bibirnya.
Saat jadwal makan siang, seperti hari sebelumnya, Sakha dan Mesha melewatkannya. Kedua orang itu malah sibuk di ruang arsip.
"Ini, aku bawa laporan yang aku kerjakan, Mas. Coba bandingkan antar keduanya!" Mesha mengulurkan kedua map di tangannya.
Sejenak Sakha berkonsentrasi meneliti beberapa angka yang sudah diberi tanda oleh Mesha sebelumnya.
"Gila ini, Mbak!" seru Sakha setelah melihat angka-angka tersebut.
"Dana yang dipakai memang sebesar itu, Mas. Tetapi aku cek semua bahan dan material yang dipakai nggak semahal itu." Mesha menatap mata Sakha, meyakinkan.
"Jadi, gimana Mbak?"
"Kita harus temukan laporan asli yang kubuat sebelumnya, di sana kuitansi asli ada semua, Mas."
Sakha menganggukkan kepala mendengar usulan Mesha.
"Bagaimana kalau di meja kerja atau kabinet Pak Bejo? Meski nggak terlalu yakin, tetapi aku lihat pak Bejo yang ambil map itu, Mas."
"Kalau begitu, mumpung sekarang kantor masih sepi, gimana kalau kita mencoba mencarinya, Mbak?"
Mesha setuju dengan usulan Sakha, menggulung salinan laporan, lalu keluar dari ruangan arsip.
"Aku jaga di pintu, Mbak. Mbak Mesha kan yang lebih paham mapnya," usul Sakha lagi.
"Sip, Mas!"
Mesha mulai mencari di tumpukan-tumpukan map yang teronggok di meja kerja Pak Bejo. Gadis itu membuka laci demi laci di meja kerja itu juga. Ia terus menggelengkan kepala, belum menemukan benda yang dicarinya.
Sementara Sakha yang berdiri di depan pintu mengawasi, malah menangkap sosok laki-laki berkulit pucat dengan pakaian serba hitam di seberang. Ia terhentak, saat mengingat sosok itu.
"Itu ...." Sakha bergumam sendiri.
Kemudian sosok itu menghilang setelah memamerkan seringainya pada Sakha. Detik selanjutnya, Sakha melihat beberapa rekan kerja mulai berjalan kembali ke kantor.
Sakha memalingkan wajahnya pada Mesha yang masih sibuk mencari.
"Sudah ketemu, Mbak?"
__ADS_1
"Belum, Mas."
"Teman-teman sudah mulai berdatangan."
Mesha menghentikan pencariannya, lalu berjalan mendekati Sakha.
"Kalau begitu, nanti aku lanjutkan cari lagi kalau ada kesempatan, Mas."
Sakha dan Mesha berjalan beriringan keluar dari kantor.
"Belum makan siang, Kha?" sapa Radit saat berpapasan dengan mereka.
"Iya, Dit. Tadi ada sedikit kerjaan."
Radit melirik jenaka kepada Mesha lalu mengedip-ngedipkan mata kepada Sakha.
"Kerjaan apa kerjaan?"
"Kan ... selalu begitu!" protes Sakha.
Sementara Mesha, ia tertawa.
Sesampainya di warung makan langganan. Sakha meneruskan obrolannya dengan Mesha.
"Tadi bener-bener nggak ada, Mbak?"
Mesha mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya. Setelah menelan, ia menyahuti Sakha.
"Apa map itu nggak disimpan di kantor ya, Mas?"
"Kurang tahu juga, Mbak."
Sakha menarik keluar ponselnya yang sedari tadi bergetar di saku celana. Ia berbicara dengan seseorang di sambungan telepon. Kemudian ia buru-buru berdiri, mengulurkan beberapa lembar uang pada pemilik warung lalu kembali menghampiri Mesha.
"Mbak, saya mau ke terminal dulu. Nanti kalau ada yang tanya, tolong beri tahu, saya keluar sebentar."
Mesha mengangguk.
"Oh iya, makanan Mbak Mesha sudah saya bayar juga," sambung pria itu lagi sambil berjalan cepat menuju pintu.
"Terima kasih, Mas."
Sakha tersenyum membalas Mesha.
Bersambung ....
***
Coplok : lepas.
__ADS_1
🥀🌹 Terima kasih sudah membaca. Pokoknya jangan lupa jejak jempolnya! ❤ Lup yu pul tu de mun en bek! ❤😍